
"Kalian sudah menghilang sejak lama dan dinyatakan pensiun dari dunia persilatan, alih-alih beristirahat sampai mati kalian justru ingin meneror orang lain kembali." Jian Chen menggelengkan kepala pelan.
Selain Wu Yi, empat di antara delapan pendekar Alam Langit lainnya merupakan kriminal yang sudah puluhan tahun menghilang dan dinyatakan telah pensiun.
Jian Chen memahami bahwa sumber daya lah yang membuat mereka sembuh dari luka lamanya namun masuk ke dunia persilatan jelas berbeda kecuali ada tujuan atau niat lain dari para pendekar pensiun tersebut.
Masalahnya mereka tampak saling mengenal satu sama lain padahal para kriminal itu jelas berasal dari tempat yang berbeda-beda. Hal ini membuat Jian Chen bertanya-tanya kenapa bisa demikian.
"Ah, sudahlah, memikirkan kalian pensiun atau tidak bukanlah urusanku tetapi satu hal yang pasti, aku akan membunuh kalian disini atas dosa-dosa kalian di masa lalu..." Jian Chen menghunuskan pedangnya pada Wu Yi dan lainnya.
Para pendekar yang pensiun tersebut telah melakukan kejahatan besar di masa lalu, tidak hanya soal pembunuhan, di antara mereka juga ada yang menculik seluruh warga desa sebelum di jual ke Kekaisaran lain.
"Kau ingin membunuh kami seorang sendiri? Kau yakin? Di masa jayaku, tidak ada yang berhasil bertahan hidup setelah berani berurusan denganku..."
Jian Chen tertawa mengejek. "Tidak perlu bicara lebih banyak, tindakan adalah kata-kata yang sesungguhnya." Jian Chen kemudian memberi tanda Wu Yi dan lainnya untuk menyerang terlebih dulu.
Wu Yi mendengus, dia orang pertama yang bergerak menyerang Jian Chen dengan pedangnya sementara pendekar-pendekar lainnya mengikuti di belakangnya.
Jian Chen menarik nafas yang dalam sebelum menghembuskan nya pelan, ia mengalirkan tenaga dalam ke pedangnya lalu merubahnya menjadi energi. Pedang Jian Chen tiba-tiba dialiri energi dingin.
Jian Chen menghadapi delapan pendekar Alam Langit beserta Alam Hampa sekaligus, mereka tidak membiarkan Jian Chen berpikir atau bahkan menyerang balik.
Tiga belas orang itu saling bekerja sama, mengisi serangan kosong dengan serangan lainnya sehingga Jian Chen tidak mempunyai kesempatan menyerang.
Jian Chen memang diposisi bertahan tetapi mereka tidak mampu membuatnya terdesak atau sampai melukainya, dengan pedangnya Jian Chen dapat mudah menangkis serangan yang ada.
Belasan jurus terus berlalu, Wu Yi dan lainnya perlahan mulai terkejut karena Jian Chen bisa menahan serangannya ketiga belas lawannya sendiri.
Bahkan Wu Yi yang terus menyerang merasakan dampak akibat pedangnya terus berbenturan dengan Jian Chen, tangan yang memegang senjatanya merasakan dingin yang hebat sehingga menjadi kebas dan sedikit kaku.
Pedang yang diselimuti elemen es Jian Chen membuat kecepatan serangan lawannya menjadi menurun sehingga Jian Chen mempunyai kesempatan untuk menyerang.
Jian Chen mulai menyerang balik dengan teknik pedangnya yang lincah dan cepat, walaupun ia di kepung berbagai arah nyatanya tetap membuat ia unggul dalam pertarungan.
"Kemampuan pedang orang ini..." Wu Yi mengumpat, ia adalah pengguna pedang jadi mengetahui kemampuan antara Jian Chen dan dirinya terlalu berbeda jauh.
Pemahaman pedang Jian Chen memang sudah sangat tinggi semenjak mendalami Teknik Pedang Gerhana, ia dapat menggunakan pedangnya sebagai pelindung atau menyerang di berbagai situasi.
"Apa hanya segini kemampuan kalian?" Jian Chen tersenyum mengejek, dia menaikan ritme kecepatan pedangnya lagi kali ini membuat lawan-lawannya semakin kewalahan.
