
"Siapa kau? Beraninya datang ke markas Pedang Darah?!" Salah satu pemimpin regu penjaga melotot galak melihat Jian Chen masuk ke kawasan markasnya.
"Ah, jadi ini benar markas kalian..." Jian Chen tertawa kecil.
Penjaga itu mengeluarkan senjatanya, dia melihat meski Jian Chen mengenal organisasinya namun pemuda itu terlihat tidak takut.
"Apa urusanmu kemari, kau di pihak lawan atau kawan?!" Tanya pemimpin regu penjaga itu dengan penuh waspada.
"Kau boleh mengatakan bahwa aku adalah orang yang akan menghancurkan organisasi kalian..."
Selepas Jian Chen berkata demikian ia bergerak cepat dan muncul di depan penjaga. Ia menyerang dengan satu pukulan ke perut lawannya membuat penjaga tersebut terlempar cukup jauh sekaligus melepaskan pedangnya.
Sebelum jatuh ke tanah Jian Chen menangkap pedang penjaga itu yang merupakan sebuah pedang pusaka kelas satu.
"Hm, pedang ini tidak terlalu buruk..."
Penjaga yang terlempar sebelumnya jatuh ke tanah dan langsung batuk darah berulang kali, ia mengalami luka dalam yang besar.
Penjaga lain yang menyaksikannya meneguk ludah dan langsung mengeluarkan senjata masing-masing, tidak perlu penjelasan untuk mengetahui Jian Chen adalah musuh mereka.
"Kau tidak memberitahu yang lain bahwa ada penyusup?" Tanya Jian Chen pada pemimpin regu penjaga itu.
"Hmph! Tidak perlu memanggil yang lain untuk menghadapi orang sepertimu?" Penjaga yang terluka sebelumnya memberi instruksi pada penjaga yang lain untuk menyerang Jian Chen bersamaan.
'Sepertinya aku harus menunjukkan sedikit kemampuanku pada mereka..."
Jian Chen mengangkat pedangnya untuk menghadapi mereka, satu regu berjumlah sepuluh sampai dua puluh orang dengan kekuatan berada di Alam Jiwa dan sedikit dari mereka Alam Kehidupan.
Jian Chen memainkan pedangnya untuk menghadapi mereka semua. Gerakan pedang Jian Chen sangat cepat dan tajam, setiap kali senjatanya terayun maka akan ada nyawa yang melayang, dalam kurun beberapa detik saja Jian Chen sudah membunuh sebagian mereka.
Para penjaga yang tersisa mundur dengan tangan gemetar dan ketakutan, mereka sama sekali tidak melihat gerakan pedang Jian Chen saat tahu-tahu rekannya sudah tumbang ke tanah.
"Apa yang kalian tunggu? Beritahu yang lain agar mereka semua cepat keluar." Jian Chen mengayunkan pedangnya untuk membersihkan darah yang masih menetes.
Para penjaga yang tersisa akhirnya buru-buru lari kedalam benteng dan melaporkan kedatangan Jian Chen, disisi lain pemimpin regu penjaga yang terluka hanya bisa mengumpat melihat ketidakpatuhan bawahannya.
"Jangan ambil hati, soal urusan nyawa terkadang seseorang harus berpikir dua kali." Jian Chen sudah berada di depan pemimpin penjaga itu. "Ada hal yang ingin kutanyakan padamu, seberapa kuat Organisasi Pedang Darah untuk aku hadapi?"
Meski terluka, pemimpin regu penjaga itu berusaha menjawab pertanyaan Jian Chen. "Cukup kuat untuk menghadapi puluhan orang sepertimu..."
"Oh menarik." Jian Chen mengangguk pelan. "Kuharap perkataanmu benar karena aku tidak ingin pertarungan ini terlalu hambar."
Beberapa menit kemudian, dari gerbang benteng muncul para penjaga dari regu lain.
Jian Chen meluruskan tangannya, tanpa basa-basi ia menyerang mereka terlebih dulu. Para penjaga tidak tinggal diam, mereka langsung mengepung dan menyerbu Jian Chen dari berbagai arah.
Dengan pedangnya, Jian Chen bergerak cepat dan membunuh mereka yang ada di dalam jangkauan serangannya, kepungan tersebut justru membuat Jian Chen lebih mudah membasmi mereka lebih banyak.
Jian Chen mengalirkan tenaga dalam yang besar pada pedangnya membuat pedang itu jadi lebih kuat dan tajam. Tidak membutuhkan waktu lama puluhan dari mereka kehilangan nyawa di tangan Jian Chen.
"Dia terlalu kuat-! Bunyikan lonceng darurat!"
Suara lonceng berdentang memenuhi area hutan, dalam hitungan detik kemudian kini ratusan anggota Organisasi Pedang Darah mulai keluar dari benteng.
