
"Saudara Jian ternyata sehebat ini..." Ziyun maupun Meily sama-sama terpana dengan kekuatan Jian Chen.
Kedua gadis itu sudah mengetahui Jian Chen bakalan lebih kuat darinya setelah dua tahun lebih tidak bertemu namun tidak menyangka kekuatannya sudah cukup membuat Alam Langit terhabisi.
Pendekar Alam Langit adalah eksistensi terkuat di Kekaisaran Naga, membunuh mereka adalah perkara berbeda karena akan sangat sulit membunuhnya walau hanya di tahap awal Alam Langit saja.
Disisi lain, peningkatan kekuatan Jian Chen terlalu pesat dan di luar nalar. Di Kekaisaran Naga belum ada seseorang yang seberbakat seperti Jian Chen diusianya yang terbilang muda.
Ziyun dan Meily adalah dua pendekar jenius yang yakini sebagai gadis yang memiliki potensi tak terbatas, di percaya tidak ada yang melebihi bakat dari keduanya namun di hadapan Jian Chen, bakat mereka seperti anak kecil.
Hanya saja sampai sekarang belum ada yang menyadari bakat Jian Chen sesungguhnya, seandainya Kekaisaran tahu maka mereka akan terkejut setelah mendengar kabar tersebut.
Ziyun dan Meily masih menonton di lantai lima restoran, keduanya bisa melihat meski Jian Chen telah membunuh sebagian lawannya, pertarungan masih bisa dibilang belum berakhir.
***
Kematian salah satu dari mereka membuat tujuh pendekar Alam Langit yang tersisa mematung.
Pria tua yang dihabisi Jian Chen sebelumnya merupakan Alam Langit di tahap 3, meski Jian Chen memiliki kekuatan yang tinggi dari mereka tidak semestinya ia dapat mudah membunuh lawannya dalam sekali serangan.
Sepanjang hidup mereka, baru pertama kali ada pendekar tingkat tinggi seperti itu dapat terbunuh dengan begitu cepatnya.
"Kuharap kalian tidak berencana kabur atau sejenisnya, aku tidak akan membiarkan kalian hidup lebih lama lagi." Jian Chen menggeleng pelan.
Wu Yi menggenggam gagang pedangnya lebih erat, ia kini tidak tersulut emosi seperti sebelumnya melainkan menjadi waspada.
Wu Yi sadar membunuh Jian Chen bukanlah hal mudah, ia setidaknya harus punya trik agar melawannya.
Berbeda dengan Wu Yi yang masih ingin melawan Jian Chen, keenam pendekar sisanya justru berpikir lain, mereka mulai menyesal telah ikut bertarung melawan Jian Chen yang memiliki kekuatan sangat tinggi.
Jian Chen tidak menunggu mereka, ia berinisiatif menyerang terlebih dulu.
Wu Yi dan enam pendekar lainnya mengangkat pedangnya, bekerja sama melawan Jian Chen, meski sedikit ragu mereka tidak punya alternatif lain selain terus melawan.
Ketujuhnya bekerja sama menghadapi Jian Chen dari berbagai sisi namun setelah mereka menggunakan pusaka simpanan dan mengerahkan seluruh kekuatannya, Jian Chen tetap mengimbangi semuanya.
Goresan demi goresan terukir di tubuh mereka sementara ketujuhnya belum bisa melukai Jian Chen, Wu Yi yakin pendekar nomor satu di Kekaisaran Naga yaitu Yang Mulia Kaisar sekalipun seharusnya sudah mengalami luka satu atau dua goresan namun pemuda di depannya bukan hanya mengimbangi saja bahkan perlahan posisi jadi mengungguli.
Wu Yi dan keenam pendekar lainnya semakin tidak kompak karena keragu-raguan mulai menyentuh hati mereka. Merasa situasi bakal tidak menguntungkannya Wu Yi berkata pada rekannya dan bersiasat untuk membantunya.
"Sibukkan dia, aku akan menggunakan kemampuan rahasiaku?" Wu Yi berkata demikian sambil mundur dari pertarungan.
Keenamnya mengangguk, jika Wu Yi mempunyai cara rahasia maka ada kemungkinan pertarungan ini bisa dimenangkan namun saat keenamnya sedang sibuk bertukar serangan dengan Jian Chen, Wu Yi tiba-tiba membalikan badannya dan pergi melarikan diri.
