Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 286 — Jian Chen Vs Pendekar Alam Raja IV


Jian Chen memang bisa menandingi tiga Alam Raja sekaligus namun akan berbeda cerita jika empat Alam Langit mulai ikut menyerangnya secara bersamaan.


Empat pendekar Alam Langit tersebut menyerang Jian Chen saat mereka menemukan celah sementara tiga Alam Raja membuatnya sibuk terus menerus.


Xiao Yan dan Xiao Yun kali ini menggenapkan seluruh kekuatan mereka, tidak lagi menahan kekuatannya. Terlihat keduanya sangat fokus dalam menyerang serta mengubah teknik goloknya menjadi sebuah teknik pembunuh.


Yang Tian tidak kalah sama, permainan tongkatnya bagai air mengalir tanpa henti yang terus terayun pada Jian Chen, belum lagi kekuatan ayunan pria sepuh itu selalu lebih kuat dari ayunan sebelumnya, mengenainya akan membuat tulang mereka patah.


Jian Chen menahan nafasnya, ia tidak lagi menahan semua serangan mereka melainkan mencoba menghindarinya, serangan dari berbagai arah tersebut sulit Jian Chen tahan seluruhnya.


"Melawan ketujuh pendekar tingkat tinggi sekaligus jelas bukan hal mudah untuk kau lawan sekarang, apa kau bisa melawan mereka semua?" Lily bertanya dari pikiran Jian Chen, ia paling menyadari situasi pemuda itu dari siapapun.


"Melawan ketiga Alam Raja bukanlah hal yang sulit tapi membunuh mereka adalah perkara berbeda, butuh sebuah trik untuk melakukannya."


"Jadi apa kau bisa melawan ketujuh pendekar itu sekaligus?"


Jian Chen tidak menjawab, sejujurnya ia sedikit menyesal tidak membunuh empat Alam Langit yang tersisa, mungkin situasinya tidak akan seperti sekarang.


Serangan ketujuh lawannya membuat Jian Chen terpojok, tangannya yang memegang pedang asura sudah gemetar bercampur rasa nyeri saat menahan serangan lawannya secara terus menerus.


"Hei-! Apa kau bisa mengatasi mereka, aku sekarang sedang bertanya padamu?" Lily berujar protes melihat Jian Chen tidak menjawabnya.


Jawaban Lily lagi-lagi tidak gubris pemuda itu, membuat gadis itu jadi memasang wajah cemberut.


Ketika pertarungan Jian Chen semakin sengit, suara ledakan keras tiba-tiba terdengar dari sudut arah langit.


Jian Chen tersenyum lebar melihat ledakan tersebut yang berasal dari kembang api yang Miou Lin lepaskan, kembang api barusan sekaligus tanda gadis itu telah menyelesaikan misinya.


Saat perhatian Jian Chen tertuju pada kembang api, Xiao Yan mendengus kesal sebelum meningkatkan kecepatan goloknya yang berhasil melukai tubuh Jian Chen dengan luka dalam.


Tidak habis disana, salah satu pendekar Alam Langit yang menggunakan senjata pedang tidak meninggalkan kesempatan tersebut dan langsung menusukkan pedangnya dari arah belakang.


Pedang itu menghujam kuat ke arah jantung Jian Chen hingga menembus dadanya.


Xiao Yan ingin mengakhiri nyawa Jian Chen di tangannya dengan menebas leher pemuda itu, ia mengerutkan dahi saat melihat Jian Chen masih tersenyum dengan jantungnya yang sudah tertusuk.


Xiao Yan mempunyai firasat buruk, ia buru-buru mengayunkan goloknya namun saat hendak melakukannya tiba-tiba tubuh Jian Chen meledak menjadi ribuan kupu-kupu yang indah.


Xiao Yan bergerak mundur begitu juga pendekar Alam Langit yang menusukkan pedangnya pada jantung Jian Chen. Mereka tampak terkejut dengan apa yang mereka lihat.


Bukan Xiao Yan saja tetapi Yang Tian dan saudaranya Xiao Yun juga sama terkejutnya menyaksikan kejadian tersebut.


Tubuh Jian Chen benar-benar telah hilang dari pandangan mereka dan kini ribuan kupu-kupu yang bersayap biru telah mengisi area sekitarnya


"Apa ini, sebuah sihir?"


"Tidak mungkin, kupu-kupu ini benar-benar hidup sungguhan, kemana dia?"


"Apa dia mungkin bukan manusia?"


Empat pendekar Alam Langit bertanya-tanya dengan fenomena di depannya sementara Xiao Yan, Xiao Yun dan Yang Tian melihat kupu-kupu tersebut dengan penuh kewaspadaan.


