
Rombongan Jian Chen akhirnya tiba di dekat perbatasan klan Miou, mereka berhenti terlebih dulu untuk beristirahat sekaligus menyiapkan rencana.
Jika yang ia serang adalah markas musuh, Jian Chen mungkin tidak akan segan-segan langsung ke sana dan membunuh orang-orang yang dilihatnya namun akan berbeda cerita jika ia menyerang di klan sekutu.
Jian Chen khawatir akan menyerang orang yang tak bersalah, belum lagi penduduk klan Miou bisa dijadikan sandra oleh pendekar Kekaisaran Qilin kalau ia langsung menyerang tanpa rencana.
Sebab itu sekarang dirinya membutuhkan bantuan Miou Lin dan pasukannya, rencana Jian Chen cukup sederhana, ia akan menarik perhatian pendekar-pendekar Kekaisaran Qilin sementara pasukan yang di pimpin Miou Lin akan menyusup ke dalam untuk membebaskan para Tetua klan Miou.
Aksi Jian Chen yang ingin menarik perhatian musuh terlalu berisiko, Jian Ya sempat melarang rencana tersebut karena khawatir dengan pemuda itu.
"Kita tidak punya waktu untuk merencanakan strategi yang lain dan menurutku ini adalah rencana yang terbaik dalam menyelamatkan klan Miou..." Jian Chen tersenyum lembut, ia bisa merasakan gadis itu khawatir dengan keselamatannya.
"Tapi kau bisa dalam bahaya Chen'er?" Jian Ya masih membujuk agar Jian Chen mengubah strateginya.
"Tidak akan, aku amat percaya diri dengan kemampuanku, justru sekarang aku lebih khawatir dengan keselamatan dirimu yang menyusup ke sana..." Jian Chen mengelus pipi Jian Ya, membuat wajah gadis itu memerah.
Jian Ya sudah menyadari sejak awal kalau Jian Chen mempunyai rasa suka padanya, ketika pemuda itu membuat pendekatan sebagai seorang lelaki Jian Ya sama sekali belum siap meski dalam hatinya ia sangat senang.
Selama ini alasan Jian Ya menutup hatinya dari pria lain karena sudah mempunyai perasaan pada seseorang yang telah mencuri hatinya.
Waktu dulu Jian Chen mungkin masih berusia empat belas sampai lima belas tahunan sehingga Jian Ya tidak mau menonjolkan perasaan sukanya.
Tapi sekarang Jian Chen telah berubah semenjak hampir 3 tahun tidak bertemu, Jian Chen telah menjadi pemuda yang dewasa, berwajah tampan serta memiliki wibawa yang tinggi.
Jian Ya merasa sebaiknya ia tidak lagi menahan perasaannya untuk menyukai pemuda itu.
Melihat keromantisan tersebut, Miou Lin serta para pendekar Asosiasi merasa iri jika terus menatap keduanya. Rasa-rasanya mereka ingin segera mendapatkan belahan hati mereka secepatnya.
Setelah semua rencananya sudah tersusun rapih, Jian Chen perlahan mulai melayang ke udara dan melesat ke pemukiman klan Miou.
***
"Hm, bagaimana aku menarik perhatian musuh?" Jian Chen menggaruk kepalanya usai berhenti di tengah-tengah kawasan klan.
Biarpun sudah di sana Jian Chen kebingungan untuk mencari perhatian lawan-lawannya, kalau sekarang di tempat markas musuh Jian Chen mungkin akan menghancurkan bangunan-bangunan untuk membuat perhatian tersebut.
Jian Chen juga harus memastikan yang datang menghampirinya adalah pendekar tingkat tinggi, sebab itu ia datang dengan cara terbang.
Ketika Jian Chen masih berpikir, seorang pendekar Alam Langit tahap 2 melayang ke arahnya. Jian Chen menyipitkan mata saat melihat seragam pendekar langit tersebut yang terlihat asing.
"Sepertinya kalian adalah pendekar dari Kekaisaran Qilin itu bukan?" Jian Chen terlebih dulu bertanya sebelum orang itu, membuatnya jadi terkejut dan waspada.
"Siapa kau? Sebutkan dimana tempatmu berasal?!"
"Hm, aku sudah mendengar bahwa kalian telah menguasai klan Miou tetapi tidak menyangka sampai bertindak seperti ini, Kekaisaran Qilin benar-benar memandang rendah Kekaisaran Naga, Heh?"
