
Usai suara kembang api mereda, Dong Xu merasakan tanah yang di pijaknya tiba-tiba bergetar seolah terjadi gempa bumi.
Dong Xu menjaga jarak dengan Jian Mo beberapa meter untuk melihat situasi yang terjadi. Matanya langsung melebar ketika melihat ada para pendekar datang dari dalam tanah.
Para pendekar itu menyerang dari belakang pasukan organisasi yang jumlahnya sekitar dua ribuan, dengan elemen tanah, para pendekar itu bisa menyembunyikan dirinya di dalam tanah dan bersiap untuk melakukan penyerbuan tersebut.
Sejak awal, para pendekar klan Jian sengaja berpura-pura di posisi terpojok sehingga mereka terlihat tidak punya pilihan lain selain bergerak mundur.
Ketika pasukan organisasi sudah berada dalam area jebakannya para pendekar yang ada di dalam tanah segera muncul dan mengepung pasukan organisasi.
“Apa ini, mereka menjebak kita!”
“Celaka, kita sudah berada dalam perangkap!”
Pasukan organisasi mulai tidak fokus ketika diserang dari dua arah yang berbeda, hal tersebut menjadi kesempatan pasukan klan Jian untuk balik menyerang dan memukul mundur lawannya.
Niu Zen adalah pemimpin dari rombongan itu, sejak awal ia sudah berada di dalam tanah dan menunggu aba-aba dari luar untuk melakukan penyerbuan.
“Jadi sejak awal kau memancing pasukanku agar mendekati tembok pembatas ini?” Dong Xu merapatkan giginya, ia bisa melihat dari belakang, lima ribu pasukannya kewalahan menerima serangan dari dua arah.
“Hmph! Jangan salahkan diriku karena kau terlalu naif, salahkan diri kalian yang terlalu percaya diri menyerang klanku tanpa strategi!”
Nafas Dong Xu memburu, emosinya memuncak apalagi menyaksikan satu persatu bawahan-bawahannya terbunuh.
Di saat Dong Xu terpaku menatap pasukannya Jian Mo tak tinggal diam begitu saja, dia mengayunkan pedangnya dengan cepat memberikan sayatan yang lumayan pada dada Dong Xu.
“Kau…” Dong Xu tidak percaya Jian Mo akan bertindak sepengecut ini.
“Sebaiknya kau pergi sebelum pasukanmu habis dan kau incaran kami selanjutnya…” Jian Mo tersenyum lebar.
Dong Xu mengepalkan tangannya sedemikian rupa, ingin sekali ia mencabik-cabik pria sepuh di depannya itu tetapi harus ia yakini bahwa peperangan ini sudah pada ujungnya dan pasukannya sudah kalah.
“Kali ini kita akhiri sampai disini, kedepannya aku akan membunuhmu menjadi beberapa bagian?!”
Setelah itu Dong Xu langsung pergi sambil memegang dadanya yang terluka, ia tak memikirkan lagi pasukannya yang masih ada dalam medan pertempuran karena yakin mereka sudah tidak tertolong lagi.
Jian Mo menyaksikan Dong Xu dari jauh sambil menghela nafas lega, meski mengungguli kemampuan lawannya tetapi jika sampai membunuhnya adalah perkara berbeda. Jian Mo harus menggunakan berbagai cara untuk membunuh Dong Xu dan ia yakin itu mengorbankan kaki atau tangannya.
Jian Mo tidak langsung beristirahat melainkan membantu membunuh pasukan organisasi yang tersisa, ia juga harus menolong Jian Fengxa yang hampir kehabisan tenaga dalam melawan 3 orang lawannya.
Dengan gabungnya seorang pendekar yang di ranah Alam Hampa maka hanya soal waktu keadaan berubah terbalik.
Pasukan organisasi semakin terpojok dengan keadaan ini apalagi lawan mereka yang jauh lebih banyak, hal ini membuat mereka putus asa jadi mereka mulai berteriak menyerukan kekalahan sekaligus tanda untuk menyerah.
Pasukan organisasi berharap hal itu setidaknya bisa menyelamatkan nyawanya kalaupun ia harus berada di dalam penjara, sayangnya mereka tidak tahu bahwa pasukan lawannya sejak awal berniat menghabisi organisasi kriminal tersebut, sehingga meski mereka meletakan senjata dan memohon pengampunan pasukan klan Jian tetap membunuhnya.
***
Di Tampat yang jauh dari peperangan terjadi, Niu Qisha masih melawan ketiga pemimpin organisasi seorang diri. Meski satu lawan tiga tetapi Niu Qisha masih mengimbangi kekuatan lawannya.
