Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 327 — Suruhan


Jian Chen dan Lily memasuki kediaman walikota dengan mudah, dengan gelapnya malam serta tidak ada suara yang terdengar membuat mereka hampir tidak terdeteksi oleh penjaga.


Kediaman walikota memang luas dengan bangunan seperti istana, Jian Chen membutuhkan waktu lama untuk menemui walikota yang entah sekarang masih hidup atau tidak.


"Sudah kuduga, kediaman walikota sudah diambil alih oleh pihak lain..." Jian Chen menghela nafas pelan.


Penjaga-penjaga itu bukanlah petugas kota, mereka adalah para kriminal yang menyamar, terlihat jelas saat Jian Chen berjalan di atas atap salah satu ruangan ada pesta yang melibatkan para budak.


Para budak itu mayoritas adalah perempuan, mereka dipaksa menari di depan para kriminal tersebut. Beberapa bahkan mengalami pelecehan.


Jian Chen merapatkan giginya, tangannya mengepal keras. "Kau cari Walikota, aku akan mengurus mereka sebentar."


"Hah, apa kau gila, aku bukan pesuruhmu disini, aku tidak mau!" Lily melipat tangannya didada.


"Kau harus melakukannya, saat aku menyelesaikan mereka, kau sudah menemukan tempat Walikota berada." Tanpa menunggu jawaban Lily, Jian Chen langsung melompat ke bawah.


Lily mengumpat kesal, ia terlihat geram karena Jian Chen berani menyuruh-nyuruhnya tetapi pada akhirnya gadis itu menurutinya.


Jian Chen turun dari atap dan bergabung ke dalam pesta tersebut tanpa ada yang mengetahuinya. Ketika ia sudah berada di tempat strategis, pemuda itu melepaskan hawa dingin yang ditujukan pada para kriminal tersebut.


Gadis-gadis yang menari tampak kebingungan saat melihat para kriminal itu tiba-tiba mematung di tempat.


"Jika kalian tidak ingin melihat sesuatu yang mengerikan maka pergilah dari sini..." Jian Chen berkata pelan tetapi suaranya terdengar sampai ujung ruangan tersebut. "Aku tidak akan menyampaikan ini dua kali, jadi pergilah secepat kalian bisa..."


Para gadis itu baru menyadari keberadaan Jian Chen saat pemuda itu berkata-kata, barulah mereka mengetahui bahwa Jian Chen lah yang membuat para kriminal itu jadi terdiam.


Para gadis itu langsung segera memisahkan diri dan pergi dari ruangan tersebut, Jian Chen menunggu mereka beberapa saat sementara para kriminal tampak berkeringat dingin menyadari tubuhnya benar-benar tidak bisa bergerak.


Jian Chen mencabut pedang asura dari sarungnya, tatapannya dingin menyisir para kriminal di ruangan tersebut.


"Aku sebenarnya tidak mau mengotori tanganku disini tetapi tindakan kalian justru membuat emosiku tidak terkendali dengan cepat." Jian Chen menggeleng pelan. "Jangan takut, aku akan melakukan ini dengan singkat."


Jian Chen melepaskan aura kematian yang segera merembes memenuhi ruangan itu dengan pekat. Para kriminal langsung pucat, ketakutan tampak jelas di wajah mereka saat siap akan menghadapi kematian tak lama lagi.


***


"Hm, kurasa mereka sudah tak tersisa lagi..." Jian Chen mengibaskan pedangnya yang berlumuran darah. Pada akhirnya ia telah membunuh semua kriminal yang ada di kediaman ini.


Jian Chen hendak mencari Lily tetapi gadis itu justru mendatanginya terlebih dulu. Lily tidak sendiri, ia sedang menarik kerah jubah seseorang sebelum melemparkannya tepat di depan Jian Chen.


"Apa yang kau lakukan, dia adalah manusia, bukan barang." Jian Chen buru-buru membantu membangkitkan pria paruh baya tersebut.


"Hmph! Bisa-bisanya kau memerintahkan Tuan Puteri ini..." Lily mendengus kesal, melipat tangannya di dada.


