
Jian Chen menghancurkan gua yang menjadi tempat markas perampok itu membuatnya runtuh sehingga menjadi kuburan bagi jasad didalamnya. Jian Chen tidak mau mayat-mayat didalamnya akan menjadi wabah penyakit nanti.
Selepasnya ia menyusul ke rombongan Jian Ya yang sudah jauh darinya, malam kian berlanjut, Jian Ya dan para tahanan sudah pergi dari tadi menuju desa yang sebelumnya.
“Chen’er, kau sudah mengambil apa yang ketinggalan di gua?” Tanya Jian Ya saat melihat Jian Chen sudah bergabung ke rombongannya.
Jian Chen mengangguk, “Sudah Ketua.”
“Hm? Apa kau dengar ada ledakan tadi?”
Jian Chen tersenyum tipis, sedikit tidak menyangka Jian Ya masih bisa mendengar walau jarak dan gua kini sudah beberapa kilometer. Ledakan tadi berasal dari Jian Chen saat menghancurkan gua.
“Aku tidak mendengarnya…”
“Hm, mungkin aku salah dengar.” gumam Jian Ya.
Jian Chen maupun Jian Ya berdiri paling belakang di rombongan tahanan itu, mereka berjaga untuk memastikan tidak ada perampok yang tersisa dan menyusulnya walau boleh jadi perampok-perampok itu sudah habis di bunuh Jian Chen.
Hampir lima ratus orang yang diculik perampok itu membuat rombongan Jian Chen terlihat besar saat bergerak menulusuri setapak hutan. Beberapa jam berlalu akhirnya mereka tiba didesa yang sudah terbakar sebelumnya.
Jian Chen berbisik pelan pada Jian Ya sebelum gadis itu mengangguk mengerti, Jian Chem memberikan cincin ruang perak padanya.
“Permisi, siapa pemimpin desa kalian?” tanya Jian Ya.
Para warga saling berpandangan sesaat sebelum salah satu dari mereka akhirnya maju kedepan yaitu seorang pria yang berusia 40 tahunan.
Jian Ya melihat pria itu memang dihormati di kalangan warga yang lain, setelah merasa mempercayainya Jian Ya menyerahkan cincin perak yang diberikan Jian Chen pada kepala desa tersebut.
“Didalam cincin ini ada harta rampasan dari para perampok tadi, jumlahnya ribuan koin emas, paman bisa membagikan pada mereka, terserah apakah paman dan penduduk akan tetap tinggal didesa atau pindah mencari kehidupan lain.” bisik Jian Ya.
“Ri-ribuan emas?”
Kepala desa gemetar memegang cincin ruang yang ada ditelapak tangannya. Jumlah nominal uang yang dikatakan Jian Ya membuatnya sangat terkejut.
Didesa yang kecil ini, satu koin emas saja adalah sesuatu yang langka, jika ada koin emas jumlah sebanyak itu maka cukup membangun ulang desa ini bahkan bisa menghidupi rakyatnya selama 1 tahun kedepan.
Kepala desa tidak memberitahu nominal emas ini pada warganya karena tahu alasan Jian Ya berbisik padanya agar tidak ada sesuatu buruk yang terjadi.
Selepas urusannya selesai Jian Ya dan Jian Chen berpamitan pergi, keduanya menaiki elang emas yang sebelumnya diikat di desa ini.
Para warga berterimakasih pada dua marga Jian tersebut karena telah menyelamatkan nyawa dan desanya.
“Sepertinya satu tahun kedepan hidup mereka bisa tercukupi?” Jian Chen melihat warga desa itu di atas langit.
“Chen’er, dengan uang sebanyak itu bagi mereka, desa ini bisa jadi desa yang berkembang pesat kemajuannya.” Jian Ya tersenyum tipis, sejujurnya ia lebih terkejut dengan hal yang lain yaitu Jian Chen.
Jian Ya tentu tak akan melupakan kemampuan tinggi Jian Chen serta apa yang telah dilakukannya di gua markas perampok tersebut.
Dirinya saja tidak bisa berbuat demikian terutama soal membunuh, Jian Ya paling besar bertindak hanya melumpuhkan lawannya, untuk membunuh seseorang Jian Ya masih penuh keraguan bahkan sedikit takut melakukannya.
Jian Chen sendiri mengerti pikiran gadis itu yang terlihat termenung, ia juga memang tak berniat menyembunyikan kekuatannya pada Jian Ya terlepas dari pembataian yang telah dilakukannya.
