
Dikediaman Niu Zen berada, Meily dan Niu Yuan mulai ketakutan saat suara pertarungan mulai tersengar lebih jelas.
Tak lama Niu Zen kembali keruangan istri dan anaknya setelah memeriksa tempat terlebih dahulu. “Mei’er, Yuan’er, kalian pergi ke belakang bangunan tempat taman berada, disana tempat aman. Lari dan carilah tempat sembunyi…”
“Suamiku, mari kita lari bersama-sama…” Niu Yuan mengajaknya.
Niu Zen tersenyum tipis, “Yuan’er, aku tak bisa meninggalkan tempat ini, aku sebagai Ketua klan akan bertanggung jawab melindungi semuanya. Kalian pergilah nanti aku akan menyusul.”
Niu Yuan menggeleng cepat sedangkan Meily terisak menahan tangis. “Ayah…”
“Kalian berenam lindungi anak dan istriku kemanapun mereka pergi, pastikan keduanya aman meninggalkan kediaman ini!” Niu Zen seolah berbicara pada ruang kosong saat tiba-tiba dari ketiadaan muncul 6 orang pendekar dibelakangnya.
Enam pendekar itu memakai seragam serba hitam, mereka adalah pengawal rahasia keluarganya dan kini Niu Zen memerintahkan untuk keluar dari persembunyian itu.
“Baik Ketua, serahkan Nona dan Nyonya pada kami!”
Setelah titahnya, enam orang itu langsung membawa Meily dan Niu Yuan pergi meski sejenak keduanya enggan meninggalkan Niu Zen sendiri.
Niu Zen tidak punya waktu lagi untuk mengucapkan selamat tinggal pada keluarganya karena sebentar lagi musuhnya akan tiba disini. Benar saja, beberapa detik kemudian pintu kediamannya terbuka dan munculah 3 orang dibaliknya.
Satu diantaranya adalah Niu Zen kenal sedangkan dua lainnya baru pertama kali melihatnya. Niu Zen tersenyum pahit saat melihat orang yang dikenalnya itu.
“Kau sungguh kejam Kakak, hanya karena kau tidak dipilih menjadi Ketua Klan lantas langsung berkhianat seperti ini. Sebab itulah ayah tidak memilihmu menjadi Ketua…”
“Diam kau adik sialan!” Niu Zuan melotot dengan penuh kebencian saat Niu Zen membahas hal tersebut, “Jika bukan karena adanya kau mungkin aku sudah menjadi Ketua klan saat ini.”
“Kalau Kakak ingin menjadi Ketua klan maka mintalah padaku dengan baik-baik jangan pakai cara seperti ini.”
“Hmph! Percuma kalau kau setuju jika sepuluh Tetua sialan itu menolakku menjadi pemimpin. Malam ini aku akan membunuh semua yang ada disini lalu merombak pemerintahan klan Niu semula menjadi klan yang baru.”
Niu Zen tahu kakaknya dari dulu tidak menyukai pemerintahannya namun yang tak diduga kebenciannya harus sampai seperti ini.
“Aku tak akan membiarkanmu bertindak sesukamu!”
“Coba saja kalau kau bisa, aku akan membunuhmu disini!”
Niu Zuan dan Niu Zen begerak bersamaan menggunakan pedangnya, meski seorang adik Niu Zen memiliki kemampuan menyamai kakaknya bahkan lebih.
“Apa kita akan menonton saja seperti ini?” tanya Liu Kai, menguap lebar sambil melihat kedua saudara Niu bertarung.
“Ini permintaan Tuan Zuan, kita lihat dulu situasinya dan jika memungkinkan Tuan Zuan kalah maka kita bergerak maju.” jawab Liu Yanxi.
***
Disisi luar tempat kejadian kudeta, Jian Chen dan 5 pendekar lainnya bergerak cepat melewati atap-atap bangunan rumah penduduk.
Ketika jaraknya dengan pagar pemerintahan sudah dekat pasukan bertopeng yang berjaga mulai menyadarinya dan kemudian mereka langsung menghadang Jian Chen.
“Berhenti! Jika kalian masuk kedalam maka bersiaplah menghadapi hukuman mat…”
Orang itu tidak menyelesaikan ucapannya karena tiba-tiba Jian Chen melepaskan pisau lempar yang kecepatannya tak bisa dilihat sedikitpun, pisau lempar itu tertancap di lehernya dengan telak.
Orang bertopeng lainnya bereaksi histeris bahkan 5 pendekar dibelakang Jian Chen meneguk ludah, mereka sama-sama tidak melihat gerakan tangan Jian Chen.
Semakin Jian Chen berjalan maju maka semakin banyak orang bertopeng menghadangnya.
