
Lily terbang karena menyadari ada beberapa orang yang hendak ke sana, orang-orang tersebut merupakan bala bantuan dari walikota Daiji setelah mendengar kabar ada pendekar yang kuat di makam tersebut.
Kedatangan pasukan bala bantuan itu jelas sangat terlambat, mereka baru sampai dan menemukan semua yang ada di sana sudah tak sadarkan diri.
Pasukan bantuan itu sungguh terkejut dengan situasi itu apalagi melihat Pedang Setan yang cukup ditakuti kini telah kehilangan kekuatannya.
Dari ekspresinya, pria sepuh itu tidak memiliki semangat hidup lagi, pasukan bantuan kemudian mengevakuasinya termasuk juga Longxia yang kehilangan tangan dan dua pendekar Alam Hampa Kota Daiji juga ikut dibawa.
Walikota Daiji berkeringat dingin setelah mendengar berita tersebut, ia mulai menyesali telah mengirimkan dua pendekar terhebatnya ke sana.
Bukan hanya kekuatan kota itu jadi menurun, Walikota itu juga takut pendekar yang mengalahkan ketiga pendekar Alam Hampa akan menuntut balas ke dirinya.
Walikota hanya berharap bahwa semua kejadian ini tidak melibatkan dirinya apalagi keluarganya.
***
Lan Qiaoqiao terus berlari bersama saudari-saudarinya secepat mungkin dari makam kuno, meski dipastikan bakal selamat ia tetap melanjutkan pergerakan mereka.
Lan Qiaoqiao hanya berharap tidak ada yang mengikutinya setelah bergerak sejauh ini sampai tiba-tiba dari atas langit ada sesuatu yang menghantam kuat di depan mereka dan menimbulkan debu kemana-mana.
Ketika debu itu perlahan menipis, mata Lan Qiaoqiao terbuka lebar begitu juga dengan empat saudarinya, mereka menemukan seseorang sudah berdiri di depannya.
Orang itu memiliki sayap hitam, namun yang membuat mereka terkejut adalah orang tersebut adalah orang yang mereka kenal.
"Saudara Jian, anda-..."
Sebelum Lan Qiaoqiao menyelesaikan kalimatnya, ada kekuatan tak kasat mata yang menekan tubuhnya dan juga saudari-saudarinya.
Tubuh mereka merasakan berat seperti tertindih benda besar, tekanan itu kian berlipat setiap detiknya hingga akhirnya mereka tak bisa mempertahankan keseimbangannya dan langsung jatuh berlutut.
Jian Chen atau Lily mulai berjalan menghampiri Lan Qiaoqiao yang kini tak bisa bergerak, Telapak tangan Jian Chen kemudian di letakan di kening Lan Qiaoqiao, sesaat kemudian gadis itu merasakan rasa hangat yang nyaman di kepalanya.
"Apa yang anda lakukan?" Tanya Lan Qiaoqiao setelahnya.
Lily tidak menjawab, kedua bulu sayapnya tiba-tiba mulai berguguran disusul tekanan di tubuh kelima gadis itu menghilang.
Lan Qiaoqiao berdiri dan ingin berkata sesuatu namun sebelum ia melakukannya Jian Chen tiba-tiba kehilangan keseimbangannya dan jatuh di tubuh Lan Qiaoqiao.
Gadis itu untungnya sempat menangkap tubuh pemuda itu, wajahnya sempat memerah karena secara kasar ia telah memeluk tubuh Jian Chen.
Kelima gadis itu khususnya Lan Qiaoqiao kini bertanya-tanya tentang apa yang mereka lihat barusan, jelas sekali Jian Chen memiliki sebuah sayap. Belum lagi mereka merasakan aura Jian Chen agak berbeda dari sebelumnya, aura itu seperti aura kegelapan.
Sementara kelima gadis itu berdiskusi, Disisi yang lain tepatnya di alam dantian Jian Chen, wajah Lily langsung memucat sesudah melakukan sesuatu pada Lan Qiaoqiao.
Jian Chen terkejut ketika Lily tiba-tiba muncul dengan kondisi yang rapuh.
Gadis itu terlihat lebih lemah, Lily mengayunkan tangannya seketika sebuah kelopak bunga yang besar muncul di bawah kakinya.
Lily menginjakan kakinya di atas kelopak bunga itu sebelum terjatuh di atasnya dengan lemas, Jian Chen bergerak cepat dan menangkap tubuh ramping gadis itu.
