Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 156 — Pengepungan


"Aku tidak menyangka akan bertemu salah satu keturunan dari Dunia Nordik disini, itu menjelaskan semuanya..."


Jian Chen bisa mendengar Lily menghela nafas di dalamnya, mendengar ia seperti mengetahui sesuatu Jian Chen bertanya padanya namun Lily terasa enggan memberitahu.


"Dunia Nordik adalah salah satu dunia yang cukup besar dimana di dunia tersebut hanya dipimpin oleh satu orang saja, tidak ada Kekaisaran atau negara yang di bentuk di sana, semua wilayah dikuasai oleh seseorang yang paling kuat yang disebut eksistensi Dewa..."


Lily tidak menjelaskan lebih jauh, Jian Chen menyadari ada banyak yang gadis itu tahu namun Lily tidak mau menjelaskannya.


"Saudara Jian, maaf atas keegoisanku tetapi bisakah anda..." Lan Qiaoqiao meminta bantuan secara terang-terangan pada Jian Chen agar membantu masalahnya, menemukan orang tua mereka.


Secara garis besar, saat ini kekuatan mereka tidak cukup kuat untuk berpergian menemukan pusaka yang dimaksud ibunya.


"Aku tak bisa melakukannya, sama sepertimu aku juga mempunyai masalah di kekaisaran ini."


Jian Chen kemudian mengayunkan tangannya yang seketika membuat lima gadis itu merasakan sensasi panas di punggungnya akibat simbol dari Segel Kutukan.


"Saudari Jian, apa yang anda lakukan pada kami?" Lan Qiaoqiao berkata lemas, sensasi panas di punggungnya benar-benar terasa sakit barusan.


"Aku meringankan segel kutukan pada kalian, dengan ini andai aku mati suatu waktu, kalian tidak akan ikut mati akibat segel tersebut. Meski begitu kalian tetap berada di bawah kontrakku..."


Jian Chen menyadari atas kesalahannya pada kelima gadis itu yang mengikat mereka dalam sebuah segel, maka dari itu ia sedikit melonggarkan kebebasan kelimanya.


Jian Chen memang sengaja tidak melepaskan mereka secara keseluruhan terutama karena kelimanya telah banyak membunuh orang lain. Tidak berlebihan kelima gadis itu disebut sebagai para pembunuh yang terlatih.


Meski dirinya yakin mereka bukan orang jahat tetapi kebanyakan seseorang bertindak atas situasinya, dengan segel yang menempel, Jian Chen berharap mereka tidak membunuh terlalu banyak.


Lan Qiaoqiao buru-buru membungkuk dan berterima kasih pada Jian Chen, begitu juga keempat saudarinya yang meski diam namun mereka terlihat senang.


"Ada satu hal yang membuatku penasaran pada kalian selama ini, bagaimana kalian bisa menyembunyikan kultivasi sampai tidak terlihat oleh orang lain?"


Kelima gadis itu saling pandang sesaat sebelum tertawa kecil, Lan Qiaoqiao tersenyum pada Jian Chen. "Saudara Jian, bukankah seharusnya aku yang berkata demikian padamu?"


Sampai saat ini, entah itu Lan Qiaoqiao dan empat saudarinya masih tidak bisa meraba kultivasi Jian Chen. Mereka hanya bisa menebak kalau Jian Chen lebih kuat dari mereka.


Jian Chen tersenyum canggung, ia tidak bisa menanggapi itu lebih jauh.


"Orang lain hanya bisa meraba kultivasiku tapi tidak dengan saudari-saudariku, itu karena kultivasi kami saling berhubungan dengan aku sebagai pusatnya."


Jian Chen menaikan satu alisnya. "Aku tidak mengerti?"


"Lebih sederhananya, andai aku menaikan kultivasi maka keempat saudariku juga mengalami hal yang sama. Kultivasi kami saling terhubung, aku naik satu tahap maka secara otomatis kultivasi saudariku juga naik satu tahap."


Lan Qiaoqiao tidak meneruskan penjelasannya lebih lanjut, ia langsung mempraktekkannya di depan Jian Chen yaitu dengan menyerap batu roh yang sebelumnya diberikan.


Setelah beberapa waktu berkultivasi Lan Qiaoqiao akhirnya menerobos ke ranah Alam Bumi, Lan Qiaoqiao menyerap lima batu roh secara keseluruhan sehingga ia berada di Tahap 5 Alam Bumi.


Nafas Jian Chen tertahan, bukan karena kecepatan Lan Qiaoqiao dalam menaikan kultivasinya yang cepat melainkan pada kekuatan empat saudarinya yang ikut meningkat bersamaan dengan Lan Qiaoqiao menerobos.


"Aku baru pertama kali melihat kultivasi yang saling tersambung seperti ini di sepanjang hidupku..." Lily mengamati kondisi mereka lebih teliti. "Tapi karena mereka berasal dari dunia yang berbeda maka seharusnya tidak cukup mengherankan."


Jian Chen menghela nafas mendengar pernyataan Lily, ia masih tidak menduga akan bertemu dengan orang tak biasa disini.


