Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 341 — Semalam Bersama


Jian Chen sudah datang sejak lama ketika kompetisi itu dimulai, ia menonton di atas langit sambil menghapus hawa keberadaannya.


Sejak tadi ia melihat kemampuan kedua gadisnya di atas panggung, Jian Chen juga menyadari tingkatan kultivasi mereka yang telah mencapai pendekar puncak Alam Hampa.


Jian Chen sadar tidak ada murid akademi yang bisa mengalahkan keduanya, sebab itu pikiran Jian Chen sempat terbesit untuk berpura-pura menjadi murid akademi lalu mencoba menguji kemampuan Meily.


Jian Chen tersenyum hangat ketika Meily berhasil melepaskan tudung yang menutupi wajahnya, hal itu jelas membuat gadis itu terkejut bukan main, Ziyun yang duduk di samping arena juga sama bereaksinya.


Pikiran Meily menjadi kosong, tanpa peduli dengan kondisi sekitarnya ia berlari dan memeluk Jian Chen.


Jian Chen batuk pelan, tidak menduga gadis itu akan bertindak demikian, Meily seharusnya sedikit menjaga sikapnya.


Jian Chen tersenyum canggung ketika para penonton terkejut melihat Meily yang memeluk dirinya, ia sadar kekasihnya itu termasuk gadis yang selalu bersikap dingin pada laki-laki lain namun sangat populer di akademi, mungkin sudah tak terhitung banyak laki-laki yang sudah jatuh hati padanya.


Meily akan bersikap berbeda pada orang terdekatnya, selain keluarganya, hanya Ziyun dan Jian Chen yang bisa membuat gadis itu bersikap lemah lembut dan bahkan sedikit manja.


Jian Chen juga tidak menyalahkan sikap Meily yang langsung memeluknya begitu saja, apalagi saat merasakan begitu eratnya pelukan gadis itu, Meily sepertinya benar-benar sangat merindukan dirinya.


"Kau merindukanku Mei'er?" Jian Chen bertanya lembut pada gadis itu, mencoba menghiraukan tatapan penonton yang lain. Tangan Jian Chen mengelus pipi Meily.


Meily menjawabnya dengan anggukan pelan, pipinya mulai merona merah sebelum melepaskan pelukannya.


Ziyun tak lama kemudian naik ke atas panggung dan mendekati keduanya, meski tidak memeluk seperti Meily tetapi Jian Chen bisa merasakan gadis itu juga sangat merindukan dirinya.


Penonton yang berada di podium mulai berbisik-bisik sekaligus bertanya-tanya tentang identitas Jian Chen, bagaimanapun mereka benar-benar terkejut melihat fakta dua gadis populer di akademi begitu dekat dengan pemuda asing tersebut.


Patah hati, putus asa, dan cemburu dirasakan hampir semua murid laki-laki yang pernah jatuh hati pada dua gadis itu. Dari sekilas saja mereka bisa melihat Meily ataupun Ziyun mempunyai ikatan perasaan dengan Jian Chen.


Jian Chen melihat sekeliling penonton sambil tersenyum canggung, ia berpikir pertemuan ini tidak tepat pada tempatnya.


***


Jian Chen memberitahu pada dua kekasihnya itu bahwa dirinya kesini hanya untuk menyapanya sebelum ia akan pulang ke klan Jian.


Awalnya Jian Chen berencana tidak akan berlama-lama di Ibukota tetapi karena langit mulai gelap di tambah Meily dan Ziyun ingin menjamu kedatangannya akhirnya ia tinggal disini semalaman dan akan melanjutkan perjalanan esok pagi.


Jian Chen akan menginap di rumah yang dibeli Ziyun sebelumnya yang berada di tengah kota, kedua gadis itu memang membeli rumah pribadi disini karena meski di akademi disediakan tempat tinggal, mereka tidak mempunyai privasi untuk mereka sendiri.


Uang untuk membeli rumah tersebut adalah uang yang diberikan Jian Chen waktu lalu.


"Kak Jian, apakah anda sudah tidur?" Suara Meily terdengar sambil mengetuk pintu kamar Jian Chen.


Jian Chen membuka pintu kamarnya lalu melihat kedua gadisnya telah berdiri menunggunya, mereka baru selesai mandi, tercium dari baunya yang harum serta penampilan keduanya yang berias tambah cantik.


Jian Chen mempersilahkan keduanya memasuki kamarnya yang sedikit berantakan akibat banyak barang-barang yang ia keluarkan dari cincin ruang, Jian Chen membersihkan mereka dengan memasukannya kembali kedalam cincin ruang.


"Apakah ada sesuatu?" Jian Chen bertanya lembut pada kedua kekasihnya itu.


"Kak Jian, malam begitu cerah hari ini, bagaimana kalau kita jalan-jalan?" Meily menyampaikan niat dan maksudnya.


Jian Chen tidak dulu menjawab, ia menoleh ke arah luar jendela yang terbuka dan menemukan langit di atas sana begitu bercahaya dengan jutaan bintang yang berkelap-kelip, Jian Chen akhirnya mengangguk dan menuruti kemauan gadis itu.


