
Saat Jian Chen sedang di kepung oleh ribuan pasukan musuh, Lily dan Yu Zhong sedang mengamatinya dari atas.
Pendekar Alam Dewa yang dimaksud Lily adalah Yu Zhong yang merupakan Kaisar Qilin generasi sebelumnya dan juga ayah dari Kaisar Qilin generasi sekarang.
Yu Zhong sebelumnya begitu terkejut ketika Lily terbang ke arahnya yang berarti ia mengetahui persembunyiannya di atas langit.
Pria yang sudah berusia lanjut tersebut sama sekali tidak menduga keberadaannya bakal tersadari oleh orang lain padahal ia cukup percaya diri dengan kemampuan persembunyiannya yang tinggi.
Seolah belum berakhir keterkejutannya, pria sepuh itu kembali terkejut saat melihat Lily yang tampak seperti gadis belasan tahun. Yang paling membuat pria sepuh itu terkejut adalah paras gadis itu yang memiliki kecantikan di tahap berbeda.
Yu Zhong mengerutkan dahinya saat tidak bisa membaca kultivasi gadis itu, anehnya aura yang dimilikinya terasa ganjil dan seperti bukan seorang manusia.
"Kurasa kau bersekongkol dengan pemuda itu bukan?"
Yu Zhong sadar Lily datang ke arahnya untuk menahannya agar tidak ikut campur saat Jian Chen menyerang pasukan Kekaisaran.
"Kau mengetahuinya tetapi masih bertanya, aku tidak mengerti arah pikiran manusia." Lily mendengus kesal.
Pandangan Yu Zhong seketika teralihkan oleh sesuatu yang terjadi di bawahnya, matanya membulat ketika Jian Chen menyemburkan api sampai membentuk menjadi lautan api.
Lily juga melihat ke arah yang sama, bibir manisnya sedikit terangkat ketika melihat kemampuan Jian Chen yang terus meningkat setiap waktu.
Lily mengalihkan pandangannya kembali pada pria sepuh itu yang terlihat ingin membantu pasukan kekaisaran, pria sepuh itu merasakan dadanya tersayat-sayat setiap kali Jian Chen membunuh pasukan kekaisarannya dalam jumlah yang mengejutkan.
Ketika Yu Zhong ingin turun Lily bergerak untuk menghadangnya.
"Aku tidak ingin menyakitimu, minggir!" Yu Zhong merapatkan giginya.
"Kau sudah menyadari tujuanku itu berarti kau harus mengerti..." Lily memutar matanya dengan malas.
"Kau ingin aku bunuh juga!"
"Aku sudah mempunyai niat itu sejak awal, apa yang membuat berpikir aku bukan lawanmu!"
Lily melepaskan aura merah ditubuhnya yang sukses membuat Yu Zhong mundur beberapa langkah dengan ekspresi pucat.
Aura merah milik Lily berhasil membuat Yu Zhong merasakan sinyal bahaya pada tubuhnya.
"Kau... Kau... Kau monster!" Yu Zhong menunjuk Lily dengan tangan sedikit gemetar
"Monster kepalamu-! Tidak ada monster yang memiliki kecantikan tak terlukiskan seperti ini!" Lily mendengus kesal.
Aura merah yang dilepaskan Lily adalah aura dari ras peri yang memiliki garis keturunan khusus, aura itu sangat menakutkan jika dirasakan oleh lawannya dan terkesan mencekam.
'Dia terlalu berbahaya, aku harus menghabisinya secepatnya..' Yu Zhong mungkin sedikit terkejut dengan aura yang dikeluarkan Lily tetapi tidak membuatnya takut.
Biarpun ia tak bisa membaca kultivasinya, aura yang dipancarkan tubuh gadis itu tidak sekuat dirinya, Yu Zhong yakin bisa mengalahkan Lily hanya saja melakukannya bukan sesuatu hal yang mudah.
***
Dua pendekar Alam Raja akhirnya turun tangan melihat sudah ratusan nyawa yang Jian Chen bunuh dalam waktu yang cukup singkat.
Salah satu Alam Raja itu memakai senjata rantai yang diikat di dua tangannya sementara satu lainnya memiliki senjata kampak besar.
Saat ini Jian Chen tengah melawan pasukan di sekitarnya, ia menyadari ada pendekar Alam Raja yang sedang datang ke arahnya.
Pendekar Alam Raja yang membawa kampak melompat dan mengayunkan senjatanya pada Jian Chen.
