Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 116 — 12 Taring Pembunuh


Jian Chen duduk di salah satu podium tak jauh dari panggung arena, tak lama kemudian Kepala Akademi yang selaku panitia turnamen memulai acaranya. Dia menyambut terlebih dahulu tamu-tamu yang datang, menjelaskan peraturan turnamen serta hadiah yang akan didapatkan bagi murid yang juara.


Ziyun, Meily serta peserta lainnya yang mengikuti turnamen duduk berbaris di depan arena. Mereka menunggu panitia memanggil nama mereka untuk bertarung nanti.


Dalam salah satu penyampaiannya, Kepala Akademi mengumumkan bahwa turnamen ini dilakukan selama tiga hari, hari pertama babak penyisihan, babak utama dan terakhir babak final.


Bagi murid sendiri, turnamen ini bukan sekedar kompetisi saja melainkan untuk merebut jabatan di akademi. Sepuluh murid terjenius bisa berubah posisi di turnamen ini jika dikalahkan.


Turnamen tahun sekarang terkesan lebih meriah di tiga tahun sebelumnya terutama ada ketua-ketua klan yang hadir.


Setelah Kepala Akademi menyelesaikan pembukaan turnamen, tiba-tiba Jian Chen menghela nafas panjang membuat Lily bertanya-tanya karena ekpresi pemuda itu terlihat kusut.


“Apa ada yang salah dengan panitia turnamen itu? Apakah dia musuhmu?” tanya Lily penasaran.


“Dari awal aku tidak tertarik terhadap turnamen ini, aku datang hanya ingin memastikan sesuatu dan ternyata dugaanku benar adanya.”


“Apa maksudmu?”


Alis Jian Chen terangkat, “Bukankah kau mengetahui segalanya yang terjadi di kehidupanku dulu apalagi tentang turnamen ini, kenapa kau masih bertanya.”


“Hei, Tuan Puteri ini juga mahluk hidup, aku juga bisa lupa...” Lily melipat tangannya didada, menjulurkan lidah.


Jian Chen menghela nafas panjang sebelum menceritakan kehidupan sebelumnya dan berharap gadis itu bisa langsung mengingatnya.


“Klan Chu dan klan Liu berperang untuk merebut tahta pemimpin provinsi, ya…” Lily mengelus dagunya usai Jian Chen bercerita.


“Kira-kira setelah dua tahun aku pergi dari akademi, kota Qianshan mengalami peperangan yang besar antara klan Chu dan Klan Liu. Masalahnya peperangan itu bukan 2 klan saja melainkan melibatkan klan yang lain…”


Jian Chen tidak tahu persis kejadian itu karena hanya mendengar dari mulut ke mulut namun yang jelas peperangan tersebut mengakibatkan banyak korban di ibu kota sampai akhirnya klan Liu merebut tahta klan Chu.


“Jadi apa masalahnya, jika itu tidak membahayakan klanmu seharusnya kau tidak ambil pusing dengan bagian ini?”


“Aku seharusnya berpikir demikian namun situasi tak sesederhana itu, alasan dulu aku menghancurkan organisasi-organisasi karena di pemerintahan klan Liu akan banyak organisasi yang bermunculan dan membuat kekacuan.”


“Jadi menurutmu klan Liu bekerjama sama dengan organisasi jahat?”


Jian Chen menggaruk kepalanya sebelum menggeleng pelan “Kalau soal itu, aku tidak tahu...”


Turnamen di atas panggung telah dimulai, terlihat dua murid datang dari dua kubu. Wasit memberikan aba-aba lalu kedua murid itu mulai bertarung di arena.


“Jadi apa yang kau dapatkan menghadiri turnamen ini, aku belum melihat tanda-tanda yang kau ceritakan berikatan dengan tindakanmu yang sekarang.”


“Klan Chu dan klan Liu sebenarnya sudah bermusuhan dari dulu, peperangan bisa tersulut kapan saja jika salah satu dari mereka memprovokasi. Alasan keduanya tidak saling menyerang adalah karena mereka menunggu sebuah alasan untuk melakukan itu…”


Klan Liu tidak bisa menyerang klan Chu tanpa mempunyai alasan yang jelas karena kalau mereka menyerang begitu saja, klan-klan lain akan marah dan balik menyerbu klan Liu.


Dikehidupan pertama Jian Chen, ia pernah mendengar bahwa di tengah turnamen ini akan ada tragedi yang mengerikan dimana puluhan murid akademi Qianshan dibunuh tanpa ada alasan yang jelas.


Kepala Akademi yang berasal dari klan Chu dituduh atas tragedi itu karena beranggapan kurang melindungi murid-muridnya. Imbasnya nama klan Chu juga langsung tercemar.


Situasi itu digunakan klan Liu untuk memanas-manasi kemarahan klan lain sehingga klan Chu mulai goyah pondasinya dan disaat itu lah klan Liu bergerak menyerang klan Chu.


