
Jian Chen terus melepaskan tembakan tanpa peduli pada jumlah anak panahnya, alhasil dari serangannya dia sudah membunuh puluhan orang bertopeng dalam sekejap.
Tembakan Jian Chen sangat akurat dan cepat, dia juga membidik bagian vital dari targetnya sehingga mereka yang tertembak langsung mati ditempat.
Lambat laun pasukan bertopeng mulai menyadari rekan-rekannya terbunuh tanpa ada gerakan yang berarti. Pada saat melihat anak panah yang tertancab, mereka mulai menoleh ke atas untuk menemukan sang pelaku.
Tidak membutuhkan waktu lama mereka melihat Jian Chen yang sedang berdiri di menara pengintai sambil menembakan panah yang lainnya.
“Tuan Muda, beberapa pasukan bertopeng mulai menyadari keberadaan kita, apa yang harus kita perbuat?” tanya pendekar yang mengikuti Jian Chen.
“Biarkan mereka kesini, kita serang mereka saat di atas…”
Lima pendekar lainnya menurut arahan Jian Chen, kini mereka sudah menganggap Jian Chen sebagai kaptennya yang harus dipatuhi.
Jian Chen masih melepaskan panah saat tiba-tiba bidikannya tertuju pada sebuah ledakan di bangunan paling besar dikawasan pemerintahan klan.
Dahi Jian Chen mengerut saat tahu bahwa bangunan itu adalah dari kediaman keluarga Meily, dari ledakan sebelumnya keluar 4 orang yang sedang bertarung di atas genteng dengan sengit.
Dua diantaranya adalah Niu Zen dan Niu Zuan sedangkan dua lainnya Jian Chen tidak mengetauinya. Niu Zen melawan ketiganya sekaligus.
Meski jarak pertarungan Jian Chen dan keempatnya jauh namun dengan indranya yang tajam Jian Chen bisa melihat pertarungan itu dengan jelas.
Niu Zen jelas dalam keadaan yang tak menguntungkan walau kultivasinya diatas lawannya, Niu Zen berada diranah alam Bumi tahap 4 sedangkan lawannya di alam Bumi tahap 2.
Andai dua melawan satu mungkin Niu Zen masih bisa mengalahkannya namun tiga lawan satu jelas diluar kemampuan Niu Zen.
Saat ini Niu Zen masih bisa menghadapi ketiganya berkat teknik klannya sendiri, Teknik Pedang Rembulan. Hanya saja sampai kapan dia bertahan seperti itu.
Ketika dia mulai kelelahan dan tenaga dalamnya habis hanya soal waktu Niu Zen kalah dan terbunuh.
Jian Chen memperhatikan itu juga tak bisa berbuat banyak, kultivasi alam Bumi adalah sesuatu yang berada diluar jangkauan Jian Chen di kultivasinya sekarang, anak panahnya juga tak bisa membantu karena terlalu jauh.
Satu-satunya yang bisa menolong Niu Zen sekarang adalah sebuah keajaiban.
Pandangan Jian Chen kemudian teralihkan pada pertarungan tak jauh dari Niu Zen berada, jika rata-rata pasukan bertopeng memiliki kekuatan alam Jiwa namun ada belasan diantaranya yang sudah menginjak alam Kehidupan.
Salah satu belasan dari mereka kini melawan 6 pendekar dari klan Niu, setiap 1 pendekar klan Niu melawan dua pendekar bertopeng.
Jian Chen menebak bahwa 6 orang itu adalah Tetua klan Niu yang menjabat sekarang,
Jian Chen menarik tarik busurnya lalu mengeluarkan anak panah dari Cincin Ruang, dia berniat untuk membantu 6 Tetua klan Niu itu.
Karena targetnya di alam Kehidupan, Jian Chen harus mengalirkan tenaga dalam pada anak panahnya. Ketika panah itu meluncur, kecepatanya dua kali lipat dari sebelumnya sedangkan akurasinya tak dapat diragukan lagi, Jian Chen bisa menembaknya tepat sasaran.
Enam orang Tetua klan Niu yang semula mulai kewalahan dengan jumlah musuhnya tiba-tiba ada sebuah panah yang melesat cepat membunuh salah satu orang bertopeng.
Sebelum orang-orang bertopeng mengetahui situasinya sudah ada anak panah lainnya lagi yang terlepas dan membunuh mereka.
Orang-orang bertopeng kemudian memfokuskan pada serangan anak panah itu, menangkis atau menghindarinya namun 6 Tetua lainnya tidak tinggal diam.