"Benarkah, kalau begitu aku harus sedikit bersiap-siap dulu." Meily beranjak senang, ia buru-buru keluar dari kamar hendak mengambil sesuatu.


"Mei'er sepertinya sangat senang melihatmu kembali..." Ziyun tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu.


"Tentu saja," Ziyun langsung memeluk tubuh pemuda itu. "Tidak ada yang lebih membahagiakan ketika seseorang bertemu dengan orang yang dicintainya."


Jian Chen tersenyum sambil mengelus punggung gadis itu dengan lembut. Menurut Ziyun, Meily sudah merencanakan semua ini, dia akan mengajak Jian Chen ke sebuah festival kembang api yang biasanya ada di ibukota setiap akhir tahun sekali.


Ketika malam semakin larut, perkataan Ziyun memang benar, alih-alih semakin sepi Ibukota justru semakin ramai karena ada acara festival kembang api itu.


Di sepanjang bahu jalan kota, banyak pedagang makanan yang masih buka di jam malam seperti ini, pedagang-pedagang itu menjual aneka makanan lokal ibukota.


Jalanan sedikit sesak oleh banyaknya pengunjung, jika tidak saling berpegangan tangan seseorang bisa saja terpisah dari kelompoknya.


"Aku tidak menduga mereka akan seramai ini?" Gumam Jian Chen melihat sekitarnya.


"Acara festival kembang api adalah perayaan bagi sebagian yang lain, mereka akan menghabiskan waktu di malam ini bersama orang-orang terdekatnya. Aku juga bersyukur anda bisa disini tepat di hari festival akan di mulai..." Ziyun melirik Jian Chen sesaat sebelum pipinya bersemu merah.


Jian Chen tertawa kecil, lokasi yang ketiganya tuju sekarang adalah bukit kecil yang berada di tengah kota, pengunjung yang lain juga kebanyakan naik ke sana karena bisa melihat kembang api lebih jelas.


Kembang api akan dinyalakan tepat dimalam hari, setelah menaiki puluhan anak tangga Jian Chen dan dua gadisnya tiba di puncak bukit.


Meily dan Ziyun membawa Jian Chen ke samping bukit yang tidak ada pengunjungnya, menurut kedua gadis itu, tempat tersebut adalah lokasi yang cocok untuk melihat kembang api di lepaskan.


Jian Chen duduk di rerumputan, pandangannya tertuju melihat pemandangan ibukota di atas bukit yang begitu indah.


Meily dan Ziyun duduk disebelah kiri dan kanan Jian Chen, tidak berangsur lama kembang api di bawah kota mulai dinyalakan, kembang api itu meledak di ketinggian yang cukup dan memamerkan keindahannya di atas langit.


"Kak Jian, apakah anda tahu, ada rumor yang mengatakan bahwa jika sepasang kekasih menonton kembang api bersama di malam festival, mereka akan selalu bersama selamanya." Meily menatap Jian Chen dengan dalam.


"Apa kau percaya rumor itu?" Tanya Jian Chen.


"Tidak, tapi aku berharap kita memang bisa bersama untuk selamanya..."


Jian Chen tersenyum lembut, sesaat ia teringat tentang Jian Ya.


Jian Chen belum pernah menceritakan Jian Ya pada Ziyun dan Meily sehingga di malam itu ia menceritakan Jian Ya pada keduanya.


"Apakah dia wanita yang baik?" Meily bertanya menyela.


"Dia baik, lembut dan manis seperti kalian berdua." Jian Chen mengangguk pelan.


"Benarkah, kalau begitu aku jadi tidak sabar ingin menemuinya..." Meily berkata antusias.


"Kalian tidak marah?" Jian Chen bertanya balik, sedikit heran.


"Kenapa harus marah Kak Jian..." Kali ini Ziyun yang menjawab, tersenyum hangat. "Justru kami senang saat mendengarnya, jika itu pilihanmu maka aku dan Mei'er akan ikut sepakat menyetujuinya, kami yakin dia adalah wanita yang baik dan akan menjadi teman yang baik jika kita bertemu nanti..."


Jian Chen tersenyum, mengelus pucuk kepala dua gadis itu. Malam itu Jian Chen menghabiskan malamnya bersama dua kekasihnya, menikmati keindahan malam dan juga menikmati hal tersirat di dalamnya.


Di pagi hari Jian Chen terpaksa harus berpisah dengan Meily dan Ziyun kembali, bagaimanapun ia harus melanjutkan perjalannya ke klan Jian.


"Beberapa minggu lagi kami akan lulus dari akademi dan mungkin kami juga bisa menerobos ke Alam Langit, saat waktu itu tiba kami akan langsung menyusulmu..." Ziyun memeluk erat Jian Chen diikuti Meily setelahnya, keduanya tampak enggan harus berpisah lagi tetapi mereka harus tetap disini beberapa saat lagi.


Jian Chen mengangguk pelan dan mengatakan ia akan menunggu keduanya. Jian Chen kemudian memberikan beberapa batu roh serta permata siluman untuk sumberdaya mereka berkultivasi.


Untuk terakhir kalinya Jian Chen mengelus pucuk rambut kedua kekasihnya tersebut dan mengatakan selamat tinggal, Jian Chen melesat cepat menuju Provinsi Naga Petir.