
Jian Chen segera melepaskan hawa dingin di tubuhnya, membuat gerombolan serigala itu menghentikan langkahnya untuk bergerak maju.
Disisi lain para pengawal ataupun gadis di dalam kereta begitu terkejut ketika Jian Chen melepaskan suhu dingin tersebut, mereka juga merasakan hal yang sama ketika suhu disekitarnya tiba-tiba turun dengan begitu drastis.
Jian Chen tersenyum tipis melihatnya, salah satu ciri dirinya belum menguasai teknik ini karena hal tersebut.
Meski Jian Chen bertujuan menargetkan tekniknya pada rombongan serigala itu tetapi teknik ini adalah tipe area sehingga mereka yang ada didekat Jian Chen bisa merasakannya.
Tapi jika Jian Chen bisa menguasainya ke tahap selanjutnya, teknik elemen es ini bisa menargetkan seseorang sesuai target si penggunanya.
Jian Chen melangkah maju sambil terus melepaskan hawa dingin, membuat serigala-serigala itu mundur perlahan sebelum akhirnya pemimpin dari serigala melolong yang menyuruh bawahannya untuk bergerak mundur.
Para pengawal bernafas lega setelah serigala itu berlari memasuki hutan kembali, Jian Chen menghentikan tekniknya membuat suhu disekitar kembali normal.
"Tuan Pendekar, terimakasih telah menolong kami..." Kepala Pengawal langsung memberikan hormatnya pada Jian Chen diikuti yang lain.
Jian Chen mengangguk pelan, melambaikan tangannya. "Tidak usah dipikirkan, aku hanya kebetulan lewat kesini dan kebetulan menemukan kalian yang sedang terdesak."
Para Pengawal berusaha tersenyum namun sesaat kerutan terukir di kening mereka ketika wajah yang menolongnya terlihat begitu muda. Setidaknya usianya terlihat berusia belasan tahun.
Tak lama kemudian seorang wanita yang dari tadi melihat di kereta akhirnya keluar.
Gadis itu memakai gaun yang lumayan mewah, berparas manis, usianya 20 tahunan, dalam sekali lihat saja orang lain akan melihat identitas gadis itu tidak biasa.
Saat menyadari ada yang menolong rombongannya ia segera keluar untuk menemui orang tersebut. Namun ketika melihat wajah sang pemuda yang tampan, gadis itu terdiam beberapa detik.
Jian Chen menatap gadis itu yang terlihat tak berkedip memandang wajahnya, Jian Chen batuk pelan, membuat gadis salah tingkah dan begitu malu.
Gadis itu tidak menyangka akan bertemu laki-laki seperti Jian Chen di hutan seperti ini, selain wajah pemuda itu yang rupawan ia juga terlihat begitu muda.
"Ehm! Maap maksudku aku hanya ingin berterima kasih karena menyelamatkan pengawalku." Meski wajah gadis itu memerah, ia berusaha untuk bersikap senormal mungkin.
"Tidak apa-apa Nona, aku hanya melakukan yang seharusnya."
Gadis itu kemudian memperkenalkan namanya sebagai Mu Yuan dari salah satu keluarga bangsawan Mu di Provinsi Naga Angin.
Keluarga Mu sendiri cukup terkenal dan merupakan salah satu keluarga bangsawan besar.
Alis Jian Chen terangkat, ia tentu mengetahui Keluarga Mu dari kehidupan sebelumnya, hanya saja Jian Chen tidak menyangka akan bertemu dengan sosok keluarga bangsawan sepertinya.
Sepengetahuan Jian Chen, keluarga bangsawan Mu memiliki ikatan politik dengan pemerintahan provinsi.
Yang membuat Jian Chen terheran-heran adalah jika gadis didepannya adalah memang seperti yang dikatakannya, dengan kekuatan serta pengaruh keluarganya seharusnya pengawal mereka tidak selemah ini.
Keluarga Mu memiliki kekuatan yang hampir setara dengan klan menengah seperti klan Jian.
Saat ini pengawal gadis itu rata-rata berada di Alam Jiwa Tahap 3 sedangkan kultivasi kepala pengawalnya berada di Alam Jiwa Tahap 8. Ini menunjukkan kekuatan keluarga mereka masih lemah.
'Apa mungkin karena aku datang kesini lebih cepat dari yang seharusnya, Keluarga Mu masih belum berkembang...'
