Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 148 — Menulusuri Makam Kuno II


Jian Chen melepaskan hawa dingin ketika tikus tanah itu sudah dekat dan melompat ke arahnya.


Seketika suhu di ruangan tersebut menurun cukup drastis membuat gerakan siluman tikus tanah itu menjadi sedikit terganggu. Jian Chen mengambil kesempatan tersebut untuk membunuh mereka satu persatu.


Suhu dingin dari Jian Chen nyatanya tidak terlalu bekerja seperti yang dia harapkan, bulu-bulu mereka melindunginya dari hawa dingin tersebut.


Dari umur serta kekuatannya, siluman tikus tanah disini jauh lebih kuat dibanding saat kompetisi dulu, Rata-rata umur siluman tersebut berkisar 50 tahunan dan jumlah mereka jauh lebih banyak.


Andai Jian Chen sekarang tidak berada di Alam Bumi serta tenaga dalamnya sudah berjumlah ratusan mungkin ia tak akan sanggup melawan mereka.


Satu persatu Jian Chen berhasil membunuh Tikus-tikus tanah itu, setiap yang terkena ayunan oleh pedangnya walau hanya berupa goresan kecil saja sudah cukup membuat tikus tersebut langsung mati membeku.


Jian Chen harus akui kemampuan teknik es Ziyun sangat tinggi, pusaka yang digunakannya kini seperti menjadi pusaka langit.


Tikus-tikus tanah terus menyerang Jian Chen dari berbagai arah, ketika dirinya mulai terkepung ia akan langsung menghilang dan muncul di titik yang lain, kemudian tikus tanah kembali mengejarnya.


Jian Chen menggunakan seni permainan pedangnya dengan lincah, setiap kali tikus tanah melompat ia bisa menebasnya dalam sekali ayunan.


Dalam kurun beberapa menit Jian Chen akhirnya membunuh semua tikus tanah, bercak darah menempel di pakaian serta lantai ruangan.


"Hm, selalu sulit menghadapi mereka..." Jian Chen mengusap keringat di keningnya.


Meski ia bisa mengalahkan gerombolan tikus tanah tersebut tetapi menghadapinya bukanlah hal yang mudah, Jian Chen berpikir mungkin lebih baik melawan seratus orang pendekar daripada menghadapi tikus tanah tersebut yang jelas membuatnya kerepotan.


Jian Chen langsung mengambil setiap permata siluman setelahnya, dengan umur dan jumlah siluman itu ia yakin dirinya bisa mencapai seribu lingkaran tenaga dalam.


"Hm, ini lebih dari cukup membuatku naik ke tahap kultivasi Dewa Cahaya Semi Kristal..." Jian Chen melihat tumpukan permata siluman di atas telapak tangannya sebelum memasukannya ke dalam cincin ruang.


Di sekitar ruangan tersebut ada sebuah lorong yang menuju ke tempat berikutnya, Jian Chen melanjutkan perjalanannya menulusuri Makam kuno.


Setiap ruangan di pisah oleh lorong yang panjang, Jian Chen melangkah di lorong tersebut namun suara Lily menghentikannya.


"Sebaiknya kau tidak ceroboh, gunakan teknik mata anehmu itu, tidak ada yang tahu di tempat ini apakah ada jebakan atau tidak." Lily memperingatkan.


Jian Chen mengangguk, tanpa disuruh pun ia memang sudah berencana melakukan demikian.


Di lorong, Jian Chen baru menyadari bahwa tidak ada pendekar yang sampai ke titiknya saat ini. Tikus tanah itu sepertinya membunuh siapapun yang masuk.


Baru beberapa langkah berjalan, Jian Chen kemudian menemukan ada banyak jebakan dari lantai di pijaknya.


Jebakan itu akan aktif jika diinjak, jika itu orang lain maka akan sulit menyadarinya sementara Jian Chen dapat menemukannya dengan menggunakan mata langit. Jian Chen akhirnya bisa melewati jebakan itu dengan mudah.


Ia akhirnya tiba di ujung lorong dan menemukan ruangan berikutnya, tidak jauh berbeda dari ruangan pertama, yang membedakan hanya ruangan kedua ini di penuhi oleh emas dan harta benda lainnya.


