Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 124 — Pertemuan Kembali


Jian Chen mengalirkan tenaga dalam pada tubuh Ziyun agar terasa hangat tanpa peduli Lily dari dalam masih mengomelinya.


"Terimakasih..." Ziyun mengangguk pelan pada Jian Chen, ia mencoba berdiri namun masih terasa lemas, Meily membantu menuntunnya hingga didudukan di atas batu besar.


"Apa ini semua gara-garaku?" Ziyun baru menyadari sekitar area hutan.


Jian Chen mengangguk lalu menjelaskan situasi saat Ziyun tak sadarkan diri, gadis itu langsung terkejut mendengarnya apalagi ketika Jian Chen menjelaskan bahwa Pedang Dewa Es telah masuk ke dalam tubuhnya.


Meily juga sama baru tahunya, "Saudara Jian, apakah ini akan baik-baik saja?"


"Bukan hanya baik-baik saja, Ziyun bahkan lebih kuat dari sebelumnya." Jian Chen kemudian meminta Ziyun untuk mengeluarkan Pedang Dewa Es dari tubuhnya.


Gadis itu sedikit bingung karena tidak tahu bagaimana caranya namun setelah diberitahukan Jian Chen akhirnya ia bisa memunculkan pedang itu di telapak tangannya.


Caranya sederhana, Ziyun tinggal memanggilnya dengan lisan maka pedang Dewa Es seketika langsung ada.


Ziyun melihat pedang biru itu secara berulang-ulang, tidak menyangka dirinya bakal mempunyai pusaka legendaris di sepanjang hidupnya.


"Saudara Jian, aku tak bisa berkata apa-apa atas kebaikan serta kemurahan hatimu, kuharap dimasa depan aku bisa membalas semua ini." Ziyun sedikit terharu karena Jian Chen memberikan barang seberharga ini secara gratis.


"Tidak perlu sungkan, aku juga tidak membutuhkan pedang itu, selama kau menjaga dan merawatnya itu sudah cukup bagiku." Jian Chen tersenyum hangat.


Senyuman itu membuat pipi Ziyun terasa memanas, jantungnya berdetak cepat beberapa kali lipat dan perasaan asing mulai menyelimuti hatinya. Ia memalingkan wajah untuk menghindari kontak mata dengan Jian Chen.


Disaat ketiganya sedang mengobrol, tanpa mereka duga ada mahluk lain yang berjalan ke arah air terjun. Kecepatan mahluk itu sangat cepat dan di luar nalar. Jian Chen bahkan terlambat menyadarinya saat mahluk itu sudah menampakkan diri.


Jian Chen mengerutkan dahi sedangkan Meily menahan nafasnya, keduanya sama-sama mengenali mahluk itu yang tak lain adalah serigala petir yang dulu pernah mereka lawan.


Tubuh serigala itu sebesar ukuran rumah, bulunya lebat dengan kumparan listrik yang menyala, taring serta cakarnya sangat tajam dan mengerikan.


Ketika pandangan serigala petir melirik Meily dan Jian Chen seketika tatapannya menjadi tajam diikuti dengan nafsu membunuh yang kuat. Serigala itu jelas sekali masih mengenali keduanya yang dulu telah pernah melukainya.


Tak lama serigala besar datang, muncul dari semak-semak siluman serigala lain yang seukuran normal, mereka berjumlah belasan.


"Saudara Jian, ini..." Wajah Meily pucat, ketakutan mulai dirasakannya sementara Ziyun tak kalah terkejut.


"Kenapa ada serigala petir disini lagi..." Jian Chen menghela nafas panjang.


Jian Chen bukan tak mampu melawan mereka bahkan dengan kekuatannya yang sekarang dia bisa menghabisi mereka beserta pemimpinnya. Masalahnya Jian Chen tak bisa bertarung ketika harus melindungi Meily apalagi Ziyun.


"Hm... Mereka sepertinya kesini karena tertarik oleh energi yang dipancarkan oleh pedang Dewa Es." Lily mengelus dagunya sambil mempelajari situasi, "Kekuatanmu bisa mengalahkan mereka tapi kau tidak dalam posisi yang menguntungkan, jika aku boleh memberi saran sebaiknya kau pinjam pedang gadis itu."


Yang dimaksud Lily adalah pedang Dewa Es yang masih di pegang Ziyun.


"Bukankah kau mengatakannya hanya dia yang bisa memakainya?"


"Tidak juga, Orang lain bisa menggunakannya sepanjang tuan si pusaka Pemilik Mutlak mengizinkannya."


Jian Chen menuruti saran Lily, ia meminjam pedang Dewa Es pada Ziyun yang dibolehkannya secara langsung. Ketika tangannya memegang gagang pedang itu Jian Chen bisa merasakan bagaimana ringannya pusaka tersebut.


'Benar-benar sebuah pusaka...' Jiak Chen berdecak kagum sambil mengayunkan pedangnya beberapa kali.


"Aku akan menghadapi mereka sendiri, kalian berdua bersembunyilah..." Jian Chen tersenyum sebelum melangkah mendekati gerombolan serigala itu.


