
Jian Chen tidak membiarkan keempatnya berdiskusi atau merencanakan sesuatu, ia bergerak cepat mengikis jarak antara keduanya.
Menyadari diskusi tak bisa di realisasikan lebih lama, Petinggi Api terlebih dulu menyambut Jian Chen sementara Petinggi Tanah berada di belakangnya.
Petinggi Petir menghilang dan bergabung dengan ruang hampa, ia bersiap menyerang Jian Chen dari arah belakang lalu Petinggi Angin membantu Petinggi Api dari jarak jauh dengan cakramnya.
Jian Chen terlebih dulu menghadapi Petinggi Api, ia mengayunkan pedangnya hingga kedua pedang saling berbenturan keras.
Petinggi Api terlambat menyadari keahlian pedangnya dengan Jian Chen terlalu berbeda jauh, belum lagi senjata pedang Jian Chen sekarang terasa lebih tajam dan kuat.
Dalam benturan beberapa serangan saja, dua pedang Petinggi Api sudah di penuhi retakan halus.
Petinggi Api hendak bergerak mengambil jarak namun Jian Chen tidak membiarkan itu terjadi, ia mengalirkan tenaga dalam yang besar pada pedang Asura lalu mengayunkannya lebih kuat dari sebelumnya.
Petinggi Api tidak bisa menghindari serangan itu, ia mengangkat pedangnya dan seketika pusaka berharga yang menemaninya bertahun-tahun hancur berkeping-keping menahan pedang Jian Chen.
Jian Chen ingin memberikan serangan penghabisan pada Petinggi Api namun ada dua cakram besar yang mengarah padanya sekaligus Petinggi Tanah sudah ada di dekatnya.
Jian Chen menghindari ayunan palu Petinggi Tanah sebelum mengayunkan pedangnya pada cakram-cakram yang terbang, pusaka cakram itu memiliki kualitas tinggi namun di hadapan pedang Asura ia dapat membelahnya dengan mudah.
Perasaan Petinggi Angin tersayat-sayat melihat cakram berkualitas tingginya itu terbelah seperti tahu.
"Apa hanya ini kemampuanmu, cuma bisa menghindari paluku!" Petinggi Tanah merapatkan giginya geram karena serangannya tidak bisa mengenai Jian Chen yang bergerak lincah.
Jian Chen mengerutkan alisnya, "Apa maksudmu, jadi kau berharap aku diam saja ketika di serang?"
Petinggi Tanah semakin tersulut emosi, di balik badannya yang besar ia paling mudah mengeluarkan amarah. Petinggi Tanah mengayunkan palunya lebih cepat lagi.
Jian Chen memasukkan pedang asura pada sarungnya sebelum menghadapi palu Petinggi Tanah dengan tangan kosong.
Jian Chen merubah posisi tangan menjadi mengepal lalu mengalirkan tenaga dalam yang besar, ia tidak lagi menghindar melainkan memukul palu yang terayun pada tubuhnya.
Ketika kepalan tangan Jian Chen dan palu beradu, seketika menimbulkan daya kejut. Petinggi Tanah terpental dua langkah akibat benturan tersebut sekaligus membuat palunya mengalami retak sementara Jian Chen masih tetap berdiri di tempatnya.
Petinggi Tanah mengayunkan palunya kembali dan Jian Chen mengikuti, keduanya beradu serangan sampai palu yang di penuhi retakan itu jadi hancur berkeping-keping.
Petinggi Tanah tidak percaya palu yang terbuat dari baja itu bisa hancur dengan kepalan tangan seseorang. Jian Chen tidak menunggu reaksi Petinggi Tanah melainkan memberikan pukulan pada perutnya yang membuat ia langsung bertekuk lutut dan muntah darah.
Telapak tangan Jian Chen kemudian menangkap sesuatu dari udara kosong, dari ruang hampa kemudian muncul cambuk yang kini sudah di pegang Jian Chen, cambuk itu dialiri elemen petir bertegangan tinggi.
"Kau sepertinya lupa bahwa aku bisa melihatmu?" Jian Chen tersenyum sinis pada salah satu arah.
Petinggi Petir kemudian memperlihatkan wujudnya, ia mengalirkan tenaga dalam yang besar pada cambuknya membuat petirnya semakin kuat namun ternyata petir itu seperti tidak berpengaruh pada Jian Chen.
