Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 103 — Jian Chen Vs Tangan Besi II


Tangan Besi kembali menggunakan ilmu tangan kosong lainnya tetapi Jian Chen tetap saja mendominasi pertarungan, Tangan Besi tak bisa membayangkan seolah-olah Jian Chen seperti mengetahui masa depan. Setiap serangannya pasti terbaca oleh Jian Chen dengan mudah.


Berbeda dengan serangannya, gerakan ilmu tangan kosong Jian Chen lebih rumit. Banyak sekali gerakan tipuan yang digunakannya dan tak sedikit setiap serangannya menuju satu titik secara terus menerus.


“Kepakan Burung Hantu!”


Lagi-lagi pola gerakan Jian Chen berubah, kini setiap ia mengayunkan pukulan dan tendangannya menjadi tak bersuara namun yang paling menyakitkan dari serangan ini adalah tenaga yang kuat.


Tangan Besi ingin menjerit ketika merasakan salah satu tulang rusuknya telah retak, ia ingin memisahkan diri dari Jian Chen namun lawannya tidak membiarkan itu.


“Elemental Api ~ Hembusan Nafas Api!”


Tangan Besi secara mendadak mengeluarkan hembusan api dari mulutnya yang sangat besar membuat Jian Chen tidak punya pilihan selain mundur.


Api itu membakar rerumputan yang ada hingga membentuk dinding api. Jian Chen mengalirkan tenaga dalam pada mulutnya lalu merubahnya menjadi sebuah energi.


“Elemental Es ~ Hembusan Kabut Es!”


Jian Chen mengeluarkan kabut dingin dari mulutnya yang seketika memadamkan dinding api tersebut sekaligus membuat tanahnya membeku.


Mata Tangan Besi terbuka lebar ketika Jian Chen bisa menggunakan elemen es, ‘Apa mungkin cahaya tadi memang bukan elemen?’


Tangan Besi menggelengkan kepalanya, saat ini bukan itu yang harus ia pikirkan melainkan bagaimana cara membunuh Jian Chen, dia kemudian menciptakan bola-bola api lalu menembakkannya.


Jian Chen bergerak cepat menghindari bola-bola api yang mengarahnya, awalnya dia bisa menghindar tetapi Tangan Besi ternyata menciptakan banyak sekali bola api sehingga ruang gerak Jian Chen semakin sedikit.


Belum lagi bola api yang di hindarinya akan membakar rumput atau pohon di belakangnya, Jian Chen tidak mau hutan klan Jian terbakar.


“Elemental Es ~ Bongkahan Dinding Es!”


Jian Chen menghentakkan kakinya ke tanah membuat tanah yang dipijaknya kemudian membeku, bersamaan dengan itu dari tanah keluar bongkahan es yang besar dan tinggi, menghalangi tembakan-tembakan bola api yang mengarah padanya.


Tangan Besi berdecak kesal, ia tak menyangka Jian Chen juga mempunyai kemampuan tinggi dalam menggunakan elemen.


Ketika dia berpikir menggunakan teknik api lainnya Jian Chen sudah berada di belakangnya, Tangan Besi tak punya pilihan selain menyambut serangan itu dan akhirnya keduanya kembali beradu tangan kosong.


Hasilnya tidak berbeda jauh, Tangan Besi lagi-lagi di posisi bertahan dan Jian Chen mengungguli pertarungannya.


“Siapa kau sebenarnya! Kau pasti adalah tua bangka yang menyamar!” Tangan Besi menjerit, tubuhnya mulai kesakitan lagi saat menahan serangan Jian Chen yang bertubi-tubi.


Jian Chen tidak menjawab, ia terus melakukan pukulan dan tendangan yang mematikan membuat Tangan Besi makin kewalahan.


Darah keluar dari Tangan Besi ketika sebuah pukulan mengenai perutnya, dia mundur beberapa langkah hingga jatuh berlutut.


Jian Chen hendak mengayunkan kakinya ke arah leher Tangan Besi untuk mengakhirinya tetapi baru dirinya mengangkat kaki tiba-tiba tubuh Jian Chen terasa sakit.


Rasa sakit itu diakibatkan karena Jian Chen terlalu banyak meminum racikan pemulih tenaga dalam lebih dari dosisnya.


Rasa sakit tersebut membantu Tangan Besi memperoleh waktu lalu mengambil jarak dengan Jian Chen. Tangan Besi kemudian menyadari lawannya seperti kesakitan, terlihat jelas dia memegangi dada.


Tangan Besi tidak mengetahui penyebab Jian Chen demikian tetapi itu adalah kesempatan untuk menyerangnya. Dia kembali maju dan kali ini menggunakan serangan-serangan terkuatnya.


