
Jian Chen akhirnya tiba di bangunan pemerintahan klan Miou, ia mendarat di aula pertama dimana Miou Fan dan lainnya sedang melakukan pertemuan.
Walaupun belum pulih, Miou Fan nyatanya tidak terlebih dulu beristirahat melainkan mengumpulkan semua Tetua yang lain untuk melakukan rapat darurat.
Di singgasananya Miou Fan banyak mengurusi keadaaan klan Miou yang tampak berantakan usai kudeta terutama di bidang bisnis klannya yaitu asosiasi.
Satu hal yang masih bisa disyukuri adalah resep pil yang diinginkan pendekar Kekaisaran Qilin tidak berhasil dicuri oleh mereka.
Meski Miou Xian menyiksa dirinya dan para tetua yang lain untuk mendapatkan resep pil tersebut tetapi pria tua itu tidak berhasil mendapatkannya, semua tetua bungkam dan tidak mau membocorkan resep pil bahkan jika kehilangan nyawa sekalipun.
Kedatangan Jian Chen ke sana cukup membuat semua perhatian tertuju padanya apalagi Jian Chen datang dengan cara melayang.
Semua Tetua di aula telah mengetahui kekuatan Jian Chen yang mengalahkan pendekar-pendekar tingkat tinggi Kekaisaran Qilin.
Menyaksikan Jian Chen bisa mengimbangi bahkan membunuh lawan-lawannya membuat mereka mengerti kekuatan Jian Chen sebenarnya.
Para Tetua yang sudah mengenal Jian Chen sejak dulu merasa takjub atas peningkatan Jian Chen yang menurutnya di luar nalar mereka. Lima tahun yang lalu pemuda itu masih berada di Alam Jiwa tetapi sekarang kekuatannya tak bisa diukur walau hanya dengan pandangan mata sekalipun.
Miou Fan berusaha turun dari singgasananya meski seluruh tubuhnya masih kesakitan atas siksaan Miou Xian, ia kemudian memberikan hormat pada Jian Chen sekaligus mengucapkan terimakasihnya.
Miou Lin serta tetua yang lain mengikuti, bisa dibilang saat ini Jian Chen adalah pahlawan bagi klan Miou, jika tidak ada keberadaan dirinya mungkin klan Miou tidak akan bisa lagi diselamatkan bahkan jika dibantu Kekaisaran sekalipun.
Jian Chen menanggapinya dengan senyuman canggung, jujur saja ia tidak terlalu nyaman di perlakukan demikian, lagi pula sudah sewajarnya ia membantu klan Miou karena klan tersebut pernah membantu klan Jian berulang kali.
***
Jian Chen tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan pemerintahan Klan Miou karena menurutnya hal itu adalah privasi mereka sehingga Jian Chen meninggalkan ruang rapat tersebut setelah urusannya selesai.
Miou Lin diperintahkan Miou Fan untuk menemani Jian Chen ke tempat istirahatnya, karena jika dibanding yang lain, Miou Lin adalah yang paling dekat dengan Jian Chen.
"Tuan muda Jian, terimakasih karena telah membantu klan Miou, kami amat berhutang budi padamu..." Miou Lin membuka suaranya saat keduanya berjalan menulusuri lorong.
"Tidak apa Nona Lin, aku juga adalah bagian dari asosiasi klan jadi sudah sepatutnya kita saling membantu."
Miou Lin ingin berkata sesuatu lagi tetapi akhirnya memilih diam, ia mengerti ucapan terimakasih saja tidak cukup untuk apa yang Jian Chen lakukan, Miou Lin hanya berjanji pada dirinya akan membantu klan Jian di masa depan.
Miou Lin membawa Jian Chen ke sebuah kamar yang biasanya digunakan oleh para tamu yang datang ke klan Miou.
Meski Jian Chen tidak terluka dalam pertarungan tersebut tetapi Miou Lin mengerti Jian Chen membutuhkan istirahat.
Sebelum berpisah Miou Lin mengatakan bahwa Jian Ya saat ini sedang berisitirahat di salah satu kamar yang lain. Jian Chen mengangguk lalu menutup pintu kamarnya, ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur di detik itu juga.
"Ini benar-benar melelahkan..."
Jian Chen memejamkan matanya di tempat tidur, tenaga dalamnya benar-benar terkuras banyak saat melawan pendekar-pendekar Kekaisaran Qilin apalagi ketika ia harus menghadapi tiga Alam Raja sekaligus.
