Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 278 — Pertemuan Lama


Jian Ya melangkahkan kakinya ke luar perbatasan klan, sudah lama sekali semenjak ia menjabat jadi Ketua klan, gadis itu hampir tidak sama sekali memiliki waktu kebebasan.


Setelah beberapa menit berjalan dan memastikan tidak ada yang melihatnya, ia kemudian melanjutkan perjalanannya dengan terbang.


Biarpun Jian Ya masih di ranah Alam Hampa, gadis itu dapat terbang seperti seorang pendekar Alam Langit, hal ini disebabkan karena tubuhnya yang istimewanya.


Dengan terbang, Jian Ya bisa lebih cepat menuju ke pelabuhan.


Menurutnya, seharusnya kapal Asosiasi akan kembali ke pelabuhan hari ini tepat di siang hari, namun siluet kapal tersebut sama sekali belum terlihat sehingga Jian Ya harus menunggu lebih lama di pelabuhan, menunggunya gadis itu disana cukup membuat perhatian banyak orang di sekitarnya apalagi paras gadis itu yang amat sangat cantik.


Tidak lama kemudian kapal yang ditunggunya datang, Jian Ya merasa senang ketika kapal itu merapat ke pelabuhan dan melihat Miou Lin namun sesaat pandangannya tertuju pada laki-laki di sampingnya.


***


"Aku tidak menyangka Saudari Ya menungguku di pelabuhan..." Miou Lin tersenyum lebar ketika melihat Jian Ya melambaikan tangan ke arah dirinya.


Berbeda dengan Miou Lin, ekspresi Jian Chen campur aduk ketika harus bertemu Jian Ya kembali, ia sama sekali tidak siap.


Melihat Jian Ya lagi membuat Jian Chen jadi teringat dengan ucapan Lily di kapal, sesaat telinganya tiba-tiba terasa panas memikirkan itu.


Jian Chen sudah diberitahukan Miou Lin tentang Jian Ya yang mengetahui latihannya di provinsi lain, meski begitu ia masih bingung jika harus menjawabnya mengingat ia sudah menghilang hampir tiga tahun tanpa kabar apapun.


"Yaya, sudah lama sekali tidak kita bertemu, kau semakin cantik saja..." Miou Lin memeluk gadis itu usai kapal berlabuh, ia menyambut sahabat baiknya dengan hangat.


Sama seperti Jian Ya, Miou Lin juga merasa senang mempunyai teman seumurannya. Sebagai Tetua klan dan pengurus Asosiasi, Miou Lin bisa dibilang tidak mempunyai hubungan apapun dengan orang lain kecuali hanya hubungan bisnis belaka.


"Saudari Lin, kau terlalu berlebihan memuji..." Jian Ya menjawabnya dengan senyuman canggung.


Meski hubungan keduanya sudah dekat Jian Ya masih terbilang menghormati Miou Lin sebagai rekan dari klan Jian, lagi pula usia Miou Lin lebih tua dari Jian Ya, sudah sepatutnya ia hormat.


Jian Ya dan Miou Lin sedikit berbasa-basi sebentar sementara para pekerja Asosiasi mulai menurunkan barang-barang yang ada di atas kapal dan mengangkutnya ke pelabuhan.


Jian Chen berdiri di samping Miou Lin, pemuda itu bingung harus berkata seperti apa ketika melihat Jian Ya lagi. Benar saja, tidak membutuhkan waktu yang lama hingga pandangan gadis itu beralih ke arahnya.


Tatapan Jian Chen dan Jian Ya bertemu, keduanya saling diam sesaat.


Jian Ya, meski sudah lama tidak bertemu Jian Chen lagi, ia langsung mengenal pemuda itu apalagi melihat mata emasnya yang indah.


Jian Chen kini telah banyak berubah baik itu dari fisik maupun aura kekuatannya yang lebih kuat.


Keduanya saling bertatapan beberapa menit sebelum refleks mengalihkannya bersamaan, Jian Ya jadi teringat tentang kejadian beberapa tahun lalu saat ia harus menciumnya , hal tersebut sukses membuat wajah gadis itu sedikit memerah.


Menyadari aksi saling tatap tersebut, Miou Lin yang menonton keduanya hanya menggelengkan kepala sambil tertawa kecil. Tidak harus pintar untuk melihat ada hubungan perasaan antara Jian Chen dan Jian Ya.


Miou Lin tanpa basa-basi atau berpamitan pergi, langsung meninggalkan keduanya, ia sebaiknya tidak ikut campur dengan reuni pertemuan mereka yang boleh jadi melibatkan sebuah rasa di dalamnya.


Perginya Miou Lin justru malah membuat situasi lebih canggung.


Jian Chen menggaruk kepala, ia tak bisa diposisi ini terus sehingga laki-laki tersebut memulai percakapannya.


"Ketua Ya, sudah lama tidak berjumpa..." Jian Chen menyatukan kedua tangannya, memberi hormat.


Jian Ya batuk pelan, ia merasa tidak senang Jian Chen memanggilnya demikian padahal dulu ia sudah memberitahu agar panggilannya di ubah.


"Kau menyadarinya bukan kalau dia mempunyai perasaan yang sama denganmu, kenapa kau tidak memanggilnya secara langsung. Seperti yang aku katakan, dia adalah peluang agar dirimu bisa menyimpan Tenaga dalam Yin." Lily berkata di pikiran Jian Chen.


Jian Chen hampir mengumpat, ia sudah mendengar syarat dari Lily agar tubuhnya bisa menyerap esensi langit secara permanen tetapi tetap saja meski mengetahuinya, mendapatkannya rasanya mustahil.


"Maaf, maksudku lama tidak bertemu denganmu, Saudari Ya..." Jian Chen menggaruk kepalanya dengan senyuman canggung. Entah kenapa ia mendengar usulan Lily.


Jian Ya mengangguk pelan, menyapanya balik, walau hanya sekilas Jian Chen bisa melihat gadis itu sangat senang ketika ia menganggapnya seperti gadis seusianya.


Jian Ya telah mengalami banyak perubahan juga terutama di usianya yang sudah dewasa, bagi Jian Chen, Jian Ya terlihat lebih manis dengan tampilan anggunnya yang memancarkan aura kebangsawanan tinggi.


Wajah Jian Ya memerah saat Jian Chen menatapnya tanpa berkedip, ia memalingkan wajahnya dengan sedikit tersipu malu.


"Apa yang kau tunggu, kenapa tidak langsung saja pada intinya..." Lily berkata geram, jelas-jelas keduanya sudah saling menyukai. "Ayolah, kau tinggal ungkapkan rasa sukamu pada dia, sama seperti pada kedua gadismu sebelumnya, lalu setelah itu kau bisa-..."


"Aku tidak akan melakukannya jika aku belum menikah!" Jian Chen memotong ucapan gadis itu sebelum kalimatnya benar-benar selesai.


Lily menghela nafas. "Baik-baik, terserah padamu tentang keputusan itu, lagi pula kau sekarang tidak sedang membutuhkan tenaga dalam Yin, kekuatanmu saja sudah sangat kuat tanpa bantuannya."


Jian Chen mengangguk pelan, walaupun ia sangat tertarik dengan tenaga dalam Yin namun saat ini ia tidak benar-benar membutuhkannya.


Salah satu syarat yang disebutkan Lily agar ia bisa menyimpan Tenaga dalam Yin adalah harus bersetubuh dengan tubuh istimewa Jian Ya, tentu saja Jian Chen langsung menolak apalagi bukan waktunya ia memikirkan hal itu sekarang di situasi Kekaisaran yang kacau.