Salah satu pukulan mengenai topeng Jian Chen hingga pecah berkeping-keping, memperlihatkan wajah mudanya serta bola mata yang berbeda warna, satu berwarna emas sedangkan satunya lagi bercahaya keperakan.


“Apa hanya segini kemampuanmu, kalau begitu aku akhiri saja...” Tangan Besi tertawa lantang lalu meningkatkan kecepatan serangannya.


Jian Chen sekarang tak bisa mengikuti kecepatan gerakan Tangan Besi sehingga beberapa pukulan mengenai tubuhnya hingga membuatnya terluka parah.


Pukulan terus berlanjut tak membiarkan Jian Chen mengambil nafas, akhirnya satu pukulan kuat dengan telak mengenai dadanya hingga membuat Jian Chen terpental beberapa meter.


Jian Chen menyeka darah di sudut bibirnya, rasa sakit di dadanya semakin menjadi.


Tangan Besi tertawa, “Sebaiknya kau mulai memohon padaku agar diberikan kematian yang cepat…”


Jian Chen tersenyum mengejek. “Aku belum mati, bagaimana bisa kau menganggap pertarungan ini sudah berakhir.”


Tawa Tangan Besi terhenti digantikan tatapan dingin. “Baiklah kau yang meminta, aku akan lihat seberapa besar tangisanmu saat ada di kondisi berharap untuk mati!”


Bersamaan Tangan Besi berkata demikian, pusaka besi di tangannya tiba-tiba bersinar berwarna keunguan.


Pandangan Jian Chen menjadi waspada, dia tidak tahu teknik apa yang digunakan Tangan Besi tetapi instingnya mengatakan bahwa teknik itu berbahaya.


Jian Chen mengalirkan tenaga dalam pada dadanya membuat rasa sakit itu sedikit mereda, setelahnya Jian Chen bangkit dan menghilang di dekat Tangan Besi sebelum memberikan serangan tapak.


Tangan Besi menyadari itu, ia buru-buru menyerang Jian Chen dengan tapak ungunya hingga saling beradu. Keduanya mundur beberapa langkah akibat daya kejut yang ditimbulkan.


Jian Chen dan Tangan Besi maju kembali dan kali ini keduanya menggunakan serangan tapak dalam menyerang.


Keduanya terus bertukar jurus sambil mengeluarkan kekuatan terbaiknya, salah satu tapak akhirnya mengenai dada Tangan Besi membuatnya muntah darah sementara tapak Tangan Besi juga melakukan yang sama pada dada Jian Chen.


Keduanya mundur beberapa langkah, Jian Chen merasakan sakit yang hebat pada dadanya ketika pusaka besi berwarna ungu itu mengenainya dengan telak.


Ketika ia ingin menggerakkan tubuhnya sesaat terasa lebih lemas, Jian Chen akhirnya jatuh dalam posisi berlutut.


“Kau sudah berakhir…” Tangan Besi kembali memuntahkan darahnya, walaupun terluka namun tidak separah yang dialami Jian Chen. “Satu tapak saja sudah cukup untuk membunuhmu. Tapak yang kutoreh di dadamu adalah tapak api racun, kini kau akan merasakan rasa sakit terbakar yang hebat yang membunuhmu secara perlahan.”


Jian Chen merapatkan giginya, kini dia bisa merasakan dadanya terasa panas seperti di bakar dari dalam. Jian Chen mengalirkan tenaga dalam lalu membentuk serpihan es di dadanya, berharap rasa panas itu mereda.


Tangan Besi tertawa lantang menyaksikan kondisi Jian Chen yang menurutnya sudah tak tertolong, rasa puas memenuhi hatinya saat tiba-tiba jantungnya mengalami rasa sakit yang amat hebat.


DEG!


Jantung Tangan Besi tiba-tiba melemah bahkan seperti berhenti, Tangan Besi tidak bisa mempertahankan keseimbangannya sehingga ambruk ke tanah seketika itu juga.


“Kau! Apa yang kau lakukan padaku?!” Tangan Besi mulai kesulitan bernafas. Tapak terakhir Jian Chen kini terasa lebih sakit.


Jian Chen tersenyum lebar sembari menahan rasa sakitnya. “Serangan terakhirku tadi bukan hanya melukai dari luar tetapi dari dalam juga, aku telah mengganggu peredaran darah di jantungmu.”


“Kau…” Tangan Besi menatap Jian Chen penuh amarah serta kebencian, sesaat kemudian nafasnya kian menjadi sesak hingga akhirnya berhenti bernafas, Tangan Besi mati dalam keadaan melotot pada Jian Chen.


Jian Chen tersenyum puas tetapi tubuhnya langsung ambruk ke tanah, racun api yang di keluarkan Tangan Besi amat mematikan, andai saja tenaga dalam Jian Chen masih tersisa banyak mungkin ia bisa selamat dari racun ini.