Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 145 — Bertemu Kembali


Jian Chen terlebih dulu ke toko Asosiasi sebelum Manager Li mengantarkannya ke sebuah penginapan cabang Asosiasi mengingat hari hampir gelap.


Kedatangan Jian Chen ternyata sudah diketahui oleh pemilik penginapan, saat Jian Chen masuk kedalamnya ia di sambut dengan baik oleh pemilik penginapan tersebut.


Para pelayan berjejer rapih memberi hormat pada Jian Chen sementara yang diberi hormat hanya bisa tersenyum canggung, menurutnya penyambutan penginapan Asosiasi terlalu berlebihan padanya.


Jian Chen diberi kamar khusus disana, sebuah kamar mewah dan memiliki ukuran yang cukup luas, dia juga diberi tahu ada sekitar sepuluh pelayan yang siap melayaninya.


Lagi-lagi Jian Chen hanya tersenyum canggung, ia memang tidak menolak kebaikan pemilik penginapan yang berniat baik menjamunya tetapi tidak sampai hingga dikatakan berlebihan.


Memang sikap pemilik penginapan cukup diwajari mengingat status Jian Chen adalah orang penting Asosiasi, setahunya liontin yang ditunjukkan Jian Chen hanya ada beberapa yang memilikinya di klan Miou dan itu semua adalah petinggi-petinggi klan.


Jian Chen menyampaikan terimakasih ke pemilik penginapan atas penyambutan tersebut lalu berjalan ke kamarnya yang ada di lantai teratas. Penginapan Asosiai ini termasuk besar, ada sekitar lima lantai yang dimiliki.


Jian Chen langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur ketika melihat godaan keempukan tempat tidurnya. Mungkin karena memang kelelahan setelah melakukan perjalanan yang jauh, ia langsung tertidur setelahnya.


***


Dua hari berlalu di penginapan Asosiasi, Jian Chen menghabiskan waktunya selain untuk berlatih, ia juga mencoba mengorek lebih jauh informasi tentang Makam Kuno.


Ada beberapa informasi yang menarik perhatiannya terutama gara-gara Makam Kuno tersebut kini kota Daiji jadi kebanjiran pengunjung khususnya kebanyakan dari mereka adalah para pendekar.


Mereka juga ada yang langsung pergi ke Makam kuno untuk melihat-lihat terlebih dahulu dan ada juga yang langsung masuk ke dalamnya, mereka yang masuk beberapa tak bisa kembali sementara yang masih bertahan hidup jadi ketakutan dan tak berminat ke Makam kuno tersebut.


Tentu saja kabar itu cepat terdengar, mereka mulai menanyakan ada apa di dalam Makam itu sehingga membuatnya ketakutan. Sementara yang sudah masuk hanya menjawab bahwa didalam sangat gelap dan ada sosok mahluk yang berbahaya dimana rekan-rekannya terbunuh karenanya.


Alih-alih ketakutan bagi yang mendengar justru membuat para pendekar semakin antusias, mereka jadi yakin bahwa ada harta karun yang berharga di Makam itu dan mahluk yang dibicarakan boleh jadi adalah penjaganya.


Jian Chen juga mendengar itu, setelah beberapa waktu akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Makam itu sendiri.


Makam kuno ada di sebelah barat Kota Daiji, setidaknya butuh waktu 1 jam dengan berlari dari kota.


Jian Chen hinggap di salah salah satu dahan pohon tinggi setelah berada di dekat Makam, ia bisa melihat dari jauh ada beberapa pos penjaga di sana yang menjaga Makam tersebut.


Jian Chen menaikan satu alisnya ketika melihat Makam itu yang tak sesuai dengan ekspektasinya, dibanding Makam, Jian Chen bisa menyebut tempat itu seperti gua karena terlihat menyatu dengan bukit di atasnya.


Ada beberapa kelompok tak jauh dari makam berada, mereka adalah para pendekar yang sepertinya hendak masuk. Sebelum para pendekar mendekat, penjaga makam langsung memeriksa mereka terlebih dahulu.


"Maaf, untuk masuk ke dalam kau harus berada di usia dua puluh tahun keatas. Pendekar Muda tidak boleh menelusuri makam ini!" Ucap si penjaga.


"Tapi aku sudah berusia sembilan belas tahun, tak lama lagi juga aku akan genap 20, kekuatanku juga memadai untuk bisa masuk kesana." Pendekar muda yang dilarang tampak mencoba membujuk penjaga.


"Maaf tapi ini sudah perintah dari Walikota, jika kelompok kalian mau masuk maka kalian harus pergi tanpanya."


Jian Chen yang mendengar itu dengan mata langitnya seketika menepuk jidatnya, ia hampir lupa dengan hal sepele seperti ini. Tentu saja penjaga-penjaga itu tak membiarkan usia remaja sepertinya di perbolehkan ke Makam Kuno.


Sepertinya ia harus menggunakan sebuah penyamaran, menggunakan topeng adalah alternatif yang di pikirkannya.


Sekitar dua jam Jian Chen mengamati makam tersebut dan selama itu juga ia melihat ada beberapa kelompok yang berminat kesana.


Jian Chen menghela nafas, pendekar-pendekar itu seperti tidak menyayangi nyawanya padahal sudah ada kelompok yang tidak kembali setelah masuk. Tetapi setelah dipikir-pikir dirinya juga tidak berbeda dengan yang mereka, meski banyak yang mati Jian Chen masih tetap ingin mencoba masuk dan berharap peruntungannya.


