
Para anggota bajak laut terlambat menyadari mereka bukan lawan Jian Chen ketika satu ayunan pedang lawannya bisa menebas sekaligus dua tubuh rekannya.
Mereka mencoba menangkis pedang Jian Chen dengan golok tetapi pedang emas Jian Chen dapat memotong senjata mereka seperti tahu.
Melihat besi yang kuat saja dapat mudah di tebas seperti itu membuat para bajak laut menjerit ngeri.
Mereka ingin menjauh atau berlari dari Jian Chen tetapi sebelum mereka melakukannya tiba-tiba tubuh para bajak laut merasakan
sensasi dingin yang hebat.
Rasa dingin itu membuat tubuh mereka kaku serta dari kulitnya tercipta serpihan es.
Teknik elemen es Jian Chen sekarang sudah di tahap tertentu walau memang masih harus di latih lebih lanjut tetapi levelnya kini dapat membuat kulit pendekar yang ada di Alam Jiwa terbungkus es.
Walau aura es Jian Chen tidak dapat membunuh seseorang namun itu cukup membantu mempengaruhi pertarungan.
Ketika tubuh lawannya tidak bisa bergerak lagi Jian Chen dengan mudah menebas para bajak laut itu, sekali ayunan pedangnya satu kali nyawa melayang.
Jian Chen membunuh semua para bajak laut yang ada di kapal penumpang, yang tersisa kini hanya ada di kapal mereka.
Kapten Bajak Laut telah menyetir kapalnya dari tadi sehingga ketika Jian Chen selesai membunuh semua anak buahnya, jaraknya sudah lumayan jauh.
Kapten Bajak Laut bernafas lega setelah terselamatkan dari maut yang hampir membunuhnya, tiga puluh anak buahnya meninggal dengan percuma namun ia masih punya banyak anggota di kapalnya bahkan masih ratusan.
Para anggota bajak laut hanya bisa meneguk ludah ketika rekan-rekannya terbunuh tanpa perlawan berarti, tidak ada yang menduga hari ini mereka justru akan dimangsa alih-alih memangsa.
Jian Chen mengayunkan pedangnya untuk membersihkan darah yang masih menetes, ia melihat kapal bajak laut dari jauh sebelum senyuman mengembang dari bibirnya.
Jian Chen tanpa aba-aba langsung loncat dari kapal ke laut tetapi ketika kakinya hendak menginjak air tiba-tiba air tersebut membeku disekitar kakinya. Jian Chen kini berdiri di serpihan es yang dibuatnya, setiap kali ia melangkah maka air yang hendak di injaknya akan membeku secara otomatis.
Melihat kapal bajak laut yang perlahan menjauh Jian Chen berlari mengejarnya, aksi tersebut membuat jantung para bajak laut hampir copot ketika dimata mereka Jian Chen seperti berjalan di atas air.
Kapal bajak laut memang bergerak cepat dengan menurunkan semua layar yang ada hanya saja di depan kecepatan Jian Chen itu masihlah lambat.
Tidak membutuhkan waktu lama hingga Jian Chen menyusul mereka dan melompat ke atas kapal, kedatangan dirinya menanamkan ketakutan mendalam bagi musuh-musuhnya.
"Tuan Pendekar, mohon maapkan kami yang telah menyinggung sosok besar seperti Tuan, kesalahan kami sudah tak bisa diampuni ini tapi biarkan kami bernafas untuk memperbaiki semuanya."
Para bajak laut itu langsung buru-buru bersujud meminta pengampunan pada Jian Chen.
Wajah Kapten bajak laut menjadi buruk ketika melihat situasi tersebut, ia bimbang apakah harus bersujud seperti anak buahnya tetapi harga dirinya yang sebagai pemimpin menolak keras.
Aksi tersebut justru membuat Jian Chen tertawa alih-alih rasa kasihan. "Heh, apakah kalian mengampuni mereka yang pernah kalian bunuh, bukankah mereka juga memohon seperti ini tetapi kalian tetap mencabut nyawanya, apakah kalian tidak berpikir kesana?" Jian Chen tertawa mengejek.
Jian Chen mengetahui jelas bahwa dimasa depan Bajak Laut Tengkorak Iblis akan menjadi bajak laut yang kuat di Kekaisaran Naga.