Hanya itu dugaan Jian Chen untuk sementara karena di dua tahun selanjutnya kekuatan keluarga Mu sudah lebih kuat, setidaknya untuk perkara pengawalan ada di antara mereka yang sudah menginjak Alam Kehidupan.
"Tuan Pendekar, kalau aku boleh bertanya, siapa nama anda?" Mu Yuan kembali bersuara, memecah lamunan Jian Chen sesaat.
"Jian?" Gadis itu tampak kebingungan karena belum pernah mendengar Keluarga atau klan yang bermarga Jian seingatnya.
"Pendekar Jian, kulihat anda sedang berpergian juga ke suatu tempat, bolehkah aku mengetahui kemana tujuannya mungkin kita mempunyai arah yang sama. "
Jian Chen mengelus dagunya. "Aku tidak yakin dengan itu tetapi untuk tujuan aku akan pergi ke ibukota."
Mendengar itu wajah Mu Yuan terlihat cerah, ia kemudian mengajak Jian Chen pergi bersama rombongannya atau tepatnya meminta bantuannya untuk terus bersamanya.
Mu Yuan tidak menutupi niat ingin bersama Jian Chen yaitu agar kelompoknya aman.
"Kalau pendekar Jian keberatan dengan itu tenang saja aku akan membayarnya dengan uang, Pendekar Jian tinggal sebutkan saja nominalnya nanti kami akan membayarnya..." Mu Yuan berusaha membujuk Jian Chen.
"Nona Yuan, itu tidak perlu, kita juga mempunyai arah yang sama dan aku tidak keberatan bersama kalian."
Mu Yuan kemudian menawari Jian Chen untuk masuk ke keretanya selama diperjalanan agar lebih nyaman sementara nanti kudanya biar pengawalnya yang di tunggangi.
Jian Chen menolak penawaran itu dengan halus, beralasan lebih suka menunggangi kuda sementara Mu Yuan juga tidak bisa memaksa Jian Chen atas keputusannya.
Akhirnya Jian Chen ikut bersama rombongan keluarga Mu tersebut, melihat kuda putihnya yang indah Mu Yuan sempat tercengang begitu juga pengawalnya.
Kuda Mawar Putih menandakan penunggangnya bukanlah orang biasa, hanya orang yang sangat kaya yang dapat memilikinya.
Mu Yuan sempat malu menawari harga sebelumnya pada Jian Chen, ia yakin dengan melihat kuda tersebut kekayaan Jian Chen boleh jadi di atasnya.
Jian Chen menghiraukan tatapan itu, ia memacu kudanya namun kali ini lebih pelan. Menyamakan ritme kecepatannya dan rombongan keluarga bangsawan tersebut.
***
Rombongan Jian Chen akhirnya keluar dari hutan itu bertepatan dengan matahari tenggelam.
Selama di hutan hanya ada beberapa siluman yang datang hendak menyerang tetapi karena elemen es Jian Chen, siluman-siluman itu berlari sebelum berniat melakukannya.
Sebenarnya ada jalan yang lebih aman selain melewati hutan yang rindang tadi yaitu dengan arah memutar, tapi tentu saja akan memakan waktu jauh lebih lama.
Karena rombongan mereka masih jauh dari pemukiman penduduk, Jian Chen dan lainnya memilih beristirahat di alam terbuka.
Para pengawal membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh dari dinginnya malam.
Mu Yuan yang biasanya tidur di dalam kereta ketika dalam perjalanan namun kali ini berbeda, ia ingin merasakan bagaimana tidur beratapkan langit.
Para pengawal terutama Kepala pengawal tampak keberatan dengan keputusan tersebut walaupun pada akhirnya ia tak bisa membantah keinginan tuannya.
Jian Chen menyaksikan tersebut hanya tersenyum tipis, ia memilih duduk di perapian yang dibuatnya sendiri.
Jian Chen mengeluarkan permata siluman dari cincin ruangnya, berniat untuk berlatih sambil menunggu matahari keluar.
Baru satu jam ia menyerap permata siluman Jian Chen menyadari kehadiran seseorang, ketika membuka matanya ia melihat Mu Yuan sudah berdiri di dekatnya.
Gadis itu tampak terkejut diikuti tatapan terpaku melihat mata emas Jian Chen yang terbuka dan bersinar indah di kegelapan malam.
Mu Yuan pikir Jian Chen sedang tertidur atau semata memejamkan mata, ia berniat membangunkannya untuk sarapan malam namun malah berakhir memandang wajah sang pemuda.