Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 199 — Buah Surgawi


Hal pertama yang Jian Chen temui ketika pandangannya tiba-tiba menjadi gelap adalah ia sedang berbaring di tempat tidur yang terbuat dari kayu.


Jian Chen berusaha bangkit dan menggerakkan tubuh namun tubuhnya tidak mau mengikuti keinginannya, ia hanya merasakan semua badannya terasa lemas serta tidak bertenaga.


Jian Chen pada akhirnya hanya menatap langit-langit saja, rumah yang Jian Chen tempati terbilang sederhana bahkan terlihat seperti sebuah gubuk, pemandangan ini terasa tidak asing bagi Jian Chen.


"Kupikir kau tidak akan bangun lagi..." Suara yang merdu terdengar didalam kepala Jian Chen yang berasal dari suara Lily.


"Lily, apa yang terjadi sebenarnya, bagaimana keadaan klan serta orang tuaku?"


Lily menghela nafas pelan lalu melipat tangannya di dada, "Sudah kuduga kau tak sadarkan diri, kekuatanmu sebelumnya terlalu besar untuk dunia ini..."


Jian Chen tidak mengerti apa yang di maksud Lily, tepat ketika ia melihat Jian Wu di tusuk seketika ada dorongan emosi marah dari dalam tubuhnya.


Tubuh Jian Chen terasa panas saat itu sebelum pandangannya menjadi gelap, setelahnya Jian Chen tidak mengetahui apa yang terjadi karena tahu-tahu dirinya sudah berada di hamparan bunga sebelumnya.


"Sebenarnya aku bingung menjelaskannya dari mana tapi sepertinya kau harus mengetahui apa yang terjadi..." Lily menggaruk kepalanya lalu menjelaskan semuanya saat Jian Chen tak sadarkan diri terutama tentang wujud Jian Chen yang berbeda ketika alam bawah sadar telah mengontrol tubuhnya.


Hal ini seharusnya jarang terjadi namun berbeda kasusnya jika keturunan tertentu dan keturunan yang dimaksud adalah garis darah Jian Chen.


Jian Chen membuka matanya lebar setelah mengetahui bahwa tubuhnya berubah, di mulai dari rambut serta bola matanya hingga terakhir Jian Chen memiliki 3 pasang sayap.


Jian Chen melihat ke arah rambutnya namun sekarang sudah hitam kembali, sepertinya ketika ia tersadar semuanya kembali semula.


Lily lalu menjelaskan tentang inti dari ceritanya yaitu kekuatan Jian Chen yang berkali-kali lebih lebih kuat ketika mode tersebut, Jian Chen dengan mudahnya dapat membalikan peperangan klan Jian seperti membalikan telapak tangan.


Yang membuat Jian Chen terkejut adalah ketika Lily menceritakan elemen waktu. Ia baru mengetahui ada elemen yang menurut Lily elemen terkuat di alam semesta ini.


"Kenapa sebelumnya kau tidak menceritakan padaku ada elemen lain?" Tanya Jian Chen, berpikir Lily menyembunyikan sesuatu informasi darinya.


"Bisakah kau tidak bertanya dulu ketika aku bercerita..." Lily berdecak kesal, "Aku memang sengaja tidak menjelaskan itu karena elemen waktu seharusnya tidak ada..."


Lily tidak menceritakan lebih jelas mengenai elemen waktu melainkan fokus pada ceritanya kembali.


Dengan elemen yang sama Jian Chen bisa mengubah arus peperangan dalam waktu relatif singkat, tidak ada dari klan Liu yang selamat akibat kekuatan Jian Chen.


"Ketika semuanya sudah selesai, kau terbang ke langit yang tinggi dengan kecepatan yang sama sepertiku sebelum tiba-tiba pandanganku menjadi gelap. Kupikir aku akan mati tetapi melihat kau tersadar lagi membuatku sedikit bernafas lega."


Jian Chen terdiam beberapa saat, ia masih mencerna semuanya termasuk kekuatan dirinya yang masih misterius.


Jian Chen masih tidak bisa bergerak, saat itulah ia menyadari tidak ada tenaga dalam di tubuhnya. Sepertinya cerita Lily memang benar hingga tenaga dalam Jian Chen habis tidak tersisa tanpa sebab.


"Kau mungkin tidak bisa bergerak karena kekuatanmu melebihi kapasitas tubuhmu..." Lily menjelaskan pada Jian Chen yang masih kebingungan. "Sebaiknya kau pulihkan tenaga dalammu?"


