
Langit semakin gelap dan malam kian menanti di akhir waktu saat Jian Chen sedang berjalan-jalan di wilayah klan Niu.
Beberapa jam lalu, entah kenapa Ziyun mengajak dirinya keluar dari wilayah pemerintahan klan. Katanya dia ingin menunjukkan sebuah masakkan khas di klan sahabatnya ini.
Meily tidak ikut karena dia harus menjaga ibunya sehingga kini hanya Ziyun dan Jian Chen yang berjalan-jalan di keramaian desa.
Klan Niu adalah klan yang tertutup dari dunia luar, tidak mengizinkan orang luar masuk ke kawasan klan tanpa alasan yang jelas, serta mereka yang ingin masuk harus ada undangan yang ditanda tangani oleh pemerintah klan Niu.
Jian Chen berpikir dengan memblokade masyarakat klannya, penduduk klan Niu akan kesulitan mencari uang serta pangan namun setelah melihatnya lebih jelas sepertinya pikiran itu tidak terjadi.
Bisa dibilang klan Niu sangat makmur, masyarakatnya memiliki kecukupan materi dan dilihat dari luarnya saja klan Niu sangat kaya.
“Tidak heran klan ini tidak membutuhkan klan lain seperti pada umumnya, ternyata mereka memang bisa berdiri sendiri tanpa bantuan dari luar sedikitpun…”
Jian Chen berdecak kagum, tidak mengherankan bahwa mereka merupakan klan terkuat ketiga di provinsi Naga Petir. Klan Jian terlalu jauh untuk meniru pemerintahan klan Niu.
“Akhirnya sampai juga…” Ziyun menghentikan langkahnya di depan salah satu restoran. “Ini restoran makanan yang kumaksud…”
Jian Chen mengerutkan dahinya saat melihat bangunan berlantai tiga itu. “Sepertinya rentoran ini mahal, apakah aku memang harus menyicip makanan itu?”
“Wajib!” Ziyun mengangguk. “Ini adalah makanan khas klan Niu, selain disini anda tidak akan menemukan makanan ini diluar bahkan dipenjuru dunia sekalipun.”
“Kau sepertinya sangat tahu rahasia tentang klan ini?”
“Tentu saja, karena aku sejak kecil sudah disini…” Ziyun tersenyum bangga.
Jian Chen tertawa kecil, keduanya akhirnya masuk ke restoran yang dimaksud. Awalnya Ziyun mengajak Jian Chen duduk dilantai pertama namun melihat mejanya yang penuh membuatnya tak punya pilihan untuk naik ke lantai selanjutnya.
“Sepertinya malam ini sedang banyak pengunjung, Saudara Jian mari kelantai dua.”
Dilantai dua tak berbeda jauh kondisinya, meski jumlahnya tidak terlalu banyak dari lantai pertama tetapi tidak ada meja yang kosong.
“Kita kehabisan tempat, mungkin kita bisa kesini besok pagi.”
“Hm, bagaimana dengan lantai tiga? Bukankah itu termasuk bagian restoran juga?”
“Itu…”
Ziyun sebenarnya malu menjawabnya tetapi ia tetap menjelaskan pada Jian Chen, singkatnya lantai 3 adalah lantai termahal di restoran ini, memiliki pelayanan yang lebih baik dari lantai lainnya serta ada hiburan seperti musik atau tarian.
Saat ini Ziyun tidak membawa uang banyak untuk mentraktir dirinya dan Jian Chen.
Jian Chen memahami pikiran Ziyun dan tetap membawanya ke lantai tiga, “Tenang biar aku yang bayar.”
Untuk pertama kalinya Ziyun merasa malu saat Jian Chen membaca pikirannya. Pipinya terlihat kemerahan.
Dilantai 3 tidak ada siapapun, Jian Chen harus membayar 5 keping perak agar bisa duduk.
Keduanya kemudian memesan hidangan dan karena Ziyun ingin menunjukkan suatu masakan maka Jian Chen menyamakan pesanannya.
Dua mangkuk diletakan dimeja dengan uap yang mengepul menggiurkan, Makanan yang dibawa berkuah seperti sup namun didalamnya ada sesuatu yang panjang-panjang.
“Apa ini? Makanan cacing?”
Ziyun tersenyum simpul. “Ini makanan yang kumaksud sebelumnya namanya ramen, dan yang panjang itu disebut mie.”
Jian Chen meneguk ludah, meski bau masakannya harum namun ia tak berselera untuk menyantapnya. Terutama karena bentuknya seperti cacing tetapi pada akhirnya ia tetap mencobanya.
“Bagaimana kau suka bukan?” Melihat mata Jian Chen terbuka lebar diikuti suara seruput terus menerut membuat Ziyun tertawa kecil.
Harus Jian Chen akui ini memang masakan yang enak apalagi ketika lidahnya bersentuhan dengan kaldu yang ada dimakanan itu. Sepanjang hidupnya dengan kehidupan pertama, dirinya baru tahu ada masakan seenak ini.
Disaat keduanya menikmati makanan, ada 2 orang bertopeng merah masuk ke restoran tersebut. Mereka menduduki dua meja yang ada, pandangan salah seorang di antara mereka melirik meja Jian Chen kemudian berbisik pada temannya.