Alasan ia masih berpikir demikian karena setelah mengamati para pendekar yang sudah kedalam, Jian Chen tidak menemukan dari mereka yang berada di Alam Bumi.


Meski hal itu tidak bisa menyimpulkan sesuatu, Jian Chen yakin dengan kemampuan serta teknik-tekniknya ia bisa lolos dari makam itu atau bahkan mendapatkan sesuatu di dalamnya.


Sebelum ia melangkah pergi tiba-tiba perhatiannya tertuju pada salah kelompok berjumlah lima orang yang ada di dekat makam tersebut.


Jian Chen menyipitkan matanya saat mengenal kelompok itu, meski mereka memakai topeng untuk menutupi wajahnya Jian Chen tidak mungkin tidak mengenal mereka ketika melihat rambut perak itu.


'Kenapa mereka ada disini?' Jian Chen mengerutkan dahinya melihat lima saudara Lan.


"Hei, Nona cantik, kalian tidak sebaiknya ada disini, ini bukan tempat yang bagus untuk gadis cantik seperti kalian..."


Beberapa pria yang ada di kelompok lain mendekati rombongan Lan Qiaoqiao. Mereka tampak tertarik melihat lima gadis berambut perak tersebut, biarpun tertutup topeng, mereka yang melihatnya bisa menyadari gadis itu memiliki wajah yang menarik.


Lan Qiaoqiao tidak menanggapi ucapan pria itu, membuat sang empu menjadi tersinggung dibuatnya.


"Nona, dari pada kalian mencari peruntungan ke makam yang bisa membuat nyawa kalian dalam bahaya, bagaimana kalau kalian menemani kami-kami ini..."


Lang Qiaoqiao mendengus lalu mulai berjalan pergi bersama keempat saudarinya. Mereka tidak sedikitpun memandang kelompok pria itu.


"Nona, jangan jual mahal seperti itu, tenang saja kami bisa membayarnya jika kalian mau..." Pria itu menghentikan langkah Lan Qiaoqiao dengan menyentuh bahunya, perbuatan tersebut segera membuat Lan Qiaoqiao bereaksi.


Lan Qiaoqiao memutar tubuhnya lalu memberikan tendangan yang cukup kuat, membuat pria itu langsung terlempar mengenai anggota kelompoknya.


"Sekali lagi kau menyentuhku, bukan hanya tanganmu yang patah, kau juga akan kubunuh!"


Pria yang sebelumnya di tendang merapatkan giginya kesal, ia paling benci penolakan dan perbuatan tadi sudah cukup dari batas emosinya. "Nona, kau yang memintaku memakai cara ini..."


Pria itu langsung maju dan menyerang Lan Qiaoqiao menggunakan teknik tangan kosong serta ototnya.


Menghadapi hal tersebut Lan Qiaoqiao menghindari beberapa pukulan itu dengan gerakan seminimal mungkin sebelum akhirnya ia balik menyerang menggunakan ilmu tendangan yang mengenai perutnya.


Pria berbadan besar meringis, darah segar muncul di tepi bibirnya, sebelum ia ingin membalas balik Lan Qiaoqiao memberikan tendangan susulan yang membuatnya kembali terlempar ke kelompoknya.


"Sepupu pertama, kita sebaiknya tidak meneruskan ini..." Lan Yueyue memperingatkan Qiaoqiao agar tidak menyerang lebih lanjut setelah melihat perhatian disekitar mereka ke arahnya.


Lan Qiaoqiao menatap sekitar lalu menghela nafas, ia langsung menyuruh empat saudarinya untuk bergegas pergi dan kembali ke kota.


Sebelum kelimanya bergerak lebih jauh, pria tadi sudah menghadang langkahnya, kali ini ia tidak sendiri melainkan bersama seluruh kelompoknya.


"Kau pikir bisa pergi sesuka kalian setelah memberikan tendangan padaku, jangan berharap kalian bisa selamat setelah semua ini..."


Pria itu memberi instruksi pada kelompoknya untuk mengepung kelima saudari Lan, mereka mungkin tidak berniat membunuh tetapi jelas mempunyai niat yang jahat.


"Apakah kau tidak punya rasa malu menghadapi lima wanita dengan seluruh kelompokmu?!" Lan Qiaoqiao menatap tajam pria yang tadi ditendangnya. "Ini di kota, kalau kau berbuat ulah atau kejahatan, kau bisa berurusan dengan pemerintah!"


Lan Qiaoqiao bukan takut melawan kelompok tersebut bersama saudarinya, ia hanya tidak mau mendapatkan masalah yang tidak perlu.


Walaupun kelompok pria itu puluhan, semuanya berada di Alam Jiwa dan hanya satu orang yang telah mencapai Alam Kehidupan yaitu pria tadi. Melawannya bukan perkara yang sulit bagi kelimanya.


Pria itu tampak tidak peduli, pada dasarnya mereka adalah para perampok jadi mana peduli dengan sebuah aturan. Makam kuno itu juga menarik perhatian orang-orang jahat seperti mereka.


Jian Chen yang mengamati sejak tadi akhirnya tak bisa membiarkan kejadian itu lebih lanjut, ia langsung melompat dan mendarat disana.


Kemunculannya di tengah-tengah Lan Qiaoqiao dan kelompok pria itu segera mengejutkan mereka yang melihat. Semua begitu cepat, bukan hanya kedatangan Jian Chen yang tidak terdeteksi hawa keberadaannya, ia juga tampak ringan ketika menyentuh tanah, tidak ada debu yang terbang saat Jian Chen mendarat seolah tubuhnya seringan bulu yang halus.