Jian Chen tidak langsung mengambil emas itu karena pandangannya tertuju ke sebuah selaput formasi yang terpasang disekitar gunungan emas tersebut.


Formasi itu sepertinya akan aktif jika Jian Chen menyentuh koin emasnya.


Jian Chen mengangguk. "Guruku pernah mengajarkan cara membuat formasi dan membatalkannya. Melihat dari formasi ini sepertinya aku bisa memecahkannya."


Dalam dunia persilatan, sebuah formasi biasanya digunakan untuk melindungi harta benda atau sebuah pusaka oleh para pendekar agar tidak ada yang mencurinya.


Formasi bisa berbagai macam bentuknya, seperti formasi dengan teknik tenaga dalam, formasi sihir, formasi roh, dan ada juga formasi kehidupan dimana untuk membuat dan memecahkannya harus dengan menggunakan nyawa seseorang.


Formasi yang ada di depan Jian Chen adalah formasi dengan bentuk tenaga dalam, tidak sulit memecahkannya selama Ia menulis ulang formasi tersebut.


Jian Chen menyentuh selaput formasi tersebut lalu jari telunjuknya menuliskan sesuatu berupa aksara yang bentuknya berbeda. Ketika tulisan itu selesai, perlahan selaput di sekitar gunungan emas itu bercahaya sebelum meredup dan menghilang secara perlahan.


"Hm, formasi ini sudah ada sejak ratusan tahun, siapa yang membuatnya di dalam tanah seperti ini..." Gumam Jian Chen pelan.


"Tuan Putri ini justru lebih terkejut saat kau memecahkan formasi serumit itu. Sebenarnya kau ini jenius bela diri atau apa, mengingat di kehidupan pertama kau hanyalah anak biasa."


Jian Chen tersenyum tipis, Lily jelas mengetahui banyak hal tentang dirinya.


Memang yang dikatakan Lily tidak salah, sebelum Jian Chen bertemu gurunya Ia tidak lebih dari pendekar biasa yang mempunyai bakat rendah.


Jian Chen bahkan tidak menguasai teknik apapun selain permainan pedang yang diajarkan oleh ayahnya, itupun Ia tidak kuasai secara keseluruhan.


Andai Jian Chen sekarang bukan reinkarnasi dari masa lalu serta tidak menggunakan Kultivasi Dewa Cahaya mungkin kekuatannya sekarang masih di Alam Roh.


Jian Chen tidak memikirkan itu lebih jauh, Ia melangkah ke tumpukan emas tersebut sebelum pandangannya jatuh ke cincin berwarna keunguan.


Mata Jian Chen melebar saat mengenali cincin itu, "Cincin Ruang jenis Ametis, aku tidak menyangka ada disini..."


Cincin Ruang jenis ametis adalah jenis cincin ruang tertinggi dari kedua cincin ruang lainnya. Yang memilikinya pun hanya beberapa orang saja di Kekisaran Naga dan itu bisa dihitung dengan jari.


Cincin ini tidak memiliki batas ruang didalamnya, berbeda dengan cincin ruang jenis perak dan jenis emas yang memiliki batas luas.


Terdapat ada sembilan cincin ruang ametis yang tergeletak, Jian Chen melepas cincin ruangnya yang berjenis emas sebelum di gantikan dengan cincin ruang ametis.


Kini Ia bisa menyerap benda-benda yang lebih besar lagi, bahkan Jian Chen tidak harus menyentuh benda yang di targetnya, cukup mengulurkan tangan dan mengalirkan tenaga dalam pada cincin ruang maka Ia bisa menghisapnya di jarak tertentu.


Jian Chen kemudian menghisap habis koin-koin tumpukan emas itu tanpa tersisa sedikitpun.


Ruangan yang awalnya di penuhi oleh gunungan benda berkilauan kini telah ludes tak tersisa.


Saat Jian Chen berpikir bahwa Makam kuno ini adalah batasnya namun ternyata dugaannya salah, di ruangan itu ada lagi sebuah lorong yang menuju ruangan selanjutnya.


"Apa mungkin tumpukan emas adalah hidangan pertama dari makam ini?" Jian Chen menebak kemungkinan didalam makam kuno tersebut ada pusaka atau sesuatu yang lebih berharga daripada uang.


Jian Chen kembali berjalan menuju ruangan selanjutnya.