Para pemerintah provinsi tidak ada yang berniat memburu bajak laut ini karena selalu beranggapan bahwa itu adalah tanggung jawab provinsi lain atau pemerintah Kekaisaran Naga.
Sehingga akhirnya Bajak Laut Tengkorak Iblis semakin kuat dan banyak pengikutnya.
Jika dibandingkan yang dulu, saat ini Kapten bajak laut itu masih berada di Alam Kehidupan sementara di kehidupan Jian Chen yang lalu atau tepatnya 8 tahun dari sekarang Kapten itu sudah di Alam Bumi.
Kapal bajak laut itu juga masih satu meski jumlah anggotanya sudah ratusan, nanti di masa depan sekitar 7 kapal besar yang dimiliki Bajak Laut Tengkorak Iblis, jumlah anggota bahkan telah ribuan.
Jian Chen tersenyum dingin ke arah para bajak laut, mata emasnya terlihat bersinar beberapa saat.
"Melihat pasihnya kalian memohon aku bisa menebak kalian juga sudah melakukan hal yang sama seperti ini, memohon pengampunan untuk mempertahankan nyawa, bersujud dan berharap belas kasihan pada seseorang yang seharusnya kalian tidak singgung."
Perkataan Jian Chen mengejutkan para bajak laut karena hal itu memang benar adanya.
Jian Chen tersenyum sinis ketika reaksi mereka membenarkan jawabannya. Tanpa perlu basa-basi lagi ia mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya sebelum bergerak maju.
Melihat Jian Chen yang sepertinya tidak berniat mengampuni mereka, para bajak laut menarik senjata mereka masing-masing. Berharap bisa melawan Jian Chen dengan jumlah tanpa tahu yang mereka lakukan tidak lebih dari mengantar nyawa.
Jian Chen bergerak cepat memainkan pedangnya dan setiap kali ayunan pedang ia lepaskan maka ada satu nyawa yang hilang.
Meski ratusan orang menghadapinya, Jian Chen justru terlihat mengungguli pertarungan apalagi lawan-lawannya itu penuh keraguan dalam menyerang.
Hanya kapten bajak laut yang mengerti keadaanya sehingga ia langsung mundur diam-diam ketika anak buahnya menyerbu Jian Chen.
Dalam waktu beberapa menit saja sudah sebagian lebih dari mereka berbaring di lantai tak bernyawa, selain pedang Jian Chen yang tajam karena terselimuti elemen cahaya permainan pedangnya juga sangat lincah.
Para perompak yang tersisa mulai tersadar dan mencoba melarikan diri, tanpa berpikir panjang terlebih dahulu mereka loncat dari kapal ke laut.
Jian Chen tidak mengejar mereka, pandangannya justru tertuju pada seseorang yang sedang mendayung kecil di atas perahu. Orang itu adalah kapten bajak laut yang diam-diam sedang kabur.
Jian Chen tersenyum mengejek lalu mengalirkan tenaga dalam ke pedangnya, satu ayunan itu menciptakan pisau udara yang tajam dan dengan cepat menuju ke arah perahu kapten bajak Laut.
Karena jaraknya lumayan jauh kapten bajak laut buru-buru melompat dari perahu tersebut tetapi perahu yang ditunggangi meledak berpecah berkeping-keping.
Jian Chen tidak memberi serangan susulan melainkan membiarkan mereka berenang begitu saja. Jian Chen kemudian membelah kapal bajak laut itu menjadi dua dengan elemen cahayanya.
Kapal besar tersebut perlahan-lahan mulai tenggelam ke dalam laut, para perompak tampak terkejut dengan aksi Jian Chen yang menghancurkan kapal besarnya.
"Kalian ingin hidup maka berharaplah, bedoa agar tubuh kalian tidak menjadi santapan ikan-ikan teri..." Jian Chen tertawa mengejek pada mereka sebelum kembali ke kapal para penumpang.
Para bajak laut mulai mengerti arah tujuan Jian Chen yang tidak membunuhnya namun membiarkan mereka berenang di tengah lautan lepas.
Para bajak laut tidak dikondisi yang baik meski masih hidup, mereka yakin berenang di tengah laut seperti ini bahkan lebih buruk dari kematian sekalipun.