Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 175 — Perompak Sungai


Saat Lily atau Jian Chen membuka pintu kamarnya ia mendapati ada seseorang yang berdiri di bingkai pintu tersebut, orang itu yang tak lain adalah Lan Qiaoqiao.


Jian Chen mengerutkan dahinya dari dalam, ia berfirasat jangan-jangan Lily sudah menyadari kalau Lan Qiaoqiao sudah ada di depan pintu kamarnya.


"Benar, aku memang sudah mengetahuinya sejak awal..." Lily seolah mengerti apa yang Jian Chen pikirkan.


Jian Chen mendengus, sedikit kesal Lily membaca pikirannya seperti buku.


"Saudara Jian, a-anda mau keluar?" Lan Qiaoqiao tergugup salah tingkah saat pintu kamar Jian Chen terbuka, ia ingin mengetuk pintu dari tadi namun tidak punya keberanian untuk melakukannya. Wajah gadis itu terlihat memerah.


Lan Qiaoqiao tidak mengetahui saat ini yang didepannya bukan Jian Chen melainkan Lily.


Lily tidak menjawab namun menarik Lan Qiaoqiao kedalam kamarnya, gadis itu kemudian di baringkan di tempat tidur Jian Chen.


Jian Chen melotot, ia ingin mengatakan sesuatu namun Lily nyatanya tidak berhenti di sana. Sehabis Ia membaringkan tubuh Lan Qiaoqiao ke kasur, Lily atau Jian Chen naik dan merangkak di atas tubuh Lan Qiaoqiao.


Jian Chen tersedak nafasnya sendiri. "Apa yang kau lakukan? Kau gila?!"


Posisi Lily yang memakai tubuh Jian Chen kini terlihat sangat intim seperti dua orang yang ingin melakukan hubungan.


"Saudara Jian, apa yang anda lakukan?" Lan Qiaoqiao berkata pelan tetapi ia sedikit terkejut dengan aksi Jian Chen. Wajah gadis itu semakin bersemu merah.


"Jangan bergerak." Ucap Lily pelan, tentu saja yang terdengar oleh Lan Qiaoqiao adalah suara Jian Chen.


Lily kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Lan Qiaoqiao hingga dua kening mereka saling bersentuhan. Siapapun yang berada di sana akan beranggapan bahwa mereka hendak berciuman.


"Saudara Jian, a-apa yang anda lakukan?" Lan Qiaoqiao sedikit panik, kini ia merasakan hembusan nafas Jian Chen ketika wajahnya sangat dekat dengan pemuda itu.


Lily atau Jian Chen tidak menjawab, ia memejamkan mata lalu mulai melihat semua ingatan gadis itu sementara Lan Qiaoqiao merasakan kepalanya terasa hangat.


Situasi membuat Lan Qiaoqiao teringat bahwa Jian Chen pernah menaruh telapak tangannya di hutan dulu, hal yang sama dirasakan sekarang namun Lan Qiaoqiao tidak mengerti dengan tindakan Jian Chen, satu hal yang paling dirasakan olehnya, saat ini jantungnya benar-benar berdetak jauh lebih cepat.


Lan Qiaoqiao bahkan beranggapan Jian Chen ingin melakukan pelayanan sebagai seorang pria, andai ia benar meminta, sebagai kontrak hidupnya Lan Qiaoqiao tidak bisa menolaknya.


Lily hanya mendekatkan keningnya beberapa saat sebelum menjauhkan kembali, ia beringsut dari atas tubuh Lan Qiaoqiao membuat gadis itu bernafas lega meski wajah dan degup jantungnya masih memompa cepat.


"Benar-benar menarik, aku tidak menyangka peperangan antar dunia akan terjadi, ramalan kekacauan Ragnarok ternyata memang benar adanya..." Lily bergumam pelan sambil tertawa kecil.


Jian Chen bisa mendengar itu namun ia tidak mengerti maksud ucapan Lily.


Tiba-tiba Lily kembali ke alam dantian disusul tubuh Jian Chen yang mengambil alih semula.


Jian Chen ingin berkata sesuatu tentang apa yang Lily dapatkan namun situasinya tidak tepat terutama karena ia harus menjelaskan pada Lan Qiaoqiao atas tindakannya barusan padahal tadi bukan dirinya yang melakukan.


"Maaf tadi aku kelepasan..." Jian Chen menggaruk kepalanya sambil tersenyum canggung.


Lan Qiaoqiao mengangguk pelan dengan wajah yang tersipu malu, hal ini membuat Jian Chen mengumpat berulang kali dalam hati dan ingin sekali ia memberi pelajaran pada Lily yang membuatnya malu setengah mati.


"Itu juga adalah pelajaran untukmu agar tidak bermain-main dengan Tuan Puteri ini..." Lily tertawa dengan nada mengejek.


Jian Chen mengumpat kesal tetapi tidak membahas lebih jauh terutama saat Lily berbicara hal yang selanjutnya.


"Dari pada marah padaku sebaiknya kau keluar kamar, di atas sungai sebelah selatan ada tiga kapal yang menuju kesini. melihat dari situasinya sepertinya niat mereka tidak bagus."


