
Kedatangan Jian Chen mengejutkan Luo dan gadis bersamanya, mereka yang berencana lari mendadak menghentikan langkah, keduanya fokus pada apa yang dilakukan Jian Chen di sana.
Disisi lain Zhou dan keenam bawahannya tampak waspada dengan kehadiran Jian Chen yang tiba-tiba. Ketujuhnya segera mengeluarkan senjata mereka masing-masing dan siap menyerang.
"Siapa dirimu, apa kau juga berasal dari Sekte Kerbau Api?!" Tanya Zhou tajam.
"Hm, aku tidak mengenal mereka apalagi bagian dari sekte yang kau sebutkan tadi. Aku hanya menghadang kalian karena kalian hendak melakukan kejahatan." Jian Chen mengangkat bahu.
"Jangan ikut campur, ini adalah masalah dua sekte!"
"Aku tahu, tapi aku tak bisa diam saja ketika kalian ingin membunuh dan memperkosa, aku mendengar omongan kalian sebelumnya dan aku tidak mau hal itu terjadi. Sebaiknya kalian pergi dan lupakan kedua orang yang kalian kejar."
Zhou merapatkan giginya, ia merasa terprovokasi oleh omongan Jian Chen. "Dasar arogan, jangan salahkan aku karena harus membunuhmu..."
Zhou kemudian memerintahkan bawahannya untuk menyerang Jian Chen bersama-sama, keenamnya segera bergerak namun ketika mereka sudah di dekat pemuda itu, keenamnya tiba-tiba mematung di tempat.
Bukan hanya keenam bawahannya tetapi tubuh Zhou juga tak bisa bergerak, ia kehilangan kendali pada tubuhnya.
Pandangan Zhou pada Jian Chen seketika berubah, ekspresinya menjadi pucat dan rasa takut mulai menyelimuti hatinya ketika Jian Chen mengeluarkan aura kematian yang begitu pekat.
Disisi yang sama, Luo dan gadis bersamanya tampak terkejut dengan mulut yang terbuka lebar, meski dari jauh keduanya bisa melihat jelas Jian Chen melepaskan sesuatu yang berwarna kehitaman dari tubuhnya.
"Apa mereka adalah musuh kalian?" Jian Chen bertanya pelan namun suaranya bisa terdengar sampai pada Luo dan wanitanya.
Luo mengangguk dengan hati-hati, "Mereka berasal dari sekte Pedang Baja, secara jelasnya mereka adalah musuh alami dari Sekte Kerbau Api..."
Jian Chen menggaruk kepala, ia kemudian menoleh ke arah rombongan Zhou kembali yang kini menatapnya penuh ketakutan.
"Aku tidak akan ikut campur tangan dengan urusan kalian tetapi membunuh adalah tindakan yang dilarang. Jika kalian ingin terus membunuh mereka maka hadapi aku terlebih dahulu."
"Kami tidak berani!"
Zhou dan bawahannya serempak menggeleng, mereka sadar melawan Jian Chen sama saja dengan mengantarkan nyawa.
"Bagus, kalau begitu pergilah, ini adalah peringatan pertama dan terakhir kalian..."
Tanpa harus menunggu perintah Jian Chen dua kali, Zhou dan rombongannya langsung pergi sebelum Jian Chen merubah pikirannya dan membunuh mereka semua.
Usai rombongan Zhou menghilang, Luo dan gadis yang bersamanya menghampiri Jian Chen lalu mengucapkan terimakasihnya. Andai Jian Chen tidak ada mungkin kedua orang itu tidak akan bisa selamat meski lari sekalipun.
"Tidak masalah, kita harus saling menolong jadi tidak perlu sungkan seperti itu." Jian Chen mengangguk dengan ramah.
Melihat Jian Chen mempunyai sikap yang bersahabat, keduanya mulai memperkenalkan nama mereka masing-masing.
Gadis di samping Luo memiliki nama Lian Yi sementara Luo sendiri memiliki nama lengkap Luo Bai, Jian Chen juga memperkenalkan namanya.
"Kalau begitu Pendekar Jian, apakah anda kesini juga karena ingin berendam di kolam suci, kami berdua sudah di sana sebelumnya."
"Kolam suci?" Jian Chen mengerutkan dahi, ia baru pertama kali mendengar kolam tersebut.
Luo Bai mengangguk, ia kemudian menjelaskan bahwa kolam suci adalah tempat umum yang berada di puncak gunung tak jauh dari lokasi mereka sekarang.
Kolam suci mempunyai kegunaan dalam mempercepat pengisian tenaga dalam, biasanya digunakan oleh para pendekar sebagai tempat peristirahatan atau berendam ketika telah menempuh perjalanan jauh.
Jian Chen yang mendengar hal tersebut menganggapnya sebagai kesempatan untuk mengisi tenaga dalamnya lebih cepat lagi. Jian Chen berniat menuju kolam suci itu.
Menyadari Jian Chen memiliki tujuan yang berbeda serta arah berlawanan, Luo Bai dan Lian Yi mengucapkan terimakasih terakhir kalinya.
