
"Ah, keluarga kecil yang bahagia, benar-benar menarik..." Tiga orang yang menghadang langkah Jian Ran tersenyum lebar.
"Siapa kalian?!" Jian Ran menatap tajam, menjauhkan bayi kecilnya dari pandangan orang kasar itu.
"Itu tidak penting, tujuan kami hanya ingin membunuh kalian..."
Pasukan klan Liu yang sedang mengepung kediaman Jian Wu adalah sekelompok pembunuh yang terdiri dari 8 orang, mereka bergabung dengan klan Liu karena klan tersebut menjanjikan keselamatan kelompoknya.
Membunuh adalah profesi mereka, tidak peduli usia berapapun entah itu muda atau tua mereka telah melakukan banyak pembunuhan.
Mendengar kabar klan Liu akan menyerang sebuah klan, kelompok pembunuh itu ikut berpatisipasi dalam menyerang namun bukan karena hadiah melainkan untuk memuaskan nafsu membunuh mereka.
"Apa kalian serendah ini sampai harus menyerang seorang ibu dan bayinya!" Jian Ya muncul di depan Jian Ran, gadis itu terlihat emosi. "Senior Wu, fokuskan bertarung biar aku yang melawan ketiganya. Bibi Ya, tolong berada di belakangku!"
Kedatangan Jian Ya berhasil menghilangkan kecemasan yang Jian Wu rasakan sehingga ia bisa fokus bertarung.
"Ah, gadis cantik..." tiga orang itu tertawa lalu menjilat bibirnya. "Kau ingin jadi pahlawan bagi keluarga mereka. Sebuah kehormatan anda bertemu dengan kelompok kami, Kalajengking Malam."
"Kalajengking Malam?!"
Jian Ya terkejut, bukan karena ia tahu mereka adalah kelompok pembunuh namun alasan kenapa kedatangan mereka kesini. Satu-satunya yang terpikirkan olehnya adalah kelompok itu bergabung dengan klan Liu."
"Klan Liu bekerja sama dengan orang-orang seperti kalian! Klan Liu harus menerima hukuman yang berat dari pemerintah!"
Andai pemerintahan klan Chu atau klan lain mengetahui fakta ini maka mereka tidak akan tinggal diam begitu saja.
Jian Ya langsung mengangkat senjatanya ketika tiga orang di depannya bersiap menyerang. Ia juga harus memastikan Jian Ran tetap aman di belakangnya.
***
Jian Chen menerima surat dari Miou Lin 10 jam sebelum klan Liu menyerang, pemuda itu meremas surat yang telah di bacanya dengan nafas yang diburu emosi.
Jian Chen tidak lagi memikirkan gurunya yang tidak bisa ia temukan, dia langsung terbang dengan kecepatan tinggi hanya saja dengan jarak serta jumlah tenaga dalamnya Jian Chen tidak mungkin sampai dalam waktu cepat.
"Tenaga dalammu hampir habis, sebaiknya kau mendarat terlebih dulu sebelum jatuh dari ketinggian seperti ini."
Jian Chen sudah terbang enam jam lebih dan itu adalah batas tenaga dalamnya namun pemuda itu tidak ada tanda-tanda untuk berhenti.
"Aku tidak punya waktu untuk berhenti, klan Jian dalam bahaya!" Tanpa peduli tenaga dalamnya yang menipis Jian Chen terus melesat cepat.
Lily menggaruk kepalanya, ini bukan kali pertama ia mengingatkan pemuda itu namun Jian Chen selalu saja menghiraukannya.
Lily memahami Jian Chen sekarang sedang dilanda dua emosi, kemarahan dan ketakutan. Marah karena klan Jian di serang dan takut merasakan kehilangan semuanya seperti di kehidupan pertamanya.
Andai Jian Chen terus terbang pun sebenarnya jarak ia dengan klannya sangat jauh, mungkin sekitar lima hari baru ia sampai dan Lily yakin penyerangan klan Jian mungkin sudah berakhir.
Lily menggaruk kepala frustasi sebelum menghela nafas, ia sebenarnya tidak peduli dengan Jian Chen atau apapun yang berhubungan dengan pemuda itu tetapi andai gadis itu membiarkannya Jian Chen dalam bahaya.
