Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 340 — Kompetisi Akademi


Di Akademi Kekaisaran, umumnya setiap tahun sekali akan selalu diadakan kompetisi antar murid berupa pertandingan.


Pertandingan tersebut bertujuan untuk merebutkan sebuah rangking yang terkuat di akademi, seperti sekarang ini, para murid sedang melaksanakan sebuah pertarungan yang disediakan akademi di tengah lapangan.


Di arena tersebut terlihat ada dua orang yang sedang bertarung, salah satu dari mereka adalah seorang pria yang memiliki senjata tombak sementara satunya lagi merupakan seorang wanita.


Wanita yang ada di arena pertarungan tampak di soroti semua penonton yang ada di podium terutama para laki-laki, mereka bahkan tidak berkedip saat gadis itu mulai muncul di atas panggung.


Kejadian tersebut sebenarnya tidak mengherankan, hal itu karena gadis tersebut memiliki paras yang luar biasa cantiknya.


Niu Meily, sesosok wanita yang berbakat di akademi Kekaisaran. Tiga tahun yang lalu kedatangannya pertama kali ke akademi cukup membuat orang lain terpana dengan kecantikannya dan sekarang mereka terpana untuk kesekian kalinya dengan bakatnya yang luar biasa.


Meily hanya baru tinggal tiga tahun di akademi bersama sahabatnya namun waktu tersebut sudah cukup membuat gadis itu berada di rangking teratas sebagai murid berbakat.


Ziyun juga tidak jauh berbeda dengan Meily, semua sorotan laki-laki hampir tidak bisa lepas oleh gadis itu apalagi penampilannya yang selalu anggun dan memancarkan aura ketenangan serta keteduhan.


Keduanya memang bintang utama di akademi sejak beberapa tahun terakhir karena selain mereka cantik, keduanya juga adalah jenius beladiri.


Di usia keduanya yang masih di awal dua puluhan tahunan, Meily dan Ziyun sudah mencapai pendekar Alam Bumi puncak, di Kekaisaran Naga belum ada pendekar di usia semuda itu telah mencapai kultivasi tersebut kecuali mereka.


"Aku menyerah, aku mengaku kalah!"


Pria yang menjadi lawan Meily tiba-tiba mengangkat tangannya sesudah tombak yang di pegangnya jatuh ke lantai akibat beradu serangan dengan gadis itu.


Pertandingan kembali dimenangkan Meily, membuat pertandingan semakin memanas. Meily kemudian duduk di kursinya kembali usai pertandingan telah selesai.


Aturan kompetisi pertandingan itu sebenarnya cukup sederhana, bagi siapapun murid yang ingin naik rangking mereka harus bertarung dengan murid yang lebih kuat.


Murid yang akan naik rangking akan menantang murid yang lebih tinggi dari rangkingnya, jika orang yang di tantangnya kalah maka posisinya secara otomatis akan diganti oleh si penantang.


Ziyun dan Meily berada di posisi rangking ke satu dan kedua sebagai murid terkuat, tidak mengherankan di pertandingan saat ini keduanya banyak bertarung karena banyak murid-murid yang ingin menantang keduanya.


Sejauh ini sudah belasan murid menantang kedua gadis itu tetapi tidak ada dari mereka yang berhasil menang, Meily dan Ziyun berhasil mengalahkan setiap murid-murid yang menantang mereka.


"Siapa yang akan kau tantang?" Seorang wasit kemudian bertanya pada salah satu peserta murid yang naik ke panggung arena.


Murid itu kemudian menunjuk Ziyun, dia ingin menantang gadis itu.


Ziyun menghela nafas sebelum bangkit dari duduknya, ini sudah pertandingan ke sekian kalinya ia harus bertarung. Gadis itu kemudian mulai naik ke atas panggung.


Ziyun mencabut pedang pusaka kelas satunya sebelum mengalirkan tenaga dalam, pedang Ziyun kemudian melakukan perubahan jenis es, pusakanya diselimuti serbuk biru yang dingin.


Ketika juri menurunkan tangannya, Ziyun segera bergerak menyerang murid penantang itu dengan serangan bertubi-tubi.


Pertarungan tidak berlangsung lama karena dalam lima pertukaran jurus saja Ziyun sudah membuat lawannya terdesak hingga akhirnya murid itu mengangkat tangan dan menyerah.


