Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 97 — Pria Topeng Putih


Tiga ribu pasukan berpencar menjadi beberapa kelompok dan berjalan ke arah yang berbeda, meski terasa kosong desa tersebut tetapi Tangan Besi tidak menurunkan kewaspadaanya.


Berbeda dengan Tangan Besi, pasukan yang berada di bawahnya justru bertindak leluasa dan semena-mena, bahkan sebagian dari mereka sudah menganggap wilayah klan Jian ini merupakan tempat organisasinya yang baru.


Mereka terus berlanjut menapaki jalan-jalan di antara rumah penduduk, karena klan Jian memiliki wilayah sangat besar sehingga tiga ribu pasukan itu berpencar menjadi kelompok-kelompok yang kecil.


Aksi tersebut justru berdampak buruk bagi mereka, tepat ketika mereka menurunkan kewaspadaan, dari atap rumah-rumah muncul ratusan pendekar yang mengepung kelompok tersebut.


Bukan hanya satu kelompok saja melainkan semua aliansi musuh sudah di kepung oleh para pendekar klan Jian.


“Apa ini, kenapa mereka masih ada?”


“Sial-! apakah ini jebakan.”


Para aliansi musuh begitu terkejut dengan kemunculan para pendekar klan Jian, tidak ada satupun dari mereka yang menduga akan di sergap seperti ini.


Awalnya mereka menganggap bahwa pasukan klan Jian sudah di kerahkan semuanya di luar tembok untuk menghadapi lima ribu pasukannya.


Mereka tidak menduga pasukan klan Jian masih tersisa banyak dan bahkan berani mengepung.


“Sudah kuduga ini jebakan, klan Jian telah menjebak kita!”


Tangan Besi merapatkan giginya sambil melihat jumlah para pendekar klan Jian yang mengepung kelompoknya sekarang. Yang mengejutkannya jumlah mereka lebih besar untuk menghadang kelompoknya.


Tangan Besi mulai menyesal karena mengambil keputusan kelompoknya berpencar, jelas ini adalah skenario lawannya.


Meski diantara yang mengepungnya tidak ada yang di ranah Alam Bumi tetapi Tangan Besi tetap tak merasa tenang.


Dirinya bisa saja lolos tetapi para pasukan yang mengikutinya tak demikian. Tangan Besi menyadari pasukannya bisa saja ada yang terbunuh.


Pendekar klan Jian kemudian maju dan mulai menyerang, Tangan Besi merapatkan giginya kesal sebelum memerintahkan kelompoknya melawan mereka.


***


Disisi yang jauh di tempat bangunan paling tinggi, Miou Lin melihat situasi pengepungan itu, gadis itu tersenyum melihat semua musuhnya masuk ke dalam perangkapnya yaitu menyerang mereka dalam kelompok-kelompok kecil.


Pendekar yang mengepung itu tidak cukup untuk mengalahkan musuhnya tetapi tujuan Miou Lin bukan karena itu melainkan untuk mengulur waktu.


Lima ribu pasukan klan Jian di luar tembok kelak bisa dimenangkan menurut perhitungannya apalagi mengingat ada Niu Qisha yang ikut bertarung, Setelah urusan yang di luar tembok selesai maka para pendekar itu akan menghabisi pasukan aliansi musuh yang ada di dalam klan Jian.


Pendekar yang dikerahkan Miou Lin merupakan gabungan dari pasukan asosiasi dan pasukan klan Chu, jumlahnya cukup banyak untuk menghadang langkah aliansi musuh sementara waktu.


Miou Lin juga memerintahkan mereka fokus untuk menyibukkan lawannya terlebih dahulu, tidak harus bernafsu untuk membunuhnya.


Setidaknya itu rencana Miou Lin sampai penglihatannya tertuju ke arah langit dan menemukan sebuah cahaya emas turun dan menghujam bumi bagai sebuah komet yang jatuh.


Mata Miou Lin menyipit dan menemukan komet itu merupakan seseorang yang jatuh dari langit.


Akibat mendaratnya orang tersebut menimbulkan ledakan yang menghancurkan tanah dan bangunan di sekitarnya.


Bukan hanya di pihak musuhnya yang terkejut bahkan para pendekar asosiasi serta klan Chu sama-sama terkejut apalagi yang jatuh tersebut adalah seorang manusia.


Belum semua mencerna situasi, orang itu langsung bergerak menyerang pasukan aliansi musuh, dia menggunakan sebuah pedang yang bercahaya, setiap kali ayunannya cukup membunuh lawannya dalam sekali tebasan.


Miou Lin merasa tidak asing dengan pedang cahaya keemasan tersebut, ia pernah melihatnya saat penyerangan di klan Niu dulu.


