Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 132 — Ketakutan Yang Mendalam


Jian Chen mengeluarkan semua harta yang dia ambil dari kapal bajak laut sebelum di hancurkan, terdapat banyak peti berisi koin emas di dalamnya.


Tidak lama, para penumpang berhamburan keluar setelah merasa situasi aman, walau mereka telah selamat dari marabahaya perasaan mereka tidak sama sekali bahagia terutama ketika melihat aksi Jian Chen.


Para penumpang telah menyaksikan langsung bagaimana Jian Chen menghabisi para bajak laut tersebut, belum lagi mereka bisa melihat di atas laut masih ada para bajak laut yang tersisa dan mengapung disana.


Para penumpang justru lebih takut kepada Jian Chen dari pada bajak laut itu sendiri apalagi mereka telah mengusiknya sebelumnya.


Jian Chen bisa melihat ketakutan mereka tetapi ia juga tak berbicara lebih jauh.


"Ini adalah peti yang kurampas dari bajak laut itu, kalian boleh membagikannya atau apapun yang kalian inginkan..." Jian Chen meminta juga khususnya untuk Pemilik Kapal agar kejadian hancurnya Bajak Laut Tengkorak Iblis disebarkan ke yang lain.


Dengan hancurnya bajak laut itu Jian Chen berharap banyak para penumpang yang mau berpergian ke luar provinsi lagi tanpa harus takut dengan bajak laut yang lain.


Jian Chen sebenarnya meminta dengan nada datar namun di telinga para penumpang dan pengurus kapal hal itu seperti sebuah ancaman.


Jian Chen kemudian mulai berjalan ke kamar pribadinya, derap kakinya terdengar jelas setiap kali ia melangkah di lantai kapal karena para penumpang yang lain tidak berani menimbulkan suara bahkan bernafas pun mereka harus berhati-hati.


Para penumpang takut Jian Chen bakal membunuhnya, barulah ketika tubuh anak muda itu menghilang mereka bisa bernafas lega.


Melihat emas yang menggunung di dalam peti semuanya saling tatap sesaat, Pemilik kapal kemudian menjadi penengah yang akan membaginya secara merata pada yang lain.


Hal pertama yang harus mereka lakukan sekarang adalah membersihkan kapal terlebih dahulu, ada tiga puluh mayat di sana yang tergeletak bersimpah darah akibat dihabisi Jian Chen sebelumnya.


Beberapa penumpang menjerit ngeri ketika melihatnya karena jasad itu mati dalam keadaan tubuh tidak lengkap.


Sebagian hampir muntah melihatnya sementara tidak sedikit yang langsung kehilangan kesadaran.


Mereka semua bertanya-tanya tentang identitas Jian Chen walaupun mereka tahu bahwa mencari lebih dalam adalah ide yang buruk. Jian Chen terlihat orang yang jahat disini dibanding bajak laut itu sendiri.


Setelah membersihkan jasad, pemilik kapal membagikan koin emas pada para pedagang dan bawahannya. Pemilik kapal adalah orang yang adil, jadi tidak ada kecurangan dari pembagian tersebut.


Pembagian emas dilakukan secara sunyi, karena sudah malam mereka takut mengganggu Jian Chen yang mungkin sedang beristirahat di kamarnya.


***


Jian Chen duduk di bingkai jendela sembari menatap langit malam yang di penuhi bintang-bintang, mata emasnya terlihat bersinar dengan indah.


"Mereka benar-benar tidak tahu diri!"


Lily yang semenjak tadi hanya menonton aksi-aksi Jian Chen kini berbicara, gadis cantik itu terdengar kesal dari nada bicaranya.


"Alih-alih berterimakasih kau justru ditakuti oleh mereka, seolah para penumpang itu lupa bahwa mereka telah diselamatkan olehmu!"


Jian Chen mendengar ocehan Lily hanya tersenyum tipis, tak menanggapi gadis itu lebih jauh.


"Lihatlah, bukan hanya kau menyelamatkan nyawa mereka tetapi juga memberikan peti emas namun tidak ada satupun dari mereka mengucapkan terimakasih atau hanya menatapmu!" Lily masih terus melanjutkan.


"Kau mencoba membelaku?" Tanya Jian Chen menaikan alisnya, tersenyum penuh makna.


Lily mendengus keras. "Aku tidak membelamu, aku hanya kesal pada sikap mereka! Dan posisimu barusan membuatku sedikit terusik!"


