
Saat Jian Chen kembali ke penginapan, Manajer Li sudah ada disana dan menunggu kedatangannya.
Manajer Li ternyata mengabarkan bahwa surat Miou Lin sudah sampai beberapa jam lalu jadi dia kesini ingin memberikannya pada Jian Chen.
"Terimakasih, maaf harus merepotkanmu beberapa hari belakangan ini." Jian Chen menerima gulungan kertas itu.
"Tuan Muda, tidak perlu, ini adalah kewajibanku..." Manajer Li tersenyum senang dengan sikap Jian Chen padanya.
Jian Chen kemudian membaca gulungan kertas tersebut sementara Manajer Li langsung berpamitan meninggalkan ruangan karena menyadari Jian Chen membutuhkan ruangannya sendiri.
Raut wajah Jian Chen sedikit mengerut ketika satu persatu kalimat di surat itu dibacanya, hingga di bagian akhir Jian Chen menghela nafas dan menggelengkan kepala pelan.
"Sebenarnya apa yang klan Liu rencanakan sampai melakukan sejauh ini..."
Dari surat Miou Lin dikatakan bahwa situasi Ibukota Qianshan masih dalam keadaan damai hanya saja ada kejanggalan dari klan Liu. Klan tersebut menutup dirinya dari luar seperti klan Niu, pengunjung dan pedagang pun dilarang masuk kesana oleh mereka.
Hal ini membuat Miou Lin jadi kesulitan mencari informasi lebih dalam tentang klan Liu namun gadis itu akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengorek informasi tersebut karena Miou Fan ternyata menugaskannya.
Jian Chen memijat kepalanya, ia hanya bisa berharap bahwa apapun kejadian besar nanti di ibukota, klan Jian tidak terlibat didalamnya.
Karena surat dari Miou Lin sudah sampai maka tidak ada alasan lain Jian Chen ada di kota Daiji. Jian Chen berencana untuk pergi besok namun sebelum meninggalkan kota, ia akan menelusuri makam kuno tersebut.
***
Besok harinya, Jian Chen terlebih dahulu berpamitan pada Manager Li karena laki-laki itu sudah melayaninya selama di kota ini. Ia juga berpamitan pada pemilik penginapan.
"Tuan Muda, semoga perjalananmu bisa sampai ke tujuan..." Manager Li menyerahkan kuda mawar putih pada Jian Chen kembali.
Jian Chen mengangguk, ia menaiki kuda putihnya lalu memacunya meninggalkan kota Daiji, arah Jian Chen sedikit berbeda karena ia akan mampir ke makam kuno tersebut.
Disana Jian Chen sempat kebingungan untuk menaruh kudanya tetapi yang pasti jaraknya harus jauh dari makam kuno itu karena ia akan menyusup untuk masuk kesana.
Jian Chen menaruh kudanya di hamparan rumput yang luas lalu mengikatnya pada sebuah pohon, kuda mawar putih tampak bersemangat ketika melihat rumput yang hijau itu dan mulai memakannya.
Setidaknya kuda Jian Chen bisa ditinggalkan selama beberapa hari kedepan andai dirinya di makam kuno tersebut sangat lama.
Jian Chen juga memastikan bahwa disekitar kudanya tidak ada hewan buas atau siluman yang akan memangsanya. Setelah memastikan semuanya aman Jian Chen langsung pergi ke arah makam kuno.
Di tempat Makam kuno sudah ada beberapa kelompok yang datang walau hari masih dikatakan pagi. Jian Chen memakai sebuah topeng putih untuk masuk ke keramaian tersebut.
"Kudengar, siang nanti Pangeran Longxia akan masuk ke makam kuno, aku jadi ingin lihat apakah dia dan pasukannya akan berhasil masuk kesana."
"Hush... Tentu saja bisa, pasukannya saja sudah kuat-kuat apalagi pengawal pribadinya yang mempunyai kultivasi tinggi, pendekar Pedang Setan pasti bisa menaklukkan makam ini dengan kekuatannya..."
Jian Chen mengerutkan dahinya saat mendengar bisik-bisik percakapan dari kelompok disekitarnya, ia baru mengetahui bahwa pangeran provinsi ini akan masuk ke makam sekarang.
Jian Chen tidak memikirkan itu lebih jauh, ia terus melangkah hingga jaraknya dengan pintu makam kuno sudah terlihat, tidak ada yang masuk dari kelompok disekitarnya, Jian Chen menebak kelompok-kelompok itu sedang menunggu kedatangan rombongan Pangeran tersebut.
'Hm, sepertinya situasinya masih bisa kukendalikan...' Jian Chen melihat para penjaga makam kuno itu sesaat sebelum diam-diam mengalirkan tenaga dalam pada kedua tangannya.
