
Jian Chen akhirnya didudukkan di bawah pohon, meski rasa sakitnya telah menghilang ia masih terasa lemas.
Teknik Pedang Gerhana Bulan memang tidak membuat penggunanya cedera permanen namun efek samping yang di rasakannya juga tidak bisa di remehkan.
Sudah lama sekali Jian Chen tidak menggunakannya di kehidupan pertama dan baru kali ini ia merasakannya kembali, rasa sakitnya seperti setiap selnya menjerit kesakitan.
"Kau tidak apa-apa, Chen'er?"
Jian Chen mengangguk, tubuhnya hanya terasa lemas.
"Teknik Pedang Gerhana Bulan memang bukan teknik sembarangan, menggunakannya juga di butuhkan fisik yang kuat serta kultivasi yang tinggi. Setidaknya kau harus berada di ranah Alam Langit..."
Teknik yang Jian Chen barusan pakai merupakan salah satu dari tiga teknik yang ada di Teknik Gerhana Bulan, setiap tekniknya memiliki efek samping yang menyakitkan.
Menggunakannya saat belum siap jelas akan membuat penggunanya cedera sebab itu tidak dianjurkan Jian Chen melakukannya di kultivasi yang masih rendah.
"Chen'er, mungkin sudah waktunya kamu menguasai teknik pedang yang lebih sempurna dari Teknik Pedang Rembulan..."
"Lebih sempurna?"
Guru Jian Chen mengangguk. "Ya, bisa dibilang teknik ini adalah penyempurnaan dari Teknik Pedang Rembulan, siapapun yang mempelajarinya akan meningkatkan kemampuan berpedangnya ke tingkat yang lebih tinggi, pemahamanmu dalam pedang mungkin jadi nomor satu di Kekaisaran ini.."
Mata Jian Chen terbelalak, ia jadi ingin mempelajari teknik yang di maksud.
"Teknik Pedang itu bernama Teknik Pedang Gerhana... Tapi sebelum kau mempelajari Teknik Pedang Gerhana kau harus mempelajari Teknik Pedang Matahari terlebih dahulu..."
Jelasnya untuk menguasai Teknik Pedang Gerhana seseorang harus mempelajari Teknik Pedang Rembulan dan Teknik Pedang Matahari. Ketika dua teknik itu telah dikuasai oleh seorang pendekar maka seseorang bisa belajar Teknik Pedang Gerhana.
Jian Chen baru mendengar ada teknik pedang yang namanya bertolak belakang dengan teknik pedang rembulan yaitu teknik pedang matahari.
"Berarti aku harus belajar teknik pedang matahari dulu sebelum ke pedang gerhana?"
Guru Jian Chen mengangguk, "Teknik Pedang Matahari hampir sama persis dengan Teknik Pedang Rembulan, yang membedakannya adalah setiap serangannya menimbulkan efek api."
"Tapi Guru, aku bukan pendekar berelemen api?"
"Tidak harus, semua orang bisa melakukannya meski tidak mempunyai elemen api."
Guru Jian Chen kemudian memunculkan pedang dari cincin ruangnya, sebuah pedang biasa dengan kualitas menengah. "Perhatikan ini Chen'er, aku akan menggunakan salah satu Teknik Pedang Matahari..."
Guru Jian Chen kemudian memperagakan beberapa gerakan dengan ayunan pedangnya, setiap kali pedang gurunya bergerak maka akan timbul api di pedang tersebut.
Jian Chen menggunakan mata langitnya agar lebih cepat memahami, matanya terbuka lebar setelah mengetahui sesuatu.
"Benar Chen'er, api itu muncul secara alami ketika pedang bergesekan dengan udara. Seseorang harus menguasai pengendalian tenaga dalam pada pedangnya untuk bisa menciptakan percikan api."
Jian Chen mengangguk mengerti, ia mulai memahami cara kinerjanya.
Guru Jian Chen kemudian menjelaskan Teknik Pedang Matahari juga di bagi lima bentuk seperti Teknik Pedang Rembulan yaitu Teknik Pedang Matahari Terbit, Matahari Terbenam, Matahari Terang, Matahari Cincin dan terakhir Gerhana Matahari.
Jian Chen meneguk ludah, ia jadi tidak yakin ingin mempelajari teknik tersebut. "Guru, kira-kira berapa lana seseorang menguasai teknik itu?"
