Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 142 — Lima Gadis Kembar


Dari cerita pelayan itu, Jian Chen mendengar bahwa makam kuno telah di jaga oleh para penjaga walikota. Meski makam kuno itu berada di luar Kota Daiji namun karena jaraknya memang dekat maka walikota menganggap sebagai wilayahnya.


Tentu para pendekar luar masih bisa tetap memasukinya hanya saja mereka harus lebih dulu mengenalkan identitasnya ke penjaga sebelum dibiarkan masuk.


'Apa yang Walikota harapkan dengan menjaga makam kuno yang berbahaya, mereka yang diam-diam masuk pun belum tentu bisa kembali?' batin Jian Chen.


Satu hal yang diceritakan pelayanan tersebut bahwa mereka yang masuk ke makam kuno harus berkelompok, setidaknya jumlah kelompoknya lebih dari lima orang.


Hal ini membuat Jian Chen curiga namun disisi yang lain ia tak bisa menyimpulkan sesutu.


"Apa Tuan tahu keberadaan Pangeran Longxia di Kota, kabarnya ia juga akan menelusuri makam kuno tiga sampai 4 hari nanti."


Jian Chen mengelus dagunya, "Berapa jumlah korban yang sudah terjadi akibat makam kuno itu?"


"Aku dengar sudah hampir seribu orang, Tuan, beberapa hari kemarin ada sebuah kelompok yang jumlahnya seratus lebih. Setelah dua jam memasuki makam kuno hanya ada satu yang tersisa lalu mengabari bahwa yang lainnya telah binasa."


"Hm, apa yang dia katakan setelah berhasil keluar dari sana?"


Pelayan itu berpikir sesaat, mengingat-ingat ingatannya yang mungkin hampir lupa, "Aku tidak terlalu jelas tetapi samar-samar aku mendengar para pendekar menceritakan bahwa ada banyak jebakan di makam itu, mahluk misterius serta ada siluman yang buas."


Jian Chen mengangguk pelan, karena pelayan itu tidak bisa menjelaskan lagi maka Jian Chen membolehkan pergi.


Jian Chen memikirkan banyak hal tentang makam kuno tersebut setelah mendengar penjelasan pelayan tadi, karena dirinya akan tinggal disini beberapa hari kedepan ada kemungkinan Jian Chen akan menulusuri makam tersebut.


"Aku tidak peduli dengan keputusanmu tetapi jika kau sampai mati, aku akan membuat perhitungan yang besar padamu!?" Lily memperingatkan keputusan Jian Chen yang hendak masuk ke makam kuno.


Jian Chen tersenyum tipis mendengar omelan Lily, Tuan Puteri itu sebenarnya memang tidak peduli dengan keputusannya hanya saja dia khawatir hal tersebut bisa membuat nyawanya terancam.


Ketika Jian Chen masih berbicara bersama Lily, tanpa ia sadari ada 5 orang yang naik ke lantai empat.


Semua perhatian di ruangan itu langsung tertuju pada 5 orang tersebut, Jian Chen tak lama kemudian menoleh ke arah yang sama, alisnya seketika terangkat.


Lima orang itu semuanya adalah wanita yang cantik, namun yang membuatnya jadi perhatian semua orang adalah kelima gadis itu memiliki paras yang sama alias 5 kembar bersaudara.


Wajah mereka manis dan imut, ada ciri kecantikan yang unik dari kelima gadis itu yaitu mereka memiliki rambut berwarna perak yang terurai indah dan juga mempunyai mata berwarna biru.


Sepanjang kehidupannya Jian Chen belum melihat mata yang berwarna biru seperti itu.


Usia gadis-gadis itu sekitar 16 tahun, sama dengan usia Jian Chen sekarang tetapi kecantikan mereka hampir sama yang ditunjukkan gadis dewasa muda pada umumnya.


Beberapa laki-laki yang ada di lantai empat bahkan langsung terbius oleh kecantikan 5 gadis kembar itu. Jian Chen juga tak kalah sama meski masih bisa mengontrol dirinya, lagi pula kecantikan Lily tetap yang paling cantik menurut Jian Chen.


Lima gadis kembar itu kemudian duduk di salah satu meja yang kosong, kelimanya langsung memanggil pelayan untuk meminta pesanan.


"Hah?! Bukankah ini terlalu mahal, satu porsi daging panggang seharga 15 keping perak, Kakak pelayan, bukankah ini pemerasan..." Keluh salah satu dari gadis itu dengan wajah cemberut ketika disebutkan harga masakannya.