Saat Petinggi Petir menoleh ke wajah Jian Chen ternyata pemuda itu memasang senyum penuh makna.
"Kau bukan satu-satu yang memiliki elemen petir disini bukan?" Jian Chen kemudian melepaskan energi petir yang memiliki ketegangan jauh lebih kuat dari Petinggi Petir.
Petinggi Petir terlambat melepaskan tangannya dari cambuknya, karena cambuknya terbuat dari besi maka Petinggi Petir seketika tersetrum petir Jian Chen.
Tubuh perempuan itu bergetar hebat dan mengalami luka bakar yang cukup serius, ia tumbang ke tanah seketika dan tidak lagi bernafas.
Petinggi Tanah meneguk ludah, sebelum ia bangkit dari posisinya Jian Chen sudah menarik pedangnya dan mengayunkan pada lehernya dengan cepat, membuat ia menghembuskan nafas terakhirnya.
"Kau..." Petinggi Api sampai sulit berkata-kata, semua terlalu cepat untuknya melihat Jian Chen membunuh mereka dengan beberapa kedipan mata.
Jian Chen tidak menjawab melainkan menghilang dari pandangan lawannya lalu muncul di belakang Petinggi Api dengan pedang yang menusuk jantungnya.
Mulut Petinggi Api di dipenuhi darah, Jian Chen mencabut pedangnya membuat Petinggi Api memejamkan matanya selamanya.
Petinggi Angin yang menyaksikan itu dari jauh langsung berbalik badan dan hendak melarikan diri.
Jian Chen tidak membiarkan itu terjadi, ia mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya sebelum mengayunkannya dengan cepat, seketika tercipta pisau angin yang bergerak cepat ke arah Petinggi Angin.
Petinggi Angin berniat menahan pisau angin tersebut dengan mengalirkan tameng tenaga dalam pada seluruh tubuhnya, namun pisau angin yang di lepaskan Jian Chen terlalu kuat sehingga melewati dan memotongnya tubuhnya seperti tahu.
Semuanya terlalu cepat, para anggota Pedang Darah tak bisa lagi berdiam diri sehingga mereka langsung berlarian ke berbagai arah. Takut Jian Chen membantai mereka.
Jian Chen tidak berusaha menghentikan mereka atau lebih tepatnya ia tidak bisa melakukannya karena jumlah mereka yang terlalu banyak. Selain itu ia harus mengurusi seseorang yang menontonnya sejak tadi.
Jian Chen melihat ke salah arah sambil tersenyum lebar, "Aku tidak menyangka kau bisa mengumpulkan empat pendekar unik seperti mereka? Apakah kau pemimpinnya?"
Jian Chen seperti berbicara pada ruang kosong namun tak lama kemudian muncul pria sepuh yang menatap Jian Chen penuh kebencian.
Orang itu adalah Patriark dari Organisasi Pedang Darah, Yun Luo.
Yun Luo menatap empat jasad petingginya yang mati dengan cara yang mengenaskan, empat petinggi yang ia susah payah kumpulkan kini mati di waktu yang tidak melebihi satu jam.
"Jadi apa kau ingin berbasa-basi dulu atau ingin langsung bertindak?" Jian Chen menghunuskan pedangnya ke arah Yun Luo.
"Siapa sebenarnya dirimu?! Apa urusanmu hingga kau harus bertindak demikian?!" Yun Luo langsung menarik pedangnya dari sarungnya. Ia yakin Jian Chen akan menyerangnya dengan tiba-tiba andai ia tidak berhati-hati.
"Apakah identitasku penting, kau terlalu banyak melakukan kejahatan, tidak mengherankan banyak musuh yang ingin menghancurkan organisasimu..."
Yun Luo mengigit bibirnya, ia tidak menyangka akan bertemu dengan sosok seperti Jian Chen. Yun Luo tidak perlu meraba kekuatan Jian Chen yang bisa jadi berada di Alam Langit.
Yun Luo belum pernah mendengar seorang pendekar yang memiliki wajah semuda Jian Chen, andai menggunakan teknik tertentu agar terlihat tetap muda seharusnya tidak sampai seperti usia belasan tahun.
Ketika Yun Luo larut dalam pikirannya Jian Chen sudah bergerak dan mengayunkan pedangnya. Yun Luo mengangkat senjatanya untuk menahan pedang Jian Chen, matanya melebar ketika retakan kecil langsung timbul dari pusakanya dalam sekali serangan tersebut.