"Pendekar Wu! Apa yang kau lakukan?!"
Keenamnya sadar, dengan Wu Yi lah mereka dapat bisa mengimbangi Jian Chen. Disisi lain Wu Yi justru berpikir berbeda, ia yakin jika pertarungan terus berlanjut maka kelompoknya yang akan kalah bahkan bisa saja semuanya terbunuh.
Wu Yi menoleh ke belakang sambil berlari kencang dia berkata, "Aku akan balas dendam kalian suatu hari nanti, tahan dia untukku..."
Para pendekar Alam Langit ini mengumpat keras, perasaan marah menyelimuti hati mereka, ingin sekali mereka berlari dan mencabik-cabik tubuh Wu Yi menjadi seribu bagian.
Jian Chen tertawa melihat kejadian tersebut, ia tidak menduga Wu Yi akan melarikan diri dengan cara pengecut. Jian Chen kemudian menoleh ke enam pendekar yang tersisa.
"Jika tidak ada yang membantu kalian lagi, kalian tidak akan selamat disini..."
Jian Chen terus menempelkan pedangnya lebih cepat lagi membuat keenamnya semakin kewalahan.
Luka-luka ringan yang Jian Chen ukir di tubuh mereka perlahan semakin besar hingga berubah menjadi luka yang dalam.
"Apa kau ingin melawan kami, sekutu dari Organisasi Shio Pemburu?!" Jerit salah satu dari mereka.
Jian Chen menaikan alis, sedikit melambatkan tempo pedangnya tetapi tetap menyerang mereka. "Jadi kalian bekerjasama dengan mereka?"
"Hmph! Malam ini kota Anshan akan menjadi lautan mayat dan jika kau membunuh kami disini maka Dua Shio yang ada di belakang kami akan marah dan bergerak memburumu sampai mati..." Ucap pendekar itu penuh ancaman.
Sejak awal mereka berkumpul ke kota karena perintah dari Shio Kelinci, para pensiun yang sudah sejak lama tidak bergabung ke dunia persilatan itu di undang oleh para shio untuk ikut serta menyerang kota.
Tentu saja awalnya mereka menolak dan memilih menikmati hidup tua mereka dengan tenang namun ketika Shio Kelinci menawarkan hadiah yang memuaskan, sulit rasanya untuk mereka tidak ikut. Lagi pula, para pendekar pensiun itu adalah para kriminal, membunuh orang lain suatu juga suatu kenikmatan bagi mereka.
Awalnya para pendekar pensiun itu berpikir akan mudah menghancurkan kota Anshan jika bersama dua Shio Pemburu sampai keenamnya bertemu pendekar sekuat Jian Chen.
Jian Chen tidak terkejut dengan informasi yang keluar dari mulut mereka karena sudah menduga dalang dari semua ini adalah Organisasi Shio Pemburu. Hanya saja ia sedikit bereaksi saat mengetahui Kota Anshan akan di serang malam ini.
"Kalau begitu aku tak bisa membiarkan lolos, kalian berenam harus mati disini..." Jian Chen kemudian melepaskan aura kematian serta hawa dingin secara bersamaan.
Aura kematian membuat nafas mereka sesak sementara hawa dingin Jian membuat gerakan keenamnya terganggu dan jadi sedikit melambat.
Di saat itu Jian Chen mengayunkan pedangnya kepada mereka, pedang Jian Chen sudah diselimuti elemen cahaya sehingga ayunan selanjutnya dapat memotong pusaka keenamnya sementara ayunan terakhir langsung membelah tubuh mereka.
Keenamnya tidak berdaya saat Jian Chen menggunakan kekuatan penuhnya, dalam beberapa detik saja ia telah membunuh sebagian lawannya hingga akhirnya membunuh keenamnya sekaligus.
Jian Chen menghembuskan nafasnya pelan setelah musuh-musuhnya terbunuh, ia jadi terbawa suasana sehingga pembunuhannya kali ini terkesan berlebihan dan sedikit sadis.
Para anggota organisasi yang menonton sudah sejak tadi melarikan diri, melihat situasi yang tidak untungkan, mereka langsung kabur untuk menyelamatkan diri.
Jian Chen melihat ke arah kaburnya Wu Yi namun bayangan pria tua itu sudah tidak terlihat lagi. Jian Chen tidak berusaha mengejarnya karena ada hal penting yang harus ia urusi terlebih dulu.