Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 321 — Kemampuan Jian Chen III


Dua pendekar Alam Raja yang berhasil Jian Chen lukai telah pulih kembali, menyaksikan belasan pendekar Alam Langit sudah tewas di tangan Jian Chen membuat mereka memikirkan ulang cara mengalahkan pemuda itu.


Saat ini Jian Chen sedang di sibukkan kembali melawan pendekar-pendekar di sekitarnya, Jian Chen mengumpat saat merasakan jumlah lawannya seperti tidak ada habisnya.


Tidak peduli Jian Chen mengalahkan ratusan dari mereka, ratusan pasukan lain akan datang dan menyerangnya.


Jian Chen hanya mempertanyakan tentang akal sehat pasukan kekaisaran Qilin itu, seharusnya mereka akan ketakutan setelah melihatnya membunuh begitu banyak namun alih-alih demikian, justru mereka terus menghampiri Jian Chen yang menurutnya sama saja dengan mengantarkan nyawa.


Pakaian Jian Chen sudah berubah warna menjadi merah, bahkan tubuhnya sudah basah kuyup oleh darah yang kental.


"Apa-apaan, sampai kapan mereka menyerangku seperti ini. Apa pemimpin mereka tidak menyayangkan nyawa pasukannya..."


Keluhan Jian Chen seolah lupa bahwa saat ini ia sedang melawan puluhan ribu orang sendirian karena saking sibuknya melawan pasukan kekaisaran Qilin yang tidak kunjung habis.


Jian Chen sampai-sampai kewalahan menghadapi mereka, jika boleh memilih, ia lebih baik melawan pendekar tingkat tinggi dari pada melawan pendekar lemah namun jumlahnya seperti tiada henti.


Jian Chen terus menghabisi setiap pendekar yang bergerak ke arahnya tanpa peduli tingkatan kekuatan musuhnya.


Pedang asura begitu tajam membuat beberapa jasad yang dibunuhnya hampir kebanyakan mati dalam keadaan tubuh tidak utuh.


Disisi yang jauh, Kaisar Qilin melihat Jian Chen dari atas kudanya. Tangannya mengepal keras melihat hanya satu lawannya sudah cukup membuat pasukannya kerepotan.


"Yang Mulia, bukankah sebaiknya kita menghentikan cara ini. Pendekar itu sudah di kepung selama beberapa jam dan masih belum ada tanda-tanda dia kelelahan..." Tetua Lin kembali mengingatkan.


Kaisar Qilin memang menyuruh pasukannya untuk terus menyerang Jian Chen dan berharap pemuda itu kehabisan tenaga dalamnya, tapi sudah sekian lama bertarung nyatanya Jian Chen masih bisa bertahan bahkan situasinya berbalik justru pemuda itu membabat habis semua pasukan Kekaisaran.


Tetua Lin berharap Kaisar Naga sebaiknya memerintahkan pendekar tingkat tinggi untuk langsung menghadapi Jian Chen alih-alih menggunakan cara demikian.


Tetua Lin tidak ingin semua pasukannya terbunuh dengan sia-sia sementara serangan mereka tidak berefek signifikan pada Jian Chen.


Tentu saja Tetua Lin terkejut dengan kekuatan yang Jian Chen keluarkan, tidak ada yang pernah menduga bahwa di kekaisaran kecil ini ada sosok kuat seperti Jian Chen.


Kaisar Qilin merapatkan giginya semakin kesal dengan ulah Jian Chen, kekuatan pemuda itu benar-benar di luar jangkauannya apalagi setelah belasan alam Langit dikalahkannya dalam waktu cepat.


Tidak punya pilihan lain akhirnya Kaisar Qilin memerintahkan pendekar tingkat tinggi yang berada di atas Alam Langit untuk bergerak.


Beberapa pilar Alam Raja pemerintahannya ikut serta mengepung Jian Chen, dengan jumlah sekian Alam Raja yang ia kerahkan, Kaisar Qilin yakin Jian Chen akan terbunuh sekarang.


***


Jian Chen kembali di datangkan pendekar Alam Raja tetapi kali ini situasinya lebih serius. Terdapat Enam Alam Raja yang datang dan jika dijumlahkan dua pendekar Alam Raja sebelumnya maka jumlah mereka berjumlah delapan.


Menyadari pertarungan bakal membahayakan, akhirnya pasukan kekaisaran yang mengepungnya mengambil jarak.


Jian Chen tersenyum lebar dalam hatinya setelah merasa gerak ruangnya menjadi leluasa kembali tetapi tidak lama kemudian ekspresinya menjadi buruk ketika melihat dua Alam Dewa tiba-tiba ikut serta dalam delapan Alam Raja.


"Ah, jadi ini pendekar yang mengacaukan pasukan kekaisaran Qilin itu, kau cukup berani atau... bodoh."