Usia Jian Ya masih 20 tahun, dari karakternya saja dia adalah gadis yang lemah lembut dan dewasa. Menyakiti seseorang saja Jian Ya tak akan tega melakukannya.
Hampir 4 jam berlalu hingga pagi menjelang, Jian Chen akhirnya bisa melihat gunung besar klan Jian.
“Bibi Ran, maap mengganggu aktivitasmu, sepertinya aku mendarat diwaktu yang salah.” Jian Ya tersenyum canggung melihat Jian Ran tengah menyapu tak jauh dari dirinya mendarat.
“Ketua klan!” Jian Ran terkejut saat tahu itu Ketua klannya, ia hendak memberi hormat namun pandangannya tertuju pada seorang pemuda yang muncul di dekat Jian Ya, pemuda itu memiliki iris mata yang berwarna emas.
“Chen’er?!” Jian Ran menjatuhkan sapu dipegangnya lalu berhambur memeluk Jian Chen.
“Ibu, maap aku datang terlambat…” Jian Chen membalas pelukan ibunya.
“Tidak apa, Ibu sudah mendengar dari Tetua lain bahwa kamu akan datang bersama Ketua Ya.”
Jian Chen bisa merasakan ibunya sudah menantinya sejak lama, mungkin kemarin ibunya telah menunggu kedatangannya bersama murid lain.
“Bibi Ran, kalau begitu aku pamit dulu, ada urusan klan yang harus kukerjakan.” Jian Ya tidak mau mengganggu waktu keluara Jian Chen jadi dia langsung pamit menaiki elang dan terbang ke pusat klan Jian.
Gadis itu sebenarnya merasa lelah atas penyelamatan para tahanan sebelumnya, belum lagi Jian Ya telah melihat begitu banyaknya pembunuhan hari ini.
“Ibu dimana ayah?”
Jian Chen sudah masuk kedalam rumahnya namun tidak menemukan keberadaan Jian Wu.
“Hm… Ayahmu tadi ke Paviliun klan untuk melihatmu apakah sudah datang atau belum, ah, baru disebutkan...”
Jian Ran langsung menghampiri suaminya ketika baru membuka pintu sekaligus memberikan kabar bahwa Jian Chen sudah pulang. Jian Chen tak lama menyusul dan memberi salam pada ayahnya.
“Chen’er, kau semakin tinggi saja sekarang…” Jian Wu tertawa sambil mengelus rambut Jian Chen.
Tinggi Jian Chen sekarang 155 sentimeter, persis seperti remaja pada umumnya.
“Bukan tingginya saja suamiku, lihatlah, anak kita sekarang jadi semakin tampan.”
“Tentu saja,” Jian Wu mengangguk. “Aku kan ayahnya, tentu saja dia tampan sepertiku.”
“Suamiku, seperti biasa, kamu terlalu percaya diri.”
“Oh… bukankah kamu pernah mengatakan bahwa aku pria menawan saat waktu dulu.”
“Kapan? Aku tidak mengingatnya.” Jian Ran membuang wajah.
Jian Wu terkekeh lalu menoleh pada Jian Chen. “Chen’er kamu tahu, dulu saat aku masih remaja, ibumu lah yang menyatakan cinta duluan pada ayah.”
Mata Jian Chen melebar, ia baru mengetahui fakta ini, ia menoleh pada ibunya.
“Enak saja, Chen’er kamu jangan percaya perkataan ayahmu, dialah yang menyatakan cinta pada ibu duluan, padahal ibu sudah berapa kali menolak.”
Jian Chen menggaruk kepala, lalu menoleh pada ayahnya.
“Ibumu itu, Chen’er, sangat mencintai ayah tak terkira, memaksa ayah harus menikahinya…” Jian Wu tertawa kecil, menggodanya lebih jauh. “Karena selalu didekati, lama-lama ayah juga kepincut hatinya, karena itulah kami bisa menikah sekarang.”
Wajah Jian Ya memerah seperti tomat, “ Suamiku berhentilah membalikan fakta pada Chen’er!”
Keduanya akhirnya saling menuduh tentang siapa yang jatuh cinta duluan, wajah Jian Ran tambah tersipu seiring berjalannya waktu membuatnya kikuk dan gugup karena Jian Wu terus menerus menggoda dirinya.