
Sekilas memang tidak ada yang salah dari rumah megah didepannya, mempunyai halaman hijau, bersih terawat juga terdapat hiasan lucu di pagarnya.
Siapapun tidak akan menduga bahwa rumah ini merupakan markas dari dalang pembunuhan di kota yang terjadi beberapa hari ini. Petugas kota tak dapat menyelidikinya karena pembunuh itu lihai tidak meninggalkan jejak saat melakukan aksi.
Satu hal yang tak mereka ketahui adalah pembunuhan itu bukan dilakukan oleh satu orang melainkan berkelompok. Salah satu kelompok itu adalah yang melawan Jian Chen sebelumnya.
Dalang dari pembunuhnya juga adalah orang yang terkenal, andai petugas kemanan kota mengetahuinya mereka juga tidak percaya kenyataan itu, karena orang itu cukup terkenal atas keramahannya.
Jian Chen yang mengetahuinya saja sedikit terkejut meski beberapa saat diganti dengan memakluminya.
Kenyataanya setiap manusia mempunyai topeng didalam dirinya, mempunyai sikap berbeda disituasi tertentu terlepas apakah itu sikap jahat atau baik.
Jian Chen meluruskan kedua tangan dan kakinya untuk melakukan permanasan, menghirup nafas yang dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Setelah memantapkan hatinya Jian Chen mulai memasuki kawasan rumah itu
***
“Ooaahh, berapa jam lagi hingga sif kita berakhir?”
Salah seorang penjaga menguap menahan kantuk lalu bertanya pada temannya yang sama-sama ditugaskan menjaga pintu utama rumah putih itu.
“Mungkin 1 jam lagi, diamlah! Kau sudah menanyakan itu ketiga kalinya, kalau kau bertanya yang sama selanjutnya mungkin kau akan mendapat piring dibanding jawaban...” Temannya itu mendengus kesal.
“Aku kan cuma bertanya, lagian ini aneh. Bukankah kita ditengah kota kenapa kita harus ada penjaga? Justru kalau di kota seperti ini penyamaran kita jadi lebih aman.”
“Aman kepalamu! Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? Kita seperti berada didalam markas musuh sekarang. Andai sedikit saja melakukan kesalahan hanya soal kedipan mata penyamaran kelompok kita hancur.” Teman satunya semakin jengkel sehingga menjitak rekannya.
“Aku setuju dengan pendapatmu, sekali kesalahan memang bisa menggagalkan penyamaran kalian selama 2 tahun terakhir, dan… Kebetulan hari ini kesalahan itu sudah terjadi…”
Suara seseorang yang lain terdengar membuat dua penjaga itu terkejut bukan main, beberapa detik kemudian mereka menyadari sudah ada sosok manusia didepannya.
Keduanya berganti waspada, kedatangan orang itu tak mereka sadari sebelumnya, tidak ada suara atau bahkan hembusan angin yang keluar seolah ia sudah beridiri disana sejak awal.
“Siapa kau? Sebutkan namamu?!” Penjaga itu sudah mengeluarkan pedangnya.
Jian Chen tidak menjawab melainkan tersenyum lebar membuat kedua penjaga itu semakin waspada bercampur rasa takut. Disaat mata mereka berkedip, Jian Chen sudah hilang dari pandangannya sehingga kedipan yang biasanya sekilas itu menjadi kedipan terlama bagi keduanya.
Jian Chen membuka pintu setelah membunuh penjaga itu, yang ditemukan ketika dia masuk dirinya disambut oleh suasana pesta yang meriah.
Salah satu alis Jian Chen terangkat, tidak menyangka suasana markas pembunuh bakal seperti ini. Meski didalam berisik namun dari luar rumah pesta ini tidak kedengaran apapun. Jian Chen menebak pasti rumah ini mempunyai alat kedap suara yang dipasang disekililing rumah.
Kedatangan Jian Chen membuat semua mata terarah padanya, apalagi Jian Chen datang dengan membawa pedang tanpa sarungnya dengan diujung pedang itu ada tetesan darah yang masih menetes.
Semua orang yang ada ditempat itu menjadi waspada, pertama karena Jian Chen masuk melewati pintu utama dimana para pembunuh biasanya masuk melewati jendela rumah ini. Pintu utama hanya boleh digunakan oleh pemilik rumah saja.
Hal kedua yang membuat mereka waspada karena bercak darah dari baju Jian Chen serta pedangnya.
Jian Chen tersenyum dingin, matanya menyelusuri setiap orang di tempat ini. Seperti yang dikatakan oleh orang yang diintrogasi Jian Chen sebelumnya, tidak ada pendekar di tingkat alam Jiwa Tahap 7 ke atas diantara mereka. Dilantai pertama hanya ada 20 orang pembunuh.
Jian Chen menggenggam pedangnya lebih erat. “Maap mengganggu pesta kalian tetapi aku tak bisa menunggu ini sampai selesai…”
Jian Chen langsung bergerak tanpa perlu basa-basi apapun, salah seorang yang didekatnya tanpa tahu apa-apa tak siap ketika ayunan pedang mengarah padanya.