"Jangan terlalu percaya diri, kami belum menggunakan segenap kemampuan kami!" Wu Yi berkata dengan lantang.
"Kalau begitu lakukan atau semuanya akan terlambat..." Jian Chen tersenyum lebar.
Jian Chen mengubah perubahan jenis di pedangnya dari elemen es menjadi elemen angin, pemuda itu kemudian mengayunkan pedangnya sangat kuat yang menciptakan gelombang angin yang dahsyat.
Wu Yi dan tujuh pendekar Alam Langit di dekatnya langsung menahan gelombang angin itu dengan senjata pusaka mereka namun tubuh mereka tetap terdorong belasan meter.
Kedelapan pendekar itu merasakan tangan yang memegang senjata terasa sakit akibat gelombang angin Jian Chen. Saat itulah mereka teringat lima pendekar Alam Hampa masih di dekat lawannya.
"Gawat! Cepat mundur-!" Wu Yi berseru lantang.
Tanpa disuruh lima pendekar Alam Hampa itu sudah berniat mengambil jarak namun Jian Chen tidak membiarkan itu terjadi.
Sejak awal Jian Chen ingin memisahkan 8 pendekar Alam Langit itu dengan pendekar Alam Hampa di dekatnya, ketika semuanya sesuai rencananya Jian Chen langsung melepaskan hawa yang sangat dingin.
Hawa dingin Jian Chen sudah di tingkat yang tinggi jadi meski mereka Alam Hampa sekalipun tubuh mereka akan mengalami kesulitan bergerak.
Lima pendekar Alam Hampa itu terlalu terkejut dengan hawa dingin Jian Chen sampai tidak menyadari lawannya sudah berdiri di depan mereka dengan pedang yang terayun.
Jian Chen telah memasukkan tenaga dalam yang besar pada pedang pusakanya sehingga tebasan berikutnya tak bisa ditahan oleh lawannya, pedang Jian Chen bukan hanya membelah senjata mereka tetapi juga memotong tubuhnya menjadi dua.
Jian Chen menebas tubuh mereka satu persatu, sekali ayunan pedangnya membuat lawannya terbunuh seketika.
Delapan pendekar Alam Langit yang ingin membantu meneguk ludahnya sambil berkeringat dingin, mereka Alam Langit sekalipun tidak bisa melakukan apa yang barusan Jian Chen lakukan kecuali harus menggunakan tenaga dalam yang besar.
Jian Chen mengayunkan pedangnya untuk membersihkan darah yang menempel, ia tersenyum lebar ke arah delapan orang yang tersisa.
"Tunggu apalagi, kenapa berhenti, bukankah kau mengatakan ingin membunuhku?" Jian Chen tersenyum mengejek yang ditujukan pada Wu Yi.
"Kau..." Wu Yi mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya membuat pusakanya berubah warna menjadi ungu kehitaman. "Akan kuperlihatkan yang namanya putus asa..."
Wu Yi memberi instruksi pada yang lain agar menggunakan seluruh kekuatan mereka dan tidak menahannya lagi. Kekuatan Jian Chen terlalu kuat jika mereka menyerangnya dengan setengah-setengah.
"Kau pikir ini ruang rapat yang bisa berdiskusi seenaknya..." Jian Chen mengayunkan pedangnya lagi namun kini bukan gelombang udara yang keluar melainkan energi biru elemen es yang terlepas.
Wu Yi yang belum selesai berdiskusi dengan lainnya buru-buru menahan energi biru Jian Chen.
Wu Yi dan rekannya berhasil menahan serangan itu meski kulit mereka kini jadi membeku, ketika mereka melihat Jian Chen, pemuda itu sudah menghilang di tempat berdirinya dan tiba-tiba muncul di dekat pria tua yang sebelumnya Jian Chen lawan pertama kali dengan ayunan pedang mengarah pada lehernya.
Pria tua itu begitu terkejut dan belum siap saat Jian Chen sudah ada di hadapannya, ia hendak menahan ayunan pedang Jian Chen yang kini sudah bergerak ke arah lehernya namun tangannya yang masih membeku sulit di gerakan sehingga pedang Jian Chen dapat dengan mudah memotong lehernya.
Dalam satu kedipan mata, Jian Chen berhasil membunuh Alam Langit itu, yang membuat Wu Yi dan lainnya menahan nafas dingin.