Ada banyak faktor yang membuat kekuatan bertarung Jian Chen sudah lebih kuat dibandingkan dengan kehidupan sebelumnya. Dimulai dari teknik-teknik yang ia pelajari, pengalaman bertarungnya, serta elemen yang ia miliki.
Di kehidupan pertama, Jian Chen mungkin akan kesulitan menghadapi tiga lawannya yang berada di ranah alam yang sama tetapi sekarang ia bisa menghadapi empat sampai lima lawan sekaligus jika menggunakan seluruh kekuatannya.
"Ini belum cukup, aku harus lebih memahami tahap kultivasi beladiri selanjutnya..." Jian Chen mengambil posisi duduk sila, pemahaman beladirinya sedikit bertambah saat melawan pendekar Kekaisaran Qilin sebelumnya.
Jika pemahaman beladiri Jian Chen meningkat maka ada kemungkinan ia bisa ke tahap alam selanjutnya dari Kultivasi Dewa Cahaya.
Sesudah Dewa Cahaya Bintang maka Jian Chen akan menerobos ke Alam Dewa Cahaya Rasi Bintang.
Jian Chen yakin jika ia berhasil ke ranah tersebut kekuatannya akan menyamai mereka yang berada di ranah Alam Dewa, tingkatan setelah pendekar Alam Raja.
Dengan kekuatannya sekarang Jian Chen tidak akan sanggup melawan kekaisaran Qilin seutuhnya, ia harus berlatih menjadi lebih kuat lagi.
Sesudah berisitirahat selama tiga hari dan memulihkan tenaga dalamnya, Jian Chen keluar dari kamar tepat ketika waktu sudah malam, yang didapati ketika ia membuka pintu adalah seorang perempuan yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya yang sepertinya sudah menunggunya kaluar.
"Ah, maaf, apa aku mengganggumu..." Jian Ya tergugup salah tingkah.
Jian Chen batuk pelan, ia tidak menduga Jian Ya lah yang akan datang ke kamarnya.
Jian Chen sebenarnya memang akan bertemu gadis itu sebab alasannya keluar tetapi tidak menduga Jian Ya yang akan lebih dulu menghampirinya.
Jian Chen sedikit menatap wajah Jian Ya, gadis itu tidak mengalami luka apapun setelah menyusup ke klan Miou tetapi mentalnya sedikit terganggu. Mungkin Jian Ya telah melihat sesuatu yang membuat cara pandangnya berbeda.
"Apa kau baik-baik saja?" Jian Chen tersenyum lembut pada gadis itu, mengelus pipinya pelan.
Jian Ya hanya menjawabnya dengan anggukan pelan, gadis itu sedikit tersipu karena Jian Chen memperlakukannya demikian.
Alasan Jian Ya kesini karena merasa khawatir pada Jian Chen setelah menyaksikan pemuda itu bertarung hebat di atas langit. Melihat Jian Chen baik-baik saja membuat perasaan gadis itu sedikit tenang sekarang.
Jian Ya kemudian menyampaikan alasan lainnya ia kesini karena esok hari gadis itu harus pergi ke kota pandai besi, Jian Ya sebenarnya sudah terlambat dari jadwal waktu yang seharusnya namun menyaksikan ada konflik besar di klan Miou, dirinya juga tak bisa diam saja.
Jian Chen sedikit terkejut mendengar hal tersebut, ia mengetahui kota pandai besi yang dimaksud adalah Kota Donghu namun yang membuat ia bereaksi karena gadis itu memiliki tujuan yang sama dengannya.
Niat awalnya setelah Jian Chen mengantarkan Miou Lin ke klannya ia memang akan pergi ke sana. Jian Chen dan Jian Ya mungkin pergi ke tempat yang sama namun tujuan mereka berbeda.
"Sebenarnya aku juga berencana akan pergi ke kota itu..." Jian Chen menggaruk pipi dengan canggung, ia yakin Jian Ya akan beranggapan berbeda mengenai dirinya tetapi Jian Chen tidak menghiraukan hal tersebut terutama karena gadis itu pasti menyadari tentang perasaan ia padanya.
Jian Chen kemudian mengajak Jian Ya pergi bersama-sama, mengingat gadis itu bisa terbang tidak ada alasan bagi Jian Chen jika pergi ke sana bersamanya.
Ajakan tersebut diangguki oleh Jian Ya, sebetulnya sejak awal ia berharap Jian Chen ikut bersamanya namun tidak menyangka pemuda itu justru malah yang mengajaknya.
Jian Chen tersenyum lembut sebelum mengelus pucuk kepala gadis itu pelan, ia merasakan Jian Ya sangat senang dengan ajakan tersebut.