Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 249 — Jian Chen Vs Dua Shio II


Jian Chen menggenggam dua pusakanya lebih erat, sejujurnya ia belum terbiasa dengan dua senjata ada di tangannya. "Baiklah tinggal giliran kalian untuk menyusulnya, jadi siapa yang mau ke alam baka duluan?"


Shio Kelinci bertepuk tangan sambil tersenyum mengejek, "Bagus, bagus, kalau begitu tidak ada alasan lain aku harus menahan kekuatanku untuk membunuh..."


Meski harus diakui keduanya terkejut, Shio Kelinci tidak menunjukkan ketakutan pada Jian Chen, salah satu faktor alasannya adalah karena lawannya tidak dalam kondisi prima sekarang mengingat sudah bertarung lama dengan pendekar tingkat tinggi, setidaknya itu yang gadis itu pikirkan.


Shio Kelinci mengalirkan tenaga dalam pada kedua kakinya dengan cukup besar, sambil tersenyum sinis dia berkata. "Aku ingin lihat seberapa besar kekuatanmu bisa menghindari seranganku..."


Shio Kelinci tiba-tiba menghilang dari pandangan sebelum sedetik kemudian berada di dekat Jian Chen, gadis itu kemudian melepaskan tendangan kuat padanya.


Jian Chen sendiri hampir kesulitan melihat kecepatan gadis itu sehingga tidak punya waktu untuk menghindar, ia mengangkat dua pedangnya untuk menahan tendangan tersebut dan hasilnya ia terdorong cukup jauh.


Belum selesai Jian Chen menyeimbangkan tubuhnya Shio Kelinci sudah berada di dekatnya lagi, Jian Chen kembali menahan tendangan itu dengan pedangnya dan hasilnya terjadi serupa dengan ia terlempar jauh.


Kedua tangan Jian Chen terasa sakit akibat tendangan Shio Kelinci, harus ia akui teknik tendangan gadis itu sangat kuat.


Nyatanya Shio Kelinci tidak mau memberikan jeda, dengan kecepatan yang seperti berteleportasi gadis itu terus bergerak mendekati Jian Chen tetapi kali ini Jian Chen sudah siap.


Jian Chen membuktikan kemampuannya dengan berhasil menghindari serangan tendangan itu, sekaligus membuat gadis itu sedikit terkejut.


Biarpun bereaksi Shio Kelinci tidak berhenti menyerang, dia terus melepaskan tendangan berikutnya dan berikutnya.


Tendangan Shio Kelinci semakin bertambah kuat serta cepat dari serangan sebelumnya, biarpun bukan pengguna elemen tetapi setiap kakinya terayun akan menciptakan api akibat dari tendangannya yang bergesekan dengan udara.


Jian Chen terus menghindari tendangannya beberapa waktu, saat ia hendak menyerang balik Shio Kelinci nyatanya sudah menyadarinya.


Shio Kelinci menggunakan gerakan tipuan yang semula mengarah kepala Jian Chen lalu pindah ke arah bagian perut.


Jian Chen tidak punya waktu untuk mengangkat pedangnya sehingga ia menggunakan elemen besi pada perutnya yang berhasil menahan tendangan kuat itu.


Meski tidak terluka Jian Chen tetap terdorong belasan meter, Jian Chen buru-buru mendapatkan keseimbangan saat mendarat di tanah, hal yang pertama ia lakukan adalah menepuk-nepuk jubahnya yang sedikit terbakar akibat serangan dari tendangan lawannya.


Shio Kelinci menatap ke arah perut Jian Chen dengan sedikit heran, biarpun dia berhasil mendesak Jian Chen tetapi lawannya itu masih terbilang cukup tenang dalam situasinya.


Satu hal lagi yang tidak lepas dari pikiran Shio Kelinci, ia baru pertama kali melihat seseorang yang berhasil selamat tanpa cedera dari tendangan mautnya.


Shio Kelinci mengerutkan dahinya saat ia merasakan kakinya seperti menendang benda keras ketika berhasil menyentuh Jian Chen.


"Kemampuanmu sangat tinggi, tidak mengherankan Shio Kuda dapat terbunuh di tanganmu. Kau adalah orang ke sepuluh yang berhasil selamat setelah menerima tendanganku..."


Jian Chen masih terlihat tenang, ia tersenyum lebar pada Shio Kelinci. "Apakah aku harus tersanjung dengan pujian itu, harus kuakui tendanganmu cukup kuat."


Shio Kelinci sedikit bereaksi dengan mengepalkan tangannya keras, teknik tendangannya merupakan teknik kelas tinggi yang tidak banyak yang menyamainya.


