Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 37 — Melangkah Sendiri


Kedatangan Jian Chen dan Meily ke perkemahan membuat mata semua orang tertuju pada keduanya.


Pasalnya mereka menyadari Meily tidak di tenda semalaman namun yang tak disangka adalah Dewi Lotus Salju itu datang bersama dengan seorang lelaki.


Ziyun adalah orang pertama yang menanyakan, kenapa mereka bisa pergi berduaan. Meily hanya menjelaskan kalau dia sedang berlatih pedang bersama dengan Jian Chen.


Penjelasan itu cukup membuat orang yang mendengarnya terkejut, mereka semua menyadari kalau Niu Meily paling tidak suka bersama lelaki.


Jian Chen merasakan semua pandangan orang tertuju padanya terutama dikalangan laki-laki, mereka terlihat benci dengan Jian Chen karena telah berani berdekatan dengan sang Dewi.


Jian Chen tersenyum canggung, ia mengalihkan pandangan lalu menoleh pada Ziyun dan Meily yang tengah mengobrol.


“Nona Ziyun, Saudari Meily, kalau begitu aku pamit pergi…”


“Sebentar, kau mau kemana?” Ziyun bertanya.


“Aku harus ke faksiku berada, mereka mungkin masih menungguku kembali jadi aku tak bisa membuat mereka khawatir lebih jauh.”


“Kau sudah mendapatkan petunjuk dimana faksimu sekarang?”


Jian Chen mengangguk, melirik Meily yang ada disampingnya.


Sebelumnya Jian Chen telah menjelaskan banyak hal pada Meily diperjalanan, dimulai dari ia murid akademi sampai dirinya bergabung ke faksi Dua Pedang.


Jian Chen menjelaskan bahwa ia ikut bersama rombongan Ziyun dan juga terpisah dari faksinya. Meily terkejut mendengar itu semua terutama di bagian Jian Chen yang bergabung faksi peringkat terbawah.


Untungnya Meily ternyata pernah berpapasan dengan faksi Dua Pedang dua hari sebelumnya, mereka sedang bergerak ke arah bukit yang ada ditengah Hutan Sunyi.


Setelah mengetahui hal itu, Jian Chen berencana untuk pergi dan mencari faksinya kembali.


“Begitu, ya, syukurlah...” Ziyun tersenyum lalu menoleh pada rusa yang tengah dipanggang api unggun. “Aku tidak bisa menahanmu tetapi setidaknya kau makan terlebih dahulu sebelum pergi.”


Ada banyak makanan selain daging rusa, perkemahan Meily yang semuanya perempuan bahkan memasak sup serta kari.


“Makanlah dulu disini, faksiku telah memasak banyak hal yang enak. Mungkin anda akan suka?” Meily ikut menawarkan dan berharap Jian Chen menerimanya.


Perkataan Meily membuat semua orang di perkemahan terkejut bahkan Ziyun sekalipun.


Ziyun sebagai sahabat kecilnya tidak pernah melihat Meily perhatian terhadap lawan jenis, hal ini bisa dibilang pertama kalinya. Ziyun jadi penasaran, apa yang dilakukan keduanya sampai hubungannya jadi seperti ini.


Jian Chen berpikir beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk, ia juga memang merasa lapar.


Makan-makan pagi kali itu terasa berbeda karena semua sudut pandang terarah pada satu meja. Terutama laki-laki, mereka menaruh cemburu pada Jian Chen yang makan bersama dengan kedua wanita cantik.


“Siapa laki-laki itu, kenapa Dewi salju begitu perhatian padanya?”


“Katanya dia adalah orang yang numpang bersama Nona Ziyun kesini. Dia tersesat karena berpisah dengan faksinya.”


“Hubungan mereka cukup dekat? Aku tidak pernah menyangka Ketua Ziyun juga akrab dengannya.”


“Bukan hanya Ketua Ziyun tetapi Ketua Meily ikutan juga. Pemuda ini pasti mempunyai status yang tak biasa.”


Bisik-bisik dari anggota faksi Lotus Salju menjalar bagai dengung lebah, semua perempuan itu begitu penasaran dengan laki-laki yang duduk bersama Ketua faksinya. Sebagai pengikut Meily yang sudah lama, tentu mereka tahu karakter ketuanya.


Jian Chen tidak peduli dengan bisik-bisik itu, ia memfokuskan untuk segera menghabiskan makanannya.


Saat telah selesai, Jian Chen diantarkan Ziyun dan Meily beberapa meter dari perkemahan. Jian Chen berpamitan kembali pada keduanya sekaligus berterima kasih pada Ziyun karena telah membiarkan dirinya bersama faksinya dalam beberapa waktu.


“Kalau begitu sampai jumpa lagi di Akademi…” Jian Chen membalikan badan dan bersiap akan pergi namun Meily tiba-tiba menahannya.


“Tunggu sebentar! Aku telah membuatkan kotak bekal ini untukmu…”


Dikejauhan, Meily menatap punggung pemuda itu, sebenarnya dia merasa terlalu singkat bertemu dengan Jian Chen namun ia juga tak bisa menahannya, setidaknya Meily telah mengetahui identitas pemuda itu.


