Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 127 — Dua Perasaan Yang Sama


"Kau benar-benar berbakat Mei'er, Ayah sampai sulit berkata-kata untuk memujimu..."


Usai turnamen telah berakhir Niu Zen langsung menghampiri puterinya.


"Terimakasih Ayah, ini semua berkat latihan yang ayah berikan padaku..." Meily memeluk ayahnya.


Niu Zen sejatinya jarang keluar klan jika tidak ada kepentingan namun kasus sekarang berbeda, demi melihat perkembangan puterinya ia berangsur pergi ke Akademi.


Niu Meily mendapatkan banyak hadiah dari turnamen tersebut dan yang paling berharga adalah mendapatkan tetesan embun langit sebanyak dua tetes.


Perlu diingat, satu tetes dapat meningkatkan kultivasi seorang pendekar, dengan kultivasinya yang sekarang ia bisa mencapai Alam Kehidupan Tahap 2.


Niu Zen dan Meily masih berada di lokasi turnamen sementara sebagian penonton sudah mulai membubarkan dirinya apalagi perlahan matahari mulai tenggelam. Ketika sepasang ayah dan anak itu bersama, ada dua orang yang menghampirinya, kedua-duanya sama-sama dikenal Meily ataupun Niu Zen.


"Saudara Jian, Kak Ziyun, kalian berdua juga disini..."


Meily tidak tahu bahwa Ziyun sudah baikan sementara ia tidak menduga Jiang Chen menyaksikan pertarungan dirinya dan Liu Yanyi.


Jian Chen dan Ziyun memberi hormat pada Niu Zen sebelum mengucapkan selamat pada Meily yang berhasil juara. Melihat ketiga anak remaja itu Niu Zen memilih berpamitan karena tidak mau mengganggu suasananya.


"Mei'er, Ayah akan menunggumu di kediaman kita, kalian bertiga bersenang-senanglah hari ini..." Niu Zen melambaikan tangan dengan tertawa saat menyaksikan puterinya itu senang dengan kedatangan Jian Chen.


Wajah Meily memerah, ia sedikit malu karena ayahnya menyinggung soal demikian apalagi di depan Jian Chen langsung sementara pemuda itu hanya tersenyum tipis mendengarnya.


Jian Chen sebenarnya ingin bertemu dengan Miou Lin namun tanpa sengaja berpapasan dengan Ye Ziyun, setelah gadis itu mengajaknya ia tidak dapat menolak, lagipula Jian Chen masih punya banyak waktu untuk bertemu Miou Lin jadi tidak masalah untuk bertemu Meily dan mengucapkan selamat padanya.


"Setelah turnamen ini selesai aku akan pergi ke Provinsi Naga Api untuk belajar di Akademi sana, menurut ayahku, kemampuanku disini sudah tak bisa berkembang lagi..." Meily menyampaikan hal terberat dipikirannya pada Jian Chen.


"Oh, bukankah itu bagus, di sana kamu bisa bertambah lebih kuat." Ujar Jian Chen tersenyum.


Meily menyampaikan itu bukan karena ingin dipuji Jian Chen melainkan ada sesuatu yang hendak disampaikannya tetapi ia tidak berani untuk mengutarakan hal tersebut.


Ziyun yang menyadari perasaan sahabatnya itu langsung tersenyum lalu berbicara pada Jian Chen, "Sebenarnya Saudara Jian, aku dan Meily juga akan pergi kesana nanti. Jika saudara Jian mau, kami berdua bisa mengajakmu pergi kesana bersama."


Tidak sulit untuk memasukan Jian Chen ke Akademi di Provinsi Naga Api setelah mengingat kekuatannya, bila Jian Chen tak mampu dengan biaya atau sebagainya kedua gadis itu bisa membantunya.


Provinsi Naga Api adalah Provinsi paling besar dari 12 Provinsi lainnya sekaligus yang terkuat dari semua provinsi yang ada.


Letak Kekaisaran ada di Provinsi Naga Api dan mereka memiliki cukup kekuatan untuk membuat 11 Provinsi lainnya bertekuk lutut.


Jika di Provinsi Naga Petir kultivasi Alam langit hanya hitungan jari maka di Provinsi Naga Api mereka sangat banyak. Jain Chen pernah kesana di kehidupan pertama dan ia bisa menyaksikannya langsung rata-rata kekuatan mereka yang jauh lebih kuat dengan provinsinya.


