
“Anak muda jika anda mau masuk, kau harus menunjukkan tanda pengenal bukan surat seperti ini?” penjaga gerbang memberhentikan Jian Chen yang hendak ke kawasan pemerintahan klan.
Jian Chen menggaruk kepala, ia tak punya tanda pengenal apapun sekarang selain lencana murid akademi. Jian Chen sudah berulang kali mengatakan bahwa dirinya di undang oleh Ketua klan tetapi penjaga itu tidak mempercayainya.
“Itu adalah surat dari Nona Miou padaku, disana ditulis Ketua Niu Zen mengundangku masuk sebelumnya…”
“Maap, tetapi itu tidak cukup, anak muda sebaiknya kau harus kembali lain kali!”
Jian Chen menggaruk kepalanya lagi, ia sedikit kesal pada penjaga itu namun disisi lain alasan mereka siaga ada benarnya. Setelah kudeta selesai petugas-petugas itu menjadi waspada terhadap siapapun yang ingin memasuki kawasan klan.
Jian Chen ingin berbalik badan namun suara merdu seseorang terdengar menyebut namanya, dia adalah Niu Meily, puteri langsung dari Ketua klan.
Penjaga itu langsung menunduk hormat melihat kedatangan puteri klannya.
“Syukurlah kau tidak kenapa-napa…” Jian Chen tersenyum hangat dan membalas seruannya.
“Ini berkatmu, terimakasih telah menolongku dan ibuku sebelumnya. Kakek dan ayah telah menunggumu di dalam…” Meily tersenyum malu sambil memainkan anak rambutnya, gadis itu tak bisa bertatapan lama dengan Jian Chen karena dirinya selalu gugup.
Penjaga gerbang meneguk ludah saat mengetahui anak muda dihadangnya memang benar-benar di undang Ketua klan, dia juga ternyata mengenal dekat dengan Meily.
Ziyun tak lama datang karena sebelumnya ia juga berniat untuk menyambut Jian Chen. Sama seperti Meily, gadis anggun tersebut mengucapkan terimakasihnya.
Ketika Jian Chen masuk ke kawasan pemerintahan klan, ada banyak pasang mata yang melihatnya khususnya pelayan dan penjaga. Jian Chen tersenyum canggung, tentu ia mengerti maksud tatapan itu.
Memang saat bersama Meily dan Ziyun, dua wanita itu selalu menjadi perhatian banyak orang terutama karena kecantikannya.
Meily memiliki kecantikan yang sulit ditemukan oleh wanita pada umumnya, memandangnya saja membuat para pria langsung bergetar hatinya sedangkan Ziyun juga tak kalah cantik dan manis, kemanapun dia pergi penampilan Ziyun selalu terlihat anggun baik itu pakaian atau gerak tubuhnya.
Jian Chen sendiri mungkin terbilang memiliki wajah rupawan, apalagi mata emasnya yang mendominasi membuatnya terlihat menawan dipandangan gadis-gadis.
Jian Chen dibawa masuk kesalah satu ruangan besar klan Niu, disana sudah ada Niu Qisha, Niu Zen, Niu Yuan dan terakhir Miou Lin yang duduk di kursinya masing-masing.
Niu Qisha berada di kursi paling megah atau bisa juga dibilang singgasana sedangkan yang lainnya duduk disampingnya. Miou Lin mungkin berbeda karena seorang tamu penting sehingga kursinya berada disebelah yang lain.
“Salam hormat Ketua klan…” Jian Chen memberikan hormatnya, Ziyun dan Meily yang dikedua sisinya ikut melakukan hal yang sama.
“Tidak usah formal seperti itu, kudengar kau lah yang menyelamatkan cucu dan menantuku, apa benar?” Niu Qisha berbicara pelan, menatap Jian Chen dari bawah ke atas.
“Iya, Ketua, akulah yang menolongnya…”
Niu Qisha mengelus janggutnya, ia masih tidak menyangka Jian Chen yang dimaksud ternyata masih muda, usianya mungkin sama dengan cucunya.
Meski tidak terlalu jelas mereka yakin pemanah itu masih berusia muda melihat dari tubuh serta parasnya. Niu Qisha yakin orang itu adalah anak muda didepannya.