Perhatian orang bertopeng terpecah antara harus menangkis panah atau menahan pedang, serangan dari kedua sisi itu membuat mereka tersudut. Tidak membutuhkan waktu lama hingga diantara mereka ada yang terbunuh lagi.
Sekitar ada 8 orang yang mati dari 12 orang yang mengepung 6 Tetua sebelumnya, kolaborasi serangan panah dan pedang membuat kemenangan para Tetua jadi lebih mudah.
Jian Chen sebenarnya ingin membunuh semua orang bertopeng yang sedang melawan Tetua itu namun situasinya berubah ketika banyak musuhnya yang mulai menaiki menara.
Lima pendekar yang mengikuti Jian Chen diawal sedang menahan mereka yang sudah naik, Jian Chen tak punya pilihan selain membantu.
Jian Chen menggunakan teknik tendangan yang mematikan pada mereka yang telah menaiki menara, tendangan Jian Chen dilpisi tenaga dalam membuatnya jadi lebih kuat.
Setiap yang menahan tendangan Jian Chen akan mengalami keretakan tulang, dan andai tendangan itu mengarah ke lehernya akan segera terbunuh.
Menghindarinya juga mustahil karena teknik tendangan Jian Chen sangat rumit dibaca, dalam beberapa kedipan mata sudah banyak yang tewas oleh kakinya dan sebagian besar lainnya tertendang hingga jatuh dari menara.
Mereka yang jatuh mungkin masih bisa selamat namun akan mengalami cedera serius ditubuhnya.
Aksi rekan-rekannya yang berjatuhan itu membuat pasukan bertopeng yang ingin naik menjadi ragu. Satu hal yang mereka yakini bahwa orang yang ada diatas menara itu mempunyai kekuatan lebih tinggi dari mereka semua.
“Terimakasih Tuan Muda atas pertolongannya…”
Lima pendekar bersama Jian Chen mengucapkan terimakasihnya secara bersamaan karena mereka hampir tepojok melawan jumlah musuhnya yang membludak.
Jian Chen mengangguk, karena sudah tidak ada yang hendak menaiki menara lagi Jian Chen memfokuskan untuk memanah sedangkan 5 pendekar didekatnya menjaga Jian Chen dari sekitarnya.
Jian Chen menghujani kembali orang-orang bertopeng yang melawan para Tetua klan Niu, mereka sebenarnya sudah unggul dan dengan panah Jian Chen, Tetua-Tetua itu akhirnya membunuh semua orang bertopeng yang tersisa.
Jian Chen bernafas lega saat orang bertopeng di alam Kehidupan telah tewas semua, meski begitu itu tidak membuatnya berhenti, Jian Chen masih terus memanah sekelilingnya.
“Siapa dia, aku baru mengetahui di dalam klan Niu ada pendekar pemanah yang memiliki keahlian setinggi itu?”
“Aku juga, jika bukan karena dia mungkin kita sudah terbunuh tadi…”
Enam Tetua itu tidak bisa melihat wajah si pemanah karena jaraknya yang lumayan, mereka ingin sekali menghampiri dan mengucapkan terimakasihnya jika bukan dalam kondisi perang.
Keenamnya tak bisa takjub lebih lama, mereka segera bergerak membantu yang lainnya.
Disisi lain Jian Chen berdecak kesal karena musuhnya yang tiada berhenti jumlahnya, ia memang membunuh puluhan orang namun kematian itu tidak cukup mengubah arus kudeta ini.
Jika dihitung mungkin ada 800 pasukan bertopeng yang ada di kawasan kudeta ini sedangkan pasukan klan Niu hanya berjumlah 400 orangan.
Jian Chen tak mungkin membunuh setengahnya terutama karena jumlah anak panahnya tak sebanyak itu. Benar saja, ketika ia berusaha menarik tali busur panahnya, Cincin Ruang itu tak dapat lagi memunculkan anak panah lainnya yang menandakan sudah habis.
Celakanya disaat itu mata Jian Chen baru menemukan keberadaan Meily serta ibunya yang dikawal 6 pendekar. Tanpa mereka sadari ada beberapa orang bertopeng yang mengikutinya dan diantaranya ada yang diranah Alam Kehidupan.
Jian Chen tanpa alasan lagi langsung meloncat dari menara dan menyusul ke tempat Meily, 5 pendekar bersamanya sedikit terkejut atas tindakan mendadak tersebut sebelum kemudian bergerak mengikuti Jian Chen.