Miou Lin sedikit sulit membenarkannya karena jaraknya yang jauh belum lagi orang itu memakai sebuah topeng.


Yang membuat Miou Lin merasa lega orang misterius tersebut berada di pihaknya dan membunuh pasukan organisasi lawannya.


***


“Tuan muda, sebentar lagi kita akan segera sampai di klan Jian..” seorang pria paruh baya menoleh ke arah Jian Chen yang kini tengah duduk bersila.


Pria paruh baya dan Jian Chen kini tengah berada di atas langit sambil mengendarai siluman elang emas.


Sebelumnya pria paruh baya yang merupakan manager di cabang asosiasi itu begitu terkejut saat tiba-tiba ada seorang anak muda memerintahkannya untuk mengeluarkan elang emas dengan segera.


Dia langsung berkeringat dingin ketika melihat liontin giok yang di keluarkan Jian Chen sebagai identitas penting klan Miou.


Tanpa bantahan dan basa-basi lagi ia langsung menuruti kemauan Jian Chen dan mengeluarkan elang emas. Ia memacu elang emas secepat yang ia bisa karena Jian Chen memerintahkan itu dengan nada serius.


“Tuan muda, kita sudah sampai…” Ujar menager asosiasi itu mengulangnya, takut Jian Chen yang sedang bertapa tidak mendengar.


Jian Chen perlahan membuka matanya, seketika pria paruh baya itu terkejut melihat mata Jian Chen yang bersinar dan memiliki warna berbeda. Satu matanya berwarna emas sedangkan mata kirinya bercahaya keperakan.


Jian Chen mengaktifkan mata langitnya, dia kemudian melihat situasi di bawahnya yang sedang terjadi peperangan.


Berbeda dengan manager asosiasi yang tak dapat melihatnya karena kegelapan malam, Jian Chen tidak demikian.


Mata langit Jian Chen memungkinkannya bisa melihat dalam kegelapan, jarak yang jauh pun masih terlihat jelas oleh mata Jian Chen.


Jian Chen menemukan peperangan sudah dimulai di luar tembok klan Jian, peperangan yang begitu sengit dari dua kubu. Jian Chen mengepalkan tangannya keras, tak menduga dirinya telambat.


Pandangan Jian Chen jatuh tak jauh dari arena peperangan dan melihat ada pertarungan Niu Qisha yang melawan 3 orang. Dari sekilas saja, 3 orang itu memiliki kekuatan yang tak kalah kuat dari Niu Qisha.


Pandangan Jian Chen kemudian beralih pada situasi di dalam klan, begitu terkejutnya ia melihat ada musuh-musuhnya sudah menerobos ke pemukiman klan Jian dan mereka sekarang sedang bertarung di dalamnya.


Jian Chen tidak mengetahui stratergi Miou Lin jadi menganggap bahwa klan Jian sudah gagal melindungi tembok perbatasan.


“Arahkan elang emasmu ke pusat klan Jian!” nafas Jian Chen memburu, kemarahan mulai menyelimuti hatinya.


Tak membutuhkan waktu lama hingga elang tersebut sudah mengambang tepat di atas klan Jian.


“Terimakasih telah mengantarkku sisanya kau bisa langsung pulang!” Jian Chen memakai topeng berwarna putih sebelum melompat dari elang emas.


“Baik tuan muda, kalau begitu aku akan mencari tempat untuk menda-…”


Ucapan pria paruh baya itu terhenti ketika tiba-tiba Jian Chen menjatuhkan dirinya begitu saja.


Pria paruh baya menjerit ngeri karena saat ini elangnya berada di atas langit yang tinggi dan andai jatuh Jian Chen bisa terluka bahkan meninggal tetapi ternyata dia menemukan tubuh Jian Chen berubah menjadi cahaya yang terang.


Jian Chen tidak memiliki luka sedikitpun ketika mendarat karena elemen cahayanya, saat dia melihat sekitar ada banyak pasang mata sudah tertuju padanya baik itu musuh maupun pasukan klan Jian.


Jian Chen tak peduli dengan tatapan ketakjuban mereka, ia langsung menarik pedang taring putih dan mengalirkan tenaga dalam. Dalam satu kedipan mata dia sudah di dekat salah seorang pasukan organisasi dan membunuhnya.


Menyadari pria bertopeng putih itu adalah kawan mereka, pasukan klan Jian melanjutkan pertarungan yang sempat tertunda karena kedatangan Jian Chen.


Jian Chen mengalirkan tenaga dalam lagi pada pedangnya kali ini menjadi bercahaya, pedang tersebut jauh lebih tajam dan bisa membunuh lawannya dalam sekali ayunan.