Jian Chen tersenyum canggung, "Aku tidak tahu apa yang membuatmu terganggu tapi biarkan saja seperti itu. Berbuat baik tidak selalu soal pilihan, terkadang di situasi tertentu kebaikan menjadi sebuah keharusan. Kasusku tadi adalah salah satu contohnya."


Pada dasarnya jahat atau baiknya seseorang ia tetap mempunyai nilai di mata orang lain, meski kadang hal itu tidak ditunjukkan secara langsung oleh mereka.


Lily ingin berbicara sesuatu lagi namun setelah mendengar omongan Jian Chen, ia membatalkan suaranya diganti dengan helaan nafas.


Jian Chen kemudian menghabiskan waktunya di kamarnya, berkultivasi atau sekedar menatap rembulan di atas luasnya laut yang indah.


Di esok harinya, suara ketukan pintu terdengar di kamar Jian Chen, ia menemukan pelayanan yang sebelumnya melayaninya datang kembali membawa napan makanan untuk sarapan paginya.


Pelayanan itu tidak datang sendiri melainkan ditemani pemilik kapal, keduanya berusaha tidak gemetar bertemu Jian Chen walaupun pemuda itu sendiri sudah melihat ketakutan yang terpancar dari wajah dua-duanya.


"Bagaimana, apakah tidak ada bajak laut yang menghadang lagi?" Tanya Jian Chen.


Pemilik kapal itu menggeleng, matanya tidak berani menatap Jian Chen. "Tidak Pendekar, semuanya baik-baik saja."


Jian Chen mengangguk, "Apa kalian sudah membagikan peti emas itu pada para pedagang?"


Pemilik kapal terdiam sesaat sebelum mengangguk. "Pendekar, sebelumnya kami lupa untuk berterimakasih kepadamu karena telah menyelamatkan nyawa kami semua, aku mewakili yang lain juga turut berterima kasih karena sebab anda kami saat ini masih hidup bahkan diberi uang yang tak pernah kami duga."


Jian Chen mengayunkan tangannya, "Tidak perlu dibahas, aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan. Lagian mereka juga adalah sesuatu yang harus kuhancurkan cepat atau lambat... "


Tidak ada lagi yang keduanya katakan, Melihat Jian yang hendak sarapan mereka langsung memundurkan diri karena takut menganggu pemuda tersebut.


"Kau lihat Lily, bukankah itu yang kau tunggu?" Tanya Jian Chen.


Lily mendengus kesal, tidak menjawabnya lebih jauh, membuat Jian Chen terkekeh serta menggelengkan kepala pelan.


Dua hari berlalu terombang-ambing di atas kapal akhirnya Jian Chen bisa tiba di pelabuhan.


Pelabuhan tersebut adalah pelabuhan yang ada di tepi Provinsi Naga Angin, sebelum Jian Chen pergi ke provinsi tujuannya ia harus melewati Provinsi Naga Angin ini terlebih dahulu.


Pelabuhan itu berdekatan dengan sebuah kota kecil di atasnya, kota yang bernama Kota Shanwei.


Tak lama kemudian kapal Jian Chen berlabuh, para pedagang ataupun pengurus kapal masih tidak bisa berbicara dengan Jian Chen lagi meski ketakutan mereka agak mereda.


Tidak ada yang berani untuk memandang atau mengobrol dengannya, kebanyakan dari mereka mencoba menjaga jarak dengan pemuda itu.


Jian Chen tersenyum tipis sebelum mulai melangkahkan kakinya turun dari kapal sendiri, ia bisa mendengar Lily bereaksi tidak suka dengan sikap mereka.


Disisi lain, Menurut sudut pandang para penumpang tersebut, pengalamannya menyaksikan Jian Chen membunuh para bajak laut itu akan terkenang di kepalanya bahkan bisa jadi trauma.


Disepanjang hidupnya mereka belum pernah melihat sosok manusia bisa berdarah dingin seperti itu apalagi ketika Jian Chen membunuh anggota bajak laut itu satu persatu, wajahnya terlihat menikmati pembantaian tersebut.


Bulu kuduk mereka merinding ketika mengingat Jian Chen tersenyum di setiap kali membunuh, mereka yakin ingatan ini akan terbawa sepanjang hidupnya dan tak mudah untuk dilupakan.