
Kemunculan Lily yang ada dihadapan ketiganya secara tiba-tiba membuat jantung mereka hampir copot.
Pedang Setan bisa melihat ada semacam pecahan kaca yang di lalui tubuh Lily, pecahan kaca tersebut yang tak lain adalah pecahan dari robekan ruang.
Lily atau Jian Chen menatap ketiga lawannya dengan dingin. Saat itulah Pedang Setan menyadari mata Jian Chen telah berubah warna.
Lily mendekatkan jari telunjuknya pada kening salah satu dari ketiga orang itu, tak lama kemudian tubuh orang itu bergetar hebat diikuti wajahnya yang terlihat kesakitan.
Lily kemudian melepaskan telunjuknya dan orang itu langsung jatuh ke tanah. Ia masih bernyawa tetapi aura kekuatannya telah melemah.
"Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Pedang Setan dengan nada ngeri.
Ia ingin berlari dari sana namun rantai yang meringkusnya membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.
Lily mendengus, tidak menjawab pertanyaan Pedang Setan. Ia kemudian beralih pada satu orang lainnya lalu menempelkan jari ke kening orang itu.
Pedang Setan menahan nafas, ia bisa melihat dua kekuatan pendekar di dekatnya bukan lagi di Alam Hampa, bahkan dirinya tak merasakan adanya gelombang tenaga dalam dari kedua orang itu.
"Benar, aku memang melumpuhkan kultivasi keduanya, kini mereka tidak beda jauh dengan orang biasa." Lily seolah bisa membaca pikiran Pedang Setan.
Lily tidak menunggu keterkejutan Pedang Setan, ia menyentuh kening pendekar pria sepuh itu dengan telunjuknya.
"Tunggu dulu! Kita tidak mempunyai masalah atau dendam disini jadi jangan membawa ini lebih jauh sampai harus melumpuhkan kultivasi seseorang..."
Pedang Setan kini mulai merasakan ketakutan, menghilangkan kekuatannya yang sudah di bangun sejak kecil tentu adalah mimpi buruk baginya.
Ia tak bisa kehilangan kultivasinya yang sudah tinggi seperti ini apalagi dengan kekuatannya ia bisa meraih posisi penting di Provinsi Naga Angin.
Menghilangkan kultivasinya tidak beda jauh dengan kematian. Pedang Setan akan kehilangan banyak hal, penghormatan, uang, serta yang paling penting adalah martabatnya.
Lily nyatanya tidak peduli bahkan bersikap acuh tak acuh, gadis itu langsung menyerap kultivasi Pedang Setan membuat pria sepuh itu menjerit kesakitan.
Pedang Setan jatuh ke tanah, rantai yang melilitnya terlepas usai kultivasinya telah menghilang.
Pedang Setan tidak pingsan berbeda dari dua pendekar Alam Hampa sebelumnya, ia masih terjaga hanya saja pandangan pria sepuh itu terasa kosong.
Kini kekuatan yang dibanggakannya telah menghilang, Pedang Setan mulai menyesali tindakannya menyerang Jian Chen sebelumnya. Andai waku bisa diputar maka ia akan bertekuk lutut di depan pemuda itu.
Lily mengamati ketiga lawannya dengan senyuman puas, ia kemudian melirik Longxia dan pasukannya yang masih kerepotan menghadapi pasukan tengkorak yang tidak ada habisnya.
Pangeran itu mulai kelelahan begitu juga dengan yang lainnya namun mereka tidak menemukan tanda-tanda tengkorak itu akan habis.
Longxia tidak mengetahui apa yang terjadi pada pengawal pribadinya karena terlalu fokus menghadapi pasukan tengkorak-tengkorak itu.
Saking fokusnya ia tidak dapat bereaksi ketika tiba-tiba dari tanah ada serangan mendadak menghampirinya, sebuah rantai kegelapan muncul dan segera melilit tubuh pemuda itu.
Sebelum Longxia mempertanyakan lebih jauh dari mana datangnya rantai kegelapan tersebut, seseorang muncul di hadapannya dalam satu kedipan mata.
Longxia begitu terkejut, jantungnya berdetak lebih cepat apalagi saat menyadari bahwa orang itu yang tak lain adalah Jian Chen.
Longxia berteriak memanggil Pedang Setan untuk meminta pertolongannya namun setelah beberapa kali teriakan pengawal pribadinya itu tak kunjung datang.
"Berapa kali pun kau memanggilnya dia tidak mungkin datang dan tak akan pernah datang..." Jawab Lily datar.