"Lily, apa yang terjadi padamu?!" tanya Jian Chen dengan kebingungan dan sedikit panik.
Lily tersenyum tipis. "Bahkan di kondisi seperti ini kau masih menyebutku Lily? Kau benar-benar tidak tahu sopan santun..."
"Aku tidak akan mati..." Lily seolah bisa membaca pikiran Jian Chen, ekspresi gadis itu sedikit kesal. "Aku hanya akan tertidur beberapa saat setelah semua ini, jangan terbunuh ketika aku tidak ada!"
Jian Chen tersenyum canggung namun mengangguk pelan.
"Aku akan bangun nanti dan setelah itu, aku harus memberikan perhitungan padamu karena berani menyentuh tubuh Tuan Puteri ini!"
Lily tentu saja kesal karena Jian Chen mengambil kesempatan seperti ini untuk menyentuh tubuhnya, padahal seumur hidupnya tidak ada yang menyentuh tubuh Lily yang mempesona tersebut baik itu perempuan apalagi laki-laki.
Jian Chen akhirnya membiarkan Lily tertidur di atas kelopak bunga tersebut. Gadis itu sungguhan menutup mata setelahnya.
Jian Chen mengucapkan terimakasihnya dengan suara pelan, secara tidak sadar saat ini Lily bisa dibilang telah menyelamatkan nyawanya.
Awalnya Jian Chen ingin bertanya pada gadis itu perihal kekuatannya yang aneh dan menakjubkan, seumur hidupnya, Jian chen belum melihat teknik-teknik yang di keluarkan Lily sebelumnya terutama gadis itu menyebutnya sebagai kekuatan elemen.
Tapi karena melihat kondisi Lily sekarang Jian Chen mengurungkan niatnya, Jian Chen menebak Lily tertidur guna memulihkan tenaganya yang hilang akibat digunakan bertarung sebelumnya.
Hal itu bisa terlihat ketika Jian Chen menggunakan mata langitnya, secara perlahan kekuatan Lily berangsur kembali.
***
Saat Jian Chen balik ke alam sadarnya, ia menemukan langit sudah malam.
Jian Chen melirik area sekitar sebelum menyadari ia berbaring di tanah dengan kepalanya berada di pangkuan paha seseorang.
Orang itu adalah wanita, ia berambut perak yang indah dan memiliki paras yang manis, Jian Chen cukup mengenal gadis itu karena memang mengenalnya yaitu Lan Qiaoqiao.
Lan Qiaoqiao terlihat tertidur ketika Jian Chen sudah terbangun, ia mencoba bangkit perlahan agar gadis itu tidak terganggu namun Lan Qiaoqiao langsung tersadar dan membuka mata birunya.
"Saudara Jian, anda sudah siuman?" Tanya Lan Qiaoqiao senang.
Jian Chen mengangguk, tersenyum canggung. "Maaf membuatmu menunggu hingga harus duduk lama seperti ini, sungguh, aku tidak mengapa jika tertidur di tanah."
"Tidak apa Saudara Jian, aku juga tidak keberatan melakukannya..."
Jian Chen tersenyum lembut, ia bisa melihat Lan Qiaoqiao begitu senang setelah melihat dirinya siuman meski sebenarnya Jian Chen memang tidak pingsan tadi.
Jian Chen mengamati sekitar dirinya berada dan menemukan ada api unggun tak jauh dari posisinya.
Di dekat api unggun itu ada empat gadis marga Lan yang berbaring, mereka tertidur sembari menghangatkan tubuh dari dinginnya malam.
Jian Chen sadar sekarang sudah waktunya pertengahan malam. Mereka kini tengah tertidur di alam terbuka.
Jian Chen kemudian menyuruh Lan Qiaoqiao untuk tidur kembali sementara dirinya yang akan berjaga, melihat gadis itu tidak sengaja tertidur barusan menandakan ia sangat kelelahan dan mengantuk.
Setelah dibujuk beberapa waktu akhirnya Lan Qiaoqiao menurut, ia mendekati Jian Chen yang sedang bersandar di bawah pohon. Gadis itu kemudian duduk di dekatnya.
Mungkin karena sangat mengantuk Lan Qiaoqiao tidak sadar dirinya tertidur di pundak Jian Chen.
Jian Chen tersenyum canggung, ia memilih mengalihkan perhatiannya ke atas langit, menikmati pemandangan langit malam yang berhiaskan bintang-bintang.