"Wajahnya sangat muda, aku tidak yakin usianya seperti yang kita lihat..."


Dua pendekar Alam Dewa itu adalah pemimpin organisasi kriminal di kekaisaran Qilin yang paling berbahaya, mereka ingin melawan Jian Chen saat melihat kekuatan yang di tunjukkan pemuda itu cukup membuat mereka tertarik.


Berbeda dengan lainnya, dua pendekar Alam Dewa itu datang bukan karena perintah dari Kaisar Qilin.


Dalam artian lain keduanya mengetahui Jian Chen berada di kultivasi yang sama dengan mereka yaitu Alam Dewa.


Ketika sepuluh pendekar tingkat tinggi mulai bergerak menyerang Jian Chen bersamaan, pemuda itu tak punya celah untuk menyerang sehingga langsung diposisi bertahan.


Lily memang mengatakan Jian Chen bukan lawan dari dua pendekar Alam Dewa itu tetapi berbeda kasusnya jika mereka menyerang bersama dengan delapan Alam Raja sekaligus.


Disisi yang lain Jian Chen sadar andai ia mengalahkan mereka maka ada kemungkinan pasukan kekaisaran Qilin bisa mundur.


Tenaga dalam Jian Chen kini tinggal kurang dari separuhnya usai ia melawan ribuan pasukan kekaisaran selama dua jam tanpa henti.


Hampir sekitar tujuh ribu pendekar yang telah ia habisi, membuat aura kematian di tubuhnya sudah tak bisa dibendung lagi.


Kesepuluh pendekar itu menggunakan pusaka andalan mereka sehingga setiap serangannya mengandung kekuatan yang tinggi.


Dua pendekar Alam Dewa yang paling kuat memberikan serangan pada Jian Chen, pemuda itu bisa merasakan begitu sulit melawan mereka bersama.


Jian Chen sepertinya harus membuat mereka berpencar untuk bisa menghabisi satu persatu lawannya.


Menyadari situasinya sedang tidak diuntungkan jika terus dilanjut, Jian Chen melepaskan hawa dingin di tubuhnya yang membuat mereka terkejut dan gerakannya sedikit melambat.


Jian Chen memanfaatkan celah tersebut untuk melompat ke atas sebelum menyemburkan api di mulutnya.


Kesepuluh pendekar itu secara reflek segera berpencar menghindari api tersebut, Jian Chen akhirnya menemukan celah untuk menyerang, ia kemudian menggunakan teknik pedang pernafasannya.


"Teknik Pedang Gerhana — Debaran Cinta Lara!"


Tubuh Jian Chen kemudian berpecah menjadi tiga puluh enam tubuh, di waktu yang sama setiap dirinya melawan kesepuluh pendekar sekaligus.


Aksi Jian Chen yang berpecah membuat orang-orang yang melihatnya terkejut sekaligus terpana.


"Ini... Ilusi..."


"Hmph! Ilusi rendahan ini tidak cukup untuk membunuh kami. Tunggu dulu, jangan bilang..." Dua Alam Dewa menyadari posisi Alam Raja lainnya sedang tidak bersamanya dan mereka dalam keadaan berpencar.


Ketika mereka dengan mudah menghancurkan tubuh ilusi Jian Chen sesaat dua Alam Dewa itu menyadari ada salah satu dari mereka yang sedang melawan tubuh Jian Chen yang asli.


Jian Chen memang sedang melawan seorang pendekar Alam Raja yang paling lemah di antara mereka, ilusi tubuhnya adalah pengalihan untuk menyibukkan lawannya sementara.


Dengan kecepatan pedangnya, tidak membutuhkan waktu lama hingga ia berhasil membunuh pendekar Alam Raja itu dengan cepat.


Jian Chen nyatanya tidak berhenti sampai di sana, ia bergerak ke Alam Raja yang masih terpisah.


Dengan mengalirkan tenaga dalam yang besar pada pedangnya, pendekar Alam Raja berikutnya tidak bisa menahan serangan Jian Chen yang bergerak bagai kilat, alhasil pedang Jian Chen memotong lehernya dalam sekali serangan.


"Hentikan dia-! Jangan sampai dia bertindak sesukanya-!" Kaisar Qilin buru-buru sadar dengan taktik Jian Chen yang sengaja memisahkan kesepuluh lawannya.


Jian Chen ingin membunuh pendekar Alam Raja lainnya tetapi waktunya sudah terlambat, pendekar Alam Raja itu sudah berkumpul dengan dua pendekar Alam Dewa bersamanya.


Jian Chen berdecak kesal karena tidak bisa bergerak lebih cepat lagi. "Sepertinya aku harus menggunakannya sekarang..."


Tubuh Jian Chen tiba-tiba melepaskan aura kehitaman di dalam tubuhnya yang menandakan ia menggunakan tenaga dalam aliran Yin.