Itu juga belum Teknik Pedang Gerhana, jika di jumlahkan secara langsung mungkin Jian Chen dapat menguasainya selama lima puluh tahun kemudian.
Wajah Jian Chen memucat. "Tapi Guru, aku tidak bisa menghabiskan waktu selama itu, Organisasi 12 Shio Pemburu pasti sudah melenyapkan Kekaisaran Naga."
"Chen'er, jangan terfokus pada waktu yang aku sebutkan, lebih baik kau memulai terlebih dulu. Dengan pemahamanmu yang sudah menguasai Teknik Pedang Rembulan seharusnya kau bisa memangkas waktu yang kusebutkan menjadi lebih cepat."
Jian Chen tidak membantah karena kedatangan dirinya kesini ingin menjadi lebih kuat.
Pada akhirnya Jian Chen mulai mempelajari Teknik Pedang Matahari dengan bimbingan gurunya, berkat mata langitnya ia bisa lebih cepat memahami setiap yang di pergerakan gurunya.
Setelah beberapa gerakan Jian Chen memahami satu hal, Teknik Pedang Matahari cenderung lebih menguras tenaga dalam dibandingkan Pedang Rembulan, hanya saja daya hancurnya juga lebih kuat dan besar.
"Kita akhiri latihannya sampai disini."
Guru Jian Chen menyarungkan kembali pedangnya membuat Jian Chen akhirnya bisa bernafas lega sekaligus langsung jatuh terduduk.
Jian Chen hampir kehabisan tenaga dalam setelah belajar beberapa waktu, ia tidak pernah membayangkan andai tenaga dalamnya sedikit mungkin ia tidak bisa mempelajari teknik Pedang Matahari.
Disisi lain Jian Chen sedikit memahami, Teknik Pedang Matahari merupakan teknik yang lebih tinggi dari Teknik Pedang Rembulan.
"Chen'er, sepertinya kau memang jenius beladiri ya? jika mengecualikan telah menjalani kehidupan kedua..."
Guru Jian Chen sebenarnya berdecak kagum, ia telah memperagakan beberapa teknik pedang matahari pada muridnya dan semuanya dapat di pelajari oleh Jian Chen dalam sekali lihat.
Meski belum sempurna namun itu merupakan pencapaian yang luar biasa.
Jian Chen menggaruk kepala, ia sebenarnya juga kebingungan tentang fakta tersebut. Dulu ia hanyalah anak biasa yang kemampuannya rata-rata, saat bertemu gurunya lah kemampuan belajar dan menangkapnya jadi lebih cepat.
Jian Chen memilih untuk memulihkan tenaga dalam yang telah terkuras habis sebelumnya sementara gurunya pergi berburu untuk mencari sarapan malam.
Tidak lama kemudian Guru Jian Chen kembali membawakan dua ekor ayam hutan.
"Chen'er, mengingat kau selama 7 tahun bersamaku mungkin aku telah mengajarkan bagaimana cara masak, apa kau bisa memasak ayam ini?"
"Tentu saja Guru, biar aku yang memasak untukmu... " Jian Chen tersenyum lebar, bisa dibilang memasak adalah hobinya.
Butuh satu jam Jian Chen memasak di atas api unggun, ia tidak bisa memasak di gubuk karena di sana tidak ada dapur. Untungnya Jian Chen selalu membawa alat memasak di cincin ruangnya.
Jian Chen menghidangkan masakan ayam goreng malam itu, gurunya sampai menjilat bibir ketika baunya tercium harum. Jian Chen tertawa kecil, terkadang ia selalu tertawa dengan sikap kekanak-kanakan gurunya.
Pada akhirnya Jian Chen memilih memburu ayam sendiri karena gurunya itu seperti tidak cukup memakan satu ayam.
"Ah, kau melumuri ayam goreng ini dengan cabai, aku tidak pernah ingat bisa memasak menu ini..."
Jian Chen menggelengkan kepala pelan lalu mengatakan bahwa ia suka mencoba masakan-masakan baru yang ia racik sendiri. Hasilnya ia telah menciptakan berbagai menu yang ia buat.
"Hm, kalau begitu kenapa kau jadi pendekar, Chen'er, andai kau menjadi koki mungkin kemampuan lumayan tinggi di bidang itu?"
Jian Chen menggaruk hidungnya yang tidak gatal, ia jadi teringat ucapan ibunya, Jian Ran, pernah menginginkan dirinya jadi seorang koki daripada pendekar.