“Kau sudah gila, kenapa kau tiba-tiba membunuh orang lain?”
Orang-orang disana begitu marah ketika tanpa sebab apapun Jian Chen langsung membunuh temannya. Jian Chen tersenyum lebar. “Tidak usah banyak tanya, aku adalah musuh kalian! Hari ini aku kesini untuk melenyapkan kalian semua.”
Jian Chen tidak berhenti disana ia langsung menebaskan pedangnya ke yang lain. Satu gerakan pedang Jian Chen cukup untuk membunuh satu orang didekatnya.
Para pembunuh mulai tersadari kalau ini sebuah serangan tetapi mereka tidak bisa bersiaga sepenuhnya karena semuanya sudah dalam keadaan mabuk berat.
Meski ada beberapa yang dalam masih keadaan terjaga mereka tidak banyak melawan, terutama karena senjata mereka tidak bersamanya. Lagipula, tidak akan ada yang menduga malam ini bakal ada seseorang yang berani menyerang kediaman pembunuh, belum lagi ini berada di tengah kota.
Keadaan ini segera dimanfaatkan baik oleh Jian Chen, dengan teknik pedang dari klan Niu yang mematikan. Jian Chen bisa membunuh semua orang dengan singkat tanpa perlawanan dari mereka sedikitpun.
Kini lantai satu itu sudah digenangi oleh darah, Jian Chen sebisa mungkin membunuhnya dengan singkat karena takut mereka menimbulkan suara yang membuat seisi rumah ini menyadarinya.
Jian Chen kemudian menuju lantai dua, sama seperti lantai pertama mereka sedang berpesta ria. Aksi kegaduhan Jian Chen dilantai pertama sepertinya tidak disadari mereka.
Jian Chen bergerak cepat untuk membunuh semuanya, Pesta yang semula terlihat menyenangkan itu tak lama berubah menjadi jeritan dan teriakan rasa sakit. Tidak sulit untuk membunuh semuanya karena orang-orang di lantai dua jauh lebih sedikit dibanding dilantai pertama.
Saat Jian Chen membunuh orang terkahir, ada seseorang yang kebetulan turun dari lantai tiga dan begitu terkejutnya dia ketika melihat pemandangan di lantai bawah begitu mengerikan.
Orang itu segera menutup mulut dan berusaha untuk tidak menjerit, sayangnya meski begitu orang yang sedang berdiri di tengah genangan darah tetap menyadarinya. Disaat pembunuh itu menoleh, ia menemukan mata emas yang begitu dingin menatap dirinya.
Jian Chen memang menyadari orang itu namun ia membiarkan dia pergi. Jian Chen tidak dalam kondisi yang baik, ia memang tidak terluka tetapi kondisi mentalnya terasa berat karena telah membunuh banyak orang.
Mungkin disebabkan karena sudah dua tahun ini ia tak mengenal kata membunuh manusia membuat mentalnya melunak kembali.
Jian Chen bisa dikatakan orang yang bermental kuat disebabkan kondisi hidup pertamanya yang telah membunuh banyak orang apalagi ketika pemberantasan organisasi jahat.
Sudah ribuan nyawa dicabut olehnya, membuat Jian Chen bisa dikatakan pembunuh darah dingin. Alasan itulah Jian Chen tak memiliki keraguan saat membunuh orang.
Jian Chen terlebih dahulu menenangkan dirinya sebelum akhirnya mulai bergerak ke lantai tiga.
Berbeda dengan dua lantai sebelumnya yang semuanya sedang sibuk berpesta, lantai 3 tidak demikian. Orang sebelumnya pasti sudah memberitahu keberadaannya jadi saat Jian Chen sampai mereka sudah bersiaga dan menghunuskan senjata.
Hanya ada lima orang yang berada lantai tiga namun kultivasi 4 orang diantaranya sudah di Alam Jiwa tahap 7.
Pandangan Jian Chen jatuh pada pria sepuh berperut buncit yang berdiri paling belakang, pria itu yang tak lain adalah pengurus dari Toko Angsa Putih sebelumnya.
Dia jugalah orang yang mengutus para pembunuh untuk membunuh Jian Chen sekaligus dalang dari kasus pembunuhan beberapa hari lalu di Kota.
Ketika tatapan keduanya bertemu Pengurus Toko itu kemudian melihat wajah orang yang menyerang kediamannya dan dia begitu terkejut saat mengenalnya
“K-kau…” Pengurus Toko itu menunjuk Jian Chen sambil gemetaran.
Jian Chen tersenyum lebar, “Tak kusangka kita bertemu lagi secepat ini, sayangnya kali ini aku tidak ingin membeli sesuatu dari barangmu…” Senyuman Jian Chen semakin lebar membuat pria sepuh buncit itu jatuh terduduk karena ketakutan.
Dia sadar telah menyinggung orang yang salah kali ini, Baju Naga Berlian yang ingin dia ambil kembali dari Jian Chen justru berdampak besar pada keamanan nyawanya.