"Kau sepertinya mengkhawatirkan aku bukan?"Jian Chen menyipitkan matanya sebelum menyeringai lebar.


"Khawatir kepalamu! Aku hanya tidak mau kau mati sehingga aku juga mati..." Lily mendengus lalu membuang wajahnya.


Jian Chen tertawa kecil, ia kemudian menutup matanya mencoba berkosentrasi untuk mengumpulkan tenaga dalam. Sebenarnya Jian Chen juga sedikit penasaran keberadaannya di mana tetapi Lily juga sama tidak mengetahuinya.


Melihat berada di gubuk atau rumah kecil, kemungkin ada seseorang yang memilikinya. Sambil menunggu Jian Chen mengumpulkan tenaga dalam.


Lima jam berlalu akhirnya Jian Chen telah memulihkan semua tenaga dalamnya, disisi lain lewat tenaga dalam itu ia bisa sedikit menggerakkan tubuhnya, setidaknya bisa digunakan untuk sekedar menoleh.


Jian Chen sedikit keheranan, ia masih menunggu kemana pemilik tempat ini berada padahal dari jendela yang terbuka hari sudah menjelang petang.


Malam kian tiba dan hari sudah semakin gelap, Jian Chen yakin pemilik rumah ini akan kembali untuk beristirahat namun setelah beberapa jam hingga malam menjadi larut, pemilik rumah masih tidak kembali.


"Apa ini rumah yang kosong?" Gumam Jian Chen kebingungan. "Kurasa tidak?"


Jian Chen melihat ada penerangan lilin tak jauh darinya berbaring, lilin itu sudah menyala sejak Jian Chen terbangun dan ia yakin seseorang pasti telah menyalakannya.


Karena tidak bisa bergerak Jian Chen hanya bisa di posisi tiduran terus sementara ia juga tidak mengantuk untuk tidur.


"Lily, apa kau tertidur?"


Jian Chen berkata pada gadis bergaun merah itu, ia tidak bisa pergi ke alam dantian karena kondisinya disisi lain ia jadi bosan karena menunggu.


"Apa!?" Lily membalasnya dengan nada jutek membuat Jian Chen tersenyum canggung.


Kalau dipikir-pikir Jian Chen seharusnya senang bisa bertemu gadis secantik Lily, hanya saja dengan sikap gadis itu yang selalu ketus membuatnya sulit membuka obrolan.


Jian Chen kemudian teringat bahwa sebelum sadar ia pernah berada di hamparan bunga yang luas dimimpinya.


Meski gadis itu tidak terlihat peduli Jian Chen menjelaskan pada Lily yang menurutnya hal itu di sebut mimpi yang terlihat nyata.


Jian Chen juga menjelaskan bahwa ia memakan tujuh buah apel yang aneh di mimpinya.


Reaksi Lily ternyata jauh dari perkiraannya apalagi gadis itu ternyata mengetahui tujuh buah yang dikatakan Jian Chen.


"Apa itu bukan mimpi menurutmu?" Tanya Jian Chen mendengar reaksi Lily yang terkejut.


"Itu jelas bukan mimpi, aku tidak tahu alasan bagaimana kau ada di sana namun 7 buah itu memang ada, namanya adalah 7 Buah Surgawi."


Lily semakin penasaran dengan identitas Jian Chen, ia lalu menjelaskan bahwa Tujuh Buah Surgawi adalah sumber daya yang dicari di seluruh dunia bahkan didunia Lily sekalipun.


Salah satu buah saja sangat langka menemukannya, di atas luasnya dunia, mencarinya tidak berbeda jauh dengan mencari jarum di tumpukan jerami


"Dalam mimpi itu aku sudah memakan semuanya, apa yang terjadi denganku?"


"Setiap buah memiliki manfaatnya masing-masing, apakah wanita yang memberimu buah itu menjelaskannya?"


Jian Chen mengiyakannya pelan.


"Hm, kalau begitu apapun itu kekuatanmu akan meningkat setelah memakannya..." Lily mengangguk pelan.


Malam akhirnya telah berlalu disusul matahari yang menjelang naik, Jian Chen sudah tidak berharap pemilik rumah atau gubuk ini kembali karena terlalu bosan untuk berharap hingga akhirnya ia mendengar suara pintu di buka.


"Oh, kau sudah siuman Chen'er, kupikir akan membutuhkan waktu yang lama..." Seorang pria berjenggot, berusia sekitar empat puluh tahunan tersenyum lebar kepadanya.


Nafas Jian Chen tertahan saat mengenalnya. "Gu-guru!?"