
Jian Chen terus terbang selama beberapa hari selanjutnya tanpa berhenti sedikitpun, ketika tenaga dalamnya hampir menipis ia akan mendarat untuk memulihkan sebagian tenaga dalamnya sebelum meneruskan terbang kembali.
Setelah melewati lautan yang memisahkan antar provinsi, Jian Chen akhirnya bisa melihat wilayah klan Jian di pucuk cakrawala matanya.
Jian Chen memandang klan Jian dari atas langit, usai tiga tahun tidak kesini membuat ia sedikit lupa perubahan yang dialami klan Jian namun yang pasti klan Jian semakin berkembang dan lebih maju.
Jian Chen ingin melanjutkan terbangnya menuju lokasi rumahnya saat tiba-tiba ada seseorang yang melayang mendekatinya.
"Sudah kuduga itu ternyata dirimu..." Orang itu, Jian Ya, menahan perasaannya saat dugaannya benar bahwa pendekar yang terbang tersebut adalah sosok yang ia rindukan selama ini.
"Ya'er, aku-..."
Sebelum Jian Chen menyelesaikan kalimatnya Jian Ya sudah bergerak dan memeluk dirinya. Jian Chen bisa merasakan pelukan kekasihnya itu begitu erat bahkan sedikit bergetar.
"Apakah ada sesuatu?" Jian Chen mengelus punggung Jian Ya pelan, ia bisa mendengar isakan tangis gadis itu saat sedang memeluknya.
Jian Ya tidak dulu menjawab, ia menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti. Jian Chen tersenyum dan membiarkan gadis itu terus memeluknya.
Jian Chen memang tidak mengetahui saat dirinya pergi untuk menghancurkan Organisasi para Shio, Jian Ya selalu mengkhawatirkan keselamatannya setiap waktu.
Gadis itu sangat cemas karena Jian Chen menyinggung orang-orang kriminal setingkat para Shio, bagi Jian Ya hal itu tidak berbeda jauh dengan mengantarkan nyawa.
Meski mengetahui betul Jian Chen sangat kuat hal itu tidak membuat suasana hatinya baik, bagaimanapun Jian Ya sangat mencintai Jian Chen dan tidak mau pemuda itu kenapa-napa.
"Maaf, pasti hal itu membuatmu jadi khawatir seperti ini..." Jian Chen mengelus rambut gadis itu, mencoba menenangkannya.
Jian Ya akhirnya berhenti menangis, ia mendongakkan kepalanya sebelum malu-malu mengecup pipi Jian Chen. "Tidak apa, selama kau kembali dengan selamat aku akan menunggumu sampai kapanpun."
Jian Ya akhirnya melepaskan pelukannya, wajah gadis itu sedikit merona karena tindakannya pada Jian Chen yang langsung memeluk begitu saja.
Jian Chen kemudian menyampaikan niatnya ingin bertemu orang tuanya, Jian Ya mengangguk dan mengatakan ia akan menyusulnya nanti.
"Aku tidak bisa ikut bersamamu, ada urusan penting yang harus aku selesaikan terlebih dulu, setelah urusanku selesai baru aku akan pergi ke rumahmu."
Jian Chen tidak mempermasalahkan hal tersebut, sebelum keduanya berpisah, Jian Chen membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu dengan nada lembut yang sukses membuat Jian Ya tersipu.
Gadis itu buru-buru pergi meninggal Jian Chen usai pemuda itu berkata demikian, ia tidak mau Jian Chen melihat wajahnya yang lebih merah dari sebelumnya.
"Dia benar-benar gadis yang polos kalau soal perasaan..." Lily menggelengkan kepalanya berulang kali diikuti dengan decakan pelan.
Jian Chen hanya tersenyum canggung mendengar gumaman Lily, tidak membantah perkataannya lebih jauh.
Lily sudah terbangun sejak kemarin, kekuatan gadis itu telah mencapai ranah Alam Dewa. Meski di ranah kultivasi yang sama, Jian Chen merasakan Lily bisa melawan mereka yang berada di ranah selanjutnya.
Jian Chen kemudian melanjutkan terbangnya, kecepatannya menurun ketika rumah yang ia tinggalkan beberapa tahun sudah terlihat. Dengan menarik nafas yang dalam, tubuh Jian Chen perlahan turun dan mendarat di depan halaman rumahnya.
***
Di kehidupan pertama, Jian Chen sudah menjadi pendekar tingkat tinggi, dia mungkin akan memamerkan kekuatannya pada orang tuanya agar mereka bangga namun di kehidupan tersebut ia tidak bisa melakukan hal itu karena mereka sudah tiada.
Meski Jian Chen bisa kembali kerumahnya setiap waktu di kehidupan itu, namun ia belum merasakan definisi pulang sehingga ketika di kehidupan kedua ini ia pulang dalam artian sesungguhnya, perasannya menjadi campur aduk.
Jian Chen tidak pernah melupakan reaksi orang tuanya saat ia muncul di depan mereka, Jian Ran dan Jian Wu sungguh terkejut ketika melihat dirinya turun dari atas langit, keterkejutan mereka semakin bertambah diikuti rasa haru ketika melihat orang tersebut adalah anak mereka sendiri.
Jian Ran langsung memeluk Jian Chen dengan erat, pelukannya begitu hangat dan bertenaga, menunjukkan betapa besar kerinduannya sebagai ibu.
Jian Wu tidak jauh berbeda meski ia tidak memeluknya langsung, ia harus menuntun Jian Rou yang masih termenung melihat kakaknya pertama kali.
"Maaf ibu, aku baru pulang..." Jian Chen membalaskan pelukan ibunya.
Setidaknya Jian Ran memeluk Jian Chen sampai lima menit lamanya, perempuan itu hampir tidak melepaskan pelukannya jika suaminya tidak mengingatkan.
"Ran'er, Chen'er baru melakukan perjalanan jauh dari luar provinsi, dia mungkin kelelahan, apakah begitu Chen'er?" Jian Wu mengelus kepala Jian Chen lembut.
Jian Chen sedikit bereaksi, ia tidak menyangka ayahnya bisa mengetahui hal tersebut.
"Ayah, aku..."
Kabar penyerangan terhadap Ibukota Qianshan sudah terdengar keseluruh daratan Provinsi Naga Petir.
Berita itu cukup mengejutkan bagi pihak lain namun yang paling menggemparkan adalah mengenai adanya pendekar misterius yang menolong para warga.
Pendekar itu tidak diketahui nama dan latar belakangnya namun mereka yang pernah melihatnya secara langsung mengakui seberapa kuat pendekar tersebut.
Salah satu ciri khas yang terkenal dari pendekar misterius itu adalah dia memiliki sepasang mata emas yang indah, alasan yang sama membuat Jian Wu dan Jian Ran mengerti bahwa hal tersebut adalah perbuatan anaknya karena di seluruh daratan Kekaisaran Naga hanya Jian Chen yang memiliki mata seperti itu.
Jian Wu dan Jian Ran sudah menyadari sejak dulu kalau anaknya sangat berbeda, terutama karena fakta bahwa sejak kecil Jian Chen adalah seorang bayi yang terselimuti cahaya.
Jian Chen yang ingin mengatakan sesuatu akhirnya menutup mulut, cepat atau lambat sebenarnya Jian Chen sadar hal ini akan diketahui orang tuanya.
Jian Chen juga memang akan menceritakan semua ini pada mereka namun tidak dalam waktu yang cukup dekat. Jian Chen akhirnya mengangguk dan mengakui bahwa ia baru dari provinsi lain.
***
Selama tiga hari kedepan Jian Chen terus berada di rumah, menghabiskan semua waktunya bersama keluarganya.
Jian Chen belum pernah merasakan kebahagiaan sehangat ini sejak sekian lama namun yang pasti ia merasa menjadi sosok yang berbeda ketika bersama keluarganya.
Disisi lain, Jian Chen sedikit canggung ketika bertemu adiknya kembali, terakhir kali keduanya bertemu ketika Jian Rou masih bayi.
Jian Rou awalnya merasa asing bertemu kakaknya namun setelah beberapa hari berlalu akhirnya gadis mungil tersebut bisa akrab dengan Jian Chen bahkan sedikit bersikap manja.
Jian Rou berulang kali meminta digendong di punggung pemuda itu, gadis kecil itu sepertinya tidak menduga kakaknya memiliki paras rupawan.
"Rou'er, jangan ganggu dulu Kakakmu, biarkan dia istirahat sebentar..." Jian Ran menegur Jian Rou yang ingin meminta di gendong lagi oleh Kakaknya.
"Tapi Ibu, aku cuma mau bermain bersama Kakak..." Jian Rou menggembungkan pipinya sebal.
Jian Chen tertawa kecil, mencolek hidung adiknya itu. "Tidak apa ibu, aku tidak keberatan jika terus bersama Rou'er."
Di waktu yang berbeda, Jian Ya terkadang sering mampir ke rumah Jian Chen, sekedar membawa bingkisan atau makanan untuk kekasihnya.
Jian Chen memang tidak menyembunyikan hubungannya dengan Jian Ya pada keluarganya.
Jian Wu dan Jian Ran sendiri sepertinya tidak terkejut dengan fakta tersebut terutama mereka sudah mengetahui Jian Ya sudah menaruh hati pada Jian Chen sejak lama, hanya saja mereka tetap senang ketika keduanya sudah saling mengungkapkan perasaan masing-masing.
Jian Ran bahkan sering menggoda gadis itu untuk memanggilnya dengan sebutan 'Ibu' dan melarang memanggilnya 'Bibi' lagi. Tentu saja hal itu membuat Jian Ya tersipu dan menjadi salah tingkah.
"Kurasa semuanya berjalan dengan baik bukan?" Ujar Lily dari dalam.
Saat ini Jian Chen sedang berada di kamarnya, menatap keluar jendela dengan pandangan terpaku ke langit malam.
"Ya, semuanya memang berjalan baik." Jian Chen menjawab gadis itu sebelum mengangguk pelan.
Di kehidupan pertamanya, Jian Chen gagal untuk menyelamatkan klan serta keluarganya dari serangan organisasi tetapi di kehidupan ini, ia benar-benar telah merubah segalanya termasuk berhasil melindungi semua orang yang ia sayangi.
Jian Chen tidak berharap banyak tetapi ia ingin semuanya setenang malam ini ketika ia menghabiskan waktu bersama keluarga dan orang yang ia cintai.
Jian Chen sadar ini bukan akhir dari masalahnya terutama saat enam bulan ke depan akan ada badai yang menerjang kekaisarannya kembali, namun setidaknya Jian Chen bisa merasakan kedamaian ini untuk waktu yang lumayan lama dan bisa tersenyum di dalamnya.
Arc. 4 End ~ Kultivasi Dewa Cahaya ~ Akhir dari Awal Segalanya. (Book 1... Tamat)
...****************...
*Alhamdulillah, sudah beberapa bulan menulis cerita ini saya akhirnya bisa menyelesaikan sampai akhir.
Terimakasih bagi para pembaca yang selalu mendukung cerita ini hingga bagian akhir, berkat dukungan kalian juga, saya bisa terus bersemangat hingga menulis sampai sekarang.
Hm... apa lagi ya? Saya bingung mau nulis apa lagi tapi kurang lebih seperti itu, sekali lagi saya ucapkan terimakasih kepada kalian yang selalu mendukung....!!!!
Untuk info kelanjutannya (Book 2) saya tidak tahu kapan akan rilis tapi itu akan membutuhkan waktu, butuh perencanaan matang terlebih dulu sebelum diketik dan ditulis, intinya kalau siap di rilis saya akan kasih kabar kepada kalian.
Mm... segitu aja deh, untuk terakhir kali (lagi) saya mengucapkan terimakasih kepada kalian.... Bye bye