Menyaksikan itu Jian Chen menarik pedang taring putih dari sarungnya, ia mengalirkan tenaga dalam yang besar pada pedangnya dan dalam waktu singkat mata pedangnya berwarna keemasan.
Jian Chen menyelimuti pedangnya dengan elemen cahaya, ia bergerak cepat pada orang bertopeng sebelum mengayunkan senjatanya.
Jian Chen bergerak lincah dan setiap kali pedangnya terayun ia bisa membelah lawannya dalam sekali serangan. Tidak peduli lawannya menahan pedang Jian Chen atau mempunyai baju pelindung yang dipakainya, pedang Jian Chen tetap bisa menembusnya dalam sekali ayunan.
Elemen cahaya yang ada di pedang Jian Chen memiliki sifat panas yang sangat amat tinggi, bukan hanya besi dan baja, bahkan kelas pusaka menengahpun bisa terbelah dengan pedangnya.
“Apa-apaan, dia punya pusaka kelas tinggi seperti ini!?”
Pasukan bertopeng mulai ragu bergerak saat rekan-rekannya terbunuh dengan begitu mudah tetapi mereka tak punya pilihan selain menghadang langkah Jian Chen.
Menurut mereka Jian Chen tak bisa dibiarkan maju terus menerus atau rencana kudeta ini akan menjadi kacau.
Jian Chen menanggapi belasan pendekar bertopeng itu tanpa gentar, mereka semua masih berada di alam Jiwa sehingga dengan pedangnya Jian Chen bisa melawannya dengan mudah.
Lima Pendekar yang bersama Jian Chen juga tak punya kesempatan untuk menggunakan senjatanya karena Jian Chen selalu membunuhnya dalam sekali serangan.
Dalam waktu singkat sudah banyak jasad yang tergelatak ditangan pedang Jian Chen, bukan hanya sangat tajam tetapi teknik pedang Jian Chen juga tak kalah berbahaya.
Para pendekar bertopeng akhirnya menyadari Jian Chen berada ditingkat yang berbeda setelah sebagian temannya tewas dalam waktu cepat, mereka ingin menjauh namun semuanya sudah terlambat karena Jian Chen kini memusatkan untuk menghabisi semua pasukan bertopeng yang berjaga di perbatasan.
Jian Chen akhirnya masuk setelah membunuh semua pasukan bertopeng yang berjaga diluar namun saat didalam langkahnya harus terhenti melihat suasana pemerintahan klan saat ini.
Ada banyak sekali pertarungan yang terjadi sekarang mengakibatkan kekacauan dimana-mana.
Pasukan bertopeng bertarung dengan pasukan klan Niu yang ada, pasukan bertopeng jelas mendominasi karena banyaknya jumlah mereka. Hal ini membuat pasukan bertopeng jadi lebih unggul dalam bertarung dan membuatnya dengan mudah mengalahkan lawannya.
“Tuan Muda, apa yang harus kita lakukan sekarang?” salah seorang pendekar yang mengikuti Jian Chen dari tadi bertanya setelah mengamati keadaan sekitar.
Jian Chen tidak dulu menjawab, ia memperhatikan daerah sekelilingnya sebelum kemudian tatapanya tertuju pada menara pengintai yang tinggi.
“Kita akan pergi ke menara itu…” Jawab Jian Chen singkat yang segera bergerak maju.
Lima pendekar lainnya tak banyak bicara dan langsung mengikuti Jian Chen dari belakang. Satu yang dipikiran mereka adalah anak muda dihadapannya memiliki kekuatan diatasnya.
Selama diperjalanan menuju menara Jian Chen beberapa kali dihadang oleh pasukan bertopeng namun Jian Chen dengan mudah menghabisinya. Jian Chen langsung naik kemenara saat sampai dengan berjalan di tembok bangunannya.
Bagi mereka yang sudah mempunyai tenaga dalam, hal ini adalah biasa selama seorang pendekar mengalirkan tenaga dalam pada kakinya maka ia bisa melawan hukum gravitasi.
Ketika sampai diatas menara, Jian Chen bisa melihat jelas susana pertempuran yang sedang terjadi, suasananya ternyata jauh lebih kacau dari perkiraannya.
“Niu Zuan ini… dia benar-benar berencana untuk membunuh seluruh orang yang ada dikediaman ini!” Jian Chen bernafas dingin melihat keadaan dibawahnya.
Jian Chen kemudian mengeluarkan busur panah yang diambil dari Toko Angsa Putih sebelumnya.
Dalam sekali bidik, panah Jian Chen dengan cepat mengenai leher pasukan lawannya yang sedang bertarung. Jian Chen tak berhenti disana,dia mengambil 3 anak panah sekaligus dan dalam beberapa bidikan tiga orang bertopeng lainnya terbunuh secara bersamaan.