Jian Chen ingin berkata sesuatu namun dari luar kapal terdengar suara seperti keributan, Jian Chen menghela nafas sebelum mengajak Lan Qiaoqiao ke sana.


Pemilik Kapal sudah menyiapkan beberapa koin uang untuk diserahkan pada perompak.


Sudah bukan rahasia umum ketika melewati jalur sungai ini ia harus memberikan bayaran pada perompak tersebut. Hal ini sebagai izin agar kapalnya bisa melewati mereka tanpa serangan.


Meski sudah disebut biasa, nyatanya di dalam hati Pemilik kapal terselip rasa keberatan yang besar atas ulah para perompak itu.


Dulu ia tidak membayar seperti ini namun semenjak beberapa hari yang lalu, entah dari mana para perompak ini datang keperairan sungainya dan menyatakan kekuasaan di wilayah air tersebut.


Awalnya pemilik-pemilik kapal enggan membayar namun para perompak itu mengancam dan akan membunuh mereka.


Pemilik-pemilik kapal tentu tak menunduk begitu saja, mereka mulai menyewa para pendekar untuk melawan kelompok perompak tersebut namun di luar dugaan, para perompak itu ternyata mempunyai kekuatan jauh dari dugaan mereka.


Jumlah perompak itu sangat banyak, belum lagi kekuatan mereka terlalu kuat terutama kaptennya.


Alhasil para pendekar yang disewa mengalami kekalahan serta langsung dibunuh, para perompak semakin murka karena kejadian itu dan mereka kemudian menerapkan tarif yang lebih melangit pada setiap kapal yang hendak lewat.


Pemilik-pemilik kapal tidak punya pilihan lain, beberapa dari mereka harus terpaksa menerima keadaan sementara sebagian lainnya menghentikan kapalnya beroperasi.


Beberapa kapal yang beroperasi pun tidak mengalami keuntungan yang cukup besar meski saingannya menurun, setiap harinya mereka hanya mendapatkan keuntungan minim karena sebagian hasil yang di dapatkannya harus di serahkan pada perompak.


"Jika kapal kalian ingin melalui sungai ini, serahkan bayaran untuk kami!" Kapal besar perompak sudah merapatkan kapalnya dengan Pemilik kapal. Salah satu anggotanya langsung menagih dengan nada dingin.


"Tuan, ini uang untuk anda dengan harga yang seperti sebelumnya..." Pemilik Kapal menyerahkan kantong kulit itu padanya dengan nada hormat.


"Apa ini?!" Anggota perompak melihat isi uang itu lalu menghitungnya. "Ini kurang, tambah lagi!"


"Tuan kemarin aku membayar untuk melewati jalur ini dengan harga yang sama, kenapa masih kurang?"


"Kau melawan!" Anggota perompak itu membentaknya membuat Pemilik kapal menjadi ketakutan. "Untuk hari ini harga setiap kapal yang lewat naik dua kali lipat."


"Tuan kami tidak punya uang sebanyak itu, kami baru beroperasi dan hanya mendapatkan beberapa penumpang hari ini. Mohon belas kasihnya..."


Anggota perompak tertawa mengejek. "Aku tidak peduli, jika kau tidak membayar maka akan kami sita kapalmu, andai kau melawan maka nyawa adalah bayaran terakhir."


Wajah Pemilik kapal pucat dan semakin ketakutan sementara anggota perompak itu semakin tertawa sampai ketika pandangannya tertuju pada salah satu arah, tawanya seketika terhenti.


Anggota perompak itu kini terpaku saat melihat ada empat gadis manis dari salah satu penumpang kapal di depannya, empat wanita itu mempunyai wajah seiras dan memiliki rambut perak, kecantikannya sulit di abaikan oleh mata.


Anggota perompak itu kemudian memanggil anggota yang lain untuk memberitahu pada kaptennya mengenai hal ini, tidak membutuhkan waktu lama hingga sang kapten datang dan melihatnya.


"Kapten, kapal ini mempunyai wanita cantik, kita tidak bisa mengabaikannya begitu saja!"


"Kapten kita harus mendapatkan gadis itu!"


Anggota perompak melaporkan berita itu pada kaptennya untuk mendapatkan keempat gadis yang memiliki kecantikan di atas rata-rata tersebut.


Kapten perompak tersenyum puas, sudah lama sekali ia tak menemukan mangsa dengan keindahan yang tak terlukiskan seperti keempat wanita itu. Ia ingin memerintahkan anggotanya untuk menculik mereka namun sebelum melakukan itu ada suara akrab yang terdengar di telinganya.


"Tidak kusangka kau ternyata masih hidup setelah kupikir sudah mati di laut lepas, aku benar-benar meremehkanmu!"


Kapten perompak kemudian menoleh pada sumber suara itu yang seketika keringat dingin membanjiri tubuhnya. Ia menemukan sosok yang membuatnya takut selama ini, sosok itu memiliki mata emas.


"Bajak Laut Tengkorak Iblis, kali ini akan kupastikan kalian lenyap selamanya..."