
Bersamaan dengan dirinya menelan mutiara biru, serpihan es yang membekui kaki Jian Chen terlepas. Jian Chen buru-buru mengunakan kesempatan itu untuk mengubah posisi menjadi bersila.
Baru dua detik Jian Chen menelan mutiara itu, suhu tubuhnya sudah menurun cukup drastis. Jian Chen mengalirkan tenaga dalam yang hebat ke seluruh tubuhnya agar dirinya tidak kedinginan.
Jian Chen memejamkan matanya dengan tingkat fokus tertinggi, di tubuhnya ia melihat mutiara biru itu bersinar sangat terang. Cahaya itu lah yang membuatnya kedinginan, Jian Chen bisa merasakan suhu tubuhnya menurun cukup tajam.
Perlahan dari kulit Jian Chen kini mulai terjadi pembekuan, rambut serta tubuhnya juga sama.
Jian Chen tidak pantang menyerah, dia terus menyelimuti tubuhnya dengan tenaga dalam walaupun pembekuan itu tidak terhenti sama sekali.
“Ah, sayang sekali dia ternyata gagal…”
Pria sepuh menggelengkan kepala pelan dengan perasaan iba, ia bisa menyaksikan sedikit demi sedikit tubuh Jian Chen terselimuti es.
Tenaga dalam yang dikeluarkan Jian Chen memang memperlambatnya tetapi andai dia melakukan itu terus menerus apalagi sampai tenaga dalamnya habis, maka soal waktu es yang menyelimuti tubuhnya membuat ia membeku dan mati.
Sinar mutiara di tubuh Jian Chen semakin bercahaya, Jian Chen memutar otaknya cepat karena yakin dirinya tak bisa diposisi terus seperti ini.
“Semoga saja cara ini berhasil…” membulatkan tekadnya, Jian Chen mencoba menyerap cahaya biru itu untuk masuk ke delapan meridiannya.
Lautan cahaya menyerbu menuju meridian Jian Chen satu persatu, meridan yang seperti wadah tanpa batas itu menerima jutaan cahaya yang segera mengisi meridian Jian Chen dengan kecepatan yang tak wajar.
Jika seharusnya Jian Chen harus berkultivasi satu tahun lebih untuk naik ke alam Dewa Cahaya selanjutnya tetapi dengan menyerap cahaya mutiara ini, Jian Chen yakin bisa memangkas waktu kultivasi tersebut.
“Ini…bagaimana bisa?!” tanpa sepengatahuan Jian Chen, pria sepuh yang dari tadi menontonnya begitu terkejut melihat sesuatu di depannya.
Secara tiba-tiba pembekuan pada tubuh Jian Chen terhenti dan bahkan es yang ada di kulitnya perlahan menghilang, menguap menjadi asap putih. Dalam hitungan menit tubuh Jian Chen sudah menjadi normal dan suhu tubuhnya kembali seperti semula.
Jian Chen terus menyerap cahaya mutiara itu tanpa mengetahui berapa banyak waktu yang ia gunakan, satu menit, satu jam, sehari, atau bahkan seminggu, Jian Chen tidak menyadari itu semua.
Delapan meridiannya satu persatu mulai penuh, kini tujuh meridiannya telah di tingkatkan dan tinggal satu lagi namun ketika Jian Chen ingin mencobanya, mutiara itu tiba-tiba menghilang dari tubuhnya.
“Hah? Apa yang terjadi?” Jian Chen terkejut sekaligus bingung ketika mutiaranya raib begitu saja.
Dia membuka matanya namun tidak ada yang terjadi di sekelingnya, disisi lain pria sepuh itu akhirnya menyadari Jian Chen sudah terbangun dari tidur panjangnya.
“Kau akhirnya terbangun juga, kupikir kau akan duduk bersila itu bertahun-tahun sampai mutiara itu menghilang di tubuhmu…”
“Senior, sebenarnya aku terbangun karena mutiara itu sudah hilang dari tubuhku?” jawab Jian Chen cemas, ia berpikir itu adalah hal yang buruk.
“Apa kau bilang, mutiaranya hilang?!”
“Senior apa yang terjadi jika mutiaranya sudah hilang?” Jian Chen meneguk ludah, firasatnya memburuk.
Pria sepuh itu alih-alih menjawab justru tertawa lantang, dia memandang Jian Chen dengan tatapan tidak percaya tetapi dari sorot matanya ia sangat senang.
“Beratus-ratus tahun aku menunggu untuk melihat siapa yang dipilih sang takdir, akhirnya setelah sekian lama menanti aku menemukannya…” pria sepuh itu tertawa lepas.