"Elemental Cahaya — Dunia Tanpa Cahaya!"
Jian Chen menyerap seluruh cahaya di sekitarnya pada kedua tangannya, tenaga dalam yang Jian Chen gunakan cukup besar sehingga radiusnya hampir setengah kilometer.
Jian Chen bisa mendengar teriakan-teriakan orang disekitarnya yang merasa dirinya telah kehilangan pandangannya. Memang saking gelapnya teknik Jian Chen seseorang bisa menganggap bahwa dirinya telah buta.
Tanpa memikirkan teriakan-teriakan itu Jian Chen langsung menyelinap makam kuno tersebut tanpa ada orang yang menyadarinya.
Kegelapan yang ditinggal Jian Chen tak lama menghilang diikuti lingkungan sekitarnya yang terlihat kembali. Para pendekar menjadi kebingungan dan sedikit takut saat merasakan kegelapan tersebut, mereka bahkan sedikit sesak untuk mengambil nafas didalamnya.
Kelompok -kelompok itu mulai berspekulasi apa yang sebenarnya terjadi karena mereka baru pertama kali ini merasakan fenomena demikian, hal yang paling dikhawatir adalah fenomena tadi disebabkan karena makam kuno yang ada di dekat mereka.
Beberapa kelompok malah ada yang langsung meninggalkan lokasi karena beranggapan bahwa kegelapan tadi adalah peringatan dari makam kuno.
Mengikuti yang pertama, kelompok-kelompok lain langsung mengikuti meninggalkan tempat tersebut hingga akhirnya tidak ada kelompok di sekitar sana dan hanya menyisakan para penjaga yang berkeringat dingin karena tak bisa meninggalkan lokasi tersebut seenaknya.
***
Jian Chen menemukan ketika masuk kedalam makam kuno, ada sebuah tangga yang menurun kebawah tanah.
Di ujung tangga itu terlihat gelap jadi Jian Chen menciptakan bola-bola cahaya di sekelilingnya seperti matahari kecil.
Jian Chen sebenarnya bisa melihat dalam kegelapan tetapi cahaya tetap diperlukan takut-takut ada sesuatu yang berbahaya dan cahaya bisa menakutinya.
Biasanya di kegelapan seperti ini selalu ada hewan atau siluman yang hidup tanpa memerlukan cahaya.
Jian Chen mulai menuruni anak tangga dan ketika sampai di ujungnya ia menemukan sebuah ruangan yang lumayan luas. Pandangan Jian Chen terarah pada noda merah di lantai ruangan itu.
Noda merah tersebut berceceran memenuhi ruangan dan karena tercium bau amis Jian Chen langsung mengetahui bahwa itu adalah darah.
"Aku mendengar bahwa banyak pendekar mati disini, tetapi aku tidak melihat apapun yang membahayakan..."
Jian Chen sudah mendengar bahwa ada mahluk hidup disini, dan ada kemungkinan mahluk tersebut adalah penyebab banyaknya korban yang terbunuh.
Jian Chen hendak melangkah maju namun baru beberapa langkah ia bergerak tiba-tiba lantai pijakannya bergetar kuat.
Alis Jian Chen terangkat, ia merasa familiar dengan situasi tersebut namun lupa kapan merasakannya.
Tak membutuhkan waktu lama Jian Chen bisa melihat jawabannya saat tiba-tiba lantai didepannya jadi mengembung ke atas lalu bergerak seperti ada mahluk hidup dibawahnya.
Bukan hanya satu tetapi jumlah mereka banyak sehingga lantai-lantai yang sebelumnya datar kini jadi menggelembung besar bagai sebuah ombak.
Jian Chen menaikan satu alisnya saat mengenali mahluk tersebut. "Tentu saja banyak yang meninggal jika lawan mereka adalah mahluk ini..."
Ingatan Jian Chen kembali segar ketika mengingat dirinya di Akademi saat harus melawan siluman tikus tanah seorang diri untuk menyelamatkan Miou Yue dan lainnya.
Siluman tikus tanah adalah salah satu siluman yang berbahaya dan hidup berkelompok, saking bahayanya bahkan serigala petir pun tidak sebanding dengan mereka.
Jian Chen langsung menarik pedangnya ketika siluman tikus tanah itu mulai bergerak ke arahnya dengan cepat. Pedang Jian Chen sudah di aliri tenaga dalam dan mengubahnya menjadi energi.
Secara perlahan debu biru muncul di pedang Jian Chen dan mengelilingi pedangnya, Jian Chen menggunakan elemen es untuk menghadapi mereka.
Sebenarnya teknik elemen es yang digunakan ke pedang ini adalah teknik yang digunakan Ziyun, secara tidak sengaja Jian Chen melihat lalu mempelajarinya dengan pemahamannya dalam menggunakan elemen cahaya.