"Kemana dia sebenarnya pergi..."


Kupu-kupu tersebut jelas mencoba menarik perhatian musuh, sebab itu Xiao Yan tampak awas melihat keadaan sekelilingnya.


"Kalian melihat kemana, aku ada disini..." diantara ribuan kupu-kupu itu, Jian Chen tiba-tiba muncul dari ruang hampa tepat di belakang Xiao Yan.


Xiao Yan menahan nafas, ia berbalik dan hendak menyerang Jian Chen dengan goloknya tetapi pedang Jian Chen sudah terlebih dulu menuju kearahnya.


"Arggh!" Tangan Xiao Yan terlepas dari tempatnya usai Jian Chen berhasil memotong tangan kanannya. "Bagaimana, bagaimana kau melakukannya..."


Jian Chen tidak menjawabnya, ia mengayunkan pedangnya sekali lagi dan kali ini tangan kiri Xiao Yan ikut terpotong.


Tanpa peduli dengan pendarahan hebat Xiao Yan, Jian Chen kembali mengayunkan pedang asura tetapi kali ini terarah pada lehernya.


Xiao Yan seketika berhenti bernafas, jasadnya segera jatuh ke tanah dengan kepala terlepas dari badannya.


Kejadian itu berlalu singkat, Xiao Yun bahkan belum sempat menolong Xiao Yan saat Jian Chen tiba-tiba dengan mudah mengambil nyawa kakaknya.


Xiao Yun memang marah karena kematian kakaknya tetapi ada emosi lain yang menyelimuti hatinya sekarang yaitu ketakutan pada Jian Chen.


Xiao Yun ingin menjaga jarak dengan Jian Chen tetapi pemuda itu tiba-tiba sudah ada di dekatnya. Dalam sekali tebasan pada lehernya, Xiao Yun mengikuti kakaknya setelahnya.


Ekspresi Yang Tian berubah pucat, ia sama sekali tidak bisa menarik nafasnya ketika Jian Chen membunuh dua Xiao bersaudara dengan begitu singkat.


Tanpa peduli harga diri dan nama besarnya, Yang Tian berbalik dan mulai kabur saat Jian Chen disibukkan dengan membunuh empat pendekar Alam Langit.


Jian Chen tersenyum sinis melihat tingkah Yang Tian, biarpun sudah sepuh, pria tua itu takut dengan kematian.


"Kau sudah datang kesini jadi jangan berharap bisa kembali..." Jian Chen mengalirkan tenaga dalam pada pedang asura lalu menggunakan teknik pedang gerhana dari jarak jauh. "Teknik Pedang Gerhana — Angin Matahari Terbit."


Pedang asura Jian Chen melepaskan pedang angin yang melesat cepat ke arah Yang Tian.


Yang Tian tidak mempunyai waktu untuk menghindar sehingga mencoba menahan serangan Jian Chen. Ia mengalirkan tenaga dalam pada tongkatnya agar dapat memblokir pisau udara tersebut.


Nyatanya pisau udara Jian Chen kali ini dialiri tenaga dalam diluar perkiraan Yang Tian, bukan hanya kuat tetapi pisau angin Jian Chen juga sangat tajam.


Pisau udara tersebut dengan mudah membelah tongkat Yang Tian menjadi dua, tidak sampai di sana pisau udara yang sama memotong tubuh Yang Tian seperti tahu.


Jian Chen memejamkan mata saat lawan kuat terakhirnya sudah tewas.


"Aku tidak menyangka kau selama ini menyembunyikan kekuatan aslimu, kau benar-benar lebih dari dugaanku..." Lily yang bersama Jian Chen selama ini juga terkejut dengan kekuatan Jian Chen yang sebenarnya.


Jian Chen tersenyum tipis, "Aku tidak berniat menyembunyikannya tetapi tidak ada alasan aku menggunakan seluruh kekuatanku..."


"Kenapa kau tidak melakukannya sejak awal jika bisa membunuh mereka dengan mudah."


Jian Chen menggeleng pelan. "Tidak sesederhana itu. Aku harus memastikan Miou Lin dan lainnya berhasil menyelamatkan para tetua yang di penjara, seperti yang kubilang, aku kesini bertugas untuk menarik perhatian musuh jadi ketika misi Miou Lin selesai aku juga harus mengakhiri pertarungan ini."


Lily membuka tutup mulutnya sebelum mengangguk mengerti, ia kini lebih memahami arah pikiran Jian Chen.


Pandangan Jian Chen kemudian tertuju pada pasukan Kekaisaran Qilin yang menatap mereka dengan penuh ketakutan.