Pelayan yang melayani mereka berusaha tetap tersenyum sembari menjelaskan bahwa seperti inilah hidangan lantai empat, meski harga melangit tapi masakannya juga sangat lezat di banding 3 lantai yang lain.


"Bisakah lebih murah lagi, setidaknya menjadi 3 keping perak? Lihatlah kami berlima belum makan hari ini..."


Pelayan tersebut tersenyum tipis. "Nona, jika anda ingin yang lebih hemat dan juga mendapatkan masakan yang banyak, Nona bisa turun ke lantai satu atau dua, disana kalian sudah cukup memesan banyak porsi dengan uang kalian." Ucap pelayan itu.


Tak pantang menyerah mereka mencoba menawar lagi tetapi lagi-lagi selalu di tolak hingga salah satu dari gadis itu melihat sekitar restoran kemudian pandangannya jatuh pada seorang pemuda yang duduk sendiri di mejanya.


Pemuda itu jelas seusia mereka, Sang pemuda yang dimaksud yang tak lain adalah Jian Chen sendiri.


"Sepupu pertama, lihatlah di meja dekat jendela itu, dia adalah sasaran yang bagus untuk target kita." Bisik salah satu gadis yang melihat Jian Chen kepada salah satu kembarannya.


Gadis yang dibisikan langsung menoleh ke meja Jian Chen, senyuman penuh makna terukir di wajahnya lalu ia memberitahukan pada ke empat kembar yang lain.


Alis Jian Chen terangkat tiba-tiba ketika melihat 5 kembar itu yang berjalan ke arah mejanya, mereka kemudian duduk di meja Jian Chen.


Jian Chen menyipitkan matanya, ia baru menyadari ada yang membedakan 5 gadis itu selain gaya rambut mereka, kelimanya memiliki anting yang memiliki beda warna, seperti anting warna merah, anting biru, cokelat, kuning, dan terakhir anting putih.


"Maaf, bolehkah kami duduk di sini?" Tanya salah satu gadis yang memiliki anting putih pada Jian Chen.


Jian Chen tersenyum mengangguk, menyilahkannya. Terlihat semua sorot mata di restoran kini jadi tertuju pada mejanya.


"Ah, terimakasih, kau memang laki-laki yang baik." Gadis beranting putih itu tersenyum manis. "Kita sepertinya seumuran tetapi kau bisa duduk di lantai 4, mungkinkah kau orang kaya?"


Jian Chen tersenyum tipis. "Tidak terlalu, aku hanya memiliki beberapa uang lebih saja..."


"Oh, kau merendah, ya, jelas sekali kau orang kaya, dari pakaianmu saja sudah terlihat demikian."


Jian Chen saat ini memang memakai pakaian yang terbilang mahal, terlihat dari kualitas dan bahan pakaiannya yang berbeda.


"Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya Jian Chen kemudian, ia merasa gadis itu ingin banyak berbasa-basi lagi dan itu jelas akan membuang waktunya.


"Itu..." Gadis yang memiliki anting putih itu kemudian menjelaskan bahwa ia datang dari jauh dan baru sampai ke kota ini, uang mereka hanya beberapa keping lagi di sisa perjalanan.


Jian Chen langsung mengerti sebelum ceritanya selesai, intinya gadis itu sedang meminta bantuannya secara tidak langsung.


"Jika kalian mau makan, pesan saja nanti biar aku yang bayar..." Ucap Jian Chen selanjutnya.


"Sungguh, tapi bagaimana jika nanti bayarannya mahal?" gadis anting putih terkejut bercampur rasa senang.


"Tenang saja uangku masih cukup..."


Masalah uang, Jian Chen yakin ia adalah orang terkaya di kota ini, di cincin ruangnya ada sekitar ratusan juta keping emas yang dia bawa.


Kelima gadis kembar itu langsung senang mendengar perkataan Jian Chen, perempuan beranting putih bahkan memuji kemurahan hati Jian Chen sambil memasang senyum cantiknya.


'Gadis berambut perak, bermata biru serta memiliki paras yang cantik dan seiras... Mereka berlima benar-benar unik...'


Jian Chen tertawa kecil sambil menggelengkan kepala pelan. Ia tentu menyadari bahwa gadis-gadis itu sedang mencoba memerasnya menggunakan kecantikan mereka.


Jian Chen tidak menghindar pemerasan tersebut karena mereka memang benar-benar sedang membutuhkan pertolongan seseorang.


Lagian Ia juga tidak kekurangan uang untuk mentraktir kelimanya, bahkan jika Jian Chen mau ia bisa membeli restoran ini sekarang juga.