Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 222 — Organisasi Pedang Darah V


Pusaka Yun Luo merupakan pusaka kelas langit, kekuatan dan ketajamannya tidak diragukan lagi tetapi di hadapan pedang Jian Chen, pusaka Yun Luo tidak berdaya bahkan perlahan-lahan mengalami kerusakan.


Merasa pedangnya bukan tandingan Jian Chen, Yun Luo memilih menghindari serangan Jian Chen sambil berusaha mengambil jarak.


Jian Chen tentu menyadari hal tersebut, ia menarik nafas yang dalam sebelum dikeluarkannya dari mulut, uap putih tercipta dari sudut bibirnya.


"Teknik Pedang Gerhana... Gerakan pertama..." Jian Chen menggunakan teknik pedang pernafasan lalu mengalirkan tenaga dalam yang besar pada ke pedangnya. "Gelombang Matahari!"


Jian Chen bergerak sangat cepat saat tiba-tiba berada di depan Yun Luo, ia mengayunkan satu tebasan pedangnya yang kini di selimuti oleh api akibat bergesekan dengan udara.


Yun Luo hampir tidak melihat kecepatan Jian Chen apalagi ayunan pedangnya, untungnya ia sempat menahan ayunan pedang Jian Chen tepat waktu namun ia tidak menyangka Jian Chen akan melepaskan serangan yang sangat hebat.


Tubuh Yun Luo langsung terlempar jauh akibat ayunan pedang Jian Chen, ia hampir kehilangan keseimbangannya ketika mendarat di tanah.


Yun Luo berkeringat dingin, andai pedangnya bukan pusaka kelas langit ayunan pedang Jian Chen sebelumnya mungkin dapat membuatnya menghembuskan nafas terakhir.


Kini pedang Yun Luo di penuhi retakan lainnya, tangan Yun Luo yang memegang pedang jadi bergetar akibat menahan serangan Jian Chen.


"Bukankah itu yang kau inginkan, mengambil jarak dariku?" Jian Chen tersenyum mengejek sambil menepuk-nepuk pundaknya dengan pedang Asura.


Yun Luo menahan emosinya, ia menyadari kekuatan Jian Chen hampir sama dengannya atau bahkan lebih. Yun Luo sepertinya harus menggunakan seluruh kekuatannya jika ingin mengalahkan Jian Chen.


Yun Luo membuka penutup mata kirinya, terlihat di baliknya ada bola mata berwarna merah yang bersinar tanpa ada bagian putih seperti mata pada umumnya.


Jian Chen menyipitkan matanya untuk melihat mata Yun Luo, entah kenapa ia merasakan sesuatu yang ganjil dari mata tersebut.


Tidak lama Yun Luo memperlihatkan mata merahnya, tanah yang di pijak bergetar beberapa saat. Tidak lama kemudian muncul tengkorak-tengkorak yang merangkak keluar.


Tengkorak itu terus bermunculan hingga jumlahnya mencapai ratusan, kerangka tengkorak itu berdiri dan menjadi hidup betulan.


Jian Chen menahan nafasnya, ia sampai sulit berkata-kata melihat pemandangan tersebut. Jian Chen pernah melihat kejadian seperti ini yaitu ketika ia menyaksikan kekuatan Lily. Melihatnya dua kali tidak membuat Jian Chen terbiasa.


Yun Luo tersenyum lebar dan menikmati reaksi Jian Chen. "Terlalu takut? Tenang saja semua ini hanya sebuah awal..."


Mata kiri Yun Luo semakin bersinar, tengkorak-tengkorak yang keluar dari tanah kemudian sedikit membesar dari ukuran awalnya. Setidaknya pasukan tengkorak itu memiliki tinggi dua meter setengah.


Ada hal yang mengganggu Jian Chen terutama kekuatan tengkorak itu, satu pasukan tengkorak memiliki kekuatan di Alam Kehidupan.


"Bagaimana, terkejut? Atau ketakutan?" Yun Luo tertawa lantang.


"Takut?" Jian Chen tertawa kecil. "Sebenarnya aku melihat mereka seperti pertunjukan, aku justru terkagum-kagum melihatnya."


Pandangan Yun Luo menjadi dingin. "Aku tidak tahu siapa kau dan apa alasanmu hingga berurusan dengan organisasiku tapi satu hal yang pasti, kau kesini untuk menyelamatkan orang-orang yang di culik bukan?"


Jian Chen tidak membenarkan atau membantahnya ketika Yun Luo mengetahui jawabannya, disisi lain ia masih memperhatikan pasukan tengkorak di depannya.


"Sepertinya dugaanku benar, kau kesini karena ingin menyelamatkan mereka kalau begitu menyerahlah atau akan kubunuh orang-orang yang kuculik..."


Jian Chen mengerutkan dahinya, tidak terlalu mengerti perkataan Yun Luo. "Sepertinya kau sedikit salah paham tentangku, aku memang ingin menyelamatkan mereka namun itu bukan tujuan utamaku... Tujuan sebenarnya aku kesini adalah ingin menghabisi organisasi kalian.