Ziyun tak bisa menghindar serangan dadakan tersebut, ia menutup matanya, tak berani menyaksikannya namun setelah beberapa detik kemudian pisau itu tak pernah mengenainya.
Ziyun kemudian melihat Jian Chen sudah menangkap pisau lempar itu padahal sebelumnya pemuda itu terlihat fokus menyantap ramen,
Pandangan Jian Chen seketika menjadi dingin. “Apa yang kalian lakukan, ingin membunuh seseorang!?”
Dua orang bertopeng sebenarnya terkejut ketika Jian Chen menangkap pisaunya, gerakan tangan Jian Chen tak bisa mereka lihat. Dua bertopeng itu kemudian bangkit dari kursinya dan melangkah mendekati Jian Chen.
“Anak muda, aku tidak punya urusan denganmu. Serahkan gadis itu maka kami biarkan engkau pergi.”
Mendengar orang-orang bertopeng mengincar nyawanya Ziyun menjadi ketakutan. “Saudara Jian…”
“Tenang…” Jian Chen tersenyum lembut. “Tetaplah didekatku, aku akan melindungimu.”
Jian Chen kemudian menatap tajam orang bertopeng itu. “Apa kalian tidak tahu sekarang ada dimana? Membunuh seseorang di kota seperti ini apakah kalian berniat menyerahkan nyawa kalian?”
“Apakah kami terlihat takut, jika iya maka aku tak akan melemparkan pisau itu pada puteri Klan Ye.”
Jian Chen mengerutkan dahi, orang-orang bertopeng itu jelas mengetahui identitas Ziyun dengan melihat wajahnya belum lagi mereka berani membunuh di kota seperti ini, bukankah itu disebut kebodohan dibanding keberanian.
Andai mereka membunuh, para petugas kota tidak akan tinggal diam dan klan Ye akan memburu mereka sampai ujung dunia.
“Aku tak akan menyerahkannya pada kalian, jika kalian ingin membunuhnya langkahi dulu mayatku…” Jian Chen maju beberapa langkah lalu kemudian menoleh ke arah Ziyun. “Ziyun, tetaplah dibelakangku.”
Ziyun mengangguk, entah kenapa hatinya menjadi tenang ketika memandang mata emas Jian Chen, ada sugesti yang mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja selama bersamanya.
Para pelayan serta pemusik sudah turun dari tadi melihat akan ada terjadi pertarungan.
“Haha, memang anak muda, merasa sok pahlawan dihadapan wanita yang dicintainya. Kalau begitu aku tidak pilihan selain memberikanmu pelajaran…”
Selepas berkata demikian salah seorang diantaranya
bergerak menyerang Jian Chen dengan menggunakan tangan kosong.
Jian Chen tersenyum sinis, dua orang bertopeng itu berada di Alam Jiwa tahap 5, mengalahkan mereka sama seperti membalikan telapak tangan baginya.
Jian Chen menghindari pukulan orang bertopeng itu beberapa saat sebelum menendang perutnya menggunakan lutut, membuat orang itu meringis kesakitan hingga jatuh terduduk. Jian Chen mengayunkan kakinya ke arah kepala dan kali ini orang bertopeng langsung tak sadarkan diri.
Satu orang bertopeng lainnya menyaksikan itu tanpa berkedip, tidak menduga sedikitpun rekannya akan kalah sesingkat itu. Disaat ia ingin melarikan diri Jian Chen sudah melemparkan pisau yang didapat sebelumnya ke arah kakinya.
Orang bertopeng langsung terjatuh, Jian Chen bergerak cepat dan menindihnya. Dia juga membuka topeng orang itu.
“Siapa kau?” Tanya Jian Chen menarik kerah pria bertopeng.
“Saudara Jian, ini…” Ziyun menutup mulutnya saat melihat wajah orang itu.
“Nona Ziyun anda mengenalnya?” Jian Chen terkejut.
“Dia… Dia adalah pasukan klan Niu!”
Jian Chen mengangkat alisnya, ia tak menduga yang menyerang dirinya adalah pasukan klan Niu itu sendiri. Saat Jian Chen memikirkan itu suara gaduh terdengar dari luar restoran.
Ziyun dan Jian Chen refleks melihat ke jendela lalu keduanya menemukan ada banyak orang bertopeng sedang berlari di atas genteng menuju kawasan pemerintahan klan Niu.
Masyarakat sekitar yang ada dijalan menunjuk orang-orang bertopeng itu saling berbisik satu sama lain.
“Haha… Nona aku sarankan padamu untuk bersembunyi disini dan tak kembali ke gedung pemerintahan karena disana akan terjadi perang besar.” Orang bertopeng sebelumnya berusaha untuk berdiri lagi.
“Apa yang kau maksud?” Ziyun bertanya cemas.
“Sebenarnya aku ditugaskan untuk membunuhmu tetapi anggap saja aku sekarang berbuat baik karena kau adalah puteri klan Ye. Kau tahu malam ini adalah malam yang panjang, pemerintahan Klan Niu akan digulingkan dengan pemerintahan yang baru. Niu Zuan akan memimpin Klan Niu menuju puncak kejayaan...”