"Kau sangat percaya diri datang ke kandang musuh, apa kau tidak bisa berpikir bagaimana cara membedakan keberanian dengan kebodohan?" Pendekar itu tertawa mengejek.
Perhatian Jian Chen nyatanya tidak sedang ke pendekar tersebut melainkan ke area klan Miou, Jian Chen bisa melihat ada beberapa Alam Langit Kekaisaran Qilin yang lain di sana.
"Kau berani mengalihkan perhatianmu saat berbicara, aku cukup yakin ada yang salah dengan otakmu!" Pendekar itu kemudian menghunus pedangnya. "Aku sang pendekar Pedang Petir, tidak akan membiarkan kau hi-..."
Jian Chen mendengus, sebelum pendekar itu menyelesaikan kalimatnya, ia sudah bergerak cepat dan memotong kepala pendekar tersebut.
"Kau terlalu banyak berbicara, membuat telingaku sakit saja..." Jian Chen mengibaskan pedang asuranya, membersihkannya dari darah sementara jasad pendekar itu mulai jatuh ke bawah.
Usai pendekar itu tewas, pendekar-pendekar Alam Langit dibawahnya terkejut sekaligus marah, mereka langsung terbang ke arah Jian Chen.
"Beraninya kau membunuh Tetua Du?!" Salah satu pendekar berteriak marah pada Jian Chen, kini bukan hanya dia sendiri yang datang tetapi ada 7 Alam Langit di belakangnya yang siap bertarung andai Jian Chen melawan.
"Jangan salahkan aku, dialah yang meremehkan lawannya sehingga membuatnya jadi lengah..." Jian Chen mendengus pelan, menolak di salahkan.
Delapan pendekar di depannya memiliki rata-rata kekuatan Alam Langit Tahap 4 ke bawah, Jian Chen menghela nafas, ia menyadari kekuatan Kekaisaran Qilin dan Kekaisaran Naga memang memiliki perbedaan kekuatan yang menonjol.
Tanpa banyak bicara dengan mereka, Jian Chen langsung bergerak ke arah salah satunya.
Tindakan Jian Chen menunjukkan bahwa ia adalah musuh mereka, kedelapan pendekar tersebut buru-buru mengeluarkan senjata pusakanya dan menyerang Jian Chen bersama-sama.
Dalam waktu singkat Jian Chen di serbu dari berbagai arah, serangan mereka beruntun dan tidak memiliki jeda sedikitpun tetapi Jian Chen dapat dengan mudah menahan setiap serangan mereka.
Bukan hanya bertahan saja tetapi Jian Chen juga melakukan penyerangan balik yang sulit dihindari. Membuat kedelapan pendekar itu mengalami luka yang serius setiap kali pedang Jian Chen terayun.
Gerakan pedang Jian Chen semakin cepat ketika pertarungan terus berlangsung, posisinya perlahan-lahan barubah menjadi mengungguli ke-delapan lawannya.
Pertarungan yang bersuara keras itu akhirnya berhasil membuat penduduk klan Miou dan pasukan Kekaisaran Qilin menyadari ada sesuatu di atas langit. Mereka semua kompak menengok ke atas untuk melihat apa yang terjadi.
Di samping itu Jian Chen terus menggerakkan pedangnya lebih cepat lagi dan kali ini akan sulit bagi kedelapan pendekar itu melihat ayunan pedangnya.
Luka-luka terukir di tubuh lawannya dan mereka sudah dalam keadaan terdesak. Jian Chen tersenyum sinis sebelum mengalirkan tenaga dalam pada pedang asura sebelum mengayunkan dengan kuat.
Dua pendekar Alam Langit yang paling dekat dengan Jian Chen tidak bisa menahan serangan tersebut yang datang tiba-tiba ke arahnya, tubuh keduanya segera terpotong usai pedang itu melewati tubuhnya.
Keenam pendekar Alam Langit buru-buru mengambil jarak dengan Jian Chen sembari menelan ludah ketika melihat dua rekannya terbunuh secara mengenaskan.
Para pendekar itu tidak menyangka Jian Chen memiliki pusaka serta tenaga dalam yang sebesar itu hingga bisa memotong tubuh pendekar Alam Langit seperti tahu.
Jian Chen tersenyum lebar, ia sengaja menunjukkan sedikit kekuatannya agar pendekar Alam Langit Kekaisaran Qilin berdatangan ke arahnya.
Dan benar saja, usai ia berhasil membunuh pendekar Alam Langit lagi, beberapa pendekar alam Langit datang dan sekarang jumlahnya telah berjumlah belasan.