“Ehm! Sepertinya ada yang dimabuk rindu…” Ziyun berbisik didekat telinga Meily, tersenyum menggodanya.


“K-Kak Ziyun…” Meily sedikit salah tingkah ketika ia memandang arah kepergian Jian Chen begitu lama.


“Husshh, tenang saja, tak usah malu.” Ziyun tertawa kecil, “Sepertinya dia adalah pemuda yang kau temui di air terjun itu bukan?”


Meily mengangguk, wajahnya memerah.


“Pantas saja dia bisa melawan segerombolan tikus tanah sendiri, ternyata dia memang bukan pemuda sembarangan.” Gumam Ziyun pelan.


“Maksud Kak Ziyun, Jian Chen adalah orang yang membunuh gerombolan tikus tanah sendiri?”


“Ya, dan kuyakin sebenarnya laki-laki itu lebih kuat dari yang kulihat. Meski aku menolongnya saat dia sedang terpojok, Jian Chen terlihat tidak kelelahan sama sekali.” Ziyun curiga kalau sebenarnya Jian Chen bisa membunuh gerombolan tikus tanah itu sendirian.


“Terlepas dari kemampuannya, kenapa dia mau bergabung dengan faksi terbawah. Dengan kekuatannya, Jian Chen bisa saja bergabung ke faksi Liu Yanyi atau setidaknya gabung ke 10 faksi terkuat…”


Ye Ziyun tidak yakin akan menang melawan Jian Chen terutama karena dirinya tak bisa membaca kultivasi pemuda itu. Selain itu, Jian Chen adalah murid baru, ia tidak menduga kekuatannya menyamai 10 murid rangking teratas.


***


Lima kilometer bergerak dari perkemahan, Jian Chen sudah mendapatkan 20 permata setelah membunuh sekawanan babi hutan yang jadi siluman.


Jian Chen sedikit berbohong tentang ia akan mencari faksinya, tepatnya tidak sepenuhnya benar. Jian Chen mungkin akan ke faksi Dua Pedang tetapi itu nanti, niat awalnya Jian Chen hanya ingin berpergian sendiri.


Alasan dia bersama Ziyun beberapa waktu hanya ingin mengenali situasi tentang faksi lainnya serta keadaan kompetisi ini.


Ternyata siluman yang ada di Hutan Sunyi rata-rata jauh diperkiraan para peserta, beberapa dari mereka menceritakan pernah bertemu siluman ratusan tahun, yang berarti menandakan kompetisi ini lebih sulit ditahun sebelumnya.


‘Apa tetua akademi menyadari kompetisi ini sangat berbahaya bagi para murid?’


Jian Chen menghela nafas pelan, dirinya berharap kalau Miou Yue dan lainnya tidak kenapa-napa. Jian Chen tengah berlari diantara dahan-dahan pohon sampai tiba-tiba menyadari ada sesuatu yang menghampirinya.


“Hm? Ada siluman lagi? Sepertinya Hutan Sunyi memang kaya akan siluman…” Jian Chen menghentikan langkahnya disalah satu dahan, ia menoleh ke satu titik arah.


Seekor gorila putih berukuran 2 meter tak lama terlihat, berayun gesit dan mendarat dihadapan Jian Chen. Gorila putih itu memiliki otot keras dibagian dada dan tangannya, matanya biru serta mempunyai taring yang tajam.


Gorila putih itu memandang Jian Chen sesaat sebelum berteriak dan memukul-mukul dadanya, Jian Chen merasa kalau gorila itu sedang marah padanya.


Benar saja, beberapa detik kemudian gorila putih melompat, memberikan kepalan tangan pada Jian Chen dengan kuat.


Bersamaan dengan itu juga Jian Chen menggunakan tinjunya hingga kedua tinju beradu. Jian Chen ataupun gorila putih sama-sama termundur beberapa langkah.


“Kau ternyata lebih kuat dari yang kukira…”Jian Chen tersenyum kecut ketika merasakan kekuatan sang gorila. Gorila itu meraung marah, lalu memberikan tinju lagi pada Jian Chen. “Oh, kau mau mengadu kekuatan…”


Kali ini Jian Chen memasukan tenaga dalam pada tangan kanannya, ketika kedua tinju beradu, gorila putih terpental cukup jauh sedangkan Jian Chen hanya mundur dua langkah darinya.


“Gorila ini hampir berusia 100 tahun…” Jian Chen tersenyum tipis, meski menggunakan tenaga dalam pun dirinya masih terpental mundur.


Jian Chen hendak maju untuk membunuh siluman itu namun langkahnya terhenti ketika ada suara riuh yang mendekatinya. Suara itu muncul bertepatan dengan 20 gorila putih bergerak ke arahnya, mengepung Jian Chen dari segala sisi.


Ketika mereka melihat pemimpinnya terluka semua gorila meraung keras sekaligus marah pada Jian Chen.


Jian Chen tersenyum kecut ketika dirinya dikepung, kelompok gorila itu rata-rata berusia diatas 50 tahun.


“Mm…Bisakah kita lupakan kejadian ini?” Jian Chen tersenyum canggung, bertanya pada gorila itu yang justru membuat mereka tambah meraung marah. “Kurasa itu artinya tidak…”