Selepas Jian Chen memulihkan seluruh tenaga dalam, ia kemudian mengajak kelimanya untuk keluar dari makam kuno tersebut.


Tepat mereka keluar dari pintu makam, Jian Chen dikejutkan dengan ratusan prajurit yang telah mengepung makam tersebut. Wajah Jian Chen berkerut saat menyadari prajurit itu tidak memandangnya baik saat menatapnya.


Yun Longxia, atau disebut Pangeran Longxia awalnya akan menulusuri makam kuno besok harinya setelah mendengar kabar ada fenomena yang janggal di sana.


Fenomena tersebut berupa kegelapan yang muncul di waktu siang, kegelapan yang di maksud yang tak lain adalah hasil dari teknik Jian Chen sebelumnya yang menyerap cahaya.


Para pendekar yang mengalami kegelapan tersebut beranggapan bahwa fenomena itu terjadi sebagai peringatan makam kuno agar tidak ada yang memasukinya.


Pangeran Longxia jadi ragu untuk masuk ke makam itu tetapi pengawal pribadinya yaitu Pedang Setan, membujuknya agar tetap ke sana dan ia akan melindunginya.


Situasi mendadak berubah ketika ada kabar lain dari makam kuno itu tetapi kali ini berupa suara auman. Auman itu adalah auman naga dari penerobosan Jian Chen.


Pangeran Longxia akhirnya memutuskan ke makam itu hari ini karena menyadari ada seseorang yang telah masuk dan tanpa sengaja menganggu mahluk di makam tersebut.


Bukan hanya para pengawalnya yang dibawa ke sana, bahkan seluruh prajurit Walikota Daiji ikut di bersamanya dengan kekuatan penuh.


Militer Kota Daiji tak bisa diremehkan, Walikota mereka mempunyai dua orang pendekar kuat didalamnya, pendekar itu berada di Alam Hampa.


Meski tak bisa disandingkan dengan kekuatan Pedang Setan tetapi Alam Hampa tetap eksistensi tinggi yang tak bisa diremehkan.


Dengan begitu kini yang mengepung Makam Kuno terdapat 3 pendekar Alam Hampa, belasan Alam Kehidupan serta sisanya puluhan Alam Jiwa.


Pangeran Longxia jelas sadar, siapapun yang berhasil lolos dari makam kuno tersebut pasti memiliki kekuatan yang tinggi, sebab itu ia mengarahkan semua prajuritnya.


Tidak berlangsung lama mereka menunggu di dekat makam, ada suara langkah kaki yang mendekat. Orang-orang itu berjumlah 6 orang dengan satu diantaranya adalah lelaki.


Alis Longxia berkerut bahkan sedikit terkejut ketika menemukan ada lima gadis yang memiliki wajah seiras alias kembar.


Sepanjang hidupnya ia baru pertama kali bertemu dengan seseorang yang memiliki kembar lima seperti ini walaupun dirinya juga seorang kembaran.


Bukan hanya kelima gadis itu berparas cantik, tapi warna rambut perak mereka juga sangat indah dan menawan. Longxia yang selama ini tidak tertarik dengan seorang gadis langsung jatuh hati pada kecantikan kelimanya.


Bagi Longxia, mendapatkan seorang wanita itu semudah membalikan telapak tangan.


Mengingat wajahnya yang tampan serta statusnya yang tinggi, tidak sulit agar wanita itu dimilikinya. Alasan yang sama membuat pangeran itu berhasrat menginginkan kelima gadis cantik itu.


Pandangan Longxia berpindah pada seorang pemuda satu-satunya dalam rombongan itu.


Wajahnya langsung menunjukkan ketidak senangan dengan pemuda tersebut kerena bersama kelima gadis kembar itu namun untuk sekarang ada hal yang harus ia prioritaskan.


"Saudara Pendekar, perkenalkan namaku Yun Longxia yang memimpin pasukan ini. Bisakah aku mengetahui nama pendekar agar kita bisa saling mengenal?" Longxia tersenyum seramah mungkin.


Jian Chen tersenyum tipis, ia bisa melihat sandiwara laki-laki itu.


Orang awam pun akan langsung menyadari jika dikepung seperti ini tanda situasinya tidak baik-baik saja atau buruk, Jian Chen tanpa perlu berpikir lebih jauh sudah mengetahui tujuan Longxia yaitu untuk mendapatkan benda yang didapatkannya di makam kuno.


"Saudara Jian, ini..." Lan Qiaoqiao menarik jubah Jian Chen, perasannya begitu cemas di kepung seperti ini.


"Tenang saja, akan kupastikan kalian tetap selamat..." Jian Chen tersenyum hangat membuat Lan Qiaoqiao jadi sedikit salah tingkah.


"Jian Chen, kau menyadari situasinya, bukan?" Lily bertanya dari dalam.


"Aku mengerti, situasi kita benar-benar serius sekarang..."


Tanpa basa-basi Jian Chen mengeluarkan Pedang Dewa Asura yang masih tersarung di tangannya, ia sebenarnya tidak mau menggunakan pedang ini terlebih dahulu tapi situasinya memaksanya sekarang.