
Jian Chen bisa pastikan dengan tekniknya, golem es itu sudah sirna, teknik itu adalah salah satu teknik tinggi yang dimilikinya di kehidupan pertama.
Nafas Jian Chen sedikit memburu karena teknik yang sama menguras seperempat dari jumlah seluruh tenaga dalamnya. Jian Chen akui meski tenaga dalamnya sudah berjumlah ratusan tetapi menggunakan elemen cahaya tingkat tinggi masih belum cukup.
Di kehidupan pertama Jian Chen sudah mempunyai tenaga dalam berjumlah ribuan, jadi tidak masalah kalau ia menggunakan elemen cahayanya secara terus menerus.
Jian Chen bisa melihat ada lubang persegi di mana golem itu musnah, andai teknik yang sama digunakan manusia maka tubuhnya sudah hangus menjadi debu.
Jian Chen kemudian menyarungkan kembali pedangnya, pandangannya tertuju pada altar di depannya. Setelah nafasnya teratur ia mencoba menghampri altar tersebut.
Ada sesuatu yang unik ketika jarak Jian Chen dan altar sudah dekat, sebuah mutiara berwarna biru dengan ukuran segengaman tangan melayang di udara sambil bersinar dengan indah.
Sesaat Jian Chen menyadari mutiara biru ini sedikit akrab di matanya.
“Bukankah mutiara ini sama dengan mutiara merah?”
Mutiara merah yang di maksud Jian Chen adalah mutiara yang dia hancurkan ketika dirinya hendak mati, yang berbeda dari mutiara di depannya hanya warna saja.
Jian Chen secara perlahan mengambil mutiara yang mengapung di atas altar itu menggunagakan tangan kosong, matanya melebar setelah memastikan kebenarannya.
“Tidak mungkin, bagaimana ada mutiara ini disini…”
Nafas Jian Chen tertahan, dia pernah mendengar mutiara yang bercahaya ini merupakan benda yang dicari 12 Shio Pemburu.
Jian Chen sibuk dalam pikirannya sampai terlambat menyadari dari lantai es ada serpihan es yang sudah merambat ke kakinya.
Es itu tidak berwarna biru seperti es di sekitarnya melainkan berwarna merah muda, Jian Chen buru-buru mengalirkan tenaga dalamnya tetapi tetap saja kakinya tak bisa lepas dari serpihan es tersebut.
Gawatnya es yang ada di kakinya terus merambat ke atas, Jian Chen mulai panik karena andai es ini menyelimuti tubuhnya maka ia bisa mati.
Jian Chen buru-buru menyelimuti tubuhnya dengan elemen cahaya yang bersuhu panas namun es berwarna merah muda itu tetap saja tidak meleleh sama sekali.
“Kau tidak akan bisa melelehkan es itu dengan kultivasimu yang masih lemah meskipun dengan elemen cahayamu.”
Jian Chen kemudian baru menyadari sudah ada pria sepuh di dekatnya, pria sepuh itu memiliki jenggot panjang di dagunya namun yang paling unik darinya sekarang ia sedang melayang di udara.
Nafas Jian Chen tertahan melihatnya, bukan karena aksi terbangnya melainkan tubuh pria sepuh itu terlihat transparan.
“Hm…Kau tidak takut padaku dan mengatakan aku adalah sebuah hantu atau sejenisnya?” Pria sepuh itu terkejut.
Jika bukan karena pengalamannya Jian Chen juga akan berpendapat demikian, Jian Chen berusaha terlihat tenang sambil tersenyum pada pria sepuh itu.
“Maap Senior jika aku tidak salah, Senior hanyalah esensi roh kesadaran yang di tanam di tempat ini menggunakan teknik khusus…”
Jian Chen bukan pertama kali melihat hal seperti ini di kehidupan lalu, pria sepuh itu bisa di bilang sudah mati tetapi sebelum meninggal dia menggunakan teknik tertentu yang membuat kesadarannya ada yang tertinggal disini.
Biasanya teknik ini digunakan untuk menyampaikan sebuah pesan terhadap keturunannya atau menjaga sebuah tempat seperti istana es ini.
Jian Chen bisa merasakan, pria sepuh di depannya memiliki kekuatan yang hebat saat hidup dulu.