Jian Chen nyengir lebar, ia hampir melupakan fakta tersebut. Saking emosinya ia tidak sempat berpikir untuk memerintahkan gadis itu.


Lily membuang wajah, sepertinya gadis itu beneran ngambek. Sejenak Lily melihat sekelilingnya yang telah berubah, terdapat banyak sekali jasad yang berserakan. Belum lagi bau amis mulai tercium menyengat melalui hidung.


"Kau benar-benar pesta hari ini..." Lily tersenyum tipis.


"Mereka tidak bisa dimaafkan, kupikir ini hanya kudeta saja tetapi kejahatan mereka lebih buruk dari penyamun sekalipun." Jian Chen menghela nafas sebelum melirik pria paruh baya tersebut.


"Apa kau walikota dari kota ini?"


Pria paruh baya itu mengangguk, wajahnya begitu pucat dan ketakutan saat melihat Jian Chen memakai jubah yang memiliki bercak darah.


"Tidak perlu takut, aku adalah prajurit dari Kekaisaran, aku kesini diutus untuk menghapus kasus perbudakan yang sudah marak terjadi..." Agar Walikota tidak panik, Jian Chen sengaja memperlihatkan kartu emasnya. "Kudengar kau sangat menentang perbudakan itu, bisa kau jelaskan lebih rinci mengenai apa yang terjadi."


Walikota tampak bernafas lega saat Jian Chen berasal dari pemerintahan, meski masih segan ia menjelaskan semuanya.


Kerutan di dahi Jian Chen semakin terukir ketika mendengar Walikota berbicara, setelah penjelasannya selesai pemuda itu menghela nafas berat.


"Jika semua separah yang kau katakan maka kota ini tidak berbeda jauh dengan kandang binatang. Menghabisi mereka tidak cukup hanya setengah-setengah."


"Pendekar, aku mempunyai banyak prajurit yang di tahan oleh para kriminal itu sebelumnya. Jika kau mau, aku akan melepaskan mereka dan membantumu membebaskan kota ini dari perbudakan."


"Itu tidak perlu." Lily yang menjawab, dia menunjuk Jian Chen. "Hanya sedikit orang yang bisa menandinginya di kekaisaran ini, membawa pasukanmu justru akan membebaninya."


Jian Chen tersenyum tipis, ia tidak membantah karena memang seperti itulah keadaanya.


Jian Chen kemudian meminta lokasi-lokasi pusat penjualan budak, markas kriminal, serta pembunuh bayaran di kota ini pada walikota.


"Kau bebaskan prajuritmu malam ini lalu umumkan esok hari tentang larangan perbudakan pada khalayak ramai..."


"Tapi pendekar, mereka akan membunuhku jika melakukannya lagi."


Jian Chen tersenyum tipis. "Kau lakukan saja apa yang aku perintahkan, percayalah besok tidak ada yang menghalangimu. Dan satu hal..." Jian Chen mengeluarkan tumpukan emas yang lumayan besar. "Bebaskan semua rakyatmu dari perbudakan dengan uang ini."


Walikota tampak terkejut dengan uang yang dikeluarkan Jian Chen, ia mengangguk pelan sambil tatapannya tidak lepas dari gunungan emas tersebut.


Jian Chen setelahnya langsung melesat ke atas langit cukup tinggi untuk melihat Ibukota dari atas, Lily lekas menyusulnya kemudian.


"Kota ini terlalu besar untuk diurusi sendiri, apa kau yakin bisa menghabisi mereka sendirian?" Lily melirik Jian Chen.


"Seharusnya aku masih bisa melakukannya tetapi aku tidak bekerja sendirian sekarang." Jian Chen menoleh ke arah Lily. "Kau bantu aku, kita selesaikan mereka dengan cepat."


Lily memutar matanya dengan malas, meski terlihat enggan gadis itu anehnya menuruti Jian Chen.


*Arc 4 adalah bagian terakhir dalam novel Kultivasi Dewa Cahaya, Book 1. Saya sedikit kesulitan menentukan ending yang bagus karena bagaimanapun, para pembaca harus puas ketika cerita ini benar-benar berakhir.