“Oh, kau menyukainya, terimakasih, jujur saja aku sedikit bangga mendengarnya.” Niu Qisha tertawa, masih terus mengayunkan pedangnya.
Hong Gao menyipitkan matanya, ia sudah menyerang Niu Qisha dari berbagai arah bersama Yue Xia dan Gu Bu secara bersamaan tetapi pria sepuh itu masih terlihat tenang dalam kondisi tersebut.
Niu Qisha memang berada di posisi bertahan untuk menahan setiap serangan yang datang tetapi sampai saat ini tidak ada luka yang bisa menyentuh kulitnya. Dan anehnya sampai saat ini Niu Qisha tidak mengambil langkah untuk menyerang balik.
Hal ini menimbulkan benak di pikiran lawannya terutama mereka sedikit tersinggung karena Niu Qisha seperti mempermainkan mereka.
“Kabut serbuk api!”
Hong Gao memberikan tanda pada Gu Bu dan Yue Xia untuk mundur sebelum mengeluarkan asap ungu di mulutnya ke arah Niu Qisha.
Niu Qisha segera menahan nafasnya ketika mengetahui kabut tersebut adalah racun, disisi lain Yue Xia dan Gu Bu yang bergerak mundur segera mendekati Hong Gao untuk mendapatkan penjelasan.
“Kabut itu adalah racun dan sangat mematikan jika dihirup, makanlah pil ini, kalian akan kebal dengan racunku…”
Dengan penjelasan singkat, Hong Gao mempunyai strategi agar Yue Xia dan Gu Bu terus menyibukan Niu Qisha agar tidak bisa kabur dari racunnya sampai kehabisan nafas sedangkan Hong Gao sendiri akan terus mengeluarkan kabut ungu itu supaya areanya tambah meluas.
“Hm, baiklah aku menuruti perintahmu. Aku tak bisa membiarkan pria tua itu hidup setelah melukai wajah cantikku ini…” Yue Xia tidak lagi bermain-main seperti biasanya, setelah Niu Qisha memberikan sebuah goresan kecil pada pipinya, gadis itu semakin bernafsu untuk menghabisi pria tua tersebut.
Gu Bu tak jauh sama dengan Yue Xia yang dilanda amarah, harus ia akui Niu Qisha adalah pria sepuh yang cerewet, salah satu ucapannya menghina dirinya karena disebut gendut.
Sampai sekarang tidak ada yang bisa bertahan hidup setelah menyebut itu pada Gu Bu, ia langsung menelan pil buatannya yang berbentuk bulatan berwarna merah, Seketika tubuh Gu Bu menjadi lebih besar dari awalnya sebanyak dua kali lipat.
Keduanya kemudian memakan pil yang diberikan Hong Gao sebelum masuk ke dalam kabut tersebut untuk menyibukan Niu Qisha.
Niu Qisha yang hendak meninggalkan kabut ungu itu tiba-tiba tidak punya pilihan lain selain menyambut keduanya, ia harus bertarung dalam posisi sedang menahan nafas.
Satu pukulan mengenai dada Niu Qisha membuatnya terpukul mundur beberapa langkah, Niu Qisha ingin melarikan diri dari kabut tersebut tetapi lawannya tak membiarkan itu terjadi.
“Habis sudah nyawamu tua bangka…” Yue Xia tertawa lantang sembari terus menyerangnya.
“Bersiaplah untuk mati dan aku merobek mulutmu …” Gu Bu menyeringai antusias.
Alis Niu Qisha terangkat, dia bisa menyaksikan dua -lawannya sudah percaya diri akan menang setelah berhasil mendaratkan satu pukulan saja. Niu Qisha kemudian mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya cukup besar sebelum mengayunkannya pada udara.
“Teknik Pedang Bulan Sabit ~ Getaran Badai Samudera!”
Dalam sekali ayunan tersebut muncul sebuah angin kencang yang menyapu semua di depannya seperti sebuah badai di lautan, bukan hanya kabut ungu yang langsung menghilang tetapi Yue Xia, Gu Bu, dan Hong Gao langsung terdorong belasan meter akibat angin tersebut.
Niu Qisha kembali bisa bernafas lega setelah kabut itu menghilang, “aku telah meremehkan kalian, harus kuakui membunuh kalian bertiga adalah hal mustahil bagiku sekarang tetapi jika itu mengalahkan kalian mungkin aku bisa melakukannya.”
Seiring Niu Qisha berkata demikian, tubuhnya tiba-tiba terangkat ke atas, kakinya tidak menapak lagi kebawah melainkan melayang. Niu Qisha kini mengambang di udara.
Melihat itu ketiganya langsung terkejut, Hong Gao meneguk ludah, tatapannya di penuhi ketidak percayaan. “Kau, kau sudah berada di alam langit!?”