"Sepertinya ini akan membutuhkan waktu yang lama..." Jian Chen tidak gentar melihat lawannya yang bertambah, ia justru semakin buas menyerang mereka satu persatu.
Dalam hitungan menit Jian Chen terus berada di tengah lawannya, ia menangkis setiap serangan yang ada dan memberikan serangan balik yang mematikan.
Para anggota Pedang Darah mulai menyadari kekuatan Jian Chen saat para rekannya sudah terbunuh sekitar ratusan dari mereka, masalahnya ia tidak menemukan tanda-tanda Jian Chen kelelahan setelah membunuh sebanyak itu.
"Kenapa kalian berhenti! Ayo serang aku bersama-sama. Bukankah kalian lebih suka bermain jumlah?" Nafas Jian Chen masih teratur, ia tersenyum lebar pada lawannya yang kini telah mengambil jarak darinya dengan ekspresi ketakutan.
"Pendekar, siapa dirimu? Kenapa kau melakukan ini pada bawahan-bawahanku?" Seseorang berdiri di atas benteng sambil menatap Jian Chen dingin.
Orang itu adalah salah satu dari empat petinggi di Organisasi Pedang Darah yang sering di sebut Petinggi Api.
Jian Chen menolak ke atas lalu menemukan seorang pria yang memiliki dua pedang di punggungnya, Jian Chen mengerutkan dahinya ketika melihat kultivasi pemuda itu yang berada di ranah Alam Hampa.
"Hm, apa kau pemimpin dari Organisasi Pedang Darah?" Tebak Jian Chen.
"Mengetahuiku tidak membuatmu selamat disini..."
Petinggi Api sudah melihat aksi Jian Chen sejak tadi, ia menyaksikan bagaimana pemuda itu membunuh anggota-anggotanya dengan begitu mudah.
Dilihat dari kekuatan serta kecepatannya Petinggi Api menduga Jian Chen berada di ranah kultivasi yang sama dengannya, hanya saja daya tempur dan pertarungan Jian Chen sangat tinggi.
Petinggi Api tidak yakin menang jika melawan Jian Chen satu lawan satu hanya saja Petinggi Api tidak sendiri di sana, tidak lama kemudian ada petinggi lain yang baru datang dan berdiri di sampingnya, ia membawa senjata cakram yang tersemat di pinggangnya.
Petinggi kedua itu di sebut Petinggi Angin, keduanya merupakan empat petinggi elemen dari Organisasi Pedang Darah.
"Ah, kurasa kalian atasan dari mereka, di mana pemimpin kalian?" Jian Chen melihat para anggota Pedang Darah memberi hormat pada keduanya.
Petinggi Api mendengus, ia menoleh ke arah Petinggi Angin sebelum keduanya mengangguk pelan. Petinggi Api kemudian menarik pedang lalu bergerak ke arah Jian Chen sementara Petinggi Angin melepas cakramnya.
"Kalian tidak berbasa-basi terlebih dulu, kupikir kita akan sedikit mengobrol sebentar..." Jian Chen tertawa kecil lalu mengangkat pedangnya.
Petinggi Api menguasai elemen api, seketika dua pedangnya di selimuti api yang membara.
Kedua pedang akhirnya bertemu, Petinggi Api mengayunkan pedangnya dengan teknik pedang sementara Jian Chen mengikuti.
Keduanya akhirnya bertukar serangan beberapa jurus, Petinggi Api tidak bisa mendesak Jian Chen atau sampai melukainya tetapi ia tidak berhenti mengayunkan pedang.
Satu-satunya yang membuat Petinggi Api terus menyerang adalah kondisi pedang Jian Chen yang semakin buruk. Pedang Api mengalirkan tenaga dalamnya dan kali ini ayunan pedang apinya membuat pusaka Jian Chen hancur berkeping-keping.
Petinggi Api berpikir Jian Chen akan mengambil jarak setelah senjatanya hancur namun ternyata perkiraannya salah, Jian Chen justru memberikan serangan tendangan yang kuat.
Petinggi Api harus menahan tendangan itu dengan pedangnya tetapi tetap saja membuat tubuhnya terdorong beberapa meter.
Tangan yang memegang pedangnya terasa sakit, Petinggi Api melotot, tidak menyangka Jian Chen memiliki teknik tendangan sekuat ini.
Jian Chen ingin memberikan tendangan susulan saat empat cakram meluncur ke arahnya.
Cakram itu di balut elemen angin yang tajam, Jian Chen menghindari dua cakram pertama sementara dua cakram lainnya ia tangkap dengan kedua tangan.
Aksi tersebut mengejutkan Petinggi Angin, ia buru-buru mengambil dua cakram yang ia kendalikan dari jarak jauh hingga kembali ke tangannya. Petinggi Angin tidak mau Jian Chen mengambil pusaka berharganya lagi