Pria sepuh tersebut jelas terlihat gembira, kebahagiaannya terpancar jelas dari matanya saat memandang Jian Chen.
“Nak, jangan khawatir, mutiara itu tidak hilang melainkan tetap ada padamu. Mutiara biru itu kini sudah berada di alam dantianmu.” Pria sepuh itu tersenyum, menjawab kecemasan Jian Chen.
“Hm, kau tidak mengetahuinya?”
Jian Chen menggeleng.
Pria sepuh itu menghela nafas panjang, tidak menutupi ekspresi kekecewaannya. “Melihatmu tidak mengetahui alam dantian, menunjukkan pendekar-pendekar di luar sana semakin menurun kualitasnya setiap generasinya.”
Dia kini menoleh pada anak muda di depannya dengan perasaan takjub. “Yeah, setidaknya ada anak muda yang dipilih takdir di generasi ini…”
Kemudian pria sepuh itu menjelaskan alam dantian sementara Jian Chen mendengarkan semuanya dengan seksama.
Reaksi Jian Chen sedikit terkejut setelah mengetahuinya, ia baru tahu soal ini bahkan di kehidupan pertama Jian Chen tidak pernah mendengar namanya.
“Dilihat dari elemenmu sepertinya kau bukan berasal dari klan Ye bukan?” Tanya pria sepuh itu setelahnya.
“Junior berasal dari klan Jian, namaku Jian Chen.”
Pria sepuh itu mengelus jenggotnya lalu menghela nafas lagi, “Kupikir yang menerima mutiara tadi berasal dari klanku tetapi yah… mau bagaimana lagi, takdir memang tak bisa di prediksi.”
“Senior, apakah senior berasal dari klan Ye?”
Pria sepuh itu mengangguk. “Namaku Ye Ao, mungkin jika dibandingkan waktu sekarang aku adalah leluhur dari klan tersebut...”
Tanpa Jian Chen minta, Ye Ao menceritakan semua kisah hidupnya termasuk kenapa kesadarannya bisa disini walaupun ia sudah lama meninggal.
Ye Ao merupakan Patriak klan Ye di zamannya dan merupakan salah satu pendekar terkuat waktu itu, di akhir kepemimpinannya dia harus melarikan diri dari klannya akibat terjadinya sebuah kudeta.
Kudeta memang sering terjadi di setiap klan, ini biasanya di picu beberapa hal seperti ketidaksukaan terhadap sang pemimpin, adanya perebutan tahta atau tidak becusnya pemimpin dalam mengurus klannya.
Ye Ao kemudian melarikan diri sekaligus bersembunyi ke gua ini sambil membawa dua barang berharga dari klannya itu.
“Yang pertama adalah barang mutiara biru yang kau telan itu dan kedua adalah ini…” Ye Ao mengeluarkan sebuah pedang dari ruang hampa. “Sebuah pedang pusaka kuno…”
Ye Ao kemudian menyerahkan pedang yang tersarung biru itu pada Jian Chen, membuat anak muda tersebut bingung sekaligus keheranan.
“Senior, apa yang anda maksud?”
Ye Ao tersenyum tipis. “Aku serahkan pedang pusaka ini kepadamu.”
“Eh?" Jian Chen memandang pedang di tangannya. "Tapi senior bukan ini sangat berharga dan alasan anda disini juga karena pedang ini?”
Ye Ao mendengus. “Aku menyerahkan pedang itu bukan berarti kau bisa menggunakannya. Coba saja kau tarik pedang kuno itu!”
Jian Chen menggaruk kepalanya lalu melakukan yang disuruh, sesaat ia menyadari pedang biru itu tidak bisa lepas dari sarungnya bahkan ketika dia sudah menggunakan tenaga dalam. Ye Ao kemudian menjelaskan bahwa dirinya saja tak dapat menariknya.
“Pedang tersebut dinamai Pedang Dewa Es, menurut catatan sejarah hanya keturunan klan Ye yang terpilih saja yang bisa mengeluarkan pedang dari sarungnya…” Bahkan mereka yang merupakan anggota klan Ye sekalipun tak dapat menggunakannya kecuali satu keturunan yang di maksud.
“Aku serahkan pedang itu padamu, terserah kau mau menyimpannya atau bahkan menghancurkannya asalkan pedang pusaka itu tidak jatuh ke tangan yang salah…” Ye Ao mengingatkan.
Jian Chen menggaruk kepalanya, sesaat ia sangat senang ketika diberi pedang pusaka secara percuma tetapi menyadari dirinya tak dapat menggunakannya membuat hatinya menjadi sedikit pilu.