Niu Zen bahkan mengabari hal yang mengejutkan lagi yaitu tentang Jian Chen yang bisa menggunakan Teknik Pedang Rembulan klannya.
Niu Zen tersenyum dan berdiri dari kursinya. “Saudara Jian, anda telah menolong keluargaku dua kali, aku dan keluargaku belum mengucapkan terimakasih padamu.”
Keluarga Niu Zen sungguh berhutang budi pada Jian Chen, selain menyembuhkan istrinya dia juga telah menyelamatkan puterinya. Niu Zen membungkuk hormat pada Jian Chen begitu juga dengan Niu Yuan.
Miou Lin tersenyum canggung menyaksikan itu, dirinya tak bisa berbicara apapun setelah melihat kekuatan Jian Chen langsung apalagi kekejaman dari anak muda tersebut.
“Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, Ketua klan, Meily adalah temanku sudah sepatutnya aku menolongnya ketika dalam bahaya…”
“Saudara Jian, jikalau anda waktu itu tidak menolong istri dan puteriku mungkin ayahku tidak akan datang untuk membantu kudeta ini. Aku juga mungkin sudah mati sekarang.”
Memang benar apa yang dikatan Niu Zen, secara logika jika saja Meily dan ibunya tidak segera memberitahu Niu Qisha mungkin sekarang kudeta ini telah berhasil.
“Jadi begitu…” Niu Qisha mengamati sebentar percakapan itu dan mulai mengetahui bahwa peran Jian Chen ini memang sungguh sangat besar. “Nak, aku tidak tahu identitasmu terlepas dari nama dan klanmu. Sebelum itu aku mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya karena kau telah menyelamatkan klanku.”
“Ketua tidak perlu sungkan, aku hanya ingin membantu...”
Niu Qisha tersenyum, mulai tertarik dengan perangai Jian Chen. “Kami dari klan Niu sejak dulu tidak mau berhutang budi pada siapapun, ucapan terimakasih adalah keharusan tetapi kami tidak akan puas dengan itu. Nak, sebutkan apa permintaanmu padaku, uang, sumber daya, teknik beladiri, aku akan memberikannya padamu sesuai dengan jumlah yang kau minta?”
Jian Chen dengan halus menolak hal tersebut tetapi Niu Qisha berulang kali memaksanya, sepertinya ini adalah tradisi klan Niu untuk membalas setiap kebaikan mereka pada orang yang menolongnya.
“Kalau begitu aku punya permintaan tetapi munkin ini akan sulit dikabulkan...” Jian Chen akhirnya mengalah namun disisi lain ia memang punya permintaan pada Niu Qisha.
Jian Chen kemudian menjelaskan bahwa ia membutuhkan kekuatan Niu Qisha untuk melindungi klan Jian dari serangan yang akan membantai klannya nanti.
Dia tak menjelaskan semua itu padanya tetapi hanya mengatakan bahwa ia ingin Niu Qisha dan pasukan klan Niu lainnya siap membantu Jian Chen disaat ia butuh pertolongan nanti.
“Hm? Apa ada sekelompok yang mengincarmu atau ada peperangan yang akan terjadi?” Pria sepuh itu tidak mengerti Jian Chen membutuhkan pasukan klannya.
“Hal ini tak bisa kukatakan sekarang tetapi itulah permintaanku, jika Ketua keberatan mengabulkannya aku tidak masalah.” Jian Chen sadar permintaanya sulit dipenuhi dan beresiko kehilangan nyawa banyak orang tapi setidaknya ia lega karena sudah melontarkan keinginannya.
“Bukan, bukan seperti itu, aku tidak keberatan akan membantumu atau mengerahkan pasukan klan Niu. Hanya saja kami butuh penjelasan untuk mengerti situasinya.”
Niu Zen dan Miou Lin juga terkejut mendengar permintaan Jian Chen, mereka langsung paham bahwa Jian Chen memiliki masalah besar dipikirannya.
Jian Chen akhirnya menjelaskan bahwa ia mengira satu tahun dari sekarang ada kemungkinan sebuah organisasi ingin menyerang klan Jian. Jian Chen menggunakan alibi ‘perkiraan’ untuk menutupi dirinya yang mengetahui kejadian di masa depan.