"Itu hebat sekali Kak Ziyun..." Meily berbisik pelan saat Ziyun sudah duduk di sampingnya lagi.


Meily tertawa kecil, ia mengerti maksud sahabatnya itu. Sampai sekarang ini tidak ada yang mengetahui bahwa sebenarnya kekuatan Ziyun dan Meily sudah berada di ranah Alam Hampa puncak.


Kedua gadis itu sengaja menyembunyikan kekuatannya dari siapapun termasuk para Tetua akademi, beberapa minggu lagi mungkin mereka akan mencapai Alam Langit.


Di panggung arena kembali terjadi pertarungan, seorang murid yang menantang murid lain yang lebih kuat, para murid ini mereka harus berebut posisi untuk menjadi yang terkuat di akademi.


Perhatian Meily, Ziyun dan lainnya teralihkan kepada seseorang bertudung naik ke atas panggung.


Meily tidak bisa melihat wajah orang tersebut karena tertutupi tudung di kepalanya namun ia menyadari bahwa orang tersebut adalah seorang pemuda.


Wasit tampak tidak mengenal murid itu tetapi ia tidak mencari tahu lebih jauh, di akademi jumlah murid mencapai ribuan jadi tidak mengherankan ada murid yang tidak dikenalinya.


Wasit kemudian bertanya tentang siapa yang akan dia tantang, pemuda bertudung itu lalu menunjuk Meily, gadis itulah yang ingin dia lawan.


"Aku tidak bisa melihat kekuatannya, kau harus hati-hati Mei'er..." Ziyun berbisik.


Meily mengangguk, ia menyadari hal tersebut namun beranggapan bahwa orang itu menggunakan teknik khusus untuk menyembunyikan tingkat kultivasinya.


Tanpa menunggu lagi Meily naik ke atas arena, mencabut pusakanya dan bersiap untuk bertarung sementara pemuda itu tampak tidak melakukan persiapan apapun.


Ketika wasit memulaikan pertandingan, Meily langsung bergerak menyerang pemuda bertudung itu dengan menggunakan teknik pedangnya.


Meily berniat mengakhiri pertandingan ini dengan cepat sebab itu ia menggunakan jurus andalannya namun tidak seperti yang ia bayangkan, pemuda bertudung itu bisa menghindarinya.


Ekspresi terkejut terpampang di wajah Meily, bukan hanya dia saja tetapi Ziyun, wasit serta penonton yang lain tampak bereaksi serupa.


Meily tidak berhenti di sana walau serangan pertamanya gagal, ia menyerang kembali namun kali ini menggunakan teknik pedang rembulan, tidak seperti harapannya pemuda bertudung itu bisa menghindarinya dengan mudah.


Teknik pedang rembulan yang merupakan teknik pedang tingkat tinggi benar-benar tidak berguna di hadapan pemuda tersebut bahkan sepertinya ia bisa menghindari serangan Meily hanya dengan menutup mata.


Pemuda bertudung itu mengayunkan jarinya, memberi instruksi agar Meily kembali menyerang. Pemuda itu sadar Meily masih menahan sebagian besar kekuatannya.


Meily menggenggam pedangnya lebih erat, baiklah, gadis itu kemudian mengalirkan tenaga dalam yang cukup besar pada pedangnya sebelum melakukan teknik pedang rembulan lainnya.


"Teknik Pedang Bulan Purnama — Dua Cahaya Bintang..."


Meily meningkatkan kecepatan ayunan pedangnya dalam lima belas tebasan pertama, setiap ayunannya di selimuti tenaga dalam yang besar.


Menghadapi kecepatan pedang itu, pemuda bertudung akhirnya mengangkat tangannya untuk menangkis beberapa serangan Meily yang mengarah pada tubuhnya.


Meily tidak percaya yang dilihatnya, ia cukup percaya diri dengan ketajaman pusakanya namun pemuda itu justru dengan mudah menahannya tanpa mengalami luka sedikitpun.


Meily tidak habis akal, ia sekarang menggunakan perubahan jenis petir untuk meningkatkan serangannya, kecepatan pedangnya bertambah beberapa kali lipat lagi.


Akhirnya salah satu ayunan Meily mengenai tudung pemuda itu yang membuatnya melorot dan memperlihatkan wajahnya. Saat itulah Meily melihat paras pemuda itu, nafasnya menjadi tertahan melihat sepasang mata emas sedang menatapnya sambil tersenyum dengan lembut.