Hanya soal waktu Jian Chen kehilangan tenaga dalamnya lalu jatuh dari terbangnya, kematian mungkin adalah hal yang paling buruk yang Lily bayangkan.
"Biarkan aku mengendalikan tubuhmu, kau tidak akan sampai tepat waktu meski menggunakan seluruh kecepatan terbangmu..."
"Lily..." Jian Chen tidak menduga gadis itu akan membantunya.
Tubuh Jian Chen seketika di rasuki tubuh Lily, sebuah sayap hitam tercipta dari punggungnya sebelum membentang dan mengepak.
Jian Chen sedikit terkejut ketika Lily meningkatkan kecepatan terbangnya tiba-tiba, omongan besar gadis itu bukan hanya ucapan belaka ketika tubuhnya bergerak bagai sebuah bintang yang jatuh.
"Sebaiknya kau pulihkan tenaga dalammu selama di perjalanan ini. Beberapa jam lagi kita akan sampai ke klanmu."
Jian Chen mengangguk, ia duduk bersila di atas bunga teratai Lily sebelum mengumpulkan tenaga dalamnya yang hampir habis.
Meski kesadaran Jian Chen berada di alam lain namun pemuda itu tetap bisa menyerap tenaga dalam.
Dalam kurun waktu tiga jam Lily sudah tiba di Provinsi Naga Petir, gadis itu terus melesat dengan cepat.
Tidak membutuhkan waktu lama klan Jian terlihat, bukan karena jaraknya sudah dekat melainkan wilayah klan itu tampak mencolok.
Ada sebuah api yang besar di sana, api itu berasal dari rumah-rumah klan Jian yang dibakar masal.
Jian Chen mengepalkan tangannya keras, matanya melotot di penuhi kebencian.
Lily kemudian mendarat di dekat klan Jian, seketika ia menukarkan tubuhnya kembali dengan Jian Chen.
"Lily, aku..."
"Bukan waktunya untuk berterimakasih, masih banyak yang kau lakukan sekarang."
Jian Chen mengangguk, ia berjanji suatu hari akan membalas kebaikan Lily namun untuk sekarang ia harus menyelamatkan klannya.
Jian Chen mengeluarkan pedang asura di tangannya, jika biasanya pedang itu menyerap tenaga dalamnya secara paksa kali ini Jian Chen menyerahkan tenaga dalam pada pedang itu.
Pedang Asura mulai bersinar kemerahan ketika Jian Chen memegangnya seolah pedang itu sepertinya sudah tahu ia akan mencabut banyak orang.
Jian Chen menarik nafas yang dalam lalu bergerak masuk ke klannya, pandangan pertama saat di sana adalah kekacauan yang sangat besar sedang terjadi.
Beberapa jasad berserakan dimana-mana serta bau amis darah tercium memenuhi udara.
Jian Chen tidak punya waktu untuk memandang sekitarnya, ia langsung bergerak ke salah satu pasukan musuh yang tertawa melihat pendekar klan Jian yang berlutut di depannya.
Orang itu ingin membunuh lawannya namun sebelum ia melakukannya sebuah angin berhembus melewati tubuhnya, tanpa tahu apa-apa pasukan klan Liu itu langsung tumbang ke tanah.
Jian Chen tidak berhenti di sana, karena ia datang di belakang pasukan klan Liu sehingga mereka belum menyadari Jian Chen telah membunuh rekan mereka.
Dengan pedangnya Jian Chen bergerak cepat sambil menebas tubuh-tubuh mereka dari belakang.
Barulah ketika belasan pasukan klan Liu terbunuh tanpa sebab mereka mulai menyadari ada musuh di belakang mereka.
"Siapa kau, beraninya menyerang dari belakang?"
"Dasar pengecut! Kalau kau seorang pendekar lawan kami dari depan!"
Pasukan klan Liu berteriak murka melihat Jian Chen membunuh rekan-rekannya, mereka mulai mengepung Jian Chen.
"Pengecut?" Jian Chen tersenyum dingin, "Aku tidak mau mendengar seseorang yang menyebut demikian sedang mengepung lawannya seorang."