Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 76 — Pemberian Meily


“Itu hanya perkiraanku tetapi boleh jadi salah, aku hanya khawatir klan Jian akan terjadi sesuatu.” Jian Chen menutup penjelasannya.


“Dari ceritamu, apa klan Jian memiliki harta berharga? Tidak mungkin organisasi pembunuh hanya menyerang sebuah klan demi membunuh semata, pasti mereka menginginkan sesuatu rahasia dibalik klanmu.”


Jian Chen terdiam mendengar penjelasan Niu Qisha, sebelumnya ia tak pernah berpikir kesana karena selalu fokus untuk menyelamatkan klannya dari pembantaian tanpa tahu menahu akar dari pembantaian tersebut.


Setahunya disaat kembali ke klannya di kehidupan pertama, pemukiman klan Jian masih utuh dengan rumah dan barang-barangnya.


Rumah Jian Chen masih tetap sama saat dirinya berkunjung, yang berbeda adalah rumah itu sudah banyak debu dan jaring laba-laba, serta beberapa bagian rumah telah hancur karena kayunya lapuk.


Memang ada coretan pedang atau bekas ledakan yang mungkin diakibatkan oleh penyerangan tersebut, namun Jian Chen yakin tidak ada barang yang hilang dari rumahnya bahkan uang di laci ibunya pun masih ada.


‘Sebenarnya apa yang diinginkan pembantaian klanku sehingga harus membunuh semua orang didalamnya…’


Jian Chen berpikir ketika kembali ke klan Jian nanti dia harus mencari sesuatu yang berharga itu, andai menemukannya dia harus menghancurkan atau mencurinya sebelum organisasi itu mengetahui,


Dengan begitu klan Jian tidak akan diserang dan tragedi itu tidak akan pernah terjadi.


Niu Qisha melihat Jian Chen termenung dengan perkataannya dan dilihat dari wajahnya, anak muda itu terlihat cemas.


“Nak, jika itu setahun lagi menurut perkiraanmu terlepas benar atau tidaknya, tenang saja aku akan membantumu nanti!”


“Maksudnya, Ketua sudah bersedia membantu klanku?” Jian Chen terperanjat.


“Ya, dan untuk pasukan klan Niu aku tak bisa memenuhinya atau tepatnya itu bukan keputusanku.” Niu Qisha menatap anaknya. “Zen adalah Ketua klan Niu saat ini, dialah yang berhak memutuskan pasukan klanku membantumu atau tidak.”


“Ayah, kalau itu memang keputusanku maka aku akan membantu Jian Chen ini. Jika bukan karenanya klan Niu saat ini mungkin akan berbeda.” Niu Zen tanpa perlu pertimbangan langsung menyetujuinya.


Walaupun Jian Chen terlihat seperti anak muda biasa tetapi bagi Niu Zen kebaikannya tetap diperhitungkan. Lagian ia juga berharap punya hubungan baik dengan Jian Chen dimasa depan.


Meski dirinya tak bisa membaca kultivasi pemuda itu, ia yakin kekuatan Jian Chen lebih besar dari perkiraannya. Hanya soal waktu Jian Chen bisa melampaui kekuatan orang-orang dewasa atau bahkan orang sepuh sekalipun.


Melihatnya langsung mengungguli belasan orang dewasa ditambah mampu menggunakan teknik pedang klannya, sulit untuk Niu Zen melupakan bakat tersebut.


Niu Qisha mengangguk, jika itu keputusan anaknya maka dia akan mendukungnya, bagaimanapun kekuasaan klannya sekarang adalah milik anaknya.


Jian Chen juga mengatakan bahwa sebenarnya kedatangan pasukan klan Niu tidak harus bertempur kecuali kondisinya memang memungkinkan. Jian Chen hanya ingin asal pasukan musuh terpukul mundur maka itu sudah cukup baginya.


Tentu saja bukan berarti Jian Chen memaapkan mereka, jika nanti kekuatannya sudah cukup dan ia mengetahui siapa dalang pembantaiannya, maka tinggal tunggu waktu hingga Jian Chen membalas dendam.


***


Selepas pertemuan tersebut, Jian Chen melakukan penyembuhan pada Niu Yuan yang sempat tertunda akibat kudeta.


Di kamarnya, seperti biasa Jian Chen akan meletakan tangannya di punggung Niu Yuan sebelum mengalirkan tenaga dalam pada ibunya Meily tersebut.


Penyembuhan Niu Yuan sudah pada tahap akhirnya sekaligus tahap tersulit untuk mengeluarkan racun di tubuhnya, semua organ tubuh Niu Yuan sudah bersih dari racun namun tinggal bagian terakhirnya yang masih belum yaitu organ jantung.


Niu Zen, Meily, Ziyun dan Miou Lin menatap cemas karena menurut penjelasan Jian Chen penyembuhan racun di jantung beresiko.


Andai Jian Chen melakukan kesalahan sedikit saja dalam pengeluaran racun tersebut akibatnya langsung fatal bagi Niu Yuan, kehilangan nyawa mungkin bisa saja terjadi.


Niu Qisha mengamati dari jauh, walaupun kekuatannya tinggi ia tak bisa berbuat banyak terutama dia tak dapat melakukan seperti yang Jian Chen lakukan.


Butuh pengontrolan tenaga dalam yang tinggi untuk melakukan hal yang sama. Dan setahunya Niu Qisha bukanlah pendekar ahli tenaga dalam.


Tak lama kemudian Niu Yuan memuntahkan cairan hitam dari mulutnya, tubuhnya pucat dan dipenuhi keringat dingin. Kondisi Niu Yuan perlahan membaik dan kini dirinya benar-benar bisa merasakan telah sehat semula.