Pangeran tampan itu memanggil para pengawalnya namun sebelum ia membuka suara, Longxia baru menyadari semua pengawalnya sudah bertekuk lutut dengan terikat rantai sepertinya.
Pandangan Longxia kini terarah pada Jian Chen atau Lily, yang di tatap justru memandangnya dingin.
Longxia meneguk ludah lalu memberanikan diri berbicara pada Lily dengan nada sedikit meninggi bahkan terdengar mengancam.
"Kalau kau membunuhku disini, kau akan menjadi buronan ayahku! Dia adalah pemimpin provinsi ini yang bisa mengejarmu sampai ke ujung dunia sekalipun. Tidak ada yang bisa membantumu lari, kau akan mati dengan siksaan paling pedih sampai berharap kematian adalah hal terindah yang kau harapkan."
Longxia berharap dengan ancaman tersebut Lily atau Jian Chen akan mempertimbangkan untuk berurusan dengannya namun reaksi orang yang di ancamnya justru bereaksi berbeda.
"Kau sepertinya tidak terlalu pintar, dengan posisimu yang sekarang alangkah bagusnya kau memohon alih-alih malah mengancam..." Lily menggelengkan kepala. "Dan untuk ancamanmu, sayang sekali aku tidak takut."
Longxia bisa melihat Lily benar-benar tidak peduli dengan statusnya, ia buru-buru memohon pengampunan agar Lily tidak membunuhnya.
"Aku salah, aku berdosa, tolong ampuni nyawaku yang tidak melihat kebesaran pendekar..." Longxia menangis dan berusaha mendapatkan simpati Lily.
Lily terlihat diam beberapa saat sebelum ia tiba-tiba menghela nafas sejenak.
"Kau beruntung aku mengampuni nyawamu, seseorang yang memiliki tubuh ini tidak mengizinkanku untuk membunuhmu..."
Meski tidak mengerti maksud perkataan Lily namun setelah mendengar ia tidak akan dibunuh membuat Pangeran itu jadi bernafas lega.
"Tapi bukan berarti aku tidak melakukan sesuatu padamu..." Lily menciptakan sebuah api di atas telapak tangannya.
Api itu berbeda dengan api pada umumnya, api yang Lily munculkan merupakan api berwarna hitam.
Lily mengubah api hitam tersebut menjadi suatu bentuk yang padat, tak lama kemudian api hitam tersebut berubah menjadi sebuah pedang.
Teknik ini hampir sama dengan Jian Chen saat membentuk perubahan jenis es menjadi pedang, hal yang sama dilakukan Lily menggunakan elemen api.
Lily mengayunkan pedang api tersebut sebelum Longxia berkata lebih jauh, ayunan pedang Lily begitu tajam dan melukai Longxia dengan cepat.
Longxia mematung, ia melihat tangannya yang kini sudah terlepas dari asalnya. Tak lama kemudian ia menjerit hingga memenuhi udara.
"Diam! Kau cengeng sekali!" Lily mendengus lalu menyembuhkan pendarahan tangan Longxia dengan cepat agar pemuda itu tidak mati kehilangan darah.
Tenaga dalam yang di alirkan Lily terasa berbeda, selain lukanya tertutup dengan cepat, rasa sakitnya juga langsung menghilang seketika.
"Kau terlalu banyak mengambil nyawa orang tak bersalah dengan permainan politikmu, seharusnya kau harus dibunuh disini...", Lily berkata dingin lalu kemudian mendekatkan telunjuknya ke kening Longxia. "Dengan ini, seharusnya kau sadar untuk tidak memandang semua yang di wilayahmu bisa tunduk oleh kekuasanmu atau kau akan bertemu orang sepertiku!"
Lily melepaskan jarinya membuat pemuda itu langsung jatuh ke tanah, ia kehilangan satu tangan dan kultivasinya telah sirna.
Kini Longxia bukan lagi seorang jenius beladiri yang bisa mencapai Alam Bumi di usia muda. Longxia bahkan sudah tidak termasuk dari dunia persilatan lagi.
Menyaksikan pemandangan tersebut membuat para pengawal Longxia di sekitarnya ketakutan, Lily melirik para pengawal itu sebelum menjentikkan jarinya.
"Elemental Suara — Dentingan Gelombang Nada!"
Jentikan Lily kemudian menimbulkan gelombang suara, ketika gelombang suara itu terdengar oleh telinga para pengawal, seketika mereka langsung tak sadarkan diri.
Lily menghela nafas setelah semua lawannya pingsan, ia menatap ke atas langit sebelum mengepakkan sayapnya dan terbang.