Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 111 — Dua Orang Tato Berjubah


Jian Chen kembali mengayunkan tangannya lalu rantai hijau itu muncul dan meringkus Lily kembali.


“Hei, hei, kenapa kau menangkapku lagi?!” Teriak Lily marah.


“Aku tidak tahu niatanmu sebenarnya, bisa saja setelah aku pergi dari sini kau mengambil alih tubuhku.”


“Astaga, kau ini tuli atau apa, aku tidak punya niatan jahat padamu! Jika aku jahat sudah dari tadi aku melakukannya! Bebaskan aku!”


Jian Chen menghela nafas sebelum akhirnya melepaskan gadis itu, meski dihatinya ada keraguan tetapi dia bisa melihat Lily berbicara yang sesungguhnya. Lagian kekuatan gadis itu berada di awal kultivasi, tidak sulit mengalahkannya jika dia berkhianat.


“Baru pertama kali ini ada seseorang yang memperlakukan Tuan Puteri yang cantik ini dengan kasar, Hmph!”


Lily menggembungkan pipinya kesal sebelum membuang wajahnya, gadis itu benar-benar ngambek padanya karena diperlakukan dengan kasar sedangkan si pemuda hanya bisa tersenyum canggung.


Jika saja gadis itu tidak mempunyai lisan yang tajam dan sikap sombong mungkin Jian Chen sudah jatuh hati pada gadis tersebut apalagi melihat kecantikannya yang tak terkira.


“Ehm! Bagaimana aku bisa keluar di alam ini?” Jian Chen menggaruk kepalanya. Melihat sekelilingnya yang gelap dan luas tanpa batas ukuran. “Lily, kau bisa membantuku keluar dari sini, mungkin aku bisa sedikit mempercayaimu jika membantuku?”


‘Menyebut namaku saja sudah salah, aku ini Tuan Puteri…’ gadis itu berkomat-kamit memendam kekesalannya tetapi tidak ditunjukkan pada Jian Chen.


“Kau mendengarnya?”


“Iya-iya, aku mendengarnya...” Lily mendengus kesal. “Kau tinggal pejamkan mata.”


“Terus?”


“Apanya yang terus? Hanya itu, pejamkan matamu maka kau akan keluar dari sini.”


“Semudah itu?”


Jian Chen menggaruk kepalanya lalu mencoba apa yang disuruh Lily, benar saja, sepuluh detik matanya tertutup ia bisa merasakan tubuhnya kembali merasakan sensasi dingin.


Jian Chen membuka mata dan menemukan ia sudah kembali di kamar penginapannya semula.


“Berapa lama aku berkultivasi…” Jian Chen terkejut melihat hari sudah pagi.


“Delapan jam, waktu di alam dantian dan dunia nyata saling berdampingan jadi kau tidak melompati waktu meski ada disini.”


Suara Lily terdengar oleh telinga Jian Chen namun ia tidak melihat sosok gadis tersebut membuat Jian Chen kebingungan mencarinya.


“Kau tidak perlu mencariku, aku ada didalam dantianmu.” Lily melipat tangannya di dada, “Setiap penglihatan dan pendengaranmu terhubung pada indraku, jadi aku bisa melihat segalanya yang kau perbuat.”


Jian Chen tersenyum canggung, “Jadi bagaimana aku bisa kembali kedalam sana?”


“Sederhana, seperti tadi kau harus memejamkan mata tetapi dengan niatan masuk ke alam dantian, dengan sendirinya kau bisa kesini kembali...”


Dari penjelasan Lily, Jian Chen bisa mengerti ternyata alam dantian merupakan alam bawah sadar seseorang namun bisa dikendalikan berbeda dengan alam mimpi.


Umumnya pendekar bisa ke alam dantian jika di kultivasi yang sangat tinggi tetapi kasus Jian Chen adalah hal yang unik.


Alasan Jian Chen bisa masuk sekarang karena Lily secara paksa menarik kesadaran Jian Chen agar masuk ke sana, sebab itulah ketika dia berniat berkultivasi tubuhnya tiba-tiba berpindah dimensi.


Jian Chen mengambil nafas yang dalam sebelum mengeluarkannya secara perlahan, entah kenapa pikirannya terasa lelah setelah mendapatkan banyak informasi termasuk tentang orang tua aslinya.


Apa yang diberitahukan Lily sungguh membuat Jian Chen tercengang, jelasnya jika orang tua Jian Chen ternyata masih hidup lantas kenapa dirinya di telantarkan saat masih bayi.


Setelah semua ini, Jian Chen akan mencaritahu asal usul dirinya yang masih tersembunyi, mungkin akan membutuhkan waktu yang sangat lama tetapi ia akan berusaha mencari setiap jawabannya.