Jian Chen tentu memahami jika seorang murid bisa belajar di sana, itu merupakan prestasi yang membanggakan bagi seseorang.


Jian Chen menolak pelan tawaran Ziyun dengan halus, "Sebenarnya, setelah ini aku juga akan pergi ke provinsi lain namun bukan Provinsi Naga Api, yang jelas aku ada kepentingan untuk bertemu seseorang dan akan pergi pagi nanti..."


Jian Chen tentu memahami perasaan Meily yang ingin bersamanya namun ada hal yang harus dia urus terlebih dahulu. Kenyataannya walau klan Jian telah selamat dari serangan namun itu tidak memastikan selamanya terutama tentang gejolak di ibukota saat ini.


Dengan bertemu gurunya Jian Chen berharap bisa bertambah kuat lebih cepat sehingga bisa melindungi sesuatu yang mengancam klan apalagi keluarganya.


Dengan kekuatan yang kuat lah Jian Chen bisa melakukan semua itu.


"Aku akan mampir kesana jika ada waktu untuk bertemu dengan kalian..." Jian Chen tersenyum lembut, tangannya reflek mengelus pucuk kepala Meily dan Ziyun bergantian.


Benar, Ziyun juga, entah kenapa Jian Chen mengelus kepala gadis itu dengan sendirinya. Ziyun juga tidak menolak hal tersebut, malahan ia lebih menikmati elusan Jian Chen yang lembut dan nyaman.


"Kalau begitu aku pamit, kuharap kalian berdua baik-baik saja di sana..." Jian Chen tersenyum terakhir kali sebelum meninggalkan keduanya.


Ziyun melihat punggung pemuda itu dari jauh dengan perasaan campur aduk, suara deheman terdengar ditelingannya dan saat menoleh ia menemukan Meily tersenyum penuh makna padanya.


"Mei'er apa maksud tatapanmu itu?" Ziyun menyipitkan matanya.


"Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin menatap wajah Kak Ziyun saja... " Meily terkekeh lalu pandangannya jatuh ke arah Jian Chen yang sudah menghilang sebelum menatap sahabatnya kembali dengan senyuman penuh arti. "Kak Ziyun suka Saudara Jian, bukan?"


Ziyun melotot lalu membalikan badan dan mulai berjalan pergi, "Tidak, aku tidak menyukainya..."


"Kak Ziyun bisa saja berbohong tanpa terlihat orang lain namun di mataku semua itu bisa ketahuan, Kak Ziyun beneran suka sama Saudara Jian, ya?" Meily mulai mengekor di belakangnya sambil bertanya penuh harap.


"Tidak!"


"Kak Ziyun berbohong...."


"Aku tidak berbohong Mei'er!" Ziyun terus melangkah namun secara mendadak salah satu tangannya ditarik membuat langkahnya terhenti. Dia menemukan Meily yang melakukannya.


"Kak Ziyun, sejujurnya aku tidak keberatan kalau Kak Ziyun juga menyukai Saudara Jian. Aku malah senang saat mengetahui Kak Ziyun mempunyai perasaan yang sama sepertiku..." Meily memeluk pelan gadis itu. "Saudara Jian adalah orang baik, aku sudah berapa kali diselamatkan olehnya termasuk klan dan juga keluargaku. Selain karena kebaikannya, hatiku juga murni menyukainya..."


Ziyun menghela nafas panjang sambil mengelus sahabatnya itu. Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa Meily mempunyai sikap manja terlepas dari sifat dinginnya pada semua laki-laki. Tentu saja sikap manjanya itu hanya untuknya atau orang-orang terdekatnya.


Contohnya seperti sekarang, gadis itu memeluk manja pada Ziyun seperti seorang adik pada kakaknya, Ziyun akan mengelus rambut Meily ketika sikap manja gadis itu muncul.


"Jadi... Kak Ziyun memang menyukai Saudara Jian?" Meily tersenyum manis, matanya berkedip berulang kali dengan wajah penuh harap.


Ziyun menghela nafas sebelum akhirnya tersenyum dan mengangguk pelan, membuat sahabatnya itu tersenyum senang dengan ceria.