"Hm, jadi apa dia tidak akan ikut bertarung?" Jian Chen beralih dan menunjuk Shio Macan yang masih menontonnya dari jauh.


"Dia akan bertarung tetapi berada di jarak jauh," Shio Kelinci mengangkat bahunya, "Cukup basa-basinya, kita akan mulai serius sekarang..."


Shio Kelinci memberikan tanda pada Shio Macan untuk ikut bersama menyerang, sebelumnya atas perintahnya lah Shio Macan masih belum bergerak.


Belati itu sengaja di lepaskan ke udara namun ia tidak terjatuh melainkan melayang di udara, dengan menggunakan elemen gravitasinya ia bisa menggerakkan ratusan belati itu secara bersamaan.


Setiap belati merupakan sebuah pusaka yang kuat dan juga tajam, Shio Macan menggerakkan belati itu seperti mahluk hidup yang mempunyai pikiran sendiri.


Dia menggerakkan tangannya seketika ratusan belati itu bergerak ke arah Jian Chen layaknya seperti sekolompok lebah.


Jian Chen sedikit tertegun namun sebelum ia melihat itu lebih lama Shio Kelinci tidak langsung bergerak dan mempersempit jarak keduanya.


"Tidak bisakah kau sabar sedikit, manis..."


"Hmph! Baru mengetahui paras mudaku yang cantik, kalau begitu aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit."


Jian Chen tertawa kecil sambil sesekali menghindari serangannya. "Muda? Sulit mengatakan demikian jika di depanku sekarang adalah gadis yang lebih tua dari nenek-nenek sekalipun."


Shio Kelinci berdecak geram dan menyerang Jian Chen sekuat tenaga, ia juga terus mempersempit jaraknya agar menyibukkan pemuda itu.


Shio Macan membantunya dari jarak jauh dengan ratusan belati yang digerakkan.


Pertama-tama Jian Chen memfokuskan menghindar dari pada menahan serangan gadis itu, Jian Chen berusaha mengambil jarak karena kalau keduanya terus berdekatan, pakaian Jian Chen bisa-bisa habis terbakar karena api yang dikeluarkan gadis itu.


Sesekali belati menyerang Jian Chen untuk memecah konsentrasinya, Jian Chen tidak tinggal diam begitu saja, dengan dua pedangnya ia menebas belati itu satu persatu dan menghancurkannya.


Belati yang hancur langsung jatuh ke tanah dan tidak bergerak lagi, Jian Chen terus menebas belati-belati dan menguranginya sebanyak mungkin.


Dua pedang pusakanya yaitu pedang Aturan dan pedang Hukum memiliki ketajaman yang tidak berbeda jauh dengan Pedang Dewa Asura.


Dengan kemampuannya dalam memainkan pedang, Jian Chen berhasil menghancurkan beberapa dari belati tersebut, Jian Chen amat fokus pada belati sampai tidak menyadari Shio Kelinci sudah berada di belakangnya.


Shio Kelinci memberikan tendangan ke arah kepala Jian Chen, ia yang dipikir Jian Chen bakalan mati ternyata masih menghindari serangan itu tanpa menoleh sedikitpun.


"Bagaimana... Bagaimana bisa kau menyadarinya?" Shio Kelinci terkejut.


"Sejak awal, aku mengetahui kau menggunakan ilusi juga dalam teknik tendanganmu dan secara diam-diam bergerak ke arah titik butaku. Meski aku sedikit terkejut tetapi aku lebih berpengalaman dalam berhadapan trik yang seperti itu..."


Jian Chen mengayunkan kakinya mengunakan teknik tendangan yang memutar, melihat itu Shio Kelinci buru-buru menahannya dengan kedua tangan.


Saat bersentuhan, tulang lengan gadis itu menjerit kesakitan saat merasakan kekuatan tendangan Jian Chen yang besar. Selain itu ia juga terlempar belasan meter hingga berhenti sampai mengenai tanah.


Saat Shio Kelinci berada jauh darinya Jian Chen memfokuskan kembali menghancurkan belati yang saat ini menuju ke arahnya.


"Elemental Api — Hembusan Nafas Api!"


Jian Chen menyemburkan api hitam di mulutnya yang cukup besar dan meluas lebar.


Api hitam itu bersuhu sangat tinggi, bukan hanya melelehkan pusakanya melainkan merubahnya menjadi butiran debu. Dalam waktu singkat, ratusan belati itu telah sirna ditelan udara.


Jian Chen menyeka bibirnya sambil tersenyum lebar. Harus Jian Chen akui, kekuatan yang diberikan Lily padanya sangat kuat, dapat meningkatkan kekuatannya hingga puluhan kali lipat.