“Kau beranggapan yang membunuh para murid akademi itu adalah pihak klan Liu?”


Jian Chen mengangguk, “pastinya karena dari sekian banyaknya murid hanya murid klan Liu yang tidak mati atas tragedi mengerikan tersebut. Liu Yanyi adalah salah satunya.”


Di tragedi itu Ye Ziyun juga meninggal, tujuan Jian Chen ke akademi untuk mengagalkan rencana klan Liu tersebut.


“Mereka akhirnya pergi…” Jian Chen mengamati 12 orang itu sebelum dirinya ikut meninggalkan area turnamen, Jian Chen berniat mengikuti 12 orang itu secara diam-diam.


***


Orang-orang yang diikuti Jian Chen merupakan anggota klan Liu, terlihat jelas dari simbol klan Liu di punggung pakaiannya.


Jian Chen terus mengikuti mereka secara diam-diam dengan melompati genteng-genteng bangunan atau berjalan disela-sela gang rumah.


Dua belas orang itu bergerak menjauhi akademi bahkan terus sampai keluar perbatasan Kota Qianshan, mereka akhirnya berhenti di dekat sebuah hutan. Dua belas orang itu kemudian berlutut pada seseorang yang memakai jubah lalu mereka menyampaikan laporannya.


Karena jarak Jian Chen dan mereka jauh dia mengaktifkan Mata Dewa Langit yang mempunyai kemampuan bisa mendengar dengan cara melihat.


“Pemimpin, kami sudah melihat situasi di lapangan, akademi telah memulai turnamennya…” salah satu Ketua dari 12 orang itu menyampaikan laporannya.


Orang berjubah mengangguk dan tersenyum mendengarnya, “jadi bagaimana menurut kalian misi ini, apakah kalian bisa mengatasinya atau aku juga harus ikut tarun tangan?”


Dua belas orang itu saling pandang sesaat sebelum menggeleng serempak. “Pemimpin tidak harus bergerak, kami 12 pembunuh klan Liu bahkan terlalu mudah menjalankan misi ini.”


Orang berjubah tertawa, “Baiklah, kalau begitu aku langsung menunggu kalian di markas. Sebagai masukan, kalian lebih baik bergerak di malam hari ketika murid-murid tertidur, itu bisa memudahkan misi kalian.”


Dua belas pembunuh klan Liu mengangguk bersamaan, orang berjubah tersebut kemudian pergi meninggalkan mereka setelahnya.


Jian Chen melihat itu dari jauh menghela nafas panjang, tidak salah lagi orang-orang di depannya merupakan dalang dari tragedi pembunuhan murid akademi.


“Apa yang akan kau lakukan setelah ini?” Lily bertanya kemudian.


“Apa lagi, tentu saja menghadapi mereka.”


***


Akhirnya 12 pembunuh itu menunggu hingga langit mulai gelap, di waktu tersebut mereka melakukan persiapan salah satunya memakai sebuah jubah atau topeng untuk menutupi identitas.


“Hari ini lebih dingin dari biasanya, kenapa firasatku tiba-tiba memburuk tentang misi ini?” salah satu dari mereka membuka suara ketika melakukan persiapan.


“Hmph! Bilang saja kau takut?” teman lainnya justru tertawa mengejek.


“Siapa yang takut, aku sudah berpengalam membunuh di berbagai situasi. Kita sebagai 12 Taring Pembunuh klan Liu tidak pernah gagal menjalankan misi…” orang itu mendengus kesal.


“Kalian berdua, diamlah, kita harus fokus menjalankan misi ini. Seperti biasa, kita akan bergerak cepat tanpa terlihat sedikitpun.” Pemimpin 12 Taring pembunuh mengingatkan keduanya.


“Ketua, ini sudah malam, apakah kita berangkat sekarang.”


“Hm… apa kalian sudah siap?”


“Sejak tadi, bahkan aku tidak sabar melakukan misi ini.”


Ketua 12 Taring Pembunuh itu kemudian memberi instruksi pada anggotanya untuk maju, baru beberapa langkah mereka bergerak tiba-tiba ada seseorang yang muncul dari kegelapan hutan dan menghadang semuanya.


Pandangan 12 Taring Pembunuh menjadi waspada, mereka tidak menyadari keberadaan orang tersebut sebelum menunjukkannya secara langsung.


“Kupikir kalian membatalkan misi ini, aku sudah menunggu kalian sejak lama…”


Orang itu kemudian berjalan beberapa langkah hingga sinar bulan menyinari tubuhnya, 12 Taring Pembunuh terkejut ketika melihat orang tersebut memiliki dua mata yang bercahaya tetapi berbeda warna, satu mata berwarna emas dan satu lagi berwarna keperakan.