***


Beberapa hari berlalu, peperangan di klan Jian segera terdengar ke seluruh Provinsi Naga Petir. Banyak dari beberapa klan tercengang mendengarnya terutama yang ada di Ibu kota Qianshan.


Yang membuat mereka terkejut adalah bagaimana sebuah organisasi bisa memiliki kekuatan yang mengerikan seperti itu, menyamai kekuatan yang berasal dari klan-klan besar.


Hal ini segera menjadi pelajaran bagi klan lainnya untuk mewaspadai organisasi-organisasi yang ada disekitarnya tak peduli apakah organisasi itu kecil ataupun besar sebelum kelak menjadi ancaman yang nyata seperti peperangan di klan Jian.


Beberapa organisasi langsung berhenti beroperasi sementara waktu dan sebagian lainnya menyembunyikan diri atas kabar tersebut karena tidak mau menjadi buruan sebuah klan.


Dampak paling besar terjadi pada 4 organisasi besar yang menyerang klan Jian, organisasi Merpati Merah, Raja Tengkorak, Kuil Hitam serta Bulu Agung karena gara-gara kegagalan penyerangan tersebut mereka mengalami kerugian yang besar termasuk para anggotanya yang binasa di klan Jian.


Setidaknya mereka kehilangan kekuatan sebesar 20% gara-gara penyerangan tersebut.


Hong Gao selaku yang memiliki ide untuk penyerangan itu menjadi pelampiasan ketiga pemimpin yang lain karena kekalahan ini. Reputasi organisasinya menjadi menurun secara drastis.


Hong Gao berusaha beberapa kali membujuk ketiga pemimpin yang lain agar aliansi bisa bertahan tetapi percuma, di detik kegagalan penyerangan itu terjadi aliansi tersebut telah sepenuhnya bubar.


Banyak hal yang dipikirkan pria sepuh tersebut, keinginannya untuk menguasai Provinsi Naga Petir telah padam apalagi mendengar kabar Tangan Besi yang telah mati.


Hong Gao kini tengah berdiri di salah satu markasnya sambil memandang langit malam yang gelap, sesekali pria sepuh itu menghela nafas ketika lintasan ingatan melewati pikirannya.


“Kudengar kau adalah dalang dari penyerangan tersebut, harus kuakui tindakan kalian benar-benar nekat dari dugaan kami…”


Suara seseorang terdengar membuat Hong Gao terkejut lalu menoleh pada sumber suara. Dia menemukan ada dua orang berjubah hitam yang menghampirinya, wajah keduanya tidak terlihat karena terhalang tudung kepala.


“Si…siapa kau?!” wajah Hong Gao memucat, dalam sekali lihat saja dia bisa merasakan kekuatan kedua orang itu jauh di atasnya.


“Hm, kami…” kedua orang itu tersenyum sinis sebelum menyingkapkan jubahnya, memperlihatkan sebuah tato di tubuhnya.


Tato orang di kanan memiliki ukiran berbentuk ular sedang tato yang satunya berbentuk babi.


Wajah Hong Gao semakin memutih ketika mengetahuinya, tidak salah lagi tato tersebut melambangkan organisasi paling berbahaya di seluruh Kekaisaran Naga, organisasi 12 Shio Pemburu.


“Tenang saja, kami disini tidak untuk mencelakaimu…” Salah satu dari keduanya tersenyum mengejek melihat ketakutan Hong Gao, “Sebaliknya aku ingin membantumu untuk menguasai provinsi ini, bukankah kau memimpikan hal itu?”


Hong Gao menelan ludah sebelum mengangguk pelan, tubuhnya tak bisa berhenti gemetaran karena ketakutan yang hebat.


“Aku ingin kau membentuk aliansi lagi, kali ini gabungkan seluruh organisasi yang ada di Provinsi Naga Petir, jika mereka tidak mau, kau bisa jual nama kami.”


“Lalu apa yang kalian inginkan dariku?”


Kedua orang berjubah itu saling pandang sesaat sebelum tertawa kecil, “Tentu saja aku tidak membantumu secara gratis tetapi tenang saja aku akan memintanya saat kau sudah menguasai provinsi ini, untuk sekarang aku akan membantumu terlebih dahulu.”


Hong Gao tidak mengerti niatan dua orang di depannya namun yang pasti ini adalah kesempatan yang besar untuk meraih impiannya.


Dengan adanya dua anggota dari 12 Shio Pemburu di pihak organisasinya, maka tidak sulit membentuk aliansi yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Hong Gao diam-diam tersenyum lebar, meski belum terwujud tapi ia sudah membayangkan bagaimana provinsi ini menjadi miliknya nanti.