Jian Chen tersenyum tipis, “Senior, bisakah anda keluarkan aku dari serpihan es ini…” Jian Chen menunjuk es yang menyelimuti kakinya.
Jian Chen menyadari es ini adalah teknik dari pria sepuh tersebut.
“Tidak bisa, jika kau menyadari aku hanyalah roh, itu berarti aku sudah tidakk memiliki kekuatan apapun.…”
Jian Chen meneguk ludah. “Jadi Senior, bagaimana aku bisa lepas dari teknikmu ini?”
“Sebenarnya ada tetapi itu terlalu beresiko, kau lihat permata biru di tanganmu?” Jian Chen terdiam sebelum mengangguk. “Bagus, kau telan mutiara biru itu…”
“Hah? Senior apakah anda berniat membunuhku?”
Pria sepuh itu tertawa kemudian menjentikan jarinya, dalam waktu seketika, lantai yang sebelumnya datar bermunculan bongkahan-bongkahan es dari bawah.
Sekilas bongkahan es itu tidak biasa, Jian Chen menyipitkan matanya kemudian menyadari di dalam bongkahan es itu ada manusia di dalamnya. Jelas mereka sudah mati karena membeku.
“Mereka adalah orang yang pernah masuk ke gua ini ratusan tahun yang lalu, sama sepertimu, mereka juga telah mengalahkan golem es yang menjaga tempat ini tetapi…” Pria sepuh itu menghel nafas pajang.
“Mereka malah mati membeku setelah menelan mutiara biru itu dan andai mereka tidak mau, mereka juga akan mati, es merah muda itu akan mengerogotinya sampai ke kepala hingga mebuat organ mereka membeku dan mati.”
Wajah Jian Chen memucat, ia memahami situasinya sekarang. “Senior jadi bagaimana agar aku bisa lolos dari serpihan es ini selain menelan mutiara biru…”
“Tidak ada,” pria sepuh itu menggeleng. “itu adalah jebakanku yang kubuat sebelum aku meninggal dan aku tak dapat menghentikannya sekarang karena aku sudah mati. Jalan satu-satunya kau bisa hidup adalah menelan mutiara biru itu…”
“Tapi Senior itu sama saja aku bunuh diri…”
“Sebenarnya masih ada peluang kau bisa selamat walau peluang itu hampir satu persen. Jika dalam 10 detik kau tidak membeku setelah menelan mutiara biru itu maka kau bisa lolos dari jebakan ini dan kalau sebaliknya, kau sudah tahu bukan? Kau akan seperti mereka”
Wajah Jian Chen semakin pucat, bagaimnapun dia tidak bisa mati disini.
Jian Chen mencoba kembali menggunakan elemen cahayanya dengan kekuatan penuh tetapi tetap saja es yang berwarna merah muda itu tak bisa mencair.
“Percuma saja, dulu juga ada yang kesini dengan kekuatan lebih tinggi darimu yaitu ranah Alam Langit. Mereka tak bisa berbuat banyak selain menelan mutiara biru itu yang pada akhirnya tetap mati.”
“Senior, aku tidak bisa mati disini…”
“Percayalah, aku juga sebenarnya kasihan melihat anak muda sepertimu datang kesini, jika aku bisa berbuat sesuatu maka sudah dari tadi aku membantumu keluar.”
Jian Chen merapatkan giginya, dia bisa merasakan bahwa pria sepuh itu tidak berbohong. Pandangan Jian Chen terarah pada mutiara biru di tangannya dengan perasaan ragu.
“Anak muda, andai kau bisa menelan mutiara itu maka kau akan mendapatkan kekuatan luar biasa yang tidak pernah ada di penjuru dunia ini…” Pria sepuh itu mengatakan rahasia di balik mutiara tersebut.
Perkataan pria sepuh itu tidak membuat Jian Chen lebih baik, pasalnya ia sudah melihat lautan mayat membeku didepannya dan ia tak yakin bisa selamat.
Jian Chen tidak punya pilihan, dia memejamkan matanya sebelum menelan mutiara biru itu bulat-bulat, perasaan Jian Chen bercampur aduk ketika mutiara itu masuk ke tubuhnya, sesaat tiba-tiba tubuhnya bereaksi.