Jian Chen memberikan beberapa tendangan kuat pada lawan di sekitarnya yang membuat mereka terdorong cukup jauh. Jian Chen berbalik sebelum menahan ayunan kapak itu dengan pedang asura.
Ketika kedua senjata beradu, sebuah gelombang kejut tercipta.
Pendekar Alam Raja yang membawa kampak tampak terkejut melihat serangannya tidak membawa dampak signifikan pada Jian Chen atau setidaknya bisa membuatnya kehilangan keseimbangan.
"Pedangmu tidak terlalu buruk hingga bisa menahan kampakku..."
Jian Chen tersenyum tipis. "Kita lihat siapa yang lebih buruk senjatanya."
Pendekar itu kemudian mengayunkan kapak besarnya kembali sementara Jian Chen mengikuti, kali ini pendekar yang membawa kampak hampir kehilangan keseimbangan ketika kedua senjata masing-masing bertemu
Jian Chen berniat ingin melukainya dengan pedangnya namun sebuah rantai tiba-tiba sudah melilit pedang asura, membuatnya tak bisa diayunkan.
Sebelum Jian Chen melihat siapa pelakunya, rantai lainnya sudah terulur, rantai itu seperti sebuah cambuk yang bisa menghancurkan tulang pendekar jika mengenainya.
Jian Chen berdecak kesal, sambil memegang pedangnya ia mulai menghindari serangan rantai tersebut.
Karena jarak interval serangan rantai sangat cepat Jian Chen tidak bisa terus-terusan menghindar. Ia kemudian mengalirkan elemen petir pada pedangnya yang masih dililit rantai tersebut.
Menyadari kelemahan dari senjatanya, pendekar Alam Raja yang memakai rantai buru-buru melepaskan rantainya dari Jian Chen.
Sayangnya rambatan petir itu terlalu cepat untuknya, elemen petir seketika menyengat pendekar tersebut dalam hitungan detik.
Walaupun tidak cukup membuatnya terbunuh tapi setidaknya pendekar itu tidak bisa bergerak selama beberapa menit.
"Kau-! Tak akan kubiarkan hidup..." Pendekar Alam Raja yang memegang kampak terlihat geram menyaksikan rekannya dikalahkan dalam waktu singkat.
Kapak yang diayunkannya kini disertai tenaga yang kuat, hanya saja Jian Chen tidak berusaha menghindar melainkan mengadu dengan pedang Asuranya.
Keduanya kembali bertukar serangan, pendekar Alam Raja itu tidak bisa mengimbangi kecepatan Jian Chen sehingga dalam sepuluh pertukaran jurus saja ia sudah mengalami beberapa luka tebasan di tubuhnya.
Jian Chen tidak berniat membiarkan ia hidup, sayangnya belum sempat ia membunuh pendekar Alam Raja itu, bantuan pendekar Alam Langit sebelumnya sudah datang dan menyibukkannya kembali.
Terdapat tujuh Alam Langit yang baru, di tambah enam sebelumnya membuat Jian Chen harus memusatkan perhatian pada mereka.
"Kali ini kau tidak akan bisa selamat lagi melawan kami bertiga belas..." Salah satu dari mereka tertawa mengejek.
"Sebenarnya kau belum mengetahui apa-apa mengenai kekuatanku. Teknik Pedang Gerhana — Kepakan Sayap Kupu-kupu."
Teknik pedang gerhana yang Jian Chen gunakan saat ini adalah teknik pedang yang dipadukan dengan ilusi.
Tubuh Jian Chen seketika meledak menjadi ribuan kupu-kupu yang terbang ke segala arah. Di waktu yang sama ia menghilangkan keberadaan dirinya saat lawannya terkejut dengan ledakan kupu-kupu tersebut.
Jian Chen muncul di belakang salah satu Alam Langit yang lengah sebelum membunuhnya dalam sekali serangan, usai ia mengambil nyawa Jian Chen akan kembali menghilang.
Dua belas Alam Langit meningkatkan kewaspadaan saat melihat Jian Chen bisa menghilang begitu saja.
Biarpun waspada Jian Chen tetap muncul kembali dan menghabisi pendekar Alam Langit yang lain satu persatu, kondisi serupa terus terulang hingga akhirnya para pendekar Alam Langit itu menyadari kupu-kupu di sekitarnya adalah sebuah ilusi yang namun situasinya sudah terlambat.
Dengan teknik yang sama Jian Chen berhasil menghabisi tiga belas pendekar Alam Langit tersebut, disisi yang lain kupu-kupu disekitarnya mulai menghilang menjadi debu.