Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 150 — Pedang Dewa Asura


Jian Chen mencoba mengambil pedang bersarung merah itu pada cincin ruangnya namun tidak berhasil.


"Kalau bisa maka sudah dari dulu pedang itu diambil, bukankah tengkorak-tengkorak ini menjelaskan semuanya..." Lily menghela nafas melihat Jian Chen menggunakan berbagai cara untuk mengambil pedang itu. "Pedang Dewa Asura ini sudah mengambil begitu banyak nyawa sehingga membentuk sebuah aura kematian, aura kematian dapat mengganggu konsep ruang dalam cincin penyimpanan seseorang."


"Jadi tidak ada cara lain untuk mengambilnya?"


"Aku sudah memberikan jawaban untuk pertanyaanmu itu tetapi kau enggan melakukannya..." Lily mengangkat bahunya.


"Bukankah kau terlihat sengaja membujukku agar menyerahkan tubuhku ini?"


Lily berdecak kesal, "Hanya karena aku selalu berkata-kata kasar bukan berarti aku orang jahat, berhenti memandangku sebagai gadis penuh siasat! Aku tidak akan menggunakan kecantikanku sebagai senjata supaya kau tergoda dan menurutiku, itu bukan martabat dari seorang Tuan Puteri!"


Jian Chen tersenyum canggung, sepertinya dirinya memang berlebihan menganggap Lily sebagai ancaman, kenyataannya gadis itu tidak pernah jahat padanya.


"Aku menawarkan hanya karena kasihan melihatmu sudah ada disini, kalau kau tidak mau ya jangan menuduhku macam-macam!" Lily melipat tangannya di dada.


Jian Chen menggaruk kepala. "Maaf, aku memang salah."


Jian Chen kembali melihat pedang itu sebelum menghela nafas panjang, ia berpikir lama di sana sambil mempertimbangkan tawaran dari rencana Lily.


"Apa kau memang berniat menolongku?" tanya Jian Chen memastikan lagi.


"Aku tidak sedang menolongmu, aku hanya tidak mau pedang itu mengambil lebih banyak nyawa lagi seperti yang terjadi pada tengkorak-tengkorak ini."


Jian Chen sedikit terkejut dengan niat Lily, ia tidak menyangka gadis itu mempunyai niat demikian.


Jian Chen berpikir kembali. "Anggaplah aku setuju dengan rencanamu, jadi bagaimana agar aku melakukannya?"


"Tidak sulit, kau hanya harus diam saat aku mengambil alih tubuhmu, jangan melawan!"


"Hanya itu?" Jian Chen menggaruk kepala gusar. "Baiklah, aku juga tak bisa membiarkan pedang itu disini terus..."


Usai Jian Chen berbicara demikian, sebuah kabut hitam perlahan muncul di sekelilingnya lalu mulai menyebar kesuluruh tubuh. Mata emas Jian Chen perlahan berubah warna menjadi merah seperti milik Lily, pemuda itu juga mengeluarkan aura kehitaman yang kuat didalam tubuhnya.


"Hm, ini tidak terlalu nyaman..." Lily membuka mulutnya, suara yang terdengar tetap suara Jian Chen meski gadis itu yang berbicara. Lily mulai menggerakkan tubuh Jian Chen untuk menyesuaikan diri.


Lily mengamati pedang Dewa Asura itu sesaat sebelum mengulurkan tangannya dan memegangnya.


Gadis itu mengerutkan dahinya ketika ada energi berbentuk kabut merah keluar dari pedang tersebut lalu bergerak ke lengannya.


Kabut merah itu menyelimuti tubuh Lily dan mengelilingi di sekitarnya, Lily yang menyadari kabut itu sedang berusaha menyerap jiwanya justru tersenyum sinis.


"Kau ingin tubuh ini, sayang sekali aku tak bisa membiarkannya..." Lily membuka bibirnya sebelum menghisap kabut itu kedalam mulutnya.


"Kau, siapa kau sebenarnya?!"


Kabut merah itu ternyata bisa berbicara, dengan nada panik ia mencoba kabur karena Lily mencoba menghisap dirinya. Kabut merah itu tidak menyangka bahwa Lily adalah sosok yang paling berbahaya lebih dari dirinya sekalipun.


Lily tidak menjawab dan terus menghisapnya sementara kabut merah itu berusaha lari menjauh namun hisapan angin Lily lebih kuat hingga akhirnya ia masuk ke dalam perut Lily.


"Tidak buruk juga..." Lily atau Jian Chen tersenyum lebar sambil mengelus perutnya, gadis itu seperti kekenyangan ketika menghisap kabut tadi tetapi disisi yang sama kekuatannya kini melonjak drastis.