Kesembuhan Niu Yuan itu membawa angin segar pada klan Niu setelah beberapa hari kemudian. Niu Zen membuat kenduri besar untuk merayakannya yang mengundang banyak orang.


Tiga hari setelah kenduri selesai, Jian Chen akhirnya berpamitan pergi karena memang dirinya sudah tidak punya urusan lagi di klan Niu.


Bersama kereta Miou Lin, Jian Chen diantar sampai gerbang perbatasan klan oleh Niu Zen, Niu Yuan, Meily serta Ziyun. Niu Qisha sudah tidak disini karena harus menjalani pelatihan tertutupnya.


“Saudara Jian, ini aku berikan untukmu…” Meily memberikan itu dengan wajah yang memerah.


Niu Yuan membuka mulutnya begitu juga dengan Niu Zen, dua orang tuanya sama sekali tidak menduga anaknya akan bertindak demikian. Miou Lin dan Ziyun yang melihatnya mengulum senyum penuh makna.


“Mei’er, anda sungguh ingin memberikannya?”


“Ibu, aku sudah memikirkan ini dari lama dan setelah menimbang-nimbang lebih jauh aku memutuskan memberikannya pada Saudara Jian.” Meily mengatakannya dengan penuh kesungguhan.


Niu Yuan menoleh pada suaminya untuk memberi pendapat tentang hal ini.


“Aku juga tidak keberatan atas keputusannya, Yuan’er.” Niu Zen mengangguk lalu menoleh pada puterinya. “Jika kau sudah memilihnya maka tidak alasan kami mencegah hal tersebut…” Niu Zen tersenyum lembut.


Pandangan kini semua tertuju pada Jian Chen, yang di pandang justru terlihat kebingungan dengan percakapan barusan.


Jian Chen menatap kalung giok keemasan milik Meily dengan perasaan campur aduk, jelas sekali kalung giok ini sangat mahal dan berharga tetapi melihat Meily yang memberinya secara tulus membuat ia akhirnya menerimanya.


“Terimakasih, aku akan menyimpan kalung ini...”


“Sungguh?” Meily menatap Jian Chen penuh harap.


“Iya, aku menerimanya.” Jian Chen tersenyum hangat.


Wajah Meily seketika dipenuhi kebahagiaan, rona wajahnya semakin terlihat jelas. Dia menunduk malu-malu menatap Jian Chen sebelum kemudian berbalik dengan salah tingkah, berlari bersembunyi dibalik punggung sahabatnya, Ziyun.


“Hihihi… Kau sungguh hebat, Mei’er?” Ziyun tertawa kecil sembari menggodanya.


Karena tidak ada hal lain lagi Jian Chen kemudian berpamitan pergi pada yang lainnya, disusul dengan Miou Lin yang masuk kedalam kereta kuda setelahnya.


Diperjalanan Jian Chen mengutarakan bahwa setelah keluar di klan Niu ia akan mencari tempat tinggal diluar Akademi untuk pelatihan pribadinya.


Untungnya Miou Lin punya solusi perihal tersebut. “Kalau Tuan Muda Jian mau, Asosiasi bisa menyediakan itu semua, kebetulan ada tempat tinggal yang kosong dan itu juga adalah milik Asosiasi.”


Melihat Jian Chen membutuhkan bantuan membuat Miou Lin senang, ia belum berterimakasih tentang resep pil yang diberikan sebelumnya dan kebetulan sekarang adalah waktu yang tepat untuk membalas itu.


Didalam kereta, Jian Chen dan Miou Lin mengobrol banyak terutama membahas Asosiasi. Miou Lin menyeduh teh untuk melancarkan komunikasi keduanya.


“Ngomong-ngomong Tuan Muda Jian, aku masih kepikiran tentang anda menerima kalung milik Mei’er?”


Jian Chen mengangkat satu alisnya, “Hm? Aku menerimanya karena Meily terlihat ingin memberikan itu padaku.”


“Berarti Tuan Muda Jian sudah menerima Meily sebagai pendamping hidup.”


Jian Chen hampir memuncratkan tehnya, ia tidak mengerti kenapa Miou Lin berbicara demikian. “Kak Miou apa maksudmu?”


“Eh? Jangan bilang Tuan Muda Jian tidak mengetahuinya.” Tebak Miou Lin.


Jian Chen menggeleng.


“Di klan Niu ada sebuah tradisi jika seseorang wanita menyukai laki-laki yang disukainya maka biasanya dia akan memberikan sebuah kalung atau barang paling berharganya untuk laki-laki tersebut.”


Miou Lin kemudian melanjutkan. “Barang yang paling berharga itu melambangkan bahwa diri si gadis telah diserahkan pada laki-laki yang dicintainya. Bisa dibilang itu adalah lamaran wanita pada laki-laki…”


Jian Chen terbatuk-batuk, “Maksud Kak Miou aku harus menikahi Meily?”


Miou Lin tertawa kecil. “Tenang Tuan Muda Jian. itu hanya garis kecilnya, maksud lainnya adalah Meily telah menyerahkan hidupnya untukmu. Kalung tadi adalah lambang perasaanya.”


Jian Chen menjadi pucat, tangan yang memegang cangkir gemetaran. “Tapi… tapi, aku masih berumur 14 tahun?”


“Kenapa? Anda sudah kaya sekarang dengan memiliki saham Asosiasi, punya kemampuan beladiri yang tinggi. Bukankah itu lebih dari cukup…” Miou Lin selepasnya tertawa, Jian Chen hanya mengumpat dalam hati, tidak sesimpel itu!