"Kuharap kita bisa bertemu lagi Pendekar Jian, aku amat berhutang budi padamu..." Setelahnya Luo Bai dan Lian Yi berpamitan sebelum pergi ke arah berbeda.
Tidak membutuhkan waktu lama hingga Jian Chen menemukannya kolam yang dimaksud, dilihat dari jauh kolam suci terkesan seperti pemandian air panas yang dibentuk secara alami oleh alam, disekitar kolam suci itu begitu banyak kabut akibat uap dari air panas.
Jian Chen melihat di kolam tersebut tidak ada siapapun yang berendam, lagian siapa pula yang berendam di tengah malam seperti ini pikir Jian Chen dalam hati.
Jian Chen kemudian mendarat tak jauh dari kolam itu sebelum melanjutkan dengan berjalan kaki.
"Ah, ini benar-benar surga." Setelah sampai, tanpa basa-basi apapun lagi Jian Chen melepaskan bagian atas pakaiannya sehingga bertelanjang dada.
Ketika kulitnya bersentuhan dengan air kolam tersebut, Jian Chen merasakan semua otot-otot di tubuhnya berelaksasi dan rasa lelah yang ia tahan selama ini perlahan menghilang.
"Hm, ternyata selain berguna untuk mengisi tenaga dalam lebih cepat, kolam ini memang cocok untuk mereka yang sedang lelah..." Gumam Jian Chen melihat kolam berwarna kehijauan tersebut.
"Siapa disana?!"
Belum satu menit Jian Chen berendam suara merdu terdengar dari kolam tersebut, Jian Chen terkejut saat menyadari dia tidak sendiri di kolam ini dan orang yang berbicara sebelumnya seperti suara wanita.
Benar saja, tidak lama dari suara tersebut ada suara lain yang terdengar dan kali ini terkesan marah. Jian Chen bahkan sudah melihat gadis itu jauh sebelum suaranya.
"Dasar mesum-! Kau mengintipku mandi?!" Teriak gadis itu.
Jian Chen meneguk ludah, matanya justru melihat ke hal lain dari gadis itu. Terlepas dari tubuhnya, gadis itu memiliki wajah yang manis dengan rambut panjangnya yang telah diikat seperti ekor kuda.
Kulitnya begitu putih dan halus, biarpun tidak bisa disandingkan dengan kecantikan Lily, gadis itu tetap memiliki paras yang jarang dimiliki wanita pada umumnya.
"Kau-! Berani menatapku dengan mesum seperti itu setelah ketahuan mengintip! Dasar laki-laki biadab!"
Jian Chen batuk pelan, "Nona aku tidak tahu anda ada disini, kupikir kolam ini sedang sepi jadi aku tidak menyadari kalau ada seseorang yang lain."
Jian Chen menjelaskan dengan terbata-bata, sudah lama sekali ia tidak merasakan gugup dihadapan seseorang.
Walau sekarang mental Jian Chen sudah berumur 30-an lebih namun tubuhnya sekarang masih berusia 18 tahun.
"Alasan, setiap laki-laki yang mengintip juga akan beralasan yang sama." Gadis itu menyilangkan tangannya untuk menutupi bagian dada, berbeda dengan Jian Chen, gadis itu benar-benar telanjang bulat saat berendam.
"Nona, aku benar-benar tidak sedang mengintipmu, jika aku melakukan hal tersebut aku tidak akan berendam disini."
"Kau cuma cari alasan, bisa saja sebelumnya kau ingin macam-macam denganku?!" Tuduh gadis itu.
"Nona, sudah kujelaskan aku tidak sengaja, aku-..."
Sebelum Jian Chen menyelesaikan kalimatnya, gadis itu tiba-tiba melepaskan bola api raksasa pada Jian Chen.
Jian Chen melotot sebelum mengeluarkan dua pedang pusakanya yaitu pedang aturan dan pedang hukum. Dengan pedang tersebut ia berhasil menyerap bola api kedalam pedangnya.
Disisi lain, gadis itu segera memakai gaunnya, bola api sebelumnya digunakan untuk pengalihan lawan.
"Nona, tenangkan dirimu, aku bukan orang jahat disini..." Jian Chen menyarungkan dua pedangnya, mencoba mengatasi masalah ini dengan cara baik-baik.
"Tutup mulutmu!" Gadis itu tampak marah besar. "Kau sudah melihat tubuhku tapi masih berani mengelak! Bersiaplah untuk mati, aku tidak akan membiarkanmu hidup..."
Sebelum Jian Chen berbicara, gadis itu sudah menghilang dari pandangannya dan muncul tepat di depan Jian Chen sembari menggunakan serangan tapak.
Jian Chen tak tinggal diam, dia menggunakan serangan tapak juga. Ketika kedua tapak bertemu, keduanya seketika terpental lima langkah akibat daya kejut yang dihasilkan.
Ekspresi Jian Chen menegang, dalam sekali pertukaran jurus saja ia mengetahui kekuatan gadis itu sama kuat dengannya, Jian Chen atau pun gadis itu sama-sama berada di ranah Alam Raja puncak.