Lily kemudian menatap pedang yang masih tersarung di tangannya, usai Ia menghisap energi jahat didalamnya, pedang itu tetap memancarkan hawa kematian meski sekarang sudah tidak berbahaya seperti sebelumnya.


"Aku sudah melakukan apa yang seharusnya kulakukan..." Gumam Lily, terkesan berbicara sendiri namun sebenarnya Ia berbicara pada Jian Chen yang berada didalam tubuhnya.


Jian Chen kini berada di alam dantian, bisa dibilang kedua diposisi mereka terbalik. Jian Chen bisa melihat apa yang Lily lihat atau dengarkan. Ia juga menyadari seperti inilah posisi Lily didalam tubuhnya selama ini.


Ketika Jian Chen menutup mata, Ia tidak bisa merebut tubuhnya kembali, Lily benar-benar sungguhan mengendalikan tubuh Jian Chen sepenuhnya.


"Kau benar-benar tidak berniat mengambil tubuhku atau sebagainya?" Jian Chen kini kembali menggerakkan tubuhnya lagi setelah Lily tiba-tiba kembali ke alam dantian.


"Aku tidak bisa mengambil tubuh seseorang seperti yang kau pikirkan, tubuhku ini raga bukan roh yang bisa merasuki seseorang. Kau adalah pengecualian karena kristal ini menyatu dengan tubuhmu!"


Jian Chen tidak terlalu mengerti penjelasan Lily namun ia mengucapkan terimakasih pada gadis itu.


Setidaknya Jian Chen kini tahu bahwa Lily memang tidak jahat padanya meski gadis itu mempunyai lisan yang tajam dan sedikit beracun.


Lily mendengus, "Tidak usah berterimakasih, aku juga mendapatkan apa yang kuinginkan..."


Jian Chen kemudian teringat bahwa Lily menghisap sebuah kabut merah yang bisa berbicara sebelumnya, ia kemudian bertanya pada gadis itu perihal hal aneh tersebut.


"Kabut merah tadi adalah pemilik pedang sebelumnya, panjang ceritanya tetapi singkatnya dia menggunakan formasi kehidupan pada pedang Asura agar siapapun yang memegang pedangnya bisa terhisap jiwanya lalu digunakan untuknya..." Lily mendapatkan ingatan kabut merah tersebut ketika Ia sudah menghisapnya.


"Menyerap jiwa seseorang, bukankah ia sudah mati?"


Jian Chen yakin makam ini sudah terkubur ratusan tahun bahkan hampir seribu tahun, jika pemilik pedang atau yang membuat makam ini mati kenapa ia mengumpulkan jiwa-jiwa yang masih hidup.


"Aku juga tidak terlalu mengerti tetapi Pedang Asura bukanlah pusaka biasa, dia dapat mengumpulkan roh-roh orang yang terbunuh olehnya, semakin banyak roh yang terkumpul maka semakin kuat ia..."


Lily kemudian menjelaskan ada kemungkinan Pedang Asura telah mencabut nyawa ratusan juta orang didalamnya, membuat pedang itu jadi sangat mematikan.


Lily sudah merasakan bagaimana mengerikannya pedang itu saat berada di genggaman tangannya. "Kau bisa lebih mengetahuinya saat kau mencabut pedang tersebut..."


Jian Chen mengerutkan dahinya lalu mencoba menarik Pedang Dewa Asura itu, pedang itu mempunyai mata pedang berwarna merah semerah darah.


Pedang Dewa Asura begitu terlihat tajam dan kuat namun yang membuat Jian Chen terkejut bukan tentang kualitas pedangnya melainkan apa yang menyelimuti pedang tersebut.


Pedang Dewa Asura mengeluarkan aura kematian yang begitu pekat, pedang itu membuat siapapun yang melihatnya dapat merasakan ketakutan.


Jian Chen menahan nafasnya, Ia masih belum terbiasa dengan tingkat pusaka yang tinggi seperti ini. Entah itu Pedang Dewa Es dan Pedang Dewa Asura mempunyai keunikan tersendiri.


Setelah beberapa detik Jian Chen memegang pedang itu, Ia kemudian menemukan keganjalan ketika memegangnya. Secara perlahan Pedang Dewa Asura terus menghisap tenaga dalam Jian Chen.


"Pusaka tingkat tinggi tidak selamanya bekerja gratis untukmu, pedang itu menyerap tenaga dalammu sebagai imbalan kau bisa menggunakannya." Jelas Lily agar Jian Chen tetap tenang dengan situasi demikian.


Meski terus menyerap tenaga dalam tetapi situasi itu sebenarnya seimbang, Pedang Dewa Asura memiliki kekuatan yang luar biasa andai Jian Chen menggunakannya saat bertarung.


Jian Chen dapat menyadari hal tersebut walau hanya dengan memegangnya saja.


"Benar-benar sebuah pusaka..." Gumam Jian Chen berdecak kagum