"Mei'er, kita serahkan semua pada Saudara Jian, aku punya berfirasat bahwa dia bisa mengalahkan mereka semua..." Ziyun mencegah Meily yang hendak membantunya, ia yakin Jian Chen memiliki kekuatan yang diluar dugaannya sekalipun, membantunya boleh jadi menghambat Jian Chen ketika bertarung.


Belum lagi Jian Chen membawa pedangnya, Ziyun yang menyatu dengan pedang tersebut sudah merasakan betapa kuat pedang Dewa Es itu.


"Aku tidak menyangka harus bertemu kau lagi..." Jian Chen menepuk-nepuk pundaknya dengan Pedang Dewa Es, ia tersenyum lebar pada serigala besar serta kawanannya, "Kebetulan stok permata silumanku mulai menipis, kalian sungguh baik datang kemari."


Serigala-serigala kecil tidak menunggu Jian Chen bicara lebih jauh dan langsung bergerak maju, senyuman yang diukir pemuda itu sudah cukup membuat mereka terusik.


"Hm, kalian langsung menyerang tanpa basa-basi terlebih dahulu, baiklah..."


Tatapan Jian Chen berubah menjadi tajam, ketika serigala-serigala itu sudah didekatnya ia melepaskan suhu yang sangat dingin membuat serigala itu terkejut dan gerakannya terhenti sesaat.


Jian Chen segera menggunakan teknik pedang rembulan yang bergerak cepat menghabisi serigala-serigala disekitarnya, dalam waktu singkat setengah dari jumlah serigala petir itu langsung terbunuh.


Setiap tebasan yang di ukirnya membuat serigala itu mati membeku padahal Jian Chen jelas tidak sedang melakukan perubahan jenis es, hal ini membuatnya kebingungan.


Lily yang menyadari itu berdecak kesal lalu menjelaskan kebingungan pemuda tersebut. "Kau memang bukan yang melakukannya tetapi pedang itulah yang membuatnya! Pedang Dewa Es memiliki elemen es di dalamnya yang bersifat pasif, dari yang kupelajari dia akan membekukan setiap sesuatu yang mengenainya!"


"Pusaka juga mempunyai elemen?!" Jian Chen terkejut karena baru mengetahuinya.


"Tentu saja mereka punya meski itu memang sangat jarang ditemukan, sebab itu aku sangat terkejut kenapa pusaka kuno seperti ini ada di duniamu."


Jian Chen menghela nafas panjang, lagi-lagi ternyata banyak hal yang dirinya tidak tahu padahal sudah menjalani kehidupan kedua ini, Jian Chen tidak menanggapi Lily lebih jauh melainkan terus membasmi serigala-serigala itu.


Tubuh Jian Chen terus melepaskan hawa dingin sehingga setiap serigala di dekatnya bergerak lambat dan Jian Chen dapat membunuhnya dengan cepat, melihat itu terus menerus serigala petir yang besar tak tinggal diam saja. Dia bergerak bagai kilat lalu muncul didepan Jian Chen sambil mengayunkan cakarnya.


Sayangnya Jian Chen bisa melihat serangan itu, dia langsung menghilang bagai berteleportasi lalu muncul di atas serigala itu, dengan tenaga dalam yang dialirkan pada pedangnya ia melepaskan pisau angin ke arah serigala tersebut.


Pisau angin yang dikeluarkan Jian Chen jauh lebih tajam serta berwarna kebiruan dari Pedang Dewa Es, pisau angin itu mengenai telak punggung serigala besar.


Selain mengalami sayatan lebar, kulit dan bulu serigala itu juga membeku di area tersebut. Siluman serigala meraung marah ketika Jian Chen berhasil melukainya, ia menoleh ke arahnya sebelum membuka mulut dan menembakkan bola energi petir yang kuat.


"Kau ingin beradu kekuatan," Jian Chen tersenyum sinis, "kalau begitu aku ikuti kemauanmu... "


Jian Chen mengalirkan tenaga dalam yang berjumlah besar pada pedangnya sebelum menggunakan teknik pedang pernafasan.


"Teknik Pedang Bulan Sabit — Cakrawala Langit!"


Sebuah energi pedang yang jauh lebih kuat dikeluarkan dari ayunan pedang Jian Chen, energi pedang itu membelah bola petir tersebut lalu terus bergerak maju sampai menghantam serigala petir itu.


Siluman yang berumur 300 tahun tersebut terbanting akibat daya ledak yang dihasilkan pedang energi Jian Chen.


Sebelum serigala itu bangkit Jian Chen sudah melepaskan Energi-energi pedang lainnya, ketika tenaga dalam di alirkan ke Pedang Dewa Es kekuatannya bertambah beberapa kali lipat. Hal ini membuat daya ledakan pedang energi Jian Chen jauh lebih kuat.


Beberapa tebasan energi pedang di keluarkan hingga akhirnya serigala petir itu tak bisa bertahan lebih lama, energi pedang Jian Chen yang diayunkan terakhir adalah yang paling kuat, selain langsung membunuhnya energi pedang itu menghancurkan tanah dan pohon di sekitarnya.


Jian Chen menghembuskan nafas lega sesudah membunuh pemimpin serigala itu, serigala serigala yang kecil langsung pergi melihat pemimpinnya mati secara mengenaskan.


Jian Chen mendekati kepala serigala itu sebelum membedahnya, ia mengambil permata siluman yang lebih besar dari biasanya.