Yun Luo merapatkan gigi serta mengepalkan tangannya kesal, ia kemudian menjentikkan jarinya seketika pasukan tengkorak bergerak dan menyerang Jian Chen.


Jian Chen menyipitkan matanya, ia bisa melihat Yun Luo sungguh benar-benar mengendalikan pasukan tengkorak itu dengan menggerakkan tangannya.


Nafas Yun Luo tertahan, tengkorak yang di kendalikannya seharusnya sulit di hancurkan bahkan dengan pusaka sekalipun namun pedang Jian Chen dapat dengan mudah menghancurkan mereka.


Yun Luo mengalirkan tenaga dalam pada mata merahnya sebelum kemudian tengkorak yang hancur tadi mulai menyatu kembali.


Jian Chen melihat itu tersenyum pahit. "Bukankah tekniknya lebih bagus darimu?" Jian Chen bertanya pada Lily.


"Kau meremehkanku-! Kekuatan dia lemah, kau hancurkan saja tengkorak-tengkoraknya maka dia akan kalah segera!" Lily melipat tangannya di dada, tidak suka Jian Chen menyandingkan dirinya dengan manusia yang lemah menurut Lily.


Jian Chen terus menghancurkan tengkorak-tengkorak itu, seperti sebelumnya meski ia di kepung Jian Chen dapat dengan mudah membasmi tengkorak-tengkorak itu bahkan ia terkesan membantainya.


"Kalau kau kerepotan kau tinggal hancurkan mata merah yang ada di mata lawanmu itu..." Lily mengatakan bahwa mata merah yang di kiri mata Yun Luo bukanlah sebuah mata melainkan sebuah pusaka yang di simpan di sana.


Mata merah itulah sumber yang membuat tengkorak di sekitarnya bisa bergerak hidup.


Jian Chen melompat cukup jauh dari tengkorak itu sebelum meletakan tangannya di atas tanah.


"Elemental Cahaya — Rantai Rantai Cahaya!"


Dari tanah keluar rantai cahaya yang segera melilit pasukan tengkorak itu hingga membuat mereka tak bisa bergerak. Di waktu bersamaan Jian Chen sudah bergerak cepat dan menghancurkan mereka satu persatu.


Yun Luo yang menyaksikan itu tak bisa berkata apa-apa lagi, ia tidak menyangka ratusan pasukan tengkoraknya dapat dibantai mudah oleh Jian Chen dalam waktu hitungan menit.


Ketika Yun Luo masih sibuk dengan pikirannya Jian Chen tiba-tiba sudah berada di dekatnya, Jian Chen kemudian menghujani Yun Luo dengan serangan pedang yang mematikan sementara Yun Luo mencoba bertahan dari serangan Jian Chen.


Gerakan pedang Jian Chen sedikit berbeda, sekarang setiap serangannya lebih tajam membuat Yun Luo menjadi kewalahan.


Yun Luo memang belum terluka namun pedangnya semakin mengalami kerusakan setiap berbenturan dengan pedang Jian Chen. Ia tidak bisa fokus mengendalikan pasukan Tengkorak yang tersisa. Saat itulah Yun Luo menyadari kekuatan Jian Chen yang berada di atasnya.


Yun Luo ingin kabur namun firasatnya mengatakan bahwa itu adalah rencana yang buruk.


"Xin Tian, tolong aku-!" Yun Luo tiba-tiba berteriak lantang.


Sebelumnya Yun Luo dan Xin Tian datang bersamaan namun Xin Tian tidak langsung menghampiri Jian Chen tetapi menunggu di atas langit. Xin Tian mengatakan akan membantu Yun Luo kalau posisinya terdesak, sebab itulah ia percaya diri melawan Jian Chen.


Yun Luo terus berteriak namun kedatangan Xin Tian masih tidak terlihat.


"Apa jangan-jangan dia telah kabur?" Yun Luo merapatkan giginya, jikalau mengetahui Jian Chen bakal sekuat ini mungkin ia tidak akan berani menyerang Jian Chen.


"Jika tidak ada yang membantumu kau mungkin akan mati...", Jian Chen menyeringai lebar, pedangnya kini di aliri elemen cahaya.


Yun Luo ingin mengangkat pedangnya untuk menahan ayunan pedang Jian Chen namun pusakanya yang kini telah di penuhi retakan langsung hancur berkeping-keping menahan serangan Jian Chen.


Jian Chen mengayunkan kembali pedangnya kali ini Yun Luo tidak dapat menahannya. Pedang Jian Chen memotong rapih leher Yun Luo.


Sampai kematiannya, Yun Luo tidak terima dengan kematian tragis yang menimpanya, ia sama sekali tidak percaya bahwa hidupnya akan berakhir seperti ini.


"Sampai kapan kau terus bersembunyi di sana?" Jian Chen mengayunkan pedangnya ke arah jasad bayangan Yun Luo, seketika bayangan itu terpisah dari tempatnya sebelum melakukan perubahan wujud.


"Kau bisa melihatku!?" Xin Tian tidak menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Tentu saja, kau pikir aku tidak mengetahuinya?" Jian Chen menggelengkan kepala pelan.