
Pada akhirnya Jian Chen justru mendapatkan pedang pusaka kelas satu itu dengan gratis. Kepala Toko yang sudah mengetahui identitas Jian Chen tidak berani mengambil uang darinya sehingga dia memberikan pedang itu dengan harga percuma.
Jian Chen kembali ke Akademi setelahnya, turnamen ternyata masih belum di mulai disana.
“Saudara Jian, kupikir anda akan lama pergi…” Ziyun menyapa Jian Chen setelah tidak sengaja melihat sosoknya.
“Kapan turnamennya mulai, apakah masih lama?”
“Tidak, sebentar lagi, setelah pendaftaran murid selesai para panitia turnamen akan menyiapkan setiap pertarungan. Mungkin 2 jam lagi.”
“Dua jam?”
Ziyun mengangguk, “Aku dan Meily berencana makan terlebih dahulu di restoran dekat akademi sambil menunggu turnamen, barangkali kamu mau ikut? Meily bahkan sudah memesan mejanya di restoran tersebut.”
Jian Chen berpikir beberapa saat sebelum menyetujuinya, ia juga belum makan semenjak tiba di Kota Qianshan. Keduanya kemudian berjalan bersama.
“Saudara Jian, aku turut berduka atas penyerangan terhadap klanmu…” Ziyun membuka obrolan di tengah keduanya melangkah.
Penyerangan klan Jian sudah tersebar kemana-mana membuat klan tersebut jadi terkenal karena menjadi buah bibir di setiap tempat. Meski klan Jian memenangkan peperangan tersebut tetap saja itu disebut musibah yang dipilukan.
Banyak ratusan pendekar yang gugur dari insiden itu, kekuatan klan Jian menurun cukup besar.
“Terimakasih, aku senang kau memikirkan klanku.” Jian Chen menjawabnya dengan senyuman hangat, menyadari dirinya sedang bersama Ziyun sebuah ingatan terlintas di kepalanya. “Ziyun, apakah sekarang kau memerlukan sebuah pedang?”
“Pedang? Tidak, aku punya pedang di cincin ruangku.”
Jian Chen terdiam sebelum menjelaskan maksudnya. “Sebenarnya aku punya pedang pusaka tingkat tinggi untukmu, pedang yang lebih kuat dari pusaka kelas dewa sekalipun.”
“Lebih kuat dari pedang pusaka kelas dewa?!” Ziyun langsung terkejut mendengarnya.
“Hm, sebenarnya aku tidak yakin apakah ini berguna untukmu atau tidak namun yang pasti aku tak bisa menggunakan pedang ini jika bersamaku.”
Ziyun tentu saja tergiur meski kurang mengerti kalimat Jian Chen, ketika pemuda itu mau menunjukkan pusaka yang dimaksud keduanya sudah tiba di restoran tempat tujuannya.
Jian Chen tidak bisa menunjukkan pusaka itu di keramaian seperti di restoran ini, ia memilih melanjutkan percakapan dengan Ziyun dilain kali.
Restoran yang keduanya masuki merupakan restoran menengah yang berlantai 2, tidak terlalu besar ukurannya namun terlihat banyak pengunjung yang memenuhi setiap meja.
Mata Ziyun begitu jeli menatap sekeliling restoran sampai pandangannya tertuju pada satu meja dimana ada Meily disana.
Jian Chen juga langsung mengetahui keberadaan gadis itu, tidak sulit menemukannya karena semua pengunjung restoran ini banyak yang melirik Meily apalagi paras gadis tersebut yang menarik perhatian.
“Saudara Jian, anda juga disini?!” Meily tersentak kaget ketika sahabatnya bersama Jian Chen.
“Ah, aku…”
Jian Chen hendak memberikan penjelasan namun ketika pandangannya tertuju pada meja makan Meily seketika dirinya langsung mematung. Terdapat banyak sekali aneka makanan di meja itu bahkan saking banyaknya meja tersebut jadi sesak oleh makanan yang ada.
“Mei’er, kau memesan semua menu restoran lagi?” Ziyun menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya.
Mendengar itu Jian Chen tersedak nafasnya sendiri, tidak percaya dengan ucapan Ziyun sedangkan Meily hanya menunduk sangat malu.
Meily sejatinya bukanlah gadis pemalu bahkan terkesan cuek pada orang lain, gadis itu bisa mengabaikan semua komentar negatif tentangnya termasuk perihal nafsu makannya yang besar.
Tapi beda kasusnya dengan orang itu adalah Jian Chen, pria yang disukainya. Meily takut dengan ketahuan dirinya mempunyai nafsu makan yang besar membuat Jian Chen memandangnya dengan perasaan tidak suka bahkan bisa jadi bakal membencinya.
Ziyun segera mengerti kesalahan ucapannya, ia buru-buru menganulir itu. “Oh, aku lupa, bukankah Mei’er memesan banyak makanan ini untuk anggota faksi kita, sepertinya mereka tidak datang, ya.”
Walaupun Jian Chen akui dia sangat terkejut melihat nafsu makan Meily yang seperti ini mengingat tubuh gadis itu terlihat ramping dan indah.
“Hm, dari dulu aku selalu bertanya-tanya, kenapa perempuan bisa tetap kurus meski makan banyak setiap harinya?” Gumam Jian Chen pelan.
“Hihihi… Anggap saja itu kelebihan kami para wanita…” Lily yang semenjak tadi menonton tak bisa menahan tawanya lagi.
Jian Chen tersenyum tipis mendengar itu, pada akhirnya Ziyun dan Jian Chen tidak memesan makanan lagi di restoran karena harus membantu menghabiskan makanan yang sudah di pesan Meily.
“Oh, gadis Bunga Lotus ini ternyata makan di restoran ini, kebetulan kita bisa bertemu lagi...”
“Yanyi, kenapa kau disini?” Meily terkejut sebelum nada suaranya berubah menjadi dingin.
Orang yang tiba-tiba menghampiri meja Jian Chen adalah Liu Yanyi, jenius nomor satu di Akademi sekaligus pemimpin faksi Naga Emas.
“Kenapa? Kau takut…” Liu Yanyi tersenyum sinis, “kudengar kau mengikuti turnamen ini, kebetulan aku juga demikian.”
“Apa mau mu sebenarnya!” Meily menyipitkan matanya tajam.
“Hm, seperti biasa kau selalu dingin pada setiap pria…” Liu Yanyi menggelengkan kepalanya pelan, “Aku kesini ingin bertaruh, kau dan aku, siapa yang juara di turnamen nanti harus menuruti siapa yang kalah.”
Alis Jian Chen terangkat mendengarnya, begitu juga Ziyun yang terkejut.
Niu Meily berdiri, tatapannya dingin bahkan disorot matanya ada kemarahan yang terpendam. “Aku setuju!”
“Mei’er, jangan gegabah!” Ziyun mencegah.
“Kak Ziyun tenang saja, aku percaya pada kemampuanku…” Meily tersenyum lalu menoleh pada Liu Yanyi dengan tatapan dingin. “Jika aku menang darimu dan memenangkan turnamen ini aku ingin kau keluar dari akademi!”
Liu Yanyi tertawa, “Baik tapi jika aku menang, kau harus bersamaku dan melepaskan marga klan Niu di dirimu.”
Permintaan Liu Yanyi terdengar kejam bahkan berlebihan, Meily langsung ragu untuk menerima taruhan itu.
Ziyun meminta Jian Chen untuk menengahi situasi ini, dia juga menjelaskan kenapa Meily begitu marah pada Yanyi.
Ternyata selama setahun belakangan ini Liu Yanyi banyak meneror faksi yang dipimpin Meily, beberapa dari teror tersebut mencelakai anggotanya dan bahkan ada yang sampai kritis.
Meski tidak ada bukti tentang serangan itu namun Meily yakin Yanyi adalah dalangnya. Semenjak dirinya telah mengalami kemajuan pesat ke posisi jenius kedua di Akademi, posisi Liu Yanyi yang merupakan murid nomor 1 menjadi terancam.
Sebab ketidaksukaannya itu belum lagi kedua klan mereka memang bermusuhan membuat Liu Yanyi ingin mencelakai Meily namun selalu tidak ada kesempatan yang datang karena itulah anggota faksi Meily jadi korbannya.
Liu Yanyi jelas mengambil kesempatan turnamen ini untuk memprovokasi Meily, dia mendekatkan tangannya untuk menyentuh dagu gadis itu namun sebelum sampai ada tangan lain yang memegang pergelangan tangannya.
Mata Liu Yanyi menoleh pada si pelaku menemukan Jian Chen yang tersenyum padanya.
“Kau sepertinya tidak tahu sopan santun, kau tidak lihat kami sedang makan sekarang.” Jian Chen tersenyum sinis.
Liu Yanyi tidak mengetahui identitas Jian Chen namun langsung terusik pada pemuda itu karena telah berani melawannya.
“Lepaskan!”
Liu Yanyi bereaksi marah, ia menggunakan kekuatannya untuk melepaskan tangannya dari cengkraman Jian Chen tetapi tidak berhasil. Liu Yanyi kemudian menggunakan tenaga dalamnya namun tangannya masih melekat di tangan pemuda itu.
Pandangannya pada Jian Chen langsung berubah, dia bisa melihat wajah pemuda itu masih remaja bahkan berada di bawah umurnya sebab itu ia terkejut dengan kekuatan Jian Chen yang lebih kuat dari perkiraannya.
“Kau